
Greka membuka mata dengan bingung. Sedetik sebelumnya dia merasakan hentakan yang membuat tubuhnya berayun sekaligus menariknya dari alam mimpi.
Masih setengah sadar dia juga berhasil menangkap jeritan-jeritan kaget di belakangnya. Suara yang mengembalikan ingatan-ingatan tentang dimana dia saat ini dan sedang apa.
Refleks dia menyentuh dada dan merasakan sabuk pengaman berlapis beludu.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
Greka tahu itu pertanyaan yang juga ingin diajukannya, tapi terlambat diucapkan karena masih kebingungan.
“Greka, kau tidak apa-apa?’
Suara pria yang menyusul setelahnya terdengar sedikit panik.
Greka mengangguk dan berpaling cepat untuk melihat Sarah dan Tuan Yelsnav. Kedua orang itu terlihat terkejut namun baik-baik saja.
Untunglah mereka semua mengenakan aabuk pengaman.
“Ada apa, Comat? Apakah kita menabrak sesuatu”
Suaranya terdengar sedikit serak, padahal bila melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam digital di dashboard, dia baru tertidur kurang dari satu jam.
Saat ini pukul dua lewat dua belas menit. Artinya mereka sudah cukup jauh dari halte bis, tempat dia dan Comat tadinya bergantian posisi untuk mengemudi.
Saat itu Sarah dan Tuan Yelsnav sudah tertidur pulas di baris kedua.
“Kenapa Comat di situ?”
Greka menguap saat Sarah sudah maju menopangkan tangan ke bangkunya.
“Tadi kami bergantian untuk mengemudi”
“Kau mengijinkan Comat mengemudi? Dia bahkan tidak punya SIM, Greka”
Sarah menatap bingung.
“Tapi dia tahu mengemudi, dia seahli aku, bahkan lebih baik. Dia juga makhluk yang tidak bakalan mengantuk”
Greka mengucapkan pembelaan atas keputusannya yang diragukan oleh Sarah dengan sedikit berapi-api. Emosinya karena mendadak terbangun dan protes Sarah telah membangkitkan naluri pertahanan dirinya.
“Lalu kalau kita sampai dihentikan polisi, bagaimana? Apalagi kalau ada kecelakaan dan tabrakan, menurutmu apa yang akan terjadi?”
Sarah benar. Keberadaan Comat di balik setir seharusnya tidak boleh terjadi. Tidak adanya SIM dan bila harus berurusan hingga ke kantor polisi, akan mengakibatkan banyak masalah baru dalam perjalanan mereka. Tapi mengalah tanpa argumen bukanlah tabiatnya.
“Malam-malam begini mana ada polisi. Makanya aku berani memintanya menggantikanku. Aku juga tahu resikonya. Aku tidak bodoh……..”
“Iya, Tapi ceroboh. Sekarang bagaimana kalau dia menabrak orang atau kecelakaan. Polisi pasti akan dihubungi dan terlibatkan?”
Greka mengambil botol air mineral dan meminum beberapa teguk.
“Aku hanya ingin kita lebih cepat sampai tujuan. Bagaimanapun saat ini seharusnya kita memang sudah tiba di Asheville bila menggunakan pesawat”
“Ya, benar…… jadi seharusnya kau tidak mendesakku untuk ikut, kan?”
Greka mengeraskan wajah.
“Kau ingin cepat sampai tapi cara-caramu justru cenderung memperlambat kita. Urusan ini akan panjang jika kita benar-benar menabrak seseorang atau sesuatu”
“Mengapa juga kau mengulang-ngulang tentang menabrak? Comat, memangnya kita menabrak sesuatu, hah?” Greka menepuk pundak Comat dengan keras meminta perhatian, karena malaikat maut itu tampaknya sedang menatap penuh minat ke kegelapan di luar melalui jendela pengemudi yang kini sudah terbuka lebar.
Greka akhirnya menarik bahu yang ditepuknya, memaksa Comat berbalik menghadapnya karena merasa malaikat maut itu terlalu lama menjawab.
“Tadi ada yang menyebrang”
“Apa? Kucing hutan? Biawak?”
“Rusa?”
Greka melirik Sarah dengan kesal. Seharusnya dia kepikiran juga menyebut hewan itu.
“Lalu? Orang? Ada orang yang menyeberang?” Greka melongok ke jendela, ke bagian depan lalu ke belakang. Mencoba melihat orang seperti apa yang menyebrangi jalan pada malam buta di tempat sesepi ini.
Karena tidak melihat siapa pun, bahkan bayangan hewan maupun manusia tidak tampak, Greka tiba-tiba menegang.
“Dimana dia? Apakah kau menabraknya? Apakah dia di bawah mobil kita?” Greka berbisik panik “Ya ampun, Comat. Apakah kau benar-benar menabrak orang?”
