#99

#99
Bab X



Greka membuka buku pencatatan dan meneliti sekilas nama-nama di sana. Buku itu hampir penuh, hanya tersisa tujuh halaman kosong. Satu halaman selalu untuk satu klien dengan berbagai detail tentang data pribadi dan kehidupan mereka masing-masing, jadi artinya sebentar lagi dia perlu membuat buku baru untuk klien-klien berikutnya.


Bila dihitung dengan nama Alexius Tuck yang diberikannya dalam ritual serah terima pada Comat dua jam lalu, maka dia tercatat sudah memberikan dua ratus tujuh puluh tujuh nama klien pada Comat sejak awal kerjasama mereka hingga saat ini.


Dia tahu bila seperti ini terus, akan ada kemungkinan baginya untuk memenuhi kuota kebutuhan nama dan mengadakan perpisahan dengan Comat selama periode kehidupannya. Dia bahkan akan memperoleh beberapa tahun untuk menjalin hubungan dengan malaikat maut penanggung jawab baru berikutnya. Namun dia akan berusaha setidaknya tahun-tahun itu tidak akan terlampau panjang. Dia akan mengatur cara hingga sampai akhir masa hidupnya nanti dia hanya perlu berhubungan sebagian besar dengan satu malaikat maut saja yaitu Comat.


Tuan Yelsnav mungkin akan kurang sepakat dengannya. Pria tua itu selalu berprinsip untuk siap bila ada yang membutuhkan. Tapi dengan Sarah mungkin akan lebih mudah. Dia beberapa kali bersyukur cukup mampu menjalin kedekatan dengan anak sekaligus penerus Tuan Yelsnav itu.


Greka bukannya bersikap manja atau egois. Hanya saja sulit baginya saat ini untuk berpikir menjalin – memulai hubungan baru dengan malaikat maut lain.


Ini bukan berarti dia terlalu terikat pada Comat. Dia hanya bersikap praktis dengan berdasarkan kisah yang pernah diceritakan oleh Paman Travza, dan Bibi Dersha tentang malaikat maut penanggung jawab pena maut sembilan puluh sembilan terdahulu yang bernama Vilzay. Dari cerita mereka, dia dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap malaikat maut memiliki pribadi berbeda satu sama lain. Sama seperti manusia.


Greka tidak ahli menjalin hubungan baru dengan sesama manusia, dan rasanya itu akan sama saat mencoba menjalin hubungan baru dengan malaikat maut.


Greka memberi penanda di halaman kosong berikutnya. Dia sudah tidak lagi berlama-lama bernostalgia dengan nama-nama klien yang telah atau sementara diproses seperti awal-awal periode tugasnya. Kini kesadaran akan perlunya kesehatan mental, dan pengurangan rasa bersalah membantunya untuk tidak se-emosional dulu.


Sebenarnya, dia bahkan tidak perlu mempersulit diri sendiri dengan membuat pencatatan atas setiap kliennya. Sarah yang sangat melek teknologi telah membuatkan sebuah situs khusus yang berisi data setiap klien pena maut nomor sembilan puluh sembilan. Situs yang hanya bisa diakses oleh Greka, Tuan Yelsnav dan Sarah sendiri.


Di situs itu tidak hanya tercatat data klien-klien yang ditangani Greka, namun terdapat data juga untuk semua klien yang pernah ditangani neneknya. Semua klien yang namanya telah diberikan kepada Comat.


Empat ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan nama klien.


Semua penginputan data mulai dilakukan melalui laptop yang berstiker anggota Avengers oleh Sarah sendiri di ruang perpustakaan pribadinya ini, selama musim panas dua tahun lalu hingga saat ini. Dia dan Tuan Yelsnav kadang saja membantu.


Bila tidak ada hambatan, Sarah sudah berencana akan mulai menginput nama dan data klien yang diberikan pada Vilzay oleh moyang dan neneknya bulan depan. Greka yang memintanya dan telah disanggupi dengan bayaran dua belas ribu dolar. Jumlah yang sepadan mengingat ada sepuluh ribu nama yang harus dimasukkan dengan ketelitian super. Dia tahu Sarah mampu dan sanggup melakukannya.


