000

000
Cemburu dan Rasa



"Azura jadilah kekasihku!!"


Dengan lantang Arata meminta Aura menjadi kekasihnya tepat di tengah lapangan basket dan disaksikan oleh banyak siswa. Sejak kejadian di toilet kemarin Arata bertekat akan melindungi Azura dan langkah pertama yang harus ia lakukan adalah menjadikan Aura sebagai kekasihnya, agar ia dapat lebih leluasa menjaga Azura-Aura.


"Apa?" kaget segerombolan siswi yang menyaksikan adegan live itu.


"Tidak!!" jerit beberapa siswi tak terima.


"Sialan!" umpat Kania menatap nyala ke arah Aura yang terdiam mematung.


"Kyaa!!" pekik Tania dan juga Elis terlihat senang.


"******!!" teriak beberapa gadis yang langsung di berikan tatapan tajam oleh Arata. Iangatkan ia untuk mencaari siapa saja yang meneriaki gadisnya barusan.


Seketika suasana yang awalnya ricuh menjadi sunyi dan senyap ketika Aura meletakkan telapak tangannya di kening Arata dan di keningnya sendiri, mencoba membandingkan suhu tubuh keduanya.


Kerutan samar terlihat di kening Aura, suhu tubuh Arata masih normal lantas kenapa ucapannya tak normal,


"Kau bercanda kan, Arata?" tanya Aura dengan raut wajah datar. Otaknya masihlah mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Arata menembak dirinya? You know what I mean. 


"Aku serius," ujar Arata dengan kesungguhan di kedua mata merah delimanya.


Jantung Arata berdetak tak normal, harap-harap cemas akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bila ia di tolak maka rasa malu akan ia dapat jangan lupakan rasa sakit di hatinya, namun bila ia diterima maka ia akan bahagia.


Setelah menghelan nafas, Arata menatap mata yang serupa dengan laut kasvian itu dengan dalam,


"Jadi, kau mau kan?" tanya Arata lagi.


"Ya," jawab Aura dengan senyum manis di wajahnya. Tak ia pungkiri bahwa dirinya nyaman berada dekat dengan Arata.


"Tidakk!!" teriak seluruh siswi dengan raut wajah putus asa. Haruskah mereka merelakan pangeran mereka untuk si culun itu.


"Ciee... yang udah jadian. PJ nya jangan lupa!" goda Tania kepada keduanya. Sejujurnya ia masihlah terkejut dengan apa yang baru saja ia saksikan. Tak ia sanka-sangka Arata akan mengikat Aura sebagai kekasih hatinya.


Dengan tangan yaang memeluk posesiv Aura, Arata menanggapi ucapan Tania,


"Ambil apa aja yang kalian mau. Gratis," ujar Arata dengan seringai di bibirnya.


Harus Arata akui bahwa ia beruntung saat ini, sebab ia sadar bahwasannya banyak siswa yang menatap kecewa dan juga iri ke arahnya sebab bisa memiliki Aura.


"Beneran, Ar?" tanya Fatur semangat, namun adakah yang sadar akan tatapan penuh luka di mata hitam itu? Adakah yang sadar akan kesakitan yang ia rasakan saat ini dan kenapa patah hati rasanya menyakitkan dan pahit, kenapa tidak menyenangkan dan manis?


"Ya."


Seulas senyum terukir di bibir Fatur, bukan senyum bahagia atau putus asa melainkan senyum penuh kepalsuan,


"Asikk... makan gratis," seru Fatur antusias, setidaknya ia tengah berusaha untuk terlihat baik-baik sajakan.


"Is... kau membuat malu saja, Tur!" ujar Elis sambil menggeplak bahu Fatur kencang.


Semuanya masih larut dalam kebaahagian yang meliputi Aura dan Arata tanpa menyadari tatapan terluka dari tiga sosok yang sejak tadi mengamati keduanya.


"Cih," decak Jeck dengan rahang yang mengeras serta tangan yanng mengepal. Dadanya serasa terbakar melihat senyum manis Aura yang sayangnya bukan untuk dirinya.


Tingkah Jeck barusan tak luput dari pandangan Key, ia rasa ada yang salah dengan Jeck saat ini.


