
Setiap manusia membutuhkan sesuatu untuk bertahan hidup. Sesuatu untuk memiliki nilai dari hidup. Sesuatu itu disebut pekerjaan. Sebuah kata benda yang terbentuk dari kata kerja itu sendiri.
Ada begitu banyak pekerjaan di dunia ini. Setiap pekerjaan memiliki masa suka dan duka. Memiliki tantangan dan hambatan masing-masing. Memiliki resiko dan kepuasannya sendiri-sendiri.
Setiap pekerjaan memiliki sisi bersih dan kotor. Memiliki sisi penuh cahaya, ditemani bayangan, dan pojok berisi kegelapan. Setiap pekerjaan memiliki hak dan tanggung jawabnya masing-masing.
Antara tukang sampah dan tukang pukul, manakah yang lebih kotor? Antara pekerjaan sebagai seorang direktur dan sebagai guru, manakah lebih mulia? Memikul cangkul dan memikul senjata manakah lebih menantang?
Ada ribuan sisi yang dapat kita pilih untuk menilai antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Materi, uang, kehormatan cenderung bersinar setiap saat, namun diwaktu-waktu tertentu kilaunya dikalahkan pengalaman, petualangan dan kepuasan rasa pribadi.
Orang-orang yang sangat beruntung dapat memiliki semuanya. Tapi bagi Yelsnav Arkual memiliki pekerjaan yang mampu memberikan materi, pengalaman dan petualangan adalah yang terbaik, dan dia merasa beruntung memilikinya saat ini.
Pekerjaan yang sudah digelutinya lebih dari empat puluh lima tahun ini tidak pernah terasa membosankan. Walaupun ada masa dimana dia kadang kala harus mengeluarkan keringat dan air mata, menahan emosi dan mengorbankan waktu-waktu istirahat yang tenang, tapi itu semua tetap terasa sepadan.
Pekerjaannya adalah impiannya sejak berumur lima tahun. Dipelajarinya dengan serius hingga berumur lima belas tahun. Selanjutnya, bersama ayahnya dia mulai menjadi trainee yang mengekori kemana saja. Tepat berumur dua puluh tahun, dia menjadi pewaris sah atas pekerjaan ayahnya yang memilih pensiun di umur enam puluh delapan tahun dan menyepi di salah satu negara kepulauan dengan cinta pertamanya, yaitu ibunya.
Dua puluh tahun lalu ayah dan ibunya pergi dalam tenang. Mereka pergi hampir bersamaan, hanya selisih dua belas hari. Tapi itu tidak terlalu mengejutkannya. Bagaimanapun dia tahu dan sudah mempersiapkan diri untuk itu. Tidak ada air mata berlebihan, justru kelegaan karena segalanya terjadi sebagaimana mestinya.
Kini dia menjalankan pekerjaan warisan ayahnya dengan lebih bijaksana dibandingkan dua puluh tahun lalu. Dia tahu akan tiba saatnya dia harus mewariskan pekerjaan ini kepada anaknya. Anaknya terpesona dengan pekerjaannya, layaknya dia dulu. Walau anaknya juga sering membagi antusias itu dengan musik, film dan game online, layaknya remaja berusia sembilan belas tahun, tapi disetiap kesempatan, gadis kebanggannya itu selalu mencoba mempelajari, menyerap ilmu darinya. Jadi dia berprinsip untuk tidak hanya bekerja lebih giat, tapi juga lebih baik, selayaknya sebagai panutan, karena anaknya tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat panutan lain untuk pekerjaan ini selain dirinya.
Yelsnav Arkual tersenyum kecil sambil membaca sebuah selebaran tentang toko mainan baru di sudut jalan. Seorang wanita berusia tidak lebih dari tiga puluh tahun menyerahkannya ketika dia melewati sudut jalan itu.
Toko itu memiliki posisi yang strategis. Di sudut jalan yang ramai, dan dekat perkantoran, perhotelan hingga klinik kesehatan. Tapi wanita yang membagikan selebaran itu terlihat kewalahan membagi brosur-brosur di tangannya. Semua orang terlihat sibuk di pagi Selasa itu. Pria, wanita, baik tua maupun muda cenderung tidak menggubrisnya. Hanya satu atau dua orang yang menanggapi, walaupun tidak antusias. Itu sebabnya Yelsnav sengaja berjalan mendekati wanita itu, menerima sodoran brosur dengan senyum ramah dan menyempatkan dua tiga menit mendengarkan tentang berbagai diskon yang ada selama periode grand opening tiga hari ke depan.
Dia harus bermurah hati seperti itu, karena bagaimanapun pekerjaannya tidak berbeda jauh dengan wanita tersebut. Ya, dia adalah seorang tenaga pemasaran juga. Dia adalah orang yang langsung berhubungan dengan klien mewakili pimpinannya.
Tapi berbeda dengan wanta itu, yang ditawarkan Yelsnav bukanlah mainan. Bukan pula ponsel, makanan atau barang-barang lain yang berbentuk fisik. Dia menjual jasa. Produk yang unik, cenderung ke bidang yang tidak masuk akal. Bukan jasa jenis konvensional seperti hukum, pendidikan hingga keuangan. Tapi jasa yang akan membuat semua orang, semuanya, memandangmu curiga, menganggapmu gila, dan kadang kala menagis tidak terkendali ketika kau pertama kali menawarinya.
Dalam menjual jasa, Yelsnav harus meyakinkan dirinya sendiri dahulu bahwa orang-orang yang nanti akan ditawarkan benar-benar butuh dan tepat memperoleh jasa ini. Pemimpinnya yang memiliki keahlian unik, berkali-kali mengingatkan agar dia tidak memaksakan seseorang untuk mau menerima jasa ini. Cenderung dia menyarankan untuk membujuk. Bahkan walaupun harus menggelontorkan uang sekian puluh juta, pimpinannya tidak masalah selama klien tidak merasa terpaksa.
Itu sebabnya, Sarah, anaknya mungkin tidak akan pernah menemukan guru, panutan, atau rekan kerja lain untuk menjalankan pekerjaan ini, selain dirinya.
Yelsnav adalah marketing maut. Dia menjual, tidak – dia tepatnya menawarkan kematian. Benar-benar kematian yang sesungguhnya. Sebuah kondisi dimana raga dan jiwa berpisah, dimana seseorang tidak lagi dapat disebut seseorang, dan bila beruntung, akan ada beberapa kenalan saudara menangis dan mengucapkan selama tinggal padamu untuk selamanya.
Pekerjaan yang menakjubkan ini adalah pekerjaan yang telah diwariskan sejak kakek dari neneknya sebelah ayah. Pekerjaan yang digeluti keluarganya lebih dari dua abad, dan bila tidak ada kesalahan maka akan diwariskan terus hingga keturunannya kesekian.
Dia sendiri untuk empat puluh lima tahun ini telah membaktikan diri kepada tiga pimpinan yang berbeda. Pimpinan pertamanya adalah warisan ayahnya ketika pensiun, Pimpinan Erem Nusltan. Seorang pria berusia tujuh puluh delapan tahun yang berwajah sangat ramah. Masa baktinya kepada pimpinan ini dua belas tahun lebih beberapa minggu. Selanjutnya, Yelsnav membaktikan diri kepada putri Erem, Terhin. Seorang wanita yang berwajah datar tapi memiliki suara menenangkan. Masa baktinya cukup lama, hampir dua puluh delapan tahun. Kini dia membaktikan diri kepada cucu Terhin, Greka Potra. Wanita muda yang tahun ini, seminggu lalu, baru genap berusia dua puluh lima tahun.
Beberapa minggu sebelum menutup mata, Terhin mengundangnya makan malam bersama keluarga besarnya yang terdiri dari delapan anggota keluarga lain. Makan malam yang menyenangkan, walaupun Yelsnav sudah mengetahui akan ada penyampaian istimewa di penghujung pertemuan.
Seperti dugaan, Terhin menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pimpinan, di ruang perpustakaan mewah, dan menyerahkan posisimya kepada salah satu cucunya yaitu Greka Potra. Beberapa orang di ruang perpustakaan mewah itu terkejut, beberapa memaklumi dan tiga orang protes besar.
Beberapa jam sebelum serangan jantung yang merengut nyawanya, Terhin meminta pertemuan pribadi dengan Yelsnav. Mereka berbincang lebih dari tiga jam. Tentang berbagai kenangan, cerita masa lalu hingga harapan - terutama harapan. Harapan Terhin agar Yelsnav dapat menjadi pembimbing hingga teman untuk cucunya, Greka.
Sebuah harapan yang dapat dimaklumi mengingat bagaimana Greka selalu menolak, selalu keberatan menjadi penerus pimpinan. Greka Potra adalah gadis penyendiri, sedikit ceroboh, dan kurang peduli yang menginginkan kehidupan normal layaknya remaja lain. Sejak kematian ayah dan ibunya dalam kecelakaan pesawat ketika dia berusia tujuh tahun, Greka memilih tertutup. Menolak perhatian siapa pun selama beberapa tahun, dan akhirnya saat remaja mulai menerima bahwa dia tetap harus bersosialisasi untuk melanjutkan hidup. Sedikit terlambat, sehingga telah timbul antipati dan jarak yang tidak terjelaskan. Hal lain yang mendorong gadis remaja itu mencari keceriaan di lingkungan yang masih dipertanyakan, berlebihan tanpa mempedulikan kata orang.
Setahun terakhir sebelum kematian Terhin agak lebih baik untuk pribadi gadis itu. Sejak dia mulai mengenal cinta dan pengkhianatan, disusul kematian Yofra Potra, kakek yang selalu ada untuknya, walau sekacau apa dia berulah.
Kini, mereka berdua telah lebih dari lima tahun menjadi satu tim dalam memasarkan dan melaksanakan jasa pemberian maut. Sebuah perjalanan cukup panjang yang bagaikan naik roller coaster untuk orang seusia dirinya, Yelsnav merasa Greka mulai dapat menerima posisinya. Keluhan semakin berkurang, pertanyaan memusingkan yang tidak pada tempatnya mulai mereda, namun keras kepala masih dapat ditemukan pada saat dan momen yang tidak tepat. Menyenangkan dan menyebalkan berbaur satu. Anehnya, dia merasa bila suatu saat nanti Greka dan Sarah menjadi satu tim, mereka akan cocok satu sama lain.
Tim itu mungkin - sembilan puluh sembilan persen kemungkinan terbaik, awalnya akan menjadi tim maut paling kacau dan memusingkan para malaikat maut, tapi tim itu akan menyegarkan bagi kelompok malaikat yang sangat menyukai semua busana berwarna gelap.
“Suatu saat nanti” pikir Yelsnav, sambil menatap lampu lalu lintas menunggu izin untuk menyeberang.
Masa untuk Sarah akan tiba beberapa tahun lagi, untuk saat ini dialah yang akan menjadi tenaga pemasaran maut hingga saat itu tiba.