
“Tuan Yels, Rofieb Yhaw sudah selesai diproses”
Greka tidak biasa memanggil para kliennya dengan sebutan tuan, nyonya atau nona.
“Benarkah? Enam puluh dua hari”
Greka mengangguk pelan. Dia percaya itu benar adanya. Tuan Yelsnav memiliki kemampuan mengingat yang menakjubkan. Dia mengetik kembali mengabaikan ketukan di pintu kamarnya.
“Masih di Toronto? Komisimu ingin ditransfer atau dalam bentuk sama?”
Sebuah balasan cepat masuk. “Iya, sedang menunggu…….. Transfer saja”
Greka baru hendak membuka situs komoditi Internasional untuk mengecek harga emas terbaru di ponselnya, ketika pesan lain dari Tuan Yelsnav masuk.
“Kau baik-baik saja?”
Greka mengerti apa yang dikhawatirkan pria tua itu. Bagaimanapun selama beberapa tahun terakhir Tuan Yelsnav yang selalu membimbing dan menjaganya. Di masa awal-awal dia memang begitu sulit beradaptasi, namun ada juga saat mulai terbiasa, ternyata pekerjaannya tetap mengganggu dan menghantui. Sesungguhnya memang tidak mungkin membiasakan diri untuk pekerjaan yang tidak ada biasa-biasanya ini.
“Tidak buruk. Rofieb mendapat serangan dari perampok jalanan ketika selesai menonton film favoritnya bersama dengan dua mantan istrinya. Hubungan mereka membaik (rasanya)”
Salah satu keuntungan ketika kau tahu batas waktu yang tersisa dari hidupmu.
Manusia yang tahu sesuatu, biasanya melakukan - memperbaiki segala sesuatu lebih baik daripada mereka yang tidak tahu. Begitu pula tentang batas akhir hidup.
Diagnosa penyakit mungkin memberikan kisaran batas waktu hidup melalui kacamata dokter, tapi pena maut memberikan kisaran lebih baik. Rentang waktu yang lebih pasti untuk berubah, bersiap, dan bersyukur.
Greka membutuhkan waktu dua menit lebih lama untuk menuntaskan transaksi perbankan. Dia kembali mengirimkan seribu dolar ke salah satu yayasan yang diolah keluarga salah satu sahabat neneknya, setelah mentransfer sembilan ribu tujuh ratus delapan puluh dolar ke Tuan Yelsnav. Dalam dua bulan dia sudah lima kali mengirimkan uang ke yayasan itu dan delapan kali ke rekening Tuan Yelsnav.
Suara ketukan dipintu kamarnya terdengar lagi. Kali ini lebih keras dan lebih tidak sabar. Greka menghitung sampai sepuluh sebelum melangkah mendekati pintu kamar yang tertutup.
“Ada apa, Bibi?”
“Tidak bisakah kau lebih sopan? Buka pintu ini”
“Aku memiliki urusan yang tidak ingin diganggu siapa pun” Greka menekankan setiap kata. Bibi Reetha pasti mencoba menebak-nebak apa yang sedang dilakukannya. Dia tidak peduli, karena tebakan apapun itu akan salah. Urusan yang dimaksudkannya adalah menyendiri, tidak diganggu, setidaknya sampai dia merasa lapar.
“Ada undangan dari keluarga Kaswonyc untuk sore ini. Pameran lukis anak tertuanya”
Greka menunggu. Pasti ada keterangan lebih lanjut.
“Sialan, Greka. Tidak bisakah kau buka pintu ini dan melakukan pembicaraan rasional sebagai manusia yang memiliki sopan santun. Bagaimanapun aku adalah…….”
“Berapa yang bibi inginkan?”
Sunyi beberapa detik. Tapi Greka terlalu mengenal wanita dibalik pintu itu. Dia mungkin gengsi karena harus meneriakkan keinginannya akan sejumlah uang karena keberadaan para pelayan rumah, tapi dia jauh lebih gengsi jika harus pergi ke salah satu pameran kenalannya tanpa mempersiapkan dana yang cukup.
Greka memikirkan satu guci berwarna kotoran sapi dengan bentuk sedikit menyerupainya juga yang dibawa pulang bibinya akhir tahun lalu. Kerajinan dari salah satu pameran teman kuliahnya yang ‘katanya’ terkenal, tapi Greka berani bertaruh, hanya terkenal di kalangan bibinya saja.
