#99

#99
Bab IV



Yelsnav mengetuk-ngetukkan kedua jempolnya dengan sedikit bosan. Dia sudah hampir setengah jam di sini tapi belum juga melakukan apapun.


Baiklah, dia mungkin sudah menikmati satu cangkir kopi, satu cangkir teh dan dua potong kue coklat super lezat. Tapi bukan itu tujuannya kemari.


Dia saat ini sedang duduk di salah satu sofa terbaik yang pernah didudukinya dalam ruang tunggu terbaik yang pernah dimasukinya di salah satu klinik kesehatan terbaik yang diakui di seluruh dunia.


Klinik kesehatan premium ini lebih terlihat seperti rumah peristirahatan miliuner dibandingkan rumah bagi orang-orang yang sakit keras mendekati sekarat. Mungkin memang itu tujuannya. Bagaimanapun semua pasien di tempat ini harus memiliki kekayaan lebih dari seratus juta dolar agar dapat menikmati semua fasilitas yang disediakan dan dijanjikan klinik ini.


Yelsnav tadi sempat senang ketika menerima pesan singkat dari Greka. Susunan kata gadis itu sedikit banyak menggambarkan bertambahnya kedewasaan dan kesiapannya dalam menjalani tanggung jawabnya. Memang proses ke arah itu berjalan lebih lambat dari perkiraan awalnya bersama Terhin, tapi setidaknya mereka berhasil mencapai titik ini.


Itu tadi. Lima belas menit yang lalu. Sedangkan saat ini dia sudah mendekati titik jenuh.


Yelsnav melirik ke pintu berwarna kulit manggis dan melihat jamnya. Ini terasa membuang waktu. Dia mulai mempertimbangkan lebih serius pemikiran yang sempat terlintas di benaknya tadi saat masuk ke klinik ini. Pemikiran tentang menemukan klien yang lain, selain klien yang ditungguinya. Klien yang tentunya harus dilacak dengan hati-hati dan dinilai dengan lebih bijak, mengingat beberapa pasien di klinik ini bukan hanya sangat kaya, tapi juga sangat berkuasa dan sangat berbahaya.


Jiwa marketingnya selalu tergelitik bila berada di rumah sakit maupun klinik kesehatan. Mau semewah maupun seburuk apapun, tempat-tempat itu selalu menyediakan klien potensial. Yelsnav sangat jarang pulang dengan tangan kosong saat mengunjungi tempat-tempat itu.


Dari jendela super besar yang menghadap ke salah satu sisi taman, Yelsnav melihat seorang wanita tua berjubah tidur mewah sedang berjalan pelan dengan bimbingan seorang perawat cantik. Tampak dua orang pria dan satu wanita berpakaian resmi berjalan di dekatnya. Sama pelan, walau mereka terlihat sangat bugar.


Selama menunggu, dia sudah melihat beberapa kelompok mirip seperti itu melintas di jarak pandangnya. Berbeda jumlah, berbeda pasiennya, dan berbeda pula perawatnya.


Yelsnav bersandar dan menekuri tangannya. Dia harus mampu menahan diri. Fokusnya saat ini tentu saja pada pasien yang terletak di kamar nomor dua puluh. Kamar yang pintu berwarna manggisnya masih saja tertutup rapat.


Yelsnav mendesah pelan. Dia yakin dibalik pintu itu terdapat perdebatan sengit. Ada tiga orang pria dewasa – semuanya dokter, dua pemuda, dua wanita muda dan seorang wanita tua. Diantara mereka semua, Yelsnav hanya mengenal si wanita tua. Tidak kenal dekat, lebih tepatnya Yelsnav saat ini hanya mengetahui namanya dan profesinya.


Patsy Khuum, pengacara kelas atas untuk beberapa puluh konglomerat di seluruh dunia.


Yelsnav melemparkan pemikiran ke beberapa minggu lalu. Saat dia menerima sodoran ponsel dari Sarah di waktu dia baru saja selesai mandi pagi. Di sana tampak iklan pada salah satu media sosial yang sering menjadi tempat gaul dunia maya anak muda saat ini. Iklan singkat, padat, dan absurd.