Lalu mengapa dia terus saja menyibukkan diri dengan menulis nama dan data kliennya pada buku?


Greka awalnya berpikir karena itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Namun makin kemari dia menyadari ini adalah metodenya menenangkan diri.


Ini juga menjadi cara dirinya memberikan penghargaan bagi para kliennya yang telah berani mengambil langkah menuju maut. Keberanian yang bukan karena untuk kepentingan sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan orang-orang yang mereka cintai.


Greka memeriksa situs rahasia mereka dengan cukup cepat. Sebelum pukul sembilan dia telah berhasil mengecek data-data Alexius Tuck yang diinput Sarah.


Dilihat dari jam penginputan, Sarah pasti langsung menginput data itu saat menerima pesan tertulis dari ayahnya. Tuan Yelsnav sejak adanya situs rahasia mereka itu, sekarang memiliki kebiasaan mengirim pesan tertulis padanya dan Sarah sekaligus. Pesan itu kebanyakan hanya nama dan tanggal lahir. Kadang-kadang ada foto klien, tapi data lain tetap tidak detil. Biasanya akan dilengkapi jika kedua ayah anak itu sudah bertemu, dan Tuan Yelsnav mulai bercerita tentang apa yang terjadi dengan klien mereka sehingga memilih jalan ini. Greka kadang kala bergabung bersama mereka untuk mendengarkan cerita itu, tapi kadang kala juga hanya mendengarkan melalui ponsel. Namun seringnya dia dan Tuan Yelsnav melakukan kunjungan lagi ke klien sebelum dia mencatat dan memberikan nama pada Comat.


Itu salah satu cara lain baginya untuk melakukan pembenaran pada dirinya saat melaksanakan tugas sebagai manusia pemegang pena maut.


Sayang sekali kali ini dia diminta Tuan Yelsnav untuk tidak ikut serta menemui Alexius Tuck.


“Greka, rasanya kita punya masalah. Tidak. Kita memang punya masalah”


Greka berpaling dari ponselnya ke sosok yang berdiri di depan jendela perpustakaan pribadinya.


Suara itu datang bersamaan dengan aroma khas pemiliknya.


“Maksudmu selain kebingunganmu untuk menjelma sosok siapa lagi besok?”


Greka mengamati sosok pria Asia yang dipakai Comat. Ekin Cheng dengan kulit lebih gelap dan telinga kiri ditindik.


Dulu saat menghadiri pesta terakhir perayaan ulang tahun seorang konglomerat Hongkong, salah satu klien neneknya, dia pernah bertemu dengan sosok nyata pria dihadapannya. Pria yang tampil cukup menonjol diantara tamu-tamu lainnya yang kebanyakan berusia di atas setengah abad.


Hari ini Comat sungguh berada dalam tingkatan narsis yang cukup tinggi. Kurang dari dua puluh empat jam, Comat telah tiga kali menjelma menjadi sosok-sosok yang terkenal. Bila terus begini, malaikat maut ini bisa saja akan kehabisan pasokan sosok terkenal untuk dipakai, mengingat setiap sosok hanya bisa dipakai setiap malaikat maut sekali dalam seratus hari.


Greka memucat. Suara Comat yang sangat serius, mimik yang bersungguh-sungguh, serta Comat yang tidak memiliki kebiasaan bercanda dengan hal-hal yang berhubungan dengan klien, membuatnya tahu ada sesuatu yang salah dengan klien terbarunya.


Apakah klien barunya ini, Alexius Tuck bukan nama asli dari lahir?


Itu mungkin saja terjadi. Mengingat beberapa kliennya dahulu juga telah merubah nama mereka karena alasan tertentu, atau mereka melupakannya karena mereka tidak dibesarkan oleh orang tua kandung. Itu persoalan yang sering terjadi saat dia melakukan pekerjaan ini, tapi biasanya dapat diatasi dengan hanya meminum beberapa tetes darahnya. Dengan mengkonsumsi itu, para klien akan mengetahui dan mengingat banyak hal. Nama yang diberikan pada mereka saat lahir adalah salah satunya.


Greka menggeleng cepat. Alexius Tuck jelas-jelas telah mengkonsumsi darahnya untuk sadar dari koma, itu artinya dia juga pasti akan mengingat dengan baik nama aslinya saat lahir.


