
“Ini Javier. Dia menemuiku karena ingin menyampaikan ada satu klien kita yang sudah selesai diproses sepuluh menit lalu. Verpitha Keworc. Dia meninggal tenggelam karena kram di kolam renang kampusnya”
Greka sudah menduga sosok di samping Comat adalah Javier. Dia sudah dua kali bertemu Javier sebelum ini. Pertama kali saat malaikat maut itu mengunjungi kandang sapinya dengan Comat dalam sosok Brad Pitt. Saat itu Comat juga menjelaskan bahwa Javier ingin melihat bagaimana kehidupan sapi, karena jika dia gagal sebagai malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor tiga puluh delapan, dia akan langsung bereinkarnasi sebagai sapi.
Sebuah kunjungan yang membuat heboh semua pekerja karena sangat jarang melihat dua selebritas, Henry Cavilla dan Brad Pitt, muncul di kediaman Potra secara bersamaan. Apalagi di kandang sapi.
Pertemuan kedua adalah saat malam perayaan ulang tahun ke dua puluh delapan kebun binatang mini di kota mereka – yang sahamnya sembilan puluh persen dimiliki oleh keluarga Potra.
Saat semua undangan sudah mulai berkeliling menikmati safari malam, Comat dan Javier memasuki ruang resepsi sebagai Pierce Brosnan dan George Clooney.
Sekali lagi kehadiran yang menghebohkan hanya semata-mata karena Comat tidak ingin ketinggalan menikmati kambing guling dan burung dara lada hitam.
Untung saja malam itu ada Roman dan Harley yang sigap dan cekatan mengatasi masalah itu, mengarang cerita dan mengatur agar pelayan-pelayan yang tersisa di ruangan resepsi adalah para pekerja mereka, sementara Pawtra kalang kabut mencarinya di area kebun binatang seluas tiga setengah hektar itu karena ponselnya kehabisan baterai dan tidak dapat dihubungi.
Pria tua malang yang terpaksa harus memaksakan diri berlari dengan sepatu pantofel seharga tiga ratus dolar karena nafsu makan Comat.
Semua malaikat maut memiliki aroma yang sama, itu sebabnya akan sulit membedakan siapa di sosok siapa jika tidak ada penjelasan lebih dulu.
Greka juga mengingat kliennya yang bernama Verpitha Keworc. Gadis berusia dua puluh tahun yang sudah lima kali mencoba bunuh diri itu mengalami gangguan mental akibat tekanan aktivitas padatnya sebagai model papan atas sejak berusia tiga belas tahun. Yelsnav menemukan gadis itu di atas jembatan Geumgang Gureumdari Bridge, hendak melompat tiga tahun lalu.
Selama mengenalnya, Yelsnav membimbing dan meyakinkan Verpitha untuk tetap hidup dan bertahan. Tapi akhirnya gadis itu tetap memilih jalan pintas untuk menenangkan pikiran kalutnya. Empat bulan lalu Yelsnav harus bergegas ke salah satu rumah sakit di Manhattan untuk menemui gadis itu di unit gawat darurat. Verpitha ditemukan overdosis obat tidur oleh ibu tirinya beberapa jam sebelum pemotretan iklan minuman berenergi.
Yelsnav akhirnya - setelah sebulan kejadian itu, dengan berat hati menawarkan solusi melalui pena maut kepada Verpitha. Bagaimanapun itu akan membuatnya meninggal lebih terhormat daripada bunuh diri.
Setidaknya nama dan karir yang gadis itu rintis pun akan tetap terjaga hingga akhir hayatnya.
“Javier akan menemui Dersha untuk mengantar pembayaran setelah menyampaikan ini lebih dulu ke kita”
Greka mendengus kesal. Berita dan pembayaran itu sama sekali tidak membuatnya senang apalagi dengan penampilan Comat dan Javier saat ini.
“Kalian janjian untuk membuat kehebohan di pom bensin pinggiran kota, ya?”
Javier dan Comat saling bertatapan, lalu nyengir dengan tidak berdosa.
Comat memajukan kepala seakan hendak berbisik.
Greka mengangkat salah satu alisnya sementara Javier mengangguk dengan penuh semangat.
“Comat benar. Kau jangan khawatir. Aku juga kaget ketika melihatnya tadi. Terus terang tadi aku sempat bingung memilih antara Tom Holland dan Andrew Garfield. Untung saja aku memilih Tom, begini akan ada dua Andrew Garfield di sini. Nah, kalau yang seperti itu yang baru gawat”
Penjelasan Javier disambut tawa dan busungan dada Comat.
“Itu pasti akan sangat menarik. Iya kan, Greka?”
“Ya, pasti sangat menarik” Greka melipat tangannya dengan gondok “Persahabatan kalian benar-benat luar biasa. Jangan-jangan sebelum mati, kalian berdua adalah pasangan ya?”
Javier dan Comat seketika saling menjauh sambil membelalakkan mata tak percaya ke Greka.
“Greka, itu mengerikan”
“Itu menjijikkkan”
Seruan keduanya mengandung protes yang sangat kentara. Greka mau tak mau tersenyum kecil.
Dia jelas-jelas tahu yang dikatakannya tadi tidak mungkin terjadi antara Javier dan Comat. Tapi dia tidak mampu menahan diri sedikit menggoda kedua malaikat maut yang sempat beberapa kali membuatnya kesal, gusar serta dongkol.
Tunggu, apakah semua kata itu memiliki pengertian yang sama? Peduli amat. Greka lebih memilih menggunakan ketiga kata itu daripada kata marah pangkat tiga yang akan berbuntut makian darinya dalam tujuh bahasa.
“Tapi kalian memang seperti pasangan. Pasangan yang menyebalkan”
Sarah muncul dengan senyum lebar. Greka mengacungkan jempol ke Sarah dan mengangguk tanda setuju.
“Mungkin saja kami memang berteman dekat waktu hidup. Itu seharusnya kalian pertimbangkan, daripada menuduh kami seperti tadi” Comat menggosok kupingnya “Ahh, tercemar sudah kupingku ini setelah mendengarnya”
“Jangan khawatir, toh kuping itu tidak selamanya seperti itu. Begitu ganti sosok, kupingmu akan suci lagi”
Comat dan Javier berpandangan takjub dan tersenyum lebar. Mereka lalu mengangguk polos dan terlihat senang dengan pernyataan Greka.
Sarah memutar matanya dan Greka memijat dahinya kembali. Dia rasanya mulai saat ini akan butuh balsem aromaterapi lebih sering dari sebelumnya.