Saking tidak jelasnya iklan itu, muncul lebih dari sepuluh ribu komentar yang bertanya maksud dan tujuan si pembuat iklan. Yelsnav bisa bayangkan akan lebih banyak lagi pesan hingga telepon yang diterima si pembuat iklan, tapi tampaknya siapa pun yang membuat iklan itu sudah siap untuk itu - mengingat dia bersedia membayar mahal untuk menyiarkan kebutuhan dan keinginannya.


Si pemasang iklan mencari pemegang pena nomor sembilan puluh sembilan. Nomor yang harus dihubungi begitu jelas. Begitu pula permohonan agar segera.


Sarah memandanginya beberapa detik, sebelum mengambil secarik kertas untuk menuliskan nomor telepon yang tertera pada iklan.


“Aku tidak tahu kalau pekerjaan ini sangat terkenal. Mungkin ini jebakan. Mungkin juga tidak. Ayah mungkin harus menghubungi Greka. Bertanya pendapatnya. Bagaimanapun dia yang dicari oleh pemasang iklan”


Yelsnav memandang tulisan anaknya dan mengangguk.


“Kalau menurutmu?”


“Menurutku ini penting dan genting. Kemungkinan jebakan ada, tapi kecil. Resikonya akan lebih besar ke mereka yang mau macam-macam”


Itu benar. Yelsnav dan Sarah tahu bagaimana manusia pemegang pena maut memiliki perlindungan yang luar biasa karena tanggung jawabnya. Para pemegang pena maut diberkati umur yang panjang, kesehatan dan kemakmuran. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan akan kehilangan harta benda mereka, tidak ada yang dapat mencuri dari mereka tanpa kena kutukan menakutkan dan paling utama adalah mereka ditakdirkan akan mati dengan tenang setelah berusia lebih dari satu abad, kecuali mereka sendiri memilih untuk menuliskan dan memberikan nama mereka ke malaikat maut sebelum waktunya. Atau ketika mereka melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Resiko untuk menanggapi iklan itu sangat kecil. Bahkan resiko untuk dirinya sendiri sebagai tenaga pemasaran juga tidak terlalu besar. Dia, bila memang ini jebakan, mungkin akan terluka. Tapi tidak akan fatal, dia akan sembuh dan berumur panjang, setidaknya dia akan mencicipi usia delapan puluh tahun, entah lebih beberapa jam, hari atau tahun tapi yang pasti tidak akan kurang sedetik dari itu. Ini adalah suatu bonus pasti yang telah dijanjikan sejak awal kepada setiap tenaga pemasaran maut yang resmi terdaftar.


Namun mengikuti usul Sarah dan nuraninya, dia lebih dulu melakukan penyelidikan menyeluruh ke iklan itu sebelum memberitahu Greka. Dimulai dengan melacak melalui telepon yang terdapat diiklan, hingga meminta bantuan beberapa orang yang dapat dipercaya, dia akhirnya dipertemukan dengan Patsy Khuum. Atau tepatnya Patsy Khuum yang datang mengunjunginya di kota ini.


Yelsnav dapat melihat pengacara wanita yang berusia hampir sama dengannya itu memiliki ketergesaan sehingga datang sendiri ke depan pintu rumahnya. Tampaknya salah satu informannya mengajukan pertanyaan yang tepat ke orang yang berhubungan sangat dekat dengan pengacara itu.


Sebuah pertemuan yang akhirnya mengantarnya ke kota ini, menyebrangi perbatasan negara dan menghasilkan kunjungan ini. Kunjungan yang tentu saja dengan persetujuan Greka juga.


Yelsnav meraba kantong di bagian dalam jas resminya. Benda itu ada di sana. Tapi bila mereka keberatan untuk menerimanya, dia pun tidak akan memaksa.


Yelsnav yakin akan menemukan klien lain yang akan bersyukur menerima benda itu.