Jebakan.


Greka merasakan ketidaknyamanan saat kata itu terlintas dipikirannya. Siapa dan untuk apa?


“Apa maksudmu?” Greka mengetik cepat beberapa kata diponselnya.


“Kau katakan Alexius Tuck yang harus kutemui sedang terbaring dalam keadaan koma di Toronto, kan? Itu sebabnya aku harus ke sana untuk memulihkannya”


“Benar. Lalu?”


“Well, Alexius Tuck yang kutemui berada di Asheville dan dalam keadaan amat sangat sehat. Dia tidak koma, dan sedang bermain basket dengan rekan kerjanya saat aku melihatnya pertama kali kurang lebih satu jam yang lalu”


Greka mendesah. Dia mengangkat ponsel, menunjukkan bagian layar yang terdapat foto wajah seorang pria berpakaian formal.


“Apakah ini bukan wajah yang kau temui tadi?”


Foto Alexius Tuck mungkin tidak dikirim Tuan Yelsnav. Tapi mengingat usaha dan perusahaan-perusahaan yang dipegangnya, Greka hanya perlu mengetik beberapa kata di situs pencarian dan berbagai foto klien barunya akan langsung muncul. Dia memilih cepat salah satu foto untuk dikonfirmasi oleh Comat.


Comat maju dan mengambil ponselnya. Wajahnya muram sebelum jawaban meluncur dari mulutnya.


“Seratus persen bukan dia. Pria yang kutemui tadi lebih berisi dan berambut abu-abu. Wajahnya jauh lebih bulat” Comat mengembalikan ponsel ke Greka “Apa yang terjadi sebenarnya? Tuan Yelsnav bukan tipe ceroboh”


Itu benar. Tapi pernyataan Comat itu menyulut sedikit emosi Greka. Malaikat maut itu seakan-akan menuduh kesalahan yang terjadi kali ini sekali lagi karena kecerobohan Greka.


Beberapa tahun lalu sempat ada kejadian serupa tapi tidak sama seperti saat ini. Greka menuliskan nama klien dari Rusia dan tanggal lahir dengan tidak teliti. Keuntungan dari kejadian itu, di dunia ini tidak ada manusia yang bernama dan memiliki tanggal lahir seperti itu. Jadi mereka tidak mencelakakan siapa pun saat itu. Berbeda dengan sekarang.


Greka membuka pesan yang dikirimkan oleh Tuan Yelsnav dan menyodorkan layar ponsel sangat dekat dengan wajah Comat. Dia sudah cukup mendapat pelajaran saat kejadian yang lalu, dan telah berkali-kali melatih diri untuk sangat teliti. Dia tidak melakukan kesalahan apapun saat ini.


Comat mengangguk setelah membaca pesan itu. Greka telah menuliskan nama dan tanggal lahir sesuai dengan isi pesan Tuan Yelsnav. Sama persis, tidak ada yang melenceng.


Greka melirik ke jam perak kecil berbentuk jangkar dan kemudi kapal di salah satu rak sebelum menuju ke jendela dan menarik turun layar televisi perpustakaan berukuran lima puluh inch. Dia menyalakan sambungan ke internet dan memasukkan nama Alexius Tuck ke situs pencarian tanpa embel apapun. Hasilnya terdapat lebih dari sembilan ratus ribu gambar.


“Aku akan mencoba mencari kesalahan apa yang terjadi. Saat ini sudah lewat tengah malam di Toronto. Kita coba yang terbaik sebelum membangunkan dan mengejutkan Tuan Yelsnav dengan kabar ini. Kau, carilah gambar orang yang kau temui tadi di layar”


Comat mengangguk cepat dan mulai menggulir layar, mengamati satu per satu gambar yang muncul.


Greka mengacak rambutnya sendiri dengan kasar sebelum menyalakan kembali layar ponsel.


Dia akan mulai dengan yang paling dasar. Biodata Alexius Tuck, klien barunya. Untung saja pria itu terkenal, akan mudah menemukan data-data itu di Internet.


“Semoga saja data-data itu juga akurat” katanya membatin dengan tidak nyaman.