#99

#99
Bab XXX



Jam di dashboard mobil berkerjab menunjukkan pukul enam lewat empat puluh dua menit.


Greka yang dibelakang setir menepikan kendaraan mereka ke salah satu tempat perhentian truk antar kota. Tempat yang memiliki dua mini market, tiga restoran sederhana dan satu toko khusus yang menjual DVD sekaligus merangkap warung internet.


Tempat yang jauh lebih luas dan lebih nyaman dari perhentian truk terakhir yang mereka singgah.


Mereka baru saja memasuki perbatasan negara bagian lainnya dan dia memutuskan saatnya membersihkan diri dan mencari tempat bagi Comat untuk berubah menjadi sosok lain.


Tuan Yelsnav, saat masih di motel, telah memintanya untuk menyetir setidaknya dua jam pada sore hari, sementara dia dan Sarah tidur di baris kedua. Dengan demikian ayah dan anak itu mendapat cukup waktu memulihkan tenaga hingga mereka dapat menyetir bergantian sampai pukul dua belas malam. Saat dimana Greka akan mengambil alih setir, dan tidak pernah menyerahkannya lagi pada Comat.


Comat memang dipastikan tidak akan pernah mampu melukai manusia baik disengaja maupun tidak disengaja. Tapi kemampuannya dalam menjalin kontak dengan rekan-rekan seprofesinya – para malaikat maut lain, dan jiwa-jiwa yang terlepas dari raganya – baik jiwa yang masih baru atau sudah lama, dipastikan akan membuat perjalanan mereka tidak akan mulus seperti rencana awal mereka.


Setiap penundaan memang harus diminimisir bahkan dicegah.


Greka dengan perlahan mendesah lega saat mencari tempat parkir untuk kendaraan mereka.


Dia baru menyadari selama dua jam terakhir terasa sangat berat baginya mengendarai kendaraan ini dengan hanya ditemani Comat sebagai teman bicara, karena Tuan Yelsnav dan Sarah sudah terlelap sejak Greka baru sepuluh menit menyetir.


Rasa lega dan senang bisa berada di tempat yang cukup ramai seperti ini cukup membuatnya terkejut, mengingat pribadinya yang cukup tertutup dan susahnya dia selama ini untuk merasa nyaman di keramaian.


Greka membunyikan klakson saat ada dua sepeda motor melaju berlawanan arah dengannya. Bunyi yang membangunkan Sarah dan Tuan Yelsnav.


“Tempat perhentian truk?”


Greka hanya mengangguk singkat untuk menjawab pertanyaan Tuan Yelsnav, sambil terus berkonsentrasi ke titik parkiran yang sudah diincarnya.


Sebuah tempat kosong di dekat sudut halaman belakang tempat perhentian truk, yang juga memiliki posisi di belakang salah satu restoran.


Greka melihat ada cukup banyak motor dan mobil pribadi, selain tujuh truk gandeng yang terparkir. Ada juga tiga sepeda terparkir dekat toko DVD di depan. Sebuah kawasan yang cukup ramai, sehingga rasanya kali ini kelompok mereka tidak akan terlalu menarik perhatian para pengunjung lain.


Memang bukan tempat yang cocok bagi Comat untuk berubah sosok, tapi setidaknya beberapa sudut di belakang lokasi itu yang masih berupa hutan yang memiliki semak cukup lebat dapat menjadi lokasi untuk Comat berubah.


Itu juga sebabnya dia sengaja memilih sudut paling belakang, walaupun hati kecilnya justru sangat ingin parkir di depan salah satu restoran yang terlihat cukup banyak pengunjung.


“Ini semua gara-gara Comat” katanya membatin kesal sambil mengatur posisi mobil.


Sebenarnya dia sebelum mengambil alih setir dari Sarah tadi, dia sudah berencana untuk berhenti beberapa menit di salah satu tepi jalan yang sepi yang akan mereka lewati sambil menunggu waktu Comat berubah sosok.


Rencana yang dimaksudkan agar Comat dapat memiliki lokasi sepi yang nyaman untuk membuatnya bijak menentukan sosok yang akan dipakainya.


Greka mendesah lagi dan mematikan mesin mobil dengan cepat setelah memastikan cara memarkir mobilnya sudah tepat.


Rencananya tadi tentu saja tidak berjalan lancar hingga mereka harus memilih lokasi yang cukup ramai ini untuk Comat berubah sosok.


Dan semua justru gara-gara Comat sendiri.


Greka melirik kesal ke malaikat maut yang sedang melepaskan sabuk pengamannya dengan riang.


Comat tampaknya benar-benar tidak sadar apa yang telah dilakukannya pada jiwa Greka.