“Hanya dua ratus dolar. Sangat murah. Kalau dia mati, harganya bisa naik beberapa kali lipat” kata bibinya dengan semangat saat makan malam tahun baru.
Malam itu, Greka sungguh kagum dengan nilai-nilai pertemanan yang dianut bibinya.
“Lima ratus dolar, rasanya cukup. Bagaimanapun dia masih muda dan baru memulai debut-nya, jadi karya-karyanya tidak akan terlalu mahal”
Pernyataan yang menggelikan.
Greka merasa kali ini bibinya berpikir tidak dapat mengharapkan timbal balik yang cepat untuk investasi spekulasi yang dilakukannya.
“Greka, harus cash. Aku tidak ada waktu lagi pergi mengambilnya.” Bibinya berbisik tapi masih cukup jelas kata per kata.
Itu artinya tetap akan ada pelayan yang mendengarnya. Pelayan di rumah ini, entah bagaimana, selalu berada di bagian tidak terlihat namun selalu siap sedia jika dia atau anggota keluarga lain membutuhkan mereka. Mereka telah dilatih dengan baik.
“Terlalu baik, mendekati menakutkan” kata kakek Yofra.
Mereka berdua selalu tertawa jika membahas bagaimana para pelayan selalu bersikap efisien dan efektif dalam pekerjaan mereka, namun tetap beberapa kali kedapatan tidak bisa menahan diri dalam bergosip.
Greka sengaja sedikit memperlambat proses persetujuan. Ini salah satu strateginya agar dia tidak terus dipaksa untuk memenuhi dana atas kebutuhan – keinginan yang tidak jelas dari para anggota keluarga yang lain. Neneknya juga melakukannya.
Lagipula, yang dikatakannya adalah kebenaran. Dia setiap minggu memberikan uang jajan kepada seluruh anggota keluarga di rumah ini. Tepatnya ke sembilan anggota keluarga lain. Jumlahnya berbeda-beda, sesuai kebutuhan, kontribusi dan penghasilan dari pekerjaan yang mereka miliki.
Paman Travza, Bibi Dersha dan Paman Kabot tidak pernah terlalu merepotkan. Kedua sepupunya, Harley dan Roman bahkan sangat menyenangkan. Mereka tidak menuntut, bahkan kadang kala terlihat malu ketika Greka menanyakan apakah sudah mengecek transferan darinya. Mereka berbeda dengan anggota keluarga lain, mungkin karena memiliki pekerjaan yang jelas dan memiliki pergaulan yang tepat. Tidak seperti wanita di depan pintunya ini.
Greka hanya melanjutkan kebiasaan neneknya, yang juga kebiasaan dari moyangnya. Dia tidak keberatan. Bagaimanapun pendapatan keluarga ini jelas jauh lebih besar dari pengeluarannya. Seluruh anggota keluarga tahu itu. Para pelayan dan pekerja juga ‘tampaknya’ tahu apa yang dilakukan majikan mereka. Terutama para pelayan dan pekerja yang sudah bekerja selama beberapa dekade.
Tidak pernah ada diskusi terbuka. Tapi kakek Yofra membuktikannya sendiri ketika dia dan beberapa pekerja terpercaya melakukan perjalanan bersama. Mereka, para pekerja kadang suka terlalu bersenang-senang, hingga alam sadar mereka hilang dan begitu mudah mendapatkan kebenaran.
Bukan masalah besar, toh, sebagian para pelayan dan pekerja yang mereka pekerjakan memiki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan hasil karya pena sembilan puluh sembilan.
“Itu tidak cukup. Maksudku ada dua arisan yang belum kulunasi. Terlalu beresiko bila kutunda. Jangan khawatir Greka, aku akan membeli lukisan yang cocok untuk rumah ini”
Greka membayangkan lukisan yang dibeli bibinya dua tahun lalu. Gambar dua kuda nil yang cenderung tampak abstrak dan akhirnya lebih mirip dua wanita gemuk dari belakang. Lukisan yang terlalu mengerikan untuk digantung di pojok manapun dalam rumah ini. Greka bertanya-tanya dimana lukisan itu sekarang.