"Kau kenapa Jeck?" tanya Key, namun di acuhkan oleh Jeck yang memilih meninggalkan lapangan sebelum ia membuat keributan. Menghajar Arata misalnya.


Sebelah alis Key tampak terangkat dengan ekspresi bingung yang terlihat kentara di raut wajahnya,


"Jeck!!" panggil Key mencoba menghentikan langkah Jeck, namun sayang bukannya berhenti Jeck malah semakin mempercepat langkah kakinya.


Suara Key yang terlalu keras membuat yang lain menatap bingung ke arahnya, sontak mereka menatap apa yang menjadi pusat perhatian Key.


Tania memilih menghampiri Key yang masih menatap Jeck dengan raut wajah berfikir,


"Ada apa dengannya?" tanya Tania ketika melihat Jeck yang menjauh.


"Jeck kenapa?" tambah Fatur ikut menghampiri Key. Seingatnya semua masih baik-baik saja hingga Arata menyatakan peraasaanya pada Aura.


"Entah," jawab Key tanpa menatap ke arah sahabatnya, ia lebih memilih menatap dalam Aura.


Berbagai spekulasi timbul di benaknya, apa tingkah Jeck barusan ada hubungannya dengan Aura.  Hanya ada dua hal yang akan membuat Jeck bersikap begini bila memang karna Aura. Satu, ia merasa Aura melupakannya karna Arata dan yang kedua, ia patah hati alias cemburu. Apa mungkin Jeck memiliki rasa pada Aura?


"Mungkin ia cemburu," celetus Fatur  membuat semua menatap ke arahnya.


"Apa? Aku hanya menyampaikan pendapatku," ujar Fatur ketika menyadari seluruh pandangan mengarah kepadanya.


"Ah, sial!" batin Fatur merutuki mulutnya yang tak bisa diam, namun detik berikutnya ia termenung apa Jeck juga merasakan apa yang ia rasakann saat ini, jikalau benar ia bahagia setidaknya ia tak patah hati sendirian.


Entah kenapa ucapan Fatur barusan membuat Aura merasa resah. Benarkah Jeck cemburu, tapi kenapa? Ada banyak pertanyaan dan juga kemungkinan-kemungkinan di pikiran Aura, membuat ia tanpa sadar memijit pangkal hidungnya dan hal itu tentu saja mengusik Arata dan yang lainnya.


"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Aura mencoba tetap tenang walau nyatanya kini ia tengah khawatir enntah karena apa.


"Karena jeck selalu begitu setiap kali kau bersama Fatur atau Arata!" bukan Fatur yang menjawab melainkan Key. Pemuda itu tampak menatap serius ke arah Aura, Fatur dan juga Arata.


Helanan nafas Aura terdengar sedikit berat menambah kekhawatiran sang kekasih dan sahabat-sahabatnya,


"Benarkah?" tanya Aura tanpa menatap ke arah Key, ia lebih memilih menatap sekitar laapangan yang mulai sepi entah sejak kapan.


"Kau benar-benar gadis yang tidak peka ehh Jelek!" ujar Fatur  dengan nada mengejek yang membuat Aura menatap pemuda itu kesal.


Entah Fatur sengaja atau tidak, ia seolah-olah menyampaikan bahwasannya Aura pun tak peka akan rasa yang ia simpan untuk dirinya. Rasa yang kini mulai menyakiti Fatur, membunuhnya secara perlahan. Berlebihan memang hanya saja rasanya untuk Aura memanglah sudah terlalu dalam, bahkan mampu menenggelamkan dirinya hingga dasar terdalam.


Lirikan sinis Arata berikan pada Fatur,


"Diam kau fatur!" ujar Arata membuat Fatur memilih diam. Bisa kacau urusannya kalau Arata marah padanya.


Tanpa ada yang menyadari seorang gadis menatap mereka semua dengan senyum yang sedikit aneh. Senyum dengan sejuta arti di dalamnya.


"Dengan begini aku akan lebih mudah mendekati Jeck. Terimakasih Arata."