“Kalian duluan saja. Aku akan bersamanya hingga waktunya tiba”


Sarah mengangguk cepat dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil. Tuan Yelsnav menghabiskan beberapa detik lebih lama untuk mengamatinya dan Comat.


“Kalian berdua tidak apa-apa?”


“Tentu saja. Apalagi ini akan segera berakhir. Syukurlah. Aku sudah tidak sabar untuk berubah”


Greka mendecak gemas dan berbalik ke belakang untuk mengangguk ke Tuan Yelsnav. Dengan tangannya, dia memberikan kode bahwa semua masih dapat diatasinya.


Tuan Yelsnav mengangkat bahu kecil dan segera turun dari mobil menyusul Sarah yang sudah berdiri tidak sabar di bawah salah satu neon box.


Begitu Greka memastikan Tuan Yelsnav dan Sarah sudah melangkah menuju ke salah satu restoran yang dindingnya bercat warna kuning putih, dia langsung mengeplak lengan atas Comat dengan membabi buta.


Dia begitu kesal dengan Comat selama dua jam terakhir dan sengaja tidak menanggapi banyak ketika Comat meminta pendapatnya atau bertanya sesuatu.


Jadi bagaimana bisa malaikat maut satu ini, sekarang dapat terlihat sesantai ini saat Greka masih mencoba mengendalikan ketakutannya.


“Hei….. Hei, tunggu. Ada apa?”


“Ada apa? Kau benar-benar tidak tahu? Kurang ajar kau, Comat. Bagaimana bisa kau melakukan itu?”


“Melakukan apa?” Comat memegang tangannya dan mundur bersandar ke pintu di sisinya.


Wajahnya benar-benar terlihat kebingungan dan itu justru makin menambah kegusaran Greka.


Setengah jam awal saat dia mulai memegang kemudi tadi, segala sesuatunya terasa aman bahkan justru menyenangkan.


Namun begitu mereka memasuki pesisir yang sepi dan kebanyakan terdiri dari hutan, suasana langsung berubah.


Comat yang tadinya sibuk bersenandung tidak jelas, tiba-tiba mulai menunjuk-nunjuk beberapa titik di luar kendaraan mereka yang sedang melaju.


Awalnya Greka tidak terlalu mempedulikan kata-kata Comat. Dia saat itu terlalu berkonsentrasi pada lagu-lagu yang bersenandung dari audio mobil.


Sarah telah memilih sebuah aplikasi mendengarkan lagu yang memutar lagu dari seluruh dunia dengan kualitas suara yang sangat baik.


Dia mulai tertarik mendengarkan celotehan Comat ketika ada iklan yang cukup panjang mengisi jeda.


“Ah, pemuda yang malang. Dia masih menanti ingin melihat kekasihnya lagi di sini. Sungguh sia-sia. Pacarnya pasti tidak mau melewati lagi jalan ini mengingat mereka kecelakaan di sini. Benar, kan? Wanita itu pasti masih trauma berat. Akan butuh bertahun-tahun untuknya pulih. Ini akan menjadi penantian panjang baginya”


“Oh, anak kecil itu sudah dua puluh tujuh tahun di sini. Ah, ternyata dia masih tidak menyerah. Kau tahu, aku pertama kali melihatnya ketika masih menjadi malaikat maut biasa, belum menjadi penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan. Saat itu aku menemani Jyulia, seniorku, malaikat maut yang sekarang menjadi penanggung jawab pena maut nomor lima puluh lima”


“Hei, wanita itu baru seminggu di sini. Dia dulu seorang pencuri profesional. Kasihan sekali, dia salah memilih rekan saat operasi terakhir”


Dan masih ada selusin cerita lain yang Greka harap dapat dihapus dari memorinya. Cerita-cerita yang pasti akan mengganggu pikiran dan emosi manusia normal manapun.


Cerita-cerita yang membuatnya mencengkeram setir terlalu erat dan menekan gas terlalu dalam.


‘Dasar brengsek, Comat' adalah ujaran yang sudah diucapkannya ratusan kali dalam hati untuk menyumpahi rekan seperjalanannya itu sambil memacu mobil dengan kecepatan tinggi tadi.


Greka melepaskan tangannya dari cengkraman Comat dengan mudah. Dia mengusap kasar wajahnya sambil menenangkan napasnya.


“Berhentilah menceritakan apa yang kau tahu dan lihat sepanjang jalan. Kau tahu itu menakutiku. Aku bukan orang yang tertarik dengan hal-hal mistis, horor dan menakutkan seperti itu. Ada apa sih, denganmu?”


“Jadi kau masih saja takut mendengar hal-hal itu?”


“Tentu saja. Bagaimana bisa kau tiba-tiba berpikir aku sudah berubah menjadi orang yang berani?”


Comat melipat kakinya sambil mengusap bagian lengan yamg sempat merasakan ungkapan kekesalan Greka.