Tanpa sadar dia menatap Sarah.
Sarah yang balik menatapnya juga terlihat panik dan ketakutan. Namun Greka segera sadar rasa panik dan ketakutan itu bukan disebabkan kata-katanya, melainkan karena sikap Tuan Yelsnav, ayah Sarah.
Pria tua itu yang sedari tadi baru disadarinya tidak mengucapkan apapun, bahkan pada saat dia dan Sarah mulai berdebat – sesuatu yang tidak lazim, telah membuka kaca jendelanya dan sementara menatap keluar. Menatap ke kegelapan malam.
Tangan Sarah yang tadinya berada di bangku mobil kini sudah berpindah ke jaketnya dan sementara meremas kuat lengan atas jaket jinsnya.
Greka menangkap lirikan gelisah Sarah, yang entah kenapa saat ini bisa terlihat jelas dalam keremangan mobil.
Greka memundurkan sedikit dudukannya hingga punggungnya dapat menyentuh pintu mobil disisinya.
Dia menyalakan lampu tengah dalam mobil dengan gemetaran.
Dia sudah pernah mendengar beberapa cerita tentang kemampuan khusus Tuan Yelsnav dari Terhin, neneknya. Bahkan Kakek, Paman dan bibinya memiliki beberapa cerita tersendiri saat sedang bersama Tuan Yelanav. Namun dia selama ini mencoba mengabaikan atau tidak peduli dengan kemampuan itu. Bagaimanapun kemampuan itu tidak selalu ada dan hanya muncul sekali-kali, serta selama dia dan Tuan Yelsnav bekerja sama, pria itu tidak berusaha menunjukkan gelagat atau perilaku apapun yang aneh yang dapat membuatnya mengambil langkah seribu, jadi wajar saja dia merasa tidak masalah bila dia tidak serius menanggapi kemampuan khusus pria itu.
Tetapi keadaan sekarang, reaksi Sarah dan cara Comat menjelaskan situasi – yang sama sekali tidak ada jelas-jelasnya, dia tahu saat ini kelihatannya kemampuan khusus Tuan Yelsnav hadir, dan pria itu sangat mengerti apa yang sedang terjadi.
Bila dia dan Sarah tadi sempat kebingungan dan kesal satu sama lain, maka sekarang mereka saling memberi dukungan dengan menggenggam tangan satu sama lain.
Sikap Comat dan Tuan Yelsnav telah dengan jelas menggambarkan apa atau siapa – bagaimana menyebutnya, yang menghentikan perjalanan mereka dengan mendadak seperti ini.
Hantu, setan atau roh halus.
Apapun sebutannya, makhluk itulah pastinya yang menyeberang dan membuat Comat menginjak rem mendadak seperti tadi.
“Bukan juga orang, tapi mereka” kata Comat menunjuk ke arah jendelanya yang terbuka lebar.
Kosong. Hanya udara kosong dan kegelapan yang terlihat.
Sarah seketika meremas tangannya lebih kuat.
Greka mengernyit. Penjelasan Comat yang datang terlambat setelah pemahamannya justru makin membuat bulu kuduknya berdiri.
Mereka? Bukan dia?
“Ada berapa?” bisik Sarah.
Suara gadis itu bergetar. Greka menelan ludah dan berusaha mengatur napasnya.
Sarah yang anaknya Tuan Yelsnav saja bisa gemetaran seperti ini, apalagi dia.
Ya, reaksinya wajar. Sewajarnya untuk situasi seganjil ini.
“Dua”
“Empat”
Greka menatap bingung. Jawaban bersamaan namun berbeda dari kedua pria dihadapannya kali ini memancing rasa senewennya.
“Dua atau empat?” kata Greka panik.
“Dua jiwa, dan dua malaikat maut”
Comat memberikan jawaban cepat, dan tiba-tiba berbalik kembali ke jendela yang terbuka. Gerakan yang diikuti Tuan Yelsnav, dan langsung membuat Sarah dan Greka saling mengeratkan genggaman.
Greka tahu Tuan Yelsnav tidak sepenuhnya salah. Pria dengan janggut cukup lebat itu tentu saja tidak akan dapat melihat malaikat maut. Para malaikat maut hanya akan terlihat oleh manusia jika mereka memang menginginkannya, berbeda dengan roh atau jiwa yang terlepas dari raga. Roh-roh itu dapat terlihat oleh mereka yang memiliki kemampuan khusus atau sering disebut indigo.
Tunggu dulu, kalau ada malaikat maut dan roh di satu tempat bersamaan, itu artinya…...
“Mereka minta kita selamatkan yang lain. Di sana” Comat menunjuk suatu titik kegelapan di belakang Greka.