
Dua hari Aura habiskan di rumah sakit guna memulihkan kondisi tubuh serta psikisnya yang sedikit terguncang. Kali ini ia datang dengan menggunakan mobilnya sendiri, membuat hampir seluruh penghuni sekolah yang berada di parkiran memandang ke arahnya. Seorang Azura-Aura yang dulunya cupu kini terlihat bak bidadari dengan rambut silver dengan gradiasi pink yang ia biarkan terurai dengan gelombang di ujungnya serta kacamata yang dulunya membingkai mata safirnya kini ia lepas entah kemana. Membuat Aura semakin tampil mempesona ditambah dengan mobil Mustang Ghiti yang membuat semua menatap terkejut ke arahnya.
"Bukankah itu Azura?"ujar salah satu siswi begitu tersadar dari keterkejutan sekaligus keterpesonaannya.
"Cih, berani sekali ****** itu menunjukkan wajahnya lagi?" umpat siswa lainnya memandang benci sekaligus jijik kearah Aura. Membuat Aura melirik bingung ke arah gerombolan itu.
"Ku kira ia sudah pindah?" sahut yang lain.
"Wah berani sekali ia datang ke sekolah dengan menggunakan mobil Jeck pula," cibir siswi lain yang melihat Aura keluar dari movil sport yang ia kira adalah milik Jeck padahal milik Aura sendiri.
"Cantik,"
Lain lagi dengan para siswa yang melihat Aura, mereka tampak terpukau dengan penampilan Aura saat ini. Hal itu membuat beberapa siswi menjadi kesal sebab Aura yang mereka cap tengah 'tebar pesonna'.
"Benarkah itu Azura?" ujar siswa lain dengan pandangan yang memuja kearah Aura. Di matanya kini Aura terlihat sangat cantik.
"Manis."
Dan begitulah berbagai macam bisikan yang Aura dengar sepanjang koridor menuju ke ruang kelasnya. Ia memilih mengacuhkan semua bisikan itu sebab ada hal yang lebih penting dari itu semua.
°°°
Ketika Aura telah berada di depan pintu kelas, ia tampak terdiam selama beberapa menit. Ada yang aneh, kenapa pintu kelas tertutup dan kenapa perasaannya menjadi tak enak?
Aura tampak menggeleng guna mengusik pikiran aneh yang berseliweran di pikirannya. Dengan satu helanan nafas Aura meraih gagang pintu.
Kriett
Bruukk
Pecah sudah tawa di ruang kelas itu begitu menyaksikan apa yang meereeka tuunggu sejak tadi.
Di sana, Aura berdiri denngan sseragam yang telah kotor terkena tumpahan tepung dan juga air. Tampaknya ada yang sengaja membuat jebakan di atas pintu untuk dirinya, terbukti dari sebuah ember yang kini tergeletak tak jauh dari kakinya setelah menimpa bahu kananya membuat Aura merasakan nyeri.
"Hhhh... lihat, kau sangat menjijikkan Azura!" ujar Kania dengan derai tawa yang tak lagi dapat ia tahan. Dilihat dari situasinya, tampaknya ia yang menjadi dalang kekacauan ini.
Ucapan Kania barusan di sambut gelak tawa yang lainnya minus Key, Fatur, Arata, Tania dan Elis yang justru enggan menatap kejadian itu. Kekecewaan dan juga kesedihan tampak jelas di mata Aura. Lagi dan lagi, ia di tinggalkan.
"Cih, berpura-pura menjadi culun untuk merebut harta Arata! Benar-benar licik!"
Cerca siswi lain di sambut hujatan dan juga hinaan yng lainya, namun bukannya menangis atau membela dirinya Aura malah sibuk membersihkan wajahnya dan juga seragamnya walaupun ia tahu itu tak ada gunanya.
"AURA!!"
Sebuah teriakan terdengar memanggil nama Aura, membuat Aura menoleh ke asal suara.
"Apa yang terjadi?" tanya si pemanggil dengan raut wajah yang tak dapat terbaca. Ada raut wajah khawatir dan juga tatapan marah disana.