Tahukah mereka semua, bahwa seseorang tengah mengawasi mereka bahkan orang itu pun tahu apa yang di ucapkan gadis di balik pilar di hadapannya. Senyum palsu terlihat menghiasi wajah tampannya, mata hijau cerah itu tampak menatap pilu pemandangan yang tersaji tak jauh dari posisinya saat ini. Ah, tampaknya bertambah lagi seseorang yang mengalami patah hati. Satu menjadi dua, dua menjadi empat. Empat?


°°°


Berita tentang Aura dan Arata yang sekarang menjadi sepasang kekasih tampak menyebar dengan cepat di OHS. Seluruh siswi tampak terus membicarakan bagaimana Arata meminta Azura-Aura menjadi kekasihnya.


"Kau tahu Jelek?" celetus Fatur tiba-tiba. Kini mereka berenam tengah berada dp area kantin sekolah, guna mengisi perut mereka yang demo ingin diisi.


"Apa?" tanya Aura menatap Fatur ya g kebetulan duduk di sampingnya dengan alis yang terangkat sebelah.


"Berita tentang kau dan Arata belum juga padam?" ujar Fatur sambil menunjuk ke sudut kantin tepat dimana segerombolan siswi tengah berbincang-bincang dengan sesekali menunjuk ke arah mereka. Cih, apa hanya itu yannng bisa mereka lakukam? Bergosip, bergosip, dan bergosip.


Aura pandangi siswa yang tadi di tunjuk oleh Fatur, menatap mereka datar ketika tertangkap basah menunjuk dirinya, sontak saja hal itu membuat siswi itu salah tingkah.


"Aku tak peduli," dengan acuh Aura kembali memakan sup tomat yang ia pesan.


"Hn," guman Arata menanggapi, terlalu malas meladeni hal yang menurutnya tak penting. Namun, kalau ada yang berani mengusik hubungannya dan Aura maka siap-siap mereka menanggung akibatnya.


"Aiss, kalian ini!" gemas Fatur kepada keduanya. Mereka pasangan yang aneh. Sama-sama dingin dan tak perdulian.  Kombinasi yang entahlah. Andai saja Aura bersamanya, ya andai saja. Ayolah, biarkan ia berimajinasi terlebih dahulu baru kau hancurkan ketika diriku sedang berada di puncaknya. Itu lebih mengesankan.


"Dimana jeck?" tanya Tania entah kepada siapa. Memang sejak kejadian di lapangan basket waktu itu, Jeck jarang ikut berkumpul bersama mereka.


"Entahlah," jawab Key menatap datar sate di hadapannya, entah kenapa akhir-akhir ini ia tak bersemangat.


"Itu dia!" ujar Elis menunjuk ke arah pintu kantin. Di sana sosok Jeck berdiri menatap ke arah mereka walau hanya sekilas sebelum ia memilih pergi meninggalkan tempat itu.


"Jeck!" panggil Elis dengan tangan yang terangkat melambai ke arah Jeck.


Kerutan samar terlihat melintang di kening Elis,


"Loh, Jeck mau kemana? Kenapa ia malah pergi saat ku panggil?" ujar Elis bingung ketika mendapati Jeck malah berbalik pergi meninggalkan kantin.


"Kan sudah ku bilang ia cemburu!" ujar Key kesal. Ayolah berapa kali harus ia katakan? Tidakkah mereka melihatnya.


"Apa kalian tidak mengerti?" tambahnya lagi, kali ini ia meninggikan suaranya membuat beberapa siswa menatap ke arah mereka.


"Kenapa Jeck harus cemburu?" tanya Aura dengan raut wajah bingung. Sejak pertama Key mengatakan bahwa Jeck cemburu, sejak itu pula Aura terus memikirkan alasannya.


"Karena dia menyukaimu Jelek!" ujar Fatur sambil mencomot tomat yang ada di mangkuk sup Aura. Sedangkan yang lain hanya berusaha bersikap acuh namun memasang telinga baik-baik terutama Arata.


"Sama sepertiku!" batin Fatur melanjutkan ucapnya.


"Jangan bercanda, Jeck dan aku hanya teman!" balas Aura sambil menepis kasar sendok Fatur yang dibalas delikan oleh Fatur. Ah, apa yang sebenarnya coba Fatur lakukan? Mencoba menarik perhati Aura disaat kekasihnya jelas-jelas duduk di sampingnya, jangan bercanda.


