
Yelsnav mengagumi pilihan mobil Greka untuk perjalanan mereka kali ini. Mobil berwarna perak buatan salah satu produsen otomotif ternama Jepang itu cukup lega untuk mereka bertiga. Bahkan saat Comat setengah jam yang lalu bersama-sama mereka di dalam mobil double cabin ini, mereka tetap memiliki ruang yang cukup untuk masing-masing.
Seluruh barang mereka telah diletakkan dibak belakang yang memiliki penutup dari baja anti karat yang dicat hitam.
Hanya dua kantong plastik berisi kudapan ringan dan tiga kantong plastik berbagai jenis minuman yang mengisi kabin mobil mereka.
“Apakah Comat akan bisa menyelesaikan proses ini tanpa masalah lagi?”
Sarah mendapat giliran mengemudi pertama. Untunglah sejak berusia tiga belas tahun, anaknya itu sudah diajarkannya memegang setir, melaju di beberapa ruas jalan sepi dekat hutan yang tersebar di beberapa sudut kota tempat tinggal mereka.
Sarah mungkin baru memiliki SIM kurang dari tiga tahun, tapi dia memiliki keahlian setara pengemudi berpengalaman satu dekade.
Kini gadis remajanya itu sedang mengunyah permen karet dengan ribut sambil mengajukan pertanyaan dengan melirik sesaat melalui spion tengah. Dia kembali konsentrasi ke jalan raya yang untungnya cukup lenggang ketika Yelsnav melotot, tanda memperingatkan.
“Seharusnya demikian. Ini adalah cara paling standar dan kuno dalam pelaksanaan ritual pena maut. Kita sudah menulis dengan benar nama klien dan membakar kertas darahnya. Tepatnya Comat sudah membakarnya. Benar kan, Tuan Yelsnav?”
Greka yang mengambil tempat di depan, samping Sarah, mengatur duduknya agar dapat melihatnya dan Sarah sekaligus.
“Benar. Cara ini adalah yang paling efektif dengan resiko paling minim, bahkan walaupun Greka salah menulis nama klien, Comat hanya akan muncul kembali dan memintanya mengoreksi. Tidak ada kesalahan fatal, tidak ada yang bakalan celaka. Maut tidak akan nyasar ke sembarang tempat”
Yelsnav mendarat pukul sembilan pagi tadi. Terlambat lebih dari dua jam dari jadwal awal karena adanya masalah teknis pesawat yang menyebabkan pesawat yang ditumpanginya harus mendarat darurat di Bandar Udara Internasional Chicago dan berganti pesawat lain untuk melanjutkan perjalanan.
Sebuah kendala yang tidak terlalu mengganggu karena telah diperkirakan Yelsnav sejak awal perjalanannya.
Justru yang akan membuatnya terkejut jika perjalanannya membawa 'kertas darah' akan berjalan mulus dan sangat lancar. Hal itu tidak pernah terjadi selama ini.
Yelsnav sudah ratusan kali membawa 'kertas darah' untuk menyempurnakan proses penyerahan nama klien pada malaikat maut melalui manusia penanggung jawab pena maut. Semua perjalanan membawa kertas itu – dari klien ke manusia pemegang pena maut, tidak pernah ada yang mulus. Entah karena alasan apa, perjalanan-perjalanan itu selalu mendapat hambatan. Hambatannya bisa kecil, bisa juga besar seperti yang terjadi hampir tiga puluh tahun lalu. Kapal kecil yang ditumpanginya dari Devonport tenggelam. Dia dan para kru kapal serta dua puluh penumpang lain terapung di laut lebih dari sepuluh jam sebelum diselamatkan. Kalau saja tidak tahu bahwa dia sudah dijanjikan umur yang panjang karena bekerja sebagai marketing maut, maka dia pasti saat itu yakin akan meninggal.
Hal sebesar itu dan beberapa halangan sedang maupun kecil lainnya yang terjadi selama membawa 'kertas darah' itulah yang membuatnya dan Terhin memutuskan mempraktiskan proses. Apalagi kemajuan teknologi telah begitu pesat, sehingga mereka yakin proses ini bukan hanya praktis, tapi juga sangat efektif.
Yah, keyakinan yang sudah tidak lagi kuat seratus persen.
Sesuatu yang dasar, kuno, dan harus melewati berbagai hambatan terbukti lebih efisien dan diterima dunia itu.
Jalan pintas memang selalu menggoda, namun tidak selamanya aman.
“Kalian sungguh tidak masalah tidak memakai AC mobil? Jangan khawatirkan bahan bakarnya. Pawtra sudah mengisi tanki penuh, dia bahkan menyiapkan cadangan dua puluh liter di bak belakang”
“Jangan khawatir. Ayah dan aku paling suka berkendara dengan jendela terbuka. Apalagi ini perjalanan jauh”
Yelsnav mengangguk dan hanya tersenyum sambil terus memandang pemandangan yang bergerak cukup cepat. Dia tahu Greka juga suka berkendara dengan jendela terbuka, jadi praktisnya perjalanan ini sesuai untuk mereka bertiga, kecuali Comat. Dia tidak suka rambutnya acak-acakan, dan mereka bertiga tidak suka Comat mempertontonkan sosok-sosok yang memancing perhatian disepanjang perjalanan ini.
Malaikat maut itu tadi ketika menjemputnya di bandara sudah berubah menjadi sosok Idris Elba. Untunglah mereka, para penjemputnya tidak ada yang turun dari mobil. Mereka hanya menunggu telepon darinya setelah mendarat, dan langsung menjemputnya dititik penjemputan. Sebuah langkah pintar bila bersama Comat.
Yelsnav sempat meminta Comat untuk mencari referensi sosok-dosok yang tidak akan menarik perhatian selama mereka melakukan perjalanan. Bagaimanapun akan menciptakan kegemparan jika sosok kamuflase Comat dikenali banyak orang sekaligus.
Comat atau malaikat maut lain suka sekali dengan sosok-sosok publik figur, tapi tadi Yelsnav sudah berusaha meyakinkannya ada juga diantara tokoh-tokoh terkenal itu yang penampilannya tidak terlalu mencolok dan tidak akan memancing sensasi, yang dapat menjadi pilihannya. Comat hanya perlu menahan diri beberapa hari untuk dapat kembali leluasa berubah sesuai sosok sensasional yang diinginkannya jika masalah ini telah selesai dibereskan.
Walau dia tidak terlalu yakin Comat akan menuruti kata-katanya, tapi dia berharap banyak pada anggukan pengertiannya.
Mereka sudah meninggalkan Comat disalah satu sudut jalan sepi setelah dia dan Greka menyelesaikan ‘ritual serah terima'. Greka menulis dan Comat membakar. Itu sekitar dua jam yang lalu.
Mereka tidak melihat Comat menghilang, karena itu jelas-jelas tidak mungkin, tapi mereka tahu selama tidak di sini bersama mereka, salah satu tempat yang dituju Comat adalah Klinik kesehatan premium tempat Alexius Tuck, klien mereka dirawat.
Comat harus memulihkan kembali Alexius Tuck sesuai perjanjian dengan memanfaatkan waktunya yang tersisa untuk dapat muncul dan menghilang.
Entah saat itu, Comat akan memilih sosok terkenal siapa lagi saat melakukan tugasnya.
Dan bila nanti waktunya telah habis, yang dapat dilakukan malaikat maut itu adalah duduk bersama mereka dimobil ini untuk melanjutkan perjalanan, mencapai tujuan mereka, sehingga segalanya kembali pada jalurnya.