"Je-Jeck!" gagap Kania menyerukan nama si pemanggil yang tak lain adalah Jeck.
"Kau!" seru Jeck terlihat amat sangat marah dan benci pada Kania. Ya, ia marah dan benci pada gadis licik itu karna Kania dan juga Yuya serta Ririn dapat lolos dari Pak Kevin. Dengan alasan klise tak ada bukti yang cukup kuat, apalagi saat itu konndisinya Aura belum sadar.
Tatapan tajam Jeck layangkan pada Kania dan juga Ririn,
"Pasti ini semua ulah mu!!" ujar Jeck.
Keheningan melanda ruang kelas, tak satupun penghuninya mau bersuara. Melawan Jeck sama saja cari mati namanya dan hanya orang bodoh yang mau melakukan hal itu.
Dengan dagu terangkat serta dada yang membusung, Kania maju selangkah mendekat ke arah Aura dan juga Jeck,
"Kalau iya kenapa?" tantang Kania.
Semua terdiam. Arata tengah bersikap acuh, walaupun di dalam hatinya terdapat sepercik api kemarahan berkobar begitu melihat keadaan Aura saat ini. Hatinya memerintahkan ia untuk menghampiri dan memeluk Aura, namun logika dan tubuhnya menolak.
"Kau mau membelanya?" ujar Ririn menatap sinis Aura yang tampak acuh dengan sekitarnya. Bahkan dengan santainya ia melepas blazer yang telah penuh tepung lalu mengibaskannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya. Fatur yang melihat tingkah Aura barusan tanpa sadar tersenyum, membuat Key menatap bingung ke arahnya.
"Apa mau mu?" ujar Jeck menahan amarahnya, sebab ia masihlah tau bahwa yang ia hadapi ini perempuan.
"Mau ku. Ia enyah dari sini!" bentak Kania menatap nyala Aura, jangan lupakan telunjuknya yang teracung ke arah Aura.
Melihat hal itu sontat saja Jeck berdiri di depan Aura, menghalangi pandangan Kania.
Rahang Jeck mengeras, gemeletuk gigi terdengar darinya,
"Kau!" bentak Jeck hendak merengsek maju ke hadapan Kania, sebelum sebuah tangan mencegahnya.
"Kenapa aku harus enyah?" tanya Aura dingin.
Beberapa siswa yang mendengar suara Aura dibuat merinding disko. Tak pernah mereka dengar suara Aura sedingin itu. Rasa terkejut itu tak hanya dirasakan oleh mereka saja, Arata dan yang lainnya pun turut merasakannya. Mereka tampak membatin, menerka-nerka sebenarnya apa yang ada di pikiran Aura dan apa ini sifat Aura sebenarnya?
"Kenapa?" ulang Ririn dengan senyum meremehkan di bibirnya.
"Khhhh,"
Kekehan halus meluncur dari bibir Ririn, membuat yang lain memandang ngeri lagi aneh ke arahnya kecuali Aura yang justru memberikan sebuah seringai yang entah apa artinya pada Ririn.
"Karna kau tak pantas disini!" ujarnya setelah mengghentikan tawanya. Dengan tak sopannya, Ririn meludah ke arah Aura, untungnya Jeck dengan sigap menarik Aura menghindar.
Melihat hal itu, Jeck semakin marah. Sudah cukup batas toleransi yang ia berikan, tetapi tampaknya mereka tak menghargainya.
Seringai itu semakin lebar, memperlihatkan taring yang entah sejjak kapan menjadi pelengkap kesadisan Aura,
"Tak pantas?" ujar Aura menarik mundur Jeck.
Rasanya sudah saatnya ia yang maju menghadapi dua ****** berbulu biri-biri ini. Mereka harus di perlihatkan siapa yang berkusa disini, agar mereka tak lagi bisa mengangkat dagu mereka seenaknnya.
"Lalu, kau yang pantas di sini?" ujar Aura berdiri di hadapan Ririn setelah mendorong jauh Kania kehadapan Jeck, gadis itu juga perlu di beri pelajaran dan ia serahkan tugas itu pada Jeck.
