#99

#99
Bab IX



Masih pukul tiga sore, tapi Reetha sudah tampil prima. Busana semi formal berwarna salem karya salah satu desainer muda new york yang sepanjang lutut berpadu apik dangan dua tumpuk kalung dan sebuah gelang Cartier yang berukuran maxi.


Setelah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit mengamati barisan anting, dia memutuskan mengenakan anting emas putih bermata mutiara tunggal dan memoles bibirnya dengan lipstik berwarna nude dan perona pipi yang dua tingkat lebih gelap.


Memerlukan dua kali putaran di depan cermin setinggi dua meter untuk memuaskannya sebelum duduk kembali untuk bersiap menata rambut.


Di quilted bag putih seharga tujuh ribu dolar, dia telah menyimpan dua lipstik, satu bedak padat, tiga kartu kredit - yang salah satunya sudah melebihi limit, dan uang tunai tujuh ratus dolar.


Reetha percaya diri untuk acara sore ini. Dia mungkin hanya membawa sedikit uang tunai, tapi bukan masalah besar. Tidak ada yang akan berani mengulik-ngulik dompetnya. Reetha adalah istri Travza Potra. Dia akan dihormati bahkan walau hanya datang dengan piyama saja – sesuatu yang tidak mungkin terjadi, kan?


Namun alasannya sedikit ceria saat ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan acara yang akan dihadirinya satu jam lagi.


Dari jendela kamarnya Reetha dapat melihat suaminya, Travza sedang berbicara serius dengan dua pegawai laki-laki yang bertanggung jawab pada reproduksi domba dan sapi. Berdasarkan informasi yang kurang diminatinya, ada sepuluh ekor sapi betina yang sedang hamil. Tiga diantaranya akan segera melahirkan dalam minggu ini.


Sebentar lagi dia yakin Kabot, suami Dersha, akan bergabung dengan kelompok itu. Pria yang sebagian kecil dalam dirinya mengalir darah Indian itu adalah salah satu dokter hewan yang diakui dunia. Sudah berlusin-lusin kali dia terlibat dalam proses pengembang-biakan kuda-kuda milik bangsawan Eropa hingga kaum sultan.


Kabot bahkan telah dua belas kali ke Asia untuk terlibat dalam tim yang membantu kelahiran macan, cheetah dan panda.


Keluarga ini beruntung memilikinya sebagai bagian anggota keluarga. Bagaimanapun Reetha yakin akan sangat mahal jika mereka harus membayar jasa dokter hewan selevel Kabot untuk membantu kehamilan dan kelahiran seluruh hewan ternak milik keluarga ini.


Hamil. Reetha mendecakkan lidah dengan kesal. Masalah itulah yang menghantuinya selama lebih dari dua puluh tujuh tahun ini.


Bila saja wanita hamil bisa sekuat sapi hamil, maka dia tidak akan seperti sekarang ini. Meminta-minta kepada keponakannya yang ternyata mewarisi sifat super pelit mertuanya, dan tidak tahu cara menikmati hidup.


Reetha mencoba menghitung berapa kali dia pernah jalan-jalan atau ngopi cantik dengan Greka.


Tidak pernah. Bayangkan, dia sebagai salah satu sosialita terpandang dikota ini tidak pernah menghabiskan satu kali pun waktu dengan keponakannya itu.


Dia tahu Georgia dan Greka pernah menghabiskan dua tiga kali waktu bersama. Dengan Dersha bahkan lebih banyak, tapi tidak dengannya.


Gadis itu jelas-jelas menjaga jarak dengannya.


Reetha mematikan lampu di meja rias. Dia harusnya mulai konsentrasi penuh memilih sepatu. Itu bukan urusan sepele untuk sebuah acara minum teh di taman. Tetapi pikirannya justru berkhianat.


Dia bertanya-tanya apakah Rhina sempat menaburkan benih kebencian pada Greka kecil. Apakah Greka tahu dia menjadi salah satu penyebab hingga Rhina dan Marvin keluar dari rumah ini dua puluh tujuh tahun lalu, tiga bulan setelah kejadian keguguran itu?


Reetha harap tidak. Bagaimanapun semua yang terjadi adalah ketidak sengajaan. Lagipula dia dan Travza juga mendapat beban yang sama berat, atau bahkan lebih berat, mengingat ini akan berlangsung seumur hidup mereka.


Ya ampun, itu sudah dua puluh tujuh tahun, manusia manapun seharusnya sudah melupakannya.


Reetha tidak pernah mengerti kenapa di pagi (mengerikan) itu dia tiba-tiba berpikir bahwa tempat lilin berusia dua abad itu akan menjadi objek bagus untuk Filip latihan mencat dibandingkan benda lain di rumah ini.


Mungkin karena tempat lilin itu terlihat usang dengan warna tembaga yang mulai luntur atau karena Travza sempat mengatakan tempat lilin itu seharusnya akan menjadi milik mereka, sebagai hadiah ulang tahun perkawinan ketiga mereka, jika saja Marvin tidak buru-buru menikahi Rhina dua hari sebelum ulang tahun perkawinan mereka, tiga belas bulan sebelum kejadian menyebalkan itu.


Travza saat itu memintanya bersabar atas kepelitan mertuanya dalam memberikan jatah uang jajan mingguan. Travza juga mengatakan karena Marvin telah menikah, ibunya tidak lagi dapat memberikan berbagai perabotan antik berharga fantastis kepada mereka.


Terhin, ibunya memutuskan bersikap adil dengan tidak membagi apapun kepada keluarga-keluarga anaknya yang masih hidup di bawah naungannya.


Keluar dari rumah ini jelas bukan pilihan bagi Reetha. Dia merasa berhak disini lebih daripada Rhina.


Ya, mungkin itu alasan terbesarnya. Dia ingin memancing kemarahan Rhina, membuat kekacauan, yang intinya membuat wanita berambut hitam dengan wajah secantik model kosmetik itu pergi, angkat kaki dari rumah ini.


Tempat lilin itu merupakan rencana pertamanya, yang akhirnya harus menjadi rencana terakhirnya karena dia terbebani rasa bersalah pada suaminya.


Rhina si pecinta, pemuja barang antik itu jelas-jelas tidak akan membiarkannya merusak tempat lilin itu dengan cat-cat berwarna neon. Mertuanya pun dipastikan tidak akan setuju.


Itulah juga alasannya dia memilih melaksanakan rencana pada saat Terhin harus mengunjungi salah satu kliennya. Sialnya, di saat yang sama Marvin dan Yofra sedang mengadakan pertemuan dengan tim ekspedisi dari Mesir dan Swiss di pusat kota.


Andaikan kedua pria itu ada di sana, Reetha yakin kejadiannya akan berbeda sekali.


Travza mungkin saat ini yang akan menjadi manusia pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan.


Travza telah - tanpa sengaja, membunuh janin berusia kurang dari dua bulan dan itu seketika menghapuskan seluruh kesempatannya untuk menjadi pewaris pemegang pena maut selamanya.


Seorang pembunuh tidak akan pernah diijinkan menjadi penanggung jawab pena maut.


Walaupun pembunuhan itu menghilangkan janin yang bahkan tidak disadari keberadaannya oleh pemiliknya.


Alasan apapun yang diberikan, tidak akan ada gunanya. Syarat dan ketentuan dasar ketika Pemilik Kehidupan menciptakan ke sembilan puluh sembilan pena maut bersifat mutlak. Tidak ada satupun makhluk yang dapat menggugatmya.


Travza dan Reetha mau tak mau harus menanggung beban ini seumur hidup.