#99

#99
Bab XVIII



Mereka menurunkan Comat di salah satu persimpangan sepi dekat perkebunan anggur tepat pada pukul lima sore.


Comat dengan penampilan apiknya pasti akan membuat orang-orang yang melihatnya nanti akan berpikir bahwa dia adalah salah satu pekerja dari salah satu perkebunan anggur di negara bagian ini.


Mereka tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Bagaimanapun hingga pukul tujuh malam nanti, Comat masih akan memiliki kemampuan untuk mengamankan dirinya. Dia masih dapat muncul dan menghilang serta berganti penampilan semaunya hingga batas waktu itu.


Bila perhitungan ayahnya tepat, mereka akan bertemu lagi dengan Comat di salah satu pom bensin yang berjarak kurang lebih seratus kilometer dari tempat mereka meninggalkannya tadi. Sekitar pukul tujuh lewat beberapa menit.


Sarah kembali di posisi kemudi, menggantikan ayahnya. Greka memang ditargetkan akan mengemudi saat malam sudah cukup larut, saat dimana Sarah kurang berpengalaman, dan saat ayahnya tidak lagi setangguh dulu dalam menghalau lelah dan kantuk.


Sempat terpikir olehnya tadi untuk meminta Greka mengirim ayahnya lebih dulu ke Asheville dengan pesawat. Tapi pengalaman di tempat pemberhentian truk tadi mengingatkannya kembali bahwa dia dan Greka sangat minim pengalaman dengan dunia luar.


Mereka berdua sejak kecil sudah hidup dalam kenyamanan, dan sangat jarang keluar dari zona itu.


Entah akan ada kejadian apa nanti di perjalanan ini, tidak ada satu pun dari mereka yang dapat meramalnya.


Kehadiran ayahnya sepenting kehadiran masing-masing dari mereka yang ikut serta dalam perjalanan ini.


Sarah mengganti saluran radio mencari yang sesuai dengan seleranya. Sejak Comat turun dari mobil, saluran audio itu langsung diubah ke bahasa yang mereka mengerti.


Ayahnya bahkan sampai terbahak-bahak sambil membaringkan diri di bangku baris kedua ketika mereka sudah cukup jauh meninggalkan Comat.


Tawa yang mau tak mau memancing tawanya dan Greka.


Setengah jam ayahnya – sambil berbaring, habiskan waktu bercerita tentang orang-orang dan semua kejadian di Toronto.


Dia dan Greka yang duduk dibagian depan mendengarkan dengan tekun.


“Entahlah. Aku sudah mencoba melihat dan meneliti dari segala sisi dan aku masih menyimpulkan bahwa tidak ada keuntungan apapun bagi manusia manapun. Keturunan Tuck memang yang paling beruntung bila dia meninggal, tapi itu tidak ada hubungannya dengan pena maut. Mereka tidak perlu mencari kita, dan cukup meminta para dokter menghentikan berbagai mesin penunjang hidup untuk memastikan Tuck mati. Bahkan dengan menyehatkannya kembali, faktor terburuk bahwa dia bisa saja menulis wasiat yang akan merugikan mereka. Keuntungan bagi manusia lain jika pena maut nomor sembilan puluh sembilan beralih darimu juga sangat kecil. Tidak ada satu pun manusia yang dapat memastikan siapa yang akan menjadi pengganti. Ingat, Pemilik Kehidupan tidak pernah mengadakan negosiasi apalagi tawar menawar perihal siapa yang akan jadi pemegang pena maut. Tidak pernah”


Greka mengangguk. Sarah mengklakson sebuah pick up dan menyalipnya setelah mendapat lambaian tangan dari sopirnya.


“Bagaimana dari sisi malaikat maut yang akan bertanggung jawab atas pena maut. Adakah kemungkinan Comat hendak disingkirkan agar posisinya digantikan oleh malaikat maut lainnya”


“Kemungkinan itu tetap ada, tapi seperti terpilihnya manusia pemegang pena maut, begitu pula dengan Malaikat maut yang akan dipilih sebagai penanggung jawab pena maut. Pemilik kehidupan tidak pernah melakukan negosiasi dan tawar menawar untuk posisi itu. Dia mungkin membuat pertimbangan bila malaikat maut sebelumnya membuat rekomendasi atas malaikat maut lainnya. Namun hanya itu. Keputusannya tetap tidak dapat diprediksi. Apalagi jika Comat dicabut paksa dari posisinya sebagai malaikat maut seperti ini, jelas-jelas dia tidak akan bisa merekomendasikan rekannya sebagai penggantinya”


Sarah dan Greka mengangguk setuju. Mereka saat ini tidak dapat menemukan indikasi apapun bahwa kejadian ini disengaja oleh seseorang ataupun sesuatu. Kejadian ini semata-mata karena kesalahan sepele.


“Kejadian ini jelas-jelas karena kecerobohanku” ayahnya menarik selimut dan bergerak menyesuaikan diri dengan tempatnya berbaring.


Sarah melirik spion tengah dan menatap sedih punggung ayahnya yang terlihat begitu rapuh saat ini.


“Tidak, aku juga lalai. Tapi kita harus bersyukur ini segera diketahui, dan kita harus yakin ini akan bisa kita selesaikan”


Greka telah mengatur duduknya agar kembali menghadap ke kaca depan. Pandangannya ke jalanan terlihat tegas, seakan yang dikatakannya tadi lebih cenderung ditujukan ke dirinya sendiri daripada mereka yang sedang bersamanya.


Sarah melirik spion lagi. Dia sempat menangkap anggukan kecil ayahnya.


Sarah mencengkeram kemudi. Dia akan melihat ini dari sisi positif juga.


Dia akan melihat pengalaman ini sebagai salah satu pelajaran yang akan mempersiapkannya menjadi marketing maut resmi nantinya.


Ya, dia memiliki keyakinan akan tetap menjadi marketing maut. Dia harus tetap mempertahankan keyakinan itu. Bukan demi dirinya sendiri, tapi juga demi pria tercinta yang terbaring lelah di belakangnya.