Seolah mengerti maksud Aura memberikan Kania padanya, Jeck langsung melaksanakan apa yang Aura inginkan. Lagi pula ia punya urusan yang belum selesai dengan gadis licik ini.
"Bukankah kau tahu kalau aku lebih dari pantas untuk ada di sini, Ririn?" bisik Aura tepat di telinga Ririn. Membuat tubuh itu menegang, dan Aura menyadari hal itu.
"Cih," decih Aura berlalu ke luar ruangan setelah memberikan sebuah hadiah tatapan mematikan dan juga seringai sadis kepada Ririn yang membatu di hadapannya, jangan lupakan Kania yang terduduk tak lagi mampu berdiri sebab ancaman yang Jeck layangkan padanya.
"Aku kecewa pada kalian!" seru Jeck entah kepada siapa, namun tatapan matanya ia arahkan pada Arata dan juga yang lainnya.
Setelah mengatakan hal ambigu barusan, Jeck segera pergi menyusul Aura. Meninggalkan segala macam pertanyaan dan juga rasa pensaran yang tak terjawab.
"Bukankah seharusnya kita yang kecewa?" tanya Elis dengan mata yang mengawasi kepergian Kania dan juga Ririn yang entah ingin kemana, ia tak memusingkannya.
"Entahlah, tapi hatiku sakit melihatnya barusan!" ucap Fatur menerawang pada ember yang tadi sempat menimpa bahu Aura, membuat dirinya diliputi rasa khawatir.
"Ada apa denganmu, Fatur?" tanya Tania menatap intens Fatur. Mencari-cari maksud dari ucapan Fatur yang jelas-jelas mudah di pahami.
Raut wajah datar dan juga senyum miris terlihat Fatur tampilkan,
"Entahlah!" ujar Fatur sekenanya.
Tak berapa lama dari itu, Fatur berdiri meninggalkan kursinya.
Kerutan samar terlihat di kening Key,
"Kau mau kemana?" tanya Key begitu melihat Fatur yang beranjak pergi.
"Pergi, katakan pada guru aku sedang di uks. Tak enak badan!" ujar Fatur sebelum hilang di balik pintu, mengabaikan tatapan bingung sahabat-sahabatnya.
"Fatur kenapa?" tanya Elis menatap satu persatu sahabatnya, mengabaikan suasana kelas yang terlihat kembali tenang.
"Entah," jawab Tania yang juga di tambah dengan Key yang mengangkat bahunya pertanda keduanya tak tahu apa yang terjadi dengan Fatur.
"Ar...
"Aku pergi!!" ujar Arata memotong ucapan Elis yang ingin meminta pendapatnya.
°°°
Sedangkan di area parkir terlihat Aura dan juga Jeck tengah membicarakan sesuatu. Keduanya tampak tengah bersitegang, sepertinya mereka sedang membahas hal yang sangat serius.
"Sudah ku bilang untuk berangkat bersamaku kan!" ujar Jeck dengan kekesalan di matanya.
"Maaf!" ujar Aura tak berani menatap mata Jeck, ia lebih memilih menatap lantai tempat ia berpijak.
Jeck hanya dapat mendesah kecewa. Ia tak bermaksud memarahi Aura, hanya saja ia tengah di liputi kekesalan dengan dua gadis sialan itu.
"Sekarang lihat, kau di jadikan bahan jebakan mereka. Dan lagi kenapa kau menghentikan ku tadi?" ujar Jeck memprotes apa yang Aura lakukan di kelas tadi.
Dengusan penuh kekesalan Aura lepaskan,
"Lalu membiarkan kau dalam masalah?" ujar Aura menjeda ucapannya, "Jangan bercanda!" semburnya kesal.
Aura tak sejahat itu untuk membiarkan sahabatnya ini berada dalam masalah. Bila hal itu memang lah terjadi maka ia siap melakukan apapun untuk mengeluarkan sahabatnya itu dari masalah, baik ia benar maupun salah.