"Jadi, mana mungkin Jeck cemburu apalagi sampai menyukaiku. That Imposible," tambah Aura tanpa mau menatap yang lain, ia lebihh memilih menata lapangan basket yang tampak kosong.


"Terserah apa katamu Jelek," ujar Fatur menyerah berdebat dengan Aura, apa lagi tak ada yang membelanya.


°°°


Terlihat seorang gadis tengah mengejar langkah seorang pemuda yang sejak tadi ia cari.


"Jeck!" panggil Aura ketika ia melihat Jeck berlalu ke arah taman belakang sekolah.


Entah karena suaranya yang terlalu kecil atau memang Jeck enggan menoleh padanya sehingga ia harus berlari guna mengejar Jeck.


"Kenapa kau menghindariku?" tanya aura ketika sampai di samping Jeck yang kini tengah menatap pohon apel di hadapannya dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celana.


"Tidak," jawab Jeck tanpa mau menatap ke arah Aura. Entahlah ia takut bila ia menatap Aura, ia hanya akan menyakiti dirinya dan juga Aura.


Satu pukulan Aura berikan di dada Jeck, berharap ppemuda itu tahu akan kekhawatiran dan juga keresahan yang ia rasakan,


"Kau berbohong. Kau menghindariku!!" ujar Aura kesal. Jangan dikira ia tak memperhatikan semuanya, ia hanya berusaha menghindari masalah antara dirinya, Jeck dan juga Arata. Tapi percayalah kalau soal cemburu ia benar- benar tak tahu dan tak paham.


"Why?" tanya Aura sekali lagi sambil mencengkram baju depan Jeck berharap ia mau menatap dirinya.


"Karena aku cemburu."


Ingin rasanya Jeck meneriakan apa yang ada di pikiran serta hatinya saat ini. Tapi itu tak mungkin, ia tak mau membuat Aura menjauh darinya sebab tak nyaman.


"Hanya perasaanmu saja," elak Jeck tanpa mau menatap Aura.


Sebuah senyum timbul di bibir Aura, senyum masam yang entah kenapa tak Jeck lihat. Haruskah ia kecewa selarang sebab Jeck berbohong padanya?


"Baiklah kalau begitu," ucap Aura dengan senyum yang ia paksakan,, entah kenapa hatinya terasa perih.


"Tapi tetap saja aku merasa kau menjauh. Dan sekarang aku minta kau jangan menjauh!" tambah Aura lagi dengan tatap garangnya. Biarkan ia egois saat ini, ia tak akan melepas Jeck. Kali inii saja ia ingin menggunakan sisi egoisnya yang tak pernah ia sentuh, ia tak ingin kehilanggan lagi.


"Itu melukaiku!" guman Aura sambil menundukkan kepalanya.


Ia memanglah terbiasa sendiri, tapi itu dulu sebelum ia mengenal Jeck dan yang lain. Sekarang ia tak bisa lagi sendiri, itu menyiksanya.


Secuil rasa bersalah hinggap di hati Jeck,


"Maaf!" ucap Jeck menarik Aura kedalam pelukannya. Entah jenis maaf apa yang ia maksud, maaf karena menjauh dari Aura atau malah maaf karena memeluk Aura atau bahkan maaf karena menyimpan perasaan lebih kepada Aura? Jadi maaf mana yang kau maksud Jeck?


"Hmmm," guman Aura sembari mengeratkan pelukannya kepada Jeck. Tanpa ada yang tau setitih air mata jatuh dari mata biru safir Aura. Air mata yang ia tahan sejak Jeck tak menatapnya, ia tahu sekarang.


Tanpa mereka sadari seseorang atau lebih tepatnya empat orang tengah menatap kearah mereka dengan gejolak marah yang ia coba tahan.


"Sialan!!" umpat keempatnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Tempat dimana sebuah kesalahan di mulai.


"Ternyata apa yang di katakan Fatur benar!" Batin Aura dan juga salah seorang dari keempatnya.


Tidakkah mereka pernah dengar, kenyamanan menimbulkan sebuah rasa lebih entah itu sebagai saudara maupun pujaan hati. Lantas kalau sudah begini, siapa yang patut untuk disalahkan? Tuhankah atau hati mereka?