
Pandangan heran resepsionis motel yang terletak seratus meter dari kantor polisi itu sudah hilang tak berbekas ketika Yelsnav menjelaskan padanya bahwa ketiga muda-mudi di belakangnya adalah anak-anaknya, dan mereka hanya membutuhkan satu kamar untuk membersihkan diri, dan beristirahat beberapa jam saja. Bukan untuk menginap.
Jam tangannya sudah menunjuk pukul enam lewat dua puluh menit ketika resepsionis wanita berwajah lelah itu menyerahkan kunci kamar nomor tiga puluh sembilan.
Masih terlalu pagi bagi siapa pun untuk beraktivitas normal.
“Kalau kalian check out lewat dari pukul satu, kalian akan dikenakan hitungan biaya menginap dua malam. Kamar kalian terletak di gang kanan.”
Yelsnav mengangguk cepat dan keluar. Urusan uang bukan masalah besar bagi kelompok mereka.
Waktu. Faktor itulah yang terpenting bagi mereka saat ini. Sayang, hal itu tidak dapat dibeli dengan harga berapa pun.
Dia memanggil Sarah, Greka, dan Comat yang sedari tadi bergerombol di dekat mobil mereka agar segera mengikutinya.
Mereka memang hanya mengutusnya untuk melakukan check in, dan memilih tidak masuk ke lobi resepsionis yang berbentuk ruangan kecil berornamen kayu ukiran, karena keadaan mereka yang pasti memancing curiga.
Pakaian yang penuh lumpur dan noda darah, hingga sosok Comat saat ini sebagai Andrew Garfield adalah penampilan yang akan memancing resepsionis berambut super pendek itu mengangkat telepon.
Entah, dia akan menelepon polisi atau akan menelepon teman dan kenalannya.
Greka membawa satu tas kanvas kecil dan tas ‘tukang pos'-nya, Sarah membawa satu tas kanvas berukuran sedang yang pastinya telah berisi gabungan pakaiannya dan anaknya itu.
Yelsnav mendesah lega, merasa beruntung Sarah diikut sertakan Greka dalam perjalanan ini.
Selain dukungan moril yang dirasanya karena kehadiran anak tunggalnya itu, Sarah juga cukup cekatan dalam memikirkan hal-hal sepele seperti ini.
Sarah sejak mereka memarkir mobil di parkiran motel, telah sibuk memilah barang yang akan dibawa untuk digabung dalam satu tas saja. Dia bahkan memindai ukuran Comat dengan cepat untuk menentukan pakaian-pakaian apa yang akan cocok dipakainya untuk sementara, hingga dia bisa merubah diri ke sosok yang lain pada pukul tujuh malam nanti.
Comat mengikuti mereka dengan menjinjing dua tas plastik besar. Semuanya berisi makanan ringan, roti, coklat, telur rebus, macam-macam selai hingga minuman.
Mereka hanya perlu melangkah kurang lebih lima belas meter dari parkiran untuk menemukan pintu berwarna hijau lemon bercat hitam cukup besar bertuliskan nomor tiga puluh sembilan. Kamar yang mereka sewa.
Yelsnav melirik ke kiri dan kanan dengan cepat, melihat apakah ada yang sedang melihat atau mengawasi mereka.
Tidak ada siapa pun.
Sesuatu yang langsung membuatnya lega dan tenang.
Motel ini tampaknya tidak memiliki banyak pelanggan. Suatu hal yang dapat dimaklumi karena posisi motel itu sendiri yang terletak jauh dari pusat kota, dan musim liburan yang belum tiba.
Yelsnav membuka pintu dan segera saja bau pengharum ruangan yang sangat menyengat menyambutnya.
Ketiga pengikut di belakangnya di persilahkan masuk lebih dulu, sebelum dia menyusul dan menutup pintu.
Walau di parkiran motel itu sendiri memang terdapat satu motor dan dua mobil hitam berbeda merek, tapi dengan model yang mirip, dia merasa para pengendaranya tersebar ke kamar-kamar di gang lain.
Dia sempat mengamati debu di lantai depan kamar-kamar tetangga mereka, dan melihat tidak ada jejak kaki di sana dan debu-debu itu masih cukup tebal.
Jadi siapa pun pemilik kendaraan-kendaraan yang terparkir bersama mobil mereka, Yelsnav berharap mereka semua saat ini masih terlelap dan tidak suka mempedulikan apapun dan siapapun selain diri mereka sendiri.
“Comat, sebaiknya kamu yang lebih dulu membersihkan diri” kata Yelsnav saat melihat semua anak muda dihadapannya itu sedang berselonjor dilantai.
Tidak ada satupun dari mereka duduk di kasur atau sofa.
Sebuah keputusan bijak mengingat betapa kotornya mereka, berbeda dengannya yang hanya cukup membuka jaket dan bisa langsung naik ke salah satu dari dua tempat tidur yang tersedia.
Dia pastinya akan menjadi orang paling terakhir dalam membersihkan diri. Itu artinya dia memiliki cukup waktu untuk merebahkan badan dan melenturkan otot-otot.
Kasur yang dinaikinya terasa keras dan kain seprainya tidak lembut layaknya kasur-kasur yang biasa ditidurinya. Tapi ini jelas-jelas seratus kali lebih nyaman dari bangku mobil berlapis kulit yang berkualitas super.
“Ini menyebalkan. Menjadi manusia sungguh merepotkan. Aku sudah lebih dari lima puluh tahun tidak mandi, tapi kini…….”
“Anggaplah latihan untukmu sebelum bereinkarnasi jadi manusia. Sudah jangan ngeluh. Ini, kaos dan celana untukmu”
Yelsnav melihat Greka menyodorkan dua potong pakaian berwarna ungu dan maron ke Comat. Sarah juga menyodorkan satu celana dalam berwarna hitam miliknya – dia berharap Sarah ingat untuk memberikan celana dalam yang baru pada Comat, ke Greka yang posisinya paling dekat dengan Comat.
Mau tak mau dia tersenyum melihat mimik kesal, risau dan sedikit jijik di wajah Comat.
“Kau tahu memakainya kan? Atau ayah perlu menunjukkan caranya?”
Comat mengernyit dan segera masuk ke kamar mandi saat Sarah dan Greka sudah tidak lagi mampu menahan tawa mereka.
Yelsnav mendesah lega dan mengatur posisinya.
Kebanyakan kejadian yang mereka alami saat ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka semua, manusia maupun malaikat maut. Kejadian-kejadian yang anehnya berhasil mendewasakan diri dan jiwa mereka masing-masing.
Yelsnav tersenyum kecil sambil memejamkan mata. Ada beberapa hal yang menyebalkan tapi ada banyak hal juga yang patut disyukuri.
Salah satunya, kemampuan indigo yang dimilikinya.
Dia bersyukur kemampuannya itu tidak sekuat kemampuan kaum indigo lainnya.
Dia bersyukur kemampuannya itu datang dan pergi di saat-saat yang tepat.
Dan dia sangat bersyukur Kevza Dier menitip pesan kepada Comat bukan dirinya.