"Tapi aku tak bisa diam saja. Aku tak terima!" tukas Jeck menatap Aura dalam. Tidakkah Aura paham bahwa ia tidak bisa melihatnya dalam masalah?
"Sudahlah," ujar Aura dengan kedua mata yang terpaksa ia rotasikan. Bosan menceramahi Jeck sebab ia tahu hanya akan di anggap angin lalu oleh pemuda bermata coklat itu.
"Tap...
Belum sempat Jeck melayangkan protesnya guna kembali beraadu argumen dengan Aura, sebuah suara lebih dulu memotong ucapannya yang bahkan belum lengkap satu kata.
"Sedang apa kalian disini?" ujar seorang pria dari balik punggung Jeck.
"Pak Kevin?" ujar Jeck setelah bebalik melihat siapa pemilik suara itu.
Kerutan samar terlihat di kening Kevin,
"Ada apa dengan seragam mu, Aura?" tanya Pak Kevin.
"Tid..
"Kania dan Ririn mengerjainya dengan meletakkan tepung dan air di atas pintu!"
Seharusnya yang menjawab pertanyaan Kevin barusan adalah Aura, namun sayang ucapannya telah disela lebih dulu oleh Jeck yang dengan embernya membocorkan semuanya. Runyam sudah ceritanya ini.
"Jeck!" seru Aura menatap kesal Jeck. Ia heran kenapa Jeck tak bisa mengerem ucapannya.
Alis Jeck terangkat sebelah,
"Apa?" serunya dengan raut muka sok polos.
"Kau membawa seragam lain Aura?" tanya Kevin dingin. Pandangannya tak lagi bersahabat, sama persis seperti saat Aura berada dalam kondisi buruk di gudang saat itu. Gelap dan tajam, membuat Aura tak bisa mengalihkan tatapannya seolah terkunci rapat pada manik hijau milik Kevin atau Kelvin.
"Di loker," jawab Aura sedikit gugup.
"Kita kesana sekarang!" ujar Kevin menyambar tangan Aura dan mengacuhkan Jeck yang menatap protes kedua tangan yang bertautan itu.
"Mau apa, Kak?" tanya Aura bingung.
"Mengambilnya lalu ke toilet!" ujar Kevin langsung menarik Aura menuju koridor loker.
"Baiklah," ujar Aura. Sebelum melangkah terlalu jauh Aura sempat menyambar tangan Jeck, sehingga mereka bertiga berjalan dengan tangan yang saling bertautan.
°°°
Koridor loker tampak sangat sepi. Tak ada satupun siswa maupun siswi yang berkeliaran, wajar saja ini sudah jam masuk kelas sudah pasti seluruh siswa berada di dalam rungannya menanti guru yang akan memberi mereka materi hari ini. Namun lain halnya dengan tiga orang berbeda gender ini, dua laki-laki dan satu perempuan.
"Ke toilet sekarang!" ujar Kevin setelah Aura selesai mengambil seragam cadangan yang ia letakkan di loker. Bersyukur dirinya tak pernah membawa pulang seragamnya itu.
Kerutan samar terlihat di kening Aura dan Jeck begitu mendapati Kevin berjalan menuju toilet siswi yang letaknya tak jauh dari koridor loker.
"Bapak ikut juga?" tanya Aura.
"Ya," jawab Kevin datar tanpa menghentikan langkahnya.
"What?" seru Jeck spontan. Raut wajahnya tampak berkerut, berpikir apa yang salah dengan gurunya ini.
Langkah kaki Kevin seketika berhenti, helanan nafas meluncur dari bibirnya. Tidakkah, Aura paham bahwa ia takut kejadian itu terulang lagi? Bukan hanya itu, ia pun takut mengecewakan seseorang yang telah menitipkan Aura padanya, tanpa sepengetahuan Aura tentunya.
"Untuk antisipasi, dan Jeck juga ikut. Ayo, sebentar lagi kita harus sudah ada di kelas!" jelas Kevin menatap Aura serius.
"Baiklah," pasrah Aura. Ia tak mungkin menolak niat baik Kevin, ia tak bisa.
