
Apakah faktor kebodohan, konyol dan masa bodoh menjadi salah satu kriteria terpilih menjadi malaikat maut?
Yelsnav merengut dan menggeleng kesal. Pemikiran yang sempat terlintas itu cepat-cepat disingkirkannya.
Mengenal Vilzay menjadikan ide itu mustahil. Namun melihat keadaan saat ini, mau tak mau dia mempertanyakan keputusan malaikat maut itu. Mengapa dua puluh tiga tahun lalu Vilzay merekomendasikan Comat menjadi malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan kepada Pemilik Kehidupan setelah dirinya? Apa yang dilihat Vilzay dari Comat?
Yelsnav tentu saja tidak berani mempertanyakan keputusan akhir Pemilik Kehidupan yang memilih Comat. Dia tidak memiliki hak untuk itu. Tapi saat ini dia memang mempertanyakan mengapa Comat yang harus bersama mereka di sini.
Comat dalam sosok Andrew Garfield melambai dengan semangat dari depan minimarket ke mereka begitu mobil yang Sarah kendarai memasuki area pom bensin pukul tujuh lewat dua belas menit. Seperti yang terlihat pada jam digital mobil mereka.
Sarah membalas dengan satu klakson singkat yang juga membangunkan Greka yang terlelap sekitar satu jam lalu.
Setelah Sarah memarkir mobil di samping pompa yang terdekat dengan posisi Comat, mereka bertiga langsung melompat keluar.
Ada berbagai rencana di kepala mereka masing-masing. Mulai dari merengganggkan badan, meluruskan kaki, mengisi bahan bakar hingga full tanki, membeli persediaan makanan ringan, minuman hingga menyelesaikan urusan pribadi. Semua ada di pikiran mereka masing-masing, kecuali rencana untuk terkejut seperti ini.
Comat dengan penampilan seperti Andrew Garfield di pom bensin pinggiran kota ini saja sudah membuat mereka risau dan kesal, jadi jangan salahkan mereka jika terkejut dan gelisah melihat sosok lain di sampingnya. Tom Holland.
Apa-apaan ini? Apakah ada reuni pemeran Marvel malam ini?
Tentu saja mereka bertiga tahu itu bukanlah Tom Holland asli layaknya Andrew Garfield imitasi di sampingnya. Bukan karena rambutnya yang berwarna karamel, tidak seterang aslinya, ataupun karena caranya yang juga tersenyum ramah pada mereka seakan sudah saling kenal dekat.
Tom Holland dan Andrew Garfield bukanlah tetangga ataupun kenalan lama dari mereka. Bahkan tidak satupun dari mereka pernah seruangan dengan kedua aktor itu.
Tapi ini semata-mata karena perasaan mereka telah terbiasa dengan sensitif menyampaikan kebenaran dibandingkan dengan apa yang mata mereka tunjukkan.
Mereka bertiga termangu cukup lama untuk mencoba memahami situasi yang terjadi.
Greka - mungkin karena keseringan berhadapan dengan Comat, paling cepat pulih dan segera menyeret kedua sosok itu dari depan pintu mini market yang terang benderang ke belakang salah satu pohon besar di samping kiri bangunan bercat merah muda itu.
Yelsnav dan Sarah memeriksa sekeliling Pom Bensin dengan cepat. Ada satu mobil pick up ungu tua bermuatan lima karung umbi-umbian dan beberapa galon putih besar berisi cairan yang tidak jelas, terparkir di pompa lain. Seorang wanita tua tertidur di kursi penumpang, sedangkan sopirnya, seorang pria berusia hampir sama dengan Yelsnav, sedang sibuk mengatur terpal untuk menutupi baknya.
Di sudut lain ada sebuah motor beroda tiga yang memiliki bak berisi beberapa ranting kayu. Tidak terlihat pemiliknya. Mungkin milik seorang tukang taman yang sedang ke kamar kecil atau milik dari pria dan wanita muda berpenampilan norak yang sedang berbelanja di dalam minimarket.
Tidak. Yelsnav yakin pria dan wanita muda itu adalah pemilik mobil kuning kecil buatan amerika yang terparkir di sudut jalan keluar pom bensin.
Selain itu semua, dari jendela lebar berdebu mini market, Yelsnav dapat melihat ada seorang pria berambut gondrong sebahu berusia tiga puluhan yang berada di belakang kasir sedang melayani pertanyaan pria muda tadi.
Semua manusia ini tidak ada yang menunjukkan gelagat mengenali atau peduli dengan kehadiran mereka terutama kehadiran Tom Holland dan Andrew Garfield imitasi.
Yelsnav mengusap wajahnya dan mendesah lelah.
Dia, mau tak mau, mulai saat ini akan mulai menjadi penanggung jawab untuk dua gadis remaja dengan pengalaman minim, dan satu malaikat maut dengan kepribadian bocah hingga mereka berhasil menyelesaikan masalah ini.
“Makhluk seperti mereka memang sangat pandai buat manusia panas dingin ya?”
“Tidak semua. Tapi khusus Comat, dia memang sepandai yang kau katakan. Dia bahkan rasanya ahli membuat meriang dan serangan jantung. Sudah, cepat ke sana temani Greka. Ingat, selalu perhatikan sekeliling. Jangan sampai ada percakapan yang memancing penasaran orang asing”
Sarah mengangguk dan berlari kecil ke arah Greka berdiri bersama dua sosok yang diseretnya tadi.
Yelsnav memutar pandangan dan sedikit terkejut ketika menangkap sosok pria muda berusia belasan tahun keluar dari sisi lain bangunan mini market. Pemuda itu sibuk mengatur pakaiannya, dan berjalan sedikit menunduk ke arah motor beroda tiga. Tampaknya dia mengalami kesulitan dengan retsleting celananya.
Yelsnav memutuskan menunggu hingga pemuda itu sudah di atas motornya dan menyalakannya.
Sebelum Yelsnav membuka pintu mini market, dia mendesah lega motor beroda tiga dan mobil pick up ungu telah keluar dari pom bensin tersebut beriringan. Tidak ada dari mereka yang memperhatikannya maupun sekeliling. Masing-masing tampak sibuk dengan urusannya.
Sebuah keuntungan dari pom bensin pinggiran kota. Semua yang singgah kebanyakan tidak saling peduli satu sama lain.
Kini pom bensin itu dapat dikatakan sepi. Hanya tertinggal kelompok mereka dan pasangan muda di dalam mini market yang tampaknya juga hampir selesai dengan belanjaan mereka, sebungkus rokok, bermacam makanan ringan dan setengah lusin kaleng bir.
Yelsnav mengambil dua botol besar air mineral dan tiga pak roti tawar sebelum mengantri dibelakang wanita yang memakai baju berwarna magenta dengan sepatu warna perak bertabur batu permata imitasi, berhak lebih dari sepuluh senti.
“