Greka menepis cepat rasa kasihan yang mulai menyentuh hatinya.


Dia tahu dengan pasti para malaikat maut tidak mungkin meninggal walau apa pun yang terjadi pada mereka saat berwujud manusia, tapi mereka tetap dapat merasakan sakit dan nyeri layaknya manusia.


Rasain.


“Kupikir kau sudah tidak takut lagi karena kejadian-kejadian yang telah kita alami selama dua puluh empat jam terakhir. Terus terang, kau kelihatan sangat keren saat menyelamatkan anak-anak itu dan sangat luar biasa saat menghadapi para detektif. Kau terlihat mampu menghadapi apapun”


Greka mendengus. Dia sama sekali tidak merasa bangga dengan pujian yang dilontarkan Comat.


“Pokoknya mulai saat ini simpan semua cerita mistismu itu untuk dirimu sendiri. Jangan katakan atau jelaskan apapun. Terutama saat aku sedang menyetir. Mengerti?”


Comat mencoba mengucapkan sesuatu tapi pelototan dan jari telunjuk Greka yang begitu cepat teracung di depan wajahnya berhasil meredam apapun yang awalnya ingin dikatakannya.


Greka menggeleng cepat saat cerita-cerita Comat mulai membentuk visual-visual khayalan di kepalanya.


“Sekarang kau pergilah. Cari lokasi untukmu dapat berubah, waktumu kurang dari sepuluh menit” Greka menunjuk asal beberapa sudut di depan mobil mereka, yang semuanya terlihat seperti hutan dan semak yang tidak terurus.


“Bagaimana jika aku berganti sosok di salah satu kamar mandi dari bangunan-bangunan ini?”


Greka menutup matanya dan memijat pelan pelipis sambil mengatur emosinya.


“Menurutmu apa yang akan terjadi jika kau masuk seperti ini dan keluar dengan sosok lain, hah? Kau pikir penampilanmu saat ini sangat membaur dan tidak dikenali ya?”


Comat menjetik jemarinya dan mengangguk cepat.


“Aaahhh, kau sangat benar. Belum lagi kalau aku keluar dengan sosok super keren” Comat tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah “Waaah, kau memang pintar. Pintar dan keren”


Greka tidak sempat membalas apapun karena Comat sudah membuka pintunya dan melompat turun.


Melihat Comat menghilang di salah satu petak semak, mau tak mau memancing senyum kecil Greka.


Dia memutuskan untuk turun juga, berjalan diseputar mobil mereka agar dapat melemaskan otot-otot sambil menunggu Comat kembali dengan sosok barunya.


Mereka rencananya nanti akan menyusul Sarah dan Tuan Yelsnav bersama-sama untuk makan malam, setelah urusan pergantian sosok ini sudah selesai.


Greka sudah memutari mobilnya sekali dan kini berdiri di dekat pintu pengemudi ketika sebuah minibus berwarna merah metalik masuk dan mengambil posisi parkir di depan kendaraan mereka.


Seorang pria keturunan afrika-amerika melompat keluar dari posisi pengemudi begitu mesin mobil dimatikan, dan bejalan sangat cepat ke salah satu restoran.


Sesaat kemudian pintu penumpang di samping pengemudi terbuka perlahan, dan seorang bocah laki-laki berusia belum genap sepuluh tahun dengan warna kulit tembaga dan model rambut yang lucu juga keluar.


Sebuah pintu di belakangnya terbuka, dan menampakkan sosok wanita cantik dalam balutan gaun santai selutut bercorak daun dan bunga matahari turun dengan anggun.


Jennifer Aniston.


Greka terpaku dikakinya beberapa detik, terpesona akan keberuntungannya dapat bertemu dengan aktris papan atas, hingga mulai menyadari keanehan dari situasi ini.


Aroma yang khas yang sangat dikenalnya, mobil minibus buatan Jepang yang pasti bukan kendaraan yang akan dipilih Jennifer Aniston, hingga lokasi mereka bertemu saat ini, segera mengirimkan pesan bertubi-tubi ke akal sehatnya.


*Seorang malaikat maut lain.


Seorang penanggung jawab pena maut lain*?


Greka berdiri kaku ketika pertanyaan itu terlintas dipikirannya.


Wanita - Jennifer Aniston, itu tersenyum padanya sambil menggenggam tangan si bocah, dan melangkah perlahan menuju tempat pria tadi yang semobil dengan mereka masuki.


Menimbang untuk bertanya, Greka berniat maju mendekati objek yang menarik perhatiannya. Tapi sebelum niatnya terlaksana, suara teriakan kaget seorang wanita berhasil menarik seluruh konsentrasinya.


Suara teriakan yang berasal dari semak tempat Comat masuki tadi untuk berganti sosok.