“Akan sulit bila Bibi minta tunai”
“Pawtra selalu memiliki tunai”
Greka melotot ke pintu yang tidak berdosa.
“Bukan untuk hal seperti ini. Dia bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah – keluarga ini dan juga membawahi tiga puluh delapan pegawai. Itu diperuntukkan untuk keadaan mendesak”
“Ini keadaan yang…..”
“Sama sekali tidak mendesak” Greka menguar rambutnya dengan tidak sabar.
Dia tidak suka melibatkan Paman Travza, tapi kali ini pria berjanggut tebal itu harus dibuat sedikit berurusan dengan istrinya yang super royal ini.
“Mintalah kepada Paman Travza. Katakan pada Paman aku akan menggantinya besok. Kalau dia mau terima transferan, akan kulakukan sore ini”
Suara dengusan teredam sampai ditelinganya.
“Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kau membiarkan Pawtra memegang uang tunai begitu banyak, sedangkan kau begitu pelit…………..”
Greka membuka pintu. Dia tidak ingin Bibi Reetha menyelesaikan kalimat yang menusuk itu.
Pawtra Gocnab adalah kepala pengatur urusan rumah tangga untuk keluarga ini. Dia sudah bekerja lebih dari empat belas tahun. Neneknya merekrutnya setelah dia berhenti bekerja dari majikannya seorang bangsawan Inggris.
Pawtra saat itu adalah pria berusia empat puluh tujuh tahun yang terpaksa berhenti bekerja karena harus menjaga anaknya yang kecelakaan lalu lintas. Lima belas bulan dia merawat anaknya yang menderita paraplegia.
Hingga tiba di masa dia menyadari anaknya tidak lagi ingin bertahan hidup. Putus asa tergambar jelas di setiap garis wajahnya ketika memandang foto istri dan anaknya yang tewas. Kematian dua insan yang paling disayanginya hanya karena dia mengemudi setelah mengkonsumsi dua gelas anggur.
Pawtra terombang-ambing berjuang antara nurani dan kasih sayang saat anaknya hampir setiap saat memohon padanya untuk menandatangani prosedur Euthanansia. Dia, seorang ayah yang tetap ingin menjaga anaknya walau apapun yang terjadi, namun dia juga adalah seorang ayah yang ingin anaknya bahagia.
Saat itulah Pawtra bertemu dengan Tuan Yelsnav. Seseorang yang membantunya memberikan pilihan lain selain menjadi pembunuh anaknya. Seseorang yang memberikan kesempatan enam puluh hari dua belas jam delapan menit bagi dia dan anaknya untuk menghabiskan waktu bersama dengan lebih bahagia dari seluruh waktu yang mereka habiskan sebelumnya. Waktu yang sangat berarti untuk jadi kenangan indah.
Greka tidak akan membiarkan Bibi Reetha mencemari semua pengorbanan dan masa-masa sulit Pawtra. Bagaimanapun nyawa putranya telah menjadi bagian dari kekayaan keluarga besar mereka, sejak anaknya mengucapkan keinginan untuk tidur selamanya dan menyebutkan namanya dengan begitu jelas tanpa keraguan di hadapan nenek Terhin.
Wanita egois, manja dan terlalu sombong akan kedudukannya itu terlihat terkejut. Tatapan Greka tajam menusuk. Itu warisan dari darah Potra, dan modal yang sangat berguna untuk dirinya yang masih terlalu muda untuk memimpin sebuah keluarga besar yang sudah berdiri begitu lama.
Sangat berguna untuk menghadapi parasit-parasit seperti bibinya ini.
“Greka, maksudku…….”
“Pergilah sebelum aku berubah pikiran, bibiku”
Wanita berusia hampir setengah abad itu langsung mengambil langkah cepat ke aula sebelah kiri. Entah mau ke mana dia, mengingat kamarnya terletak di sebelah ruang duduk anggrek yang harus melalui bentangan koridor di sebelah kanan dari kamarnya.
Greka mengernyit. Dia memandang jempolnya dan tercenung. Bagaimana mungkin luka yang sudah mengering itu lebih terasa nyeri di saat dia membuka pintu untuk berhadapan dengan wanita berotak udang, dibandingkan ketika dia menghadapi Comat tadi pagi ataupun saat mengetik pesan singkat dengan Tuan Yelsnav.