Ketiganya berjalan menuju toilet siswi. Sesampainya di sana, Jeck dan juga Kevin menunggu Aura di luar dekat pintu masuk toilet.
"Katakan bagaimana ini nisa terjadi, Jeck!" ujar Kevin datar. Sebelum melontarkan pertanyaan itu, ia lebih dahulu melihat apakah Aura sudah benar-benar masuk.
Jeck tampak menghelan nafas sebelum mulai bercerita,
"Tadi pagi Aura berangkat menggunakan mobilnya sendiri tanpa menungguku. Dan ketika aku sampai di sekolah aku mendenggar mereka membicarakan hal buruk tentang Aura, dan tebakan ku benar ada yang meletakkan foto sialan itu di mading. Begitu melihatnya aku sudah tau kalau itu ulang Ririn, jadi kuputuskan untuk ke kelas. Ketika aku sampai Aura sudah menjadi seperti itu."
Sepanjang Jeck menceritakan apa yang terjadi pada Aura, selama itu juga tatapan Kevin semakin menggelap apalagi saat Jeck menyebut nama murit baru yang sialnya sudah membuat masalah.
"Sial, dia benar-benar minta di hukum rupanya!" geram Kevin.
"Apa Bapak akan menghukumnya?" tanya Jeck dengan nada berharap. Tampaknya ia bener-benar ingin Ririn dan dua lainnya di hukum. Ia terlalu marah dan benci pada ketiganya, bahkan untuk menyebut namanya saja Jeck tak mau.
"Lebih dari sekedar menghukum!"
Jeck melihatnya, tatapan membunuh itu. Sarat akan kemarahan dan kebencian. Hitam pekat, menjerumuskan siapa saja yang melihatnya. Mencekam dan mematikan.
"Tapi kita perlu bukti," tambahnya menatap pintu tooilet siswi nanar.
Hanya satu kendala yang menghalanginya menghukum ketigannya, bukti.
"Bukti apa?" ujar seseorang dari mengagetkan mereka.
"Eh," seru Jeck spontan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aura dengan nada menuntut. Tatapan curiga ia layangkan pada keduanya, tak perduli bila salah satunya adalah wali kelasnya.
"Tentang Ririn," ujar Kevin. Ia takningkn menutupi appun. Dari Aura begitu juga Jeck. Kedduanya tak iinngin apa yang telaah Aura alamii teruulanng kembali.
"Apapun rencana yang kalian buat semoga tak membahayakan diri kalian!" ujar Aura dengan dengusan di akhir ucapannya. Entah kenapa semua yang berada di dekatnya suka sekali bermain dengan kubangan masalah. Apa karna itu ia suka bermain-main dengan Masalah?
"Tenang saja."
"Terserah," ujar Aura acuh. Ia tampak kembali merapikan seragam yang ia kenakan, untung saja hanya seragamnya yang kotor bukan rambutnya.
"Sekarang, kita harus ke kelas dan Aura!" ujar Kevin menjeda ucapannya, membuat Aura menatap bingung dirinya.
"Ya?" sahut Aura menanti kelanjutan ucapan Kevin.
"Kenakan ini!!" perintah Kevin sambil melepaskan jaket yang ia kenakan.
"Eh,"
"Seragammu itu terlalu kecil dan aku tak menyukainya!" ujar Kevin setelah ia selesai menyampirkan jaketnnya ke bahu Aura.
"Ada apa dengan Kak Kevin?" batin Aura bingung dengan sikap Kevin barusan.
"Tatapan itu!" batin Jeck dengan pikiran yang berkecamukan. Ia seorang pria jadi ia tahu betul arti tatapan Kevin barusan. Satu kesimpulan yang dapat ia tangkap, Kevin tertarik pada Aura.
"Tidakkah cukup Arata saja?" batin Jeck menggeram kesal.
Salahkan saja pesona yang Aura miliki dan lagi bukan hanya Arata tapi ada dua pria lain yang menyukai aah ralat mencintai Aura. Jadi, kau harus lebih berusaha lagi Jeck.