Greka berlari cepat menuju arah suara. Dia menghalau kasar semak dan menemukan punggung seorang wanita setengah baya lebih dulu, sebelum melihat Comat yang berdiri tegang beberapa meter dari wanita itu.


Dalam keadaan hampir telanjang.


Greka membelalak dan memutar kepala secara kalut untuk melihat dan menilai situasi.


Satu gerakan ke kanan mempertemukannya dengan tatapan heran bocah laki-laki dan tatapan geli Jannifer Aniston palsu yang kini berdiri di batas parkiran yang teraspal dan semak yang diterobosnya tadi.


Greka menelan ludah dan bergerak menatap Comat yang mulai terlihat panik.


Hampir pukul tujuh. Kurang dari empat menit lagi.


“Dasar pemuda mesum. Mau ngapain kamu, hah?”


Teriakan marah wanita yang diiringi acungan pisau kecil menyadarkan Greka bahwa wanita itu juga sedang memegang beberapa umbi ditangan lainnya.


Comat salah memilih lokasi.


“Nyonya…… ibu maafkan kakakku” Greka memeluk tangan wanita itu dengan erat.


“Kakakmu?"


“Iya. Dia kakakku. Dia…..” Greka melirik Comat “Dia sedang kurang sehat jiwanya”


“Apa?” Comat menghempaskan celana dan kaosnya ke tanah dan berkacak pinggang hanya mengenakan celana dalam.


Greka menahan napas dan memutuskan lebih baik dia berkonsentrasi melihat si pemegang pisau.


“Sungguh. Dia memang suka bertindak aneh sejak kecil. Saat ini semakin parah saja”


Wajahnya yang lebih cenderung ketakutan daripada memelas tenyata cukup mampu menyentuh hati wanita berambut keriting itu.


“Kurasa kau benar, nona. Dia memang terlihat agak kurang normal. Padahal dia pemuda yang tampan” wanita itu menggeleng prihatin, menurunkan pisaunya dan mulai melangkah menuju parkiran “Kasihan sekali kau harus mengurusnya”


Greka mengangguk sedih dan perlahan mundur mendekati Comat.


Begitu dilihatnya wanita itu menghilang di pintu belakang salah satu restoran, dia berlari ke Comat, meraup baju dari tanah dan menyeret sosok itu dengan gemas.


“Aku protes keras. Aku tidak gila, Greka. Aku hanya melepaskan baju agar bisa berganti sosok. Dengan melekatnya barang-barang ini, aku tidak bisa berganti sosok. Kau tahu itu kan?”


Greka mengangguk. Tentu saja dia tahu itu. Tapi masalahnya manusia normal lain tidak tahu dan tidak akan percaya walau mereka menjelaskannya.


Pernyataannya tadi adalah paling cepat yang terlintas, dan pastinya paling cepat untuk menyelesaikan masalah ini.


Greka melirik jam tangannya. Satu menit lagi. Waktu sudah begitu sempit. Mencari lokasi baru akan menjadi resiko lain bila ada orang juga disana.


Dia melewati bocah laki-laki yang masih kebingungan dan Jennifer Aniston imitasi – sesuatu yang tidak lagi diragukannya, yang masih kelihatan geli dengan adegan yang sedang disaksikannya.


Bagasi mobil.


Dia melempar pakaian yang dibawanya ke Comat, meraba kunci mobil di saku jaketnya dengan gugup, mengeluarkannya dan segera menekan sebuah tombol.


Semua dilakukan dengan satu tangan, karena tangan lainnya sibuk menarik Comat yang masih cerewet memprotes karena disebut kurang waras.


Tuan Yelsnav dan Sarah yang sedang berjalan perlahan menuju kendaraan mereka, langsung menangkap kepanikannya ketika melihat keadaan Comat.


“Bagasi mobil” teriaknya.


Dua sosok itu langsung berlari ke bagasi, membukanya dan mengeluarkan berbagai ukuran tas kanvas dan ransel secepat mungkin. Menyiapkan ruang yang cukup untuk Comat masuk.


“Tunggu dulu. Aku tidak mau berganti di sana” protes Comat ketika menyadari apa yang hendak dilakukannya.


Greka melotot dongkol.


“Bagasi mobil atau ****. Silahkan pilih”


Comat menelan ludah, melompat ke bagasi dan mengadu kesakitan.


Tuan Yelsnav dan Sarah sudah membanting cepat tutup bagasi, saat kepala Comat belum masuk dan terbaring sempurna.


Bukan masalah besar. Benjolannya akan cepat hilang.


Greka menstabilkan napasnya sambil melirik jam tangannya. Masih ada sepuluh detik. Waktu yang seharusnya cukup untuk Comat melepas celana dalamnya agar dapat berubah sosok tepat waktu.