
Greka menyodorkan kantong kertas berisi tiga potong paha ayam ke Comat. Kantong kertas berisi kentang goreng dan dua gelas jumbo Cola sudah bertengger manis diantara dirinya dan Comat.
Masih ada lima kantong kertas lain yang masing-masing berisi burger, sayap ayam goreng krispi dan sosis goreng yang akan dioper petugas drive thru.
Sebenarnya petugas itu sudah lebih dulu mengoper enam kantong kertas berisi ayam goreng tepung dan kentang goreng, serta empat gelas jumbo soda, yang sudah diopernya bergantian ke Tuan Yelsnav dan Sarah yang sekarang duduk di baris depan mobil, dan ke Comat yang duduk disampingnya.
Butuh waktu beberapa menit lagi untuk sisa pesanan mereka siap. Namun karena saat ini mereka satu-satunya kendaraan yang masuk di fasilitas drive thru salah satu restoran cepat saji yang super terkenal itu, kendaraan mereka tetap berdiam di depan loket penerimaan pesanan.
Greka menikmati sodanya saat menunggu pesananan mereka siap, sambil melirik geli ke petugas drive thru – yang sebenarnya cukup cantik.
Sejak awal petugas itu sudah menaruh minat pada Comat. Beberapa kali dia melihat cewek berambut pirang itu melirik-lirik penasaran ke Comat walaupun tangannya sibuk melayani pesanan mereka.
Dia merasa, satu-satunya alasan cewek itu mampu mengendalikan dirinya adalah karena penampilan Comat yang jauh dari kata mengesankan.
Kaos Merah maron dan celana kain berwarna ungu bertotol putih hitam milik Tuan Yelsnav, telah berhasil menghilangkan kemungkinan Comat sebagai Andrew Garfield lebih dari sembilan puluh persen.
Pakaian seperti itu tentu saja tidak akan pernah dipakai oleh Andrew Garfield yang asli.
Sebenarnya Comat pun tidak akan pernah memakai pakaian seperti itu bila tidak sangat terpaksa. Dia sudah selusin kali mengajukan protes selama di kamar motel.
Tentang ukurannya yang sangat kedodoran hingga panjang celana piyama – yang untung saja memiliki tali untuk menyesuaikan besar kecil ukuran pinggang, yang hanya sejengkal ke bawah dari lututnya.
Tapi mau bagaimana lagi? Tuan Yelsnav memang tidak selangsing dan setinggi sosok Andrew Garfield yang dipilihnya.
Greka sebenarnya penasaran apakah nantinya Comat akan mulai mencari sosok populer yang memiki ukuran seperti Tuan Yelsnav untuk berjaga-jaga jika dia perlu meminjam baju Tuan Yelsnav lagi.
Tidak. Comat pasti akan tetap mencari sosok populer dengan penampilan spektakuler.
Dia yakin hal itu, mengingat bagaimana tadi Comat merengek agar mereka dapat singgah di salah satu department store untuk membeli pakaian yang sesuai dengan gaya dan ukurannya.
“Lalu kau mau mematut-matut diri di depan kaca, dihadapan puluhan hingga ratusan mata, dan memancing kehebohan yang tidak perlu? Tidak. Terima kasih” Greka mengangkat tangan menolak keras sambil mengatur bantal, bersiap tidur walau satu jam saja di kasur keras motel itu.
“Kau dan Sarah yang akan membelinya. Kalian cukup memperkirakan ukuranku. Kaos warna putih yang jauh lebih kecil dari ini dan celana jins navy yang lebih panjang dari ini”
“Tidak mau” seru Sarah saat keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkari kepalanya.
Saat itu Tuan Yelsnav sudah bangun dan sedang bersiap-siap menjadi orang terakhir yang membersihkan diri dari kelompok mereka.
“Ayolah. Ukuranku pasti tidak susah kalian cari”
“Lalu setelah kau berganti sosok, apa yang harus kami lakukan dengan pakaian-pakaian itu?”
Sebuah argumen yang menurutnya tepat, mengingat pakaian yang mereka beli berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai Comat saat berganti sosok. Pakaian-pakaian yang biasanya dipakai Comat hanyalah aksesori pelengkap perwujudan mereka dihadapan manusia dan akan menghilang bila tidak lagi bersentuhan dengan kulit malaikat-malaikat maut.
Hanya barang-barang fana tidak bernilai bagi para makhluk di dunia baka.
“Tentu saja kalian harus menyimpannya. Untuk berjaga-jaga bila kita butuhkan nanti. Tenang saja, nanti aku akan berusaha berubah menjadi sosok yang ukurannya mirip dengan yang ini”
Greka memutar mata.
“Berdoa saja agar jangan sampai kejadian ini ada lagi. Amit-amit. Jauhkan” serunya dan memutuskan sebaiknya dia mulai berusaha untuk tidur.
Ternyata sebuah usaha yang tidak terlalu sulit. Ketegangan selama beberapa jam terakhir ternyata memang melelahkan. Dia hanya dapat mengingat sedikit rengekan Comat yang diabaikan juga oleh Sarah, saat gadis itu mulai mengatur posisi bantal di tempat ayahnya berbaring tadi.
Greka mencomot dua buah kentang goreng berbumbu barbekyu dari salah satu kantong kertas yang berada antaranya dan Comat dan melirik sosok disampingnya dengan minat.
Ayam goreng potongan kedua sedang dinikmati Comat dengan sangat lahap. Sebuah pemandangan yang cukup imut dan tanpa sadar memancing senyumnya.
“Apanya yang lucu?”
Greka menyodorkan tisu padanya, dan pria itu mengambil hanya untuk menyeka asal-asalan mulutnya yang berlepotan remah dan minyak.
“Kau sudah menghabiskan satu kantong keripik kentang, dua bungkus manisan plum, tiga batang coklat, dan satu roti isi kornet sapi pedas, tapi terlihat menikmati makanan masih seperti orang yang akan berperang. Jangan buru-buru. Kesedak mungkin tidak membuatmu mati tapi pasti memancing perhatian dia”
Greka melirik cepat ke petugas drive thru yang ditanggapi cekikikan Sarah dan dengusan Comat.
“Sudah tiga jam lebih dari itu semua, lagipula kita memang sedang berperang, kan? Berperang melawan nasib buruk, untuk memenangkan karma baik”
Suara lembut si petugas dari balik jendela menghentikan Greka untuk menyahut. Dia mulai berkonsentrasi menerima dan menyalurkan lagi kantong-kantong kertas ke masing-masing pemesannya.
“Aku minta tambahan puding ya!” seru Comat sambil menyeruput Cola dengan kaki terlipat dibangku mobil.