
Yelsnav membayar taksi dan memasuki pintu utama klinik kesehatan tempat Alexius Tuck dirawat dengan terburu-buru. Wajahnya keras menyembunyikan amarah dan kerisauan dihatinya. Hari ini akan menjadi salah satu hari berat lain dalam profesinya. Dia sepanjang jalan dari hotel hingga kemari mencoba membolak-balik berbagai kejadian, hingga fakta untuk menyimpulkan mengapa dia sampai bisa melakukan kesalahan fatal ini. Kenapa dia begitu ceroboh.
Usia tidak akan dipakainya sebagai pembenaran untuk kejadian ini. Dia harus jujur akan kenyataan yang terjadi. Dia lalai, terlalu menggampangkan pekerjaannya karena sudah terbiasa dan dia telah menjadi begitu terlalu percaya diri dengan semua kelancarannya dalam melaksanakan tugas-tugas sebelumnya.
Seharusnya dia tahu akan tiba masa seperti saat ini. Sebuah kesalahan yang terlihat sangat sepele tapi berakibat sangat fatal.
Yelsnav menekan tombol lift dan merasa alat itu bergerak amat sangat lambat dari biasanya. Membuang waktu percuma hanya untuk menanti bantuan benda mati, katanya membatin kesal.
Kesalahannya kali ini membuatnya marah, kesal dan sangat malu. Dia selalu berjanji dalam hati untuk melatih diri agar dapat menjadi panutan untuk Sarah, tapi sekarang dia merasa telah merusak kesempatan itu.
Kesalahan pada tanggal lahir Alexius Tuck menghancurkan percaya dirinya.
Bagaimana mungkin dia bisa salah menulis bulan Desember menjadi bulan Februari?
Yelsnav telah beberapa kali mencoba membayangkan kejadian kemarin siang di klinik ini. Dia memang telah meminta Alexius Tuck menyebutkan nama aslinya dan keinginannya untuk menyerahkan nama yang berarti nyawanya kepada malaikat maut melalui manusia pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan.
Namun dia tidak meminta tanggal lahir pria itu. Kenapa?
Karena sebelumnya data-data kliennya itu sudah diberikan padanya bahkan sebelum dia mendarat di kota ini. Patsy Khuum telah memberikan data-data kondisi Alexius Tuck dalam tiga lembar data medis saat berkunjung pertama kali ke rumahnya. Dan dia percaya sepenuhnya pada semua pencatatan itu. Dia tidak lagi melakukan pengecekan silang. Dia bahkan tidak lagi meminta kopian identitas diri Tuck. Dia menggunakan tiga lembar data itu sebagai data konkrit kliennya, yang sekarang terbukti sangat tidak akurat.
Lift terbuka dan tampak wanita yang ingin diguncangnya karena menyebabkan kejadian ini. Patsy Khuum.
Wanita itu hanya mengenakan sweater longgar dan celana panjang yang terlihat kedodoran. Wajahnya tidak terpoles maksimal seperti biasa, tapi rambutnya tertata cukup baik. Penampilannya tetap terlihat mahal namun jauh dari kata elegan.
“Aku baru saja ingin menunggumu di depan. Yang lain sudah berkumpul di atas”
Yelsnav mengangguk. Dia berdiri kaku di samping Patsy Khuum. Sedetik setelah pintu lift tertutup, dia sudah tidak tahan lagi.
“Kenapa kau tidak memberikan kopian identitas Alexius Tuck padaku?” Yelsnav bertanya cukup keras. Dia juga dapat mendengar nada tuduhan yang sengaja tidak ditutupi pada setiap kata yang diucapkannya.
“Karena kau tidak pernah memintanya. Jadi kupikir tidak perlu”
Nada membela diri. Yelsnav sadari itu juga kenyataannya. Dia lupa meminta dan mengabaikan bukti utama untuk kelancaran proses antara manusia dan malaikat maut ini.
“Karena kupikir pengacara dengan catatan sekredibel dirimu pastilah teliti dengan hal seperti ini. Apalagi ini menyangkut nyawa klienmu”
“Pengacara juga manusia. Lagipula bagaimana denganmu? Kau mengabaikan data terpenting padahal kegiatan ini sudah seperti makanan harianmu”
“Itu karena aku percaya padamu”
“Bila kau percaya padaku, seharusnya kau meminta data lain. Bukan hanya menggunakan data medis sebagai patokan yang jelas-jelas bukan tanggung jawabku”
“Lalu kenapa kau memberikan padaku data medis bukan data kependudukan berdasarkan bidang hukum yang kau kuasai”
Mereka berdua tanpa sadar sudah meninggikan volume satu sama lain. Beruntung di saat seperti ini, lift tidak ramai dipergunakan.
Pintu lift terbuka dan Patsy Khuum langsung keluar dengan wajah merah padam. Yelsnav menyusul setelah menahan agar pintu lift tidak tertutup otomatis karena dia terlambat keluar. Dia butuh beberapa detik lebih lama dari biasanya untuk mengendalikan diri.
Yelsnav sudah meneliti kembali dengan cepat catatan yang dijadikannya patokan saat mengirim pesan singkat pada Greka dan Sarah. Catatan medis yang dibuat oleh dokter-dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan Alexius Tuck.
Ketiga dokter yang sama kini berdiri dengan gelisah di depan kamar nomor dua puluh bersama anak-anak dan menantu Alexius Tuck yang juga telah ditemuinya kemarin.
Penampilan semuanya terlihat sangat berbeda. Para dokter terlihat lebih terkendali dibandingkan lainnya. Yelsnav dapat melihat dia telah membuat kedelapan manusia ini memaksakan diri beranjak dari ranjang mereka. Sebuah tindakan yang jarang atau bahkan tidak pernah mereka lakukan seumur hidup.
Dia pun sangat jarang dipaksa terjaga pada pukul dua pagi. Setidaknya pada umur segini.
*Apakah kesalahan penulisan tanggal lahir adalah hal yang patut dimaklumi jika dilakukan oleh dokter?” pikir Yelsnav kurang senang “Mereka memang cenderung diminta teliti dalam menganalisa kesehatan daripada menyibukkan diri dengan identitas pribadi pasien. Apa ini justru kesalahan perawat?”
Yelsnav dalam keadaan biasa, tidak genting seperti saat ini, mungkin akan menjadi pihak paling memaklumi bila angka dua pada bulan kelahiran pasien sebenarnya adalah angka dua belas. Mereka, siapa pun yang menulis lupa menambahkan goresan angka satu didepannya.
Namun ini bukan keadaan biasa. Sejak Greka memberitahukan kebenaran yang didapatnya melalui informasi dari internet, Yelsnav menjadi membenci siapa pun yang menganggap itu hanya sebagai masalah sepele.
“Apakah ini artinya Tuan Alexius Tuck akan tetap koma?”
Yelsnav mengenali dokter itu dengan mudah walau tanpa jubah dokternya. Dokter Davve Kesrah yang awalnya paling pesimis dan antipati tentang kehadiran Yelsnav di sini, kini terlihat semakin tertarik dengan proses dan cerita perihal pena maut.
“Tidak, kali ini kita gunakan cara paling tua namun paling efektif”
Yelsnav menjelaskan secara singkat tentang proses penyerahan nama dan darah klien. Bagaimanapun nama klien sudah benar dan telah diucapkan oleh klien juga dengan suka rela kemarin. Jadi cara ini dipastikan akan berhasil.
Seharusnya sejak awal cara ini digunakan.
Sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak menggunakan cara ini. Meneteskan darah klien pada secarik kertas yang nantinya akan ditulisi nama mereka oleh manusia pemegang pena maut, setelah mereka mengucapkan keinginan untuk menyerahkan nama pada malaikat maut.
Alasan cara ini sudah tidak mereka pergunakan lagi semata-mata adalah untuk kepraktisan.
Butuhnya waktu tempuh untuk “kertas berdarah' itu tiba ke manusia pemegang pena maut dan kemungkinan kertas itu hilang dalam perjalanan, menjadi pertimbangan utama mereka merubah proses penyerahan nama hingga menjadi seperti saat ini.
Namun kejadian ini menyadarkan Yelsnav bahwa sesuatu yang tidak praktis seribu kali lebih aman, dibandingkan memakai jalan pintas. Sebuah pelajaran berharga yang akan sangat mahal bayarannya.
Yelsnav mendesah pelan.
Sepuluh tahun yang semuanya lancar-lancar saja, hingga klien istimewa satu ini.
Jebakan.
Yelsnav menggeleng cepat. Selama perjalanan dari hotel kemari, dia sudah mencoba menganalisa setiap kemungkinan terburuk. Hasilnya, dia tidak dapat menemukan satupun keuntungan yang mungkin diperoleh bila ini memang direncanakan seseorang. Kerugian padanya hanyalah dipecat dari marketing maut. Justru yang terburuk akan ditanggung Greka sebagai manusia penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan dan Comat sebagai malaikat maut penanggung jawabnya.
Greka akan kehilangan kekuasaan atas pena maut. Gadis itu akan menderita dan meninggal enam puluh hingga enam puluh lima hari setelah kematian Alexius Tuck yang sehat, yang sangat pasti tidak ingin mati.
Kematian yang akan memutuskan hubungan apapun antara pena maut sembilan puluh sembilan dengannya dan keluarganya. Pena maut akan menjadi milik keluarga lain.
Siapa? Tidak ada yang tahu. Keputusan itu mutlak berada di tangan Penguasa Kehidupan. Pena maut hanya akan menghilang selamanya dari keluarga Potra dan hanya akan menjadi legenda untuk keturunan selanjutnya.
Sedangkan untuk Comat, reinkarnasinya sebagai hewan sudah dipastikan akan segera terjadi. Posisi Comat sebagai penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan akan digantikan malaikat maut lain.
Tidak ada keuntungan apapun untuk manusia lain.