#99

#99
Bab II



Greka mendengar bunyi satu logam beradu dengan logam lainnya. Bunyi yang berulang dan hampir terdengar berirama. Bunyi yang berasal dari ruangan lemari sebelah kamar tidurnya.


Ruangan yang merangkap tempat ganti, perpustakaan dan tempat kerja pribadi, itu dua kali lebih luas dengan kamar tidurnya, namun suara gemerincing itu berhasil menembus rentang jarak hingga tiba di telinganya yang tertutup bantal.


Matahari belum bersinar sempurna, bahkan sinarnya belum mampu menembus tirai tebal klasik yang menutupi jendela Timur, tapi Greka tahu sudah saatnya untuk bangun. Saatnya untuk melihat dan mendengar pekerjaan apa yang telah diproses hingga selesai. Pekerjaan yang membuatnya berhak menerima pembayaran ini.


Greka memakai sandal kamar sisi kiri, sebelum menyadari bahwa dia tidak melihat pasangan sandalnya. Melirik ke kiri dan menemukan benda berbahan kulit sapi yang dicarinya terletak di bawah salah satu sofa.


Greka melemparkan sandal yang dipakainya ke bawah sofa yang sama, dan memutuskan berjalan ke ruangan lemari tanpa alas kaki. Bagaimanapun dia telah memulai hari ini dengan kebaikan. Dia menyatukan kembali pasangan sandal yang terpisah semalaman.


Bunyi gemerincing memandunya mempercepat langkah. Menyempatkan beberapa detik melirik ke cermin di sisi lain tempat tidur hanya untuk memastikan piyama yang dipakainya cukup sopan.


Ya ampun. Celananya terlalu pendek sehingga menampilkan terlalu banyak pemandangan kulit sepasang kakinya. Tapi tidak ada waktu untuk menggantinya. Kembali ke sisi ranjang lain untuk menggapai jubah tidur juga terasa terlalu membuang waktu.


Bukan masalah besar. Dia tidak akan membangkitkan sisi liar apapun dari sosok itu. Mereka tidak memiliki nafsu normal.


Greka bergegas.


Dulu, beberapa tahun lalu, suara itu selalu dihindarinya. Dia pernah sangat membenci bunyi itu. Ada masa-masa dia resah dan gemetaran. Bahkan pada beberapa bulan awal bunyi itu membuatnya muntah, hingga berurai air mata. Lalu setelah beberapa bulan perlahan rutinitas muntah berganti menjadi rasa mual saja. Kini, setahun belakangan ini yang ada hanya rasa penasaran, sedikit hampa diiringi sedikit kelegaan.


Begitu membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan ruang lemari, bau itu langsung menyergapnya. Bau asing yang tidak dapat dijelaskan secara tepat. Aroma uap tanah pada awal musim penghujan, berpadu wangi bunga liar dan kayu hutan tropis, dengan sedikit aroma manis pahit karamel mungkin adalah penjelasan yang paling mendekati untuk bau yang telah cukup akrab untuk indra penciumannya selama beberapa tahun terakhir.


Greka menggosok hidungnya dan melangkah masuk tanpa menutup kembali pintu penghubung. Bagaimanapun tidak ada yang akan menerobos masuk. Kebiasaannya mengunci pintu kamar sejak kecil, selama ini membantunya merasa tetap aman dalam menjalankan jabatannya sebagai pimpinan.


Ruang lemari hanya memiliki dua pintu untuk akses masuk. Pintu pertama adalah pintu penghubung antara kamar dan ruang lemari. Pintu itu merupakan pintu akses utama, yang menjadikan pintu kamarnya sebagai akses terpenting. Sedangkan pintu lainnya adalah pintu yang menuju ke ruang bawah tanah. Pintu itu menuju ke lorong-lorong dan beberapa ruangan bawah tanah rumah ini, atau orang-orang luar cenderung menyebutnya puri ini, dimana nanti akan membawa siapapun ke beberapa pintu masuk yang terletak beberapa kilometer dari sini. Pintu-pintu masuk itu tidak perlu dikhawatirkan oleh Greka. Ada sistem keamanan dan jebakan yang sudah diatur sebaik mungkin sejak dulu oleh para nenek moyangnya ketika mereka membangun puri ini serta segala fasilitas di dalamnya.


“Apa…….” Greka menghentikan langkahnya begitu mencapai sudut lemari hitam berbahan kayu Mahony.


Ruang lemari memang berukuran dua kali lipat kamarnya. Tapi tidak seperti kamarnya yang berbentuk persegi, ruangan itu berbentuk L. Ada beberapa jendela berterali ukuran besar di sisi terpanjang ruangan ini yang menghadap ke halaman belakang yang merangkap area kebun bunga, rumah kaca, kolam ikan dan angsa. Sedikit jauh ke kanan, akan terlihat dua rumah batu berdempetan untuk pekerja, dan beberapa meter di belakangnya terdapat istal untuk kuda. Bila berdiri di jendela paling kiri, siapa pun dapat melihat bayangan bangunan lain di balik bukit. Bayangan dari bangunan kayu berukuran hampir seribu meter persegi yang terletak di lembah tempat beberapa lusin domba dan sapi tidur malam hari. Masih bagian dari tanah milik keluarganya sejak tiga ratus tahun lalu, sama seperti hutan seluas dua belas hektar yang terletak tiga puluh meter dari kandang itu.


Semua itu akan terlihat menakjubkan bila bermandikan cahaya matahari. Namun pagi ini, Greka terpaksa mengabaikannya dan memfokuskan diri pada sosok dihadapannya.


Pria itu menjatuhkan dua koin terakhir dengan seulas senyum manis - terlalu manis, untuk makhluk dibalik yang terlihat.


“Comat?” Greka mendesis.


Untuk apa juga dia bertanya. Bau itu, satu-satunya yang bisa memasuki ruang lemari tanpa melalui pintu maupun jendela manapun di ruangan ini, dan terutama, paling utama sebagai satu-satunya makhluk yang dikenalnya yang mampu mengeluarkan koin emas hanya dengan menggosokkan ketiga jarinya – jempol, telunjuk dan jari tengah, adalah bukti-bukti yang tidak terbantahkan. Tentu saja sosok pria ini adalah Comat.


“Aku suka reaksimu”


Greka berhambur ke depan bersamaan dengan pria yang disapanya Comat hendak berdiri, beranjak dari sofa kulit.


Kecepatan Greka pasti mengaggumkan. Dia berhasil mencapai Comat dan mendorongnya kembali ke sofa dengan dua tangan, ketika pria itu masih setengah berdiri.


Greka membolak wajah Comat ke kanan, lalu ke kiri. Terlalu cepat, sehingga pria itu mengeluarkan suara keberatan yang tidak digubris gadis itu.


Dia lalu mendonggakkan kepala Comat ke atas dan ke bawah dengan kecepatan yang sama, sehingga tertunduk dan terlihat batas rambut dengan lehernya. Comat masih mengerang ketika Greka memegang kedua telinganya. Dengan rambut yang sudah pasti acak-acakan, Greka memaksa wajah Comat diam tepat dihadapannya.


Dengan jarak hanya sejengkal antar mereka, seluruh area mata, hidung hingga bibir diamati Greka dengan tajam. Ada decakan tidak puas dari antara bibirnya sebelum dia memindahkan kedua tangan ke kerah baju Comat dan memaksanya berdiri dengan tidak sabar.


DIa memutar tubuh pria setinggi beberapa jengkal darinya itu dengan tidak sabar. Decakan itu terdengar lagi. Greka mengatur posisi Comat sehingga mereka berhadapan kembali, dan mengangkat kedua tangan pria itu sehingga terentang.


“Aku terlihat segitu luar biasa, kah?”


Greka mendengus, dan menarik telinga kiri Comat. Tidak kuat tapi pasti menyakitkan, sehingga Comat meringis, dan menahan tangan Greka dengan kedua tangannya.


“Luar biasa? Sialan kau, Comat” Greka melepaskan jewerannya dan mundur dua langkah. Suaranya bergetar “Kenapa kamu pilih Lee Min Ho, hah?”


“Lho, bukannya kamu senang? Kamu sekarang sedang suka dengan drama-drama korea, kan?” Comat mengusap telinga kirinya dan melirik cemberut ke Greka.


Greka mendesah. Mau tak mau, jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tidak bisa berlama-lama mempertahankan emosi kepada makhluk ini, terutama ketika saat ini dia mengambil sosok Lee Min Ho, aktor korea yang menjadi salah satu aktor favoritnya saat ini.


Tapi melihat bagaimana salah satu malaikat maut dengan seenaknya menggunakan sosok fisik yang dikaguminya, dia gemas juga. Bayangkan sosok Lee Min Ho yang kau kagumi bagaikan pangeran, muncul dihadapanmu tapi dengan isi malaikat maut.


“Baiklah, jika kau tidak suka. Aku akan berubah…..”


“Eh, jangan-jangan” Greka berseru terlalu cepat. Senyum kecil Comat di wajah Lee Min Ho tampak penuh kemenangan.


Greka menekan kedua telapak tangannya ke dada dan menarik napas pelan. Dia perlu meredakan getaran yang ditimbulkan senyum maut itu. Dia perlu mengingat, mananamkan ke pikiran warasnya, dihadapannya ini Comat, malaikat maut pemilik pena maut nomor sembilan puluh sembilan, pena maut paling bontot yang menjadi tanggung jawabnya saat ini.


Dia tidak boleh terpesona. Dia harus professional. Dia harus sadar – sesadar-sadarnya, Lee Min Ho tidak ada di sini. Aktor favoritnya itu berada di suatu tempat dan bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Tidak perlu gugup apalagi histeris.


Sinar matahari telah menerobos jendela-jendela ruang lemari, sehingga beberapa lampu telah padam dengan sendirinya sesuai dengan sensor yang terpasang. Sialnya, itu menambah pesona sosok dihadapannya.


Greka mendongakkan kepala sedikit ke kanan.


“Kau terlihat begitu mirip. Apakah kau curang?”


Comat tertawa dan mundur dua langkah ke arah sofa yang tadi didudukinya sambil merentangkan sedikit kembali kedua tangannya.


“Aku tidak setinggi dia. Aku kurangi tinggi beberapa senti. Tentu saja sulit untuk mengetahuinya, apalagi untuk orang yang belum pernah mengenalnya. Aku juga membuncitkan sedikit perutnya. Sedikit saja, tapi itu membuatku benar-benar tidak curang”


Greka mengangguk sambil mempelototi perut yang terbungkus kemeja hitam elegan pas badan. Tampak sedikit gundukan, sedikit saja dan tidak akan kentara bila Comat tidak mengatakannya.


Malaikat maut memang dilarang untuk meniru secara tepat, akurat wujud yang ingin mereka tampilkan. Mereka harus tampil kurang sempurna atau setidaknya memiliki perbedaan dibandingkan sosok yang mereka tiru. Sekecil apapun, kekurangan atau perbedaan itu harus tetap ada. Semakin banyak perbedaan dan kekurangan yang mereka miliki, maka para malaikat maut akan semakin lama dapat mempertahankan wujud yang mereka tiru.


Mereka dapat meniru siapapun dari etnis manapun, dalam rentang usia berapa pun, asal dengan gender yang sama. Meniru yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Tapi berdasarkan cerita-cerita dari neneknya, para malaikat maut kurang suka memilih sosok yang sudah tidak ada di dunia ini. Bagi para malaikat maut yang nyata-nyata harus mati dulu untuk menempati posisi mereka saat ini, mereka sudah cukup mati untuk menjadi lebih mati lagi.


Jadi dengan kemampuan mereka, dengan narsisnya mereka memiliki kebiasaan, hobi meniru tokoh-tokoh penting dan terkenal.


Comat pernah meniru menjadi Pangeran Charles dari Inggris, Mark Zuckerberg tapi dengan rambut lebih gelap, hingga petinju Mike Tyson – saat itu bertepatan dengan hari untuk mengenang kemenangan spektakuler legenda tinju itu.


Greka bersyukur dia sangat jarang bertemu dengan Comat di luar area kediamannya, dan seringnya di ruangan lemari. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Comat muncul dengan sosok spektakulernya di depan orang yang tidak tahu siapa sebenarnya dia. Kehebohan? Mungkin lebih menjurus ke kekacauan.


“Yang ini, siapa?”


Saatnya kembali ke bisnis. Greka dan Comat adalah partner kerja. Pada dasarnya diantara mereka tidak ada perbedaan posisi. Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Mereka berdua saling membutuhkan dan saling melengkapi. Walaupun jelas-jelas satunya manusia, dan satunya malaikat maut.


Greka sebagai pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan – sesuatu yang diwariskan neneknya kepadanya dengan mengabaikan berbagai protes darinya dan beberapa anggota keluarga, bertanggung jawab menyuplai nama-nama klien yang menginginkan kematian ke malaikat maut penanggung jawab pena tersebut yang saat ini adalah Comat.


Di dunia ini terdapat sembilan puluh sembilan pena maut yang masing-masing dipegang oleh manusia terpilih. Setiap pena maut memiliki satu malaikat maut sebagai penanggung jawab. Para malaikat maut ini adalah yang terpilih dari ribuan malaikat maut lainnya.


Berdasarkan cerita yang diturunkan salah satu malaikat maut kepada moyangnya, sesungguhnya malaikat maut tidak diijinkan reinkarnasi menjadi manusia lagi. Jatah mereka adalah reinkarnasi menjadi binatang. Itu semua disebabkan dosa-dosa yang telah mereka lakukan dikehidupan sebelumnya. Namun, dengan kebijakan Penguasa Kehidupan, maka diciptakanlah sembilan puluh sembilan pena maut yang diserahkan ke sembilan puluh sembilan malaikat maut terpilih yang nantinya akan diijinkan bereinkarnasi menjadi manusia dengan syarat tertentu.


Syarat paling mendasarnya cukup sederhana. Setiap malaikat maut pemegang pena, masing-masing harus bekerja sama dengan seorang manusia mengumpulkan sepuluh ribu nama manusia yang menginginkan kematian. Setiap nama akan dicatat dengan pena maut di atas kertas oleh manusia, dibakar oleh malaikat maut penanggung jawab pena, dan diproses oleh pelayan Penguasa Kehidupan.


Mungkin terdengar kejam, tapi sesungguhnya ada niat baik di balik itu semua dari penguasa kehidupan.


Penguasa kehidupan selalu memberikan keleluasaan kepada makhluk-makhluk ciptaannya untuk membuat pilihan. Pilihan-pilihan itu yang akan mengantar seseorang ke atas atau ke bawah. Semua hal selalu ada pilihannya, kecuali dalam kelahiran dan maut.


Namun, dengan cintaNya yang besar, dia ingin memberikan kesempatan kepada sebagian ciptaanNya untuk memiliki kendali - pilihan atas maut. Sangat sedikit saja, tapi sudah sangat besar untuk manusia. Kesempatan terutama kepada mereka yang sakit keras hingga yang putus asa.


“Bayangkan mereka yang harus menanggung derita bertahun-tahun karena sakit, mereka yang harus menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain, mereka yang sadar jika mereka mencoba hidup lebih lama, maka mereka akan membunuh perlahan kehidupan orang-orang yang mereka cintai…… mereka yang tidak tahu kapan penderitaan akan berakhir, mereka yang bertanya-tanya bagaimana caranya mati tanpa dosa……… hingga mereka yang sadar lebih baik mati dengan jalan yang dilarang daripada harus menderitakan mereka yang dicintai, mereka yang ingin memilih tapi merasa tidak punya pilihan, di situlah kita hadir, Greka. Kita tidak membunuh. Kita memberikan kematian kepada yang benar-benar membutuhkannya, sehingga kita menjadikan yang hidup tetap sebagai manusia hingga nafas terakhirnya”


Nenek Terhin telah mengucapkan itu beberapa kali padanya dengan susunan kata berbeda tapi memiliki makna yang sama, dalam kurun waktu tiga tahun sebelum dia meninggal. Terahir kali neneknya masih mengucapkannya kembali, beberapa hari setelah mengumumkan pengangkatannya sebagai pimpinan. Saat dia dengan berurai air mata dan gemetaran memegang pena maut untuk mencatatkan sebuah nama yang diberikan Tuan Yelsnav. Nama pertama untuk tugasnya sebagai pimpinan.


Eridta Slaisee, 20 Maret 1997.


Greka saat itu tidak mau percaya. Dia tahu selama ini keluarga besarnya hidup dalam kemewahan dari memberikan nama kepada malaikat maut. Jadi sulit baginya mempercayai apapun yang dikatakan neneknya, maupun Tuan Yelsnav selama beberapa lama mengingat apa yang selama ini mereka terima dari pekerjaan mereka. Seribu gram emas untuk setiap nama yang selesai diproses.


Namun seiring waktu, beberapa kali melihat sendiri kondisi para kliennya, kini dia mulai merasa sedikit nyaman dengan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Dia tidak akan memaksakan diri mengatakan jalan ini adalah kemuliaan dan berkat. Tidak ada kemuliaan seperti yang diartikan dalam kosakata manusia untuk yang dilakukannya, tapi ada sedikit pembenaran, setidaknya untuk mereka yang menyerahkan nama padanya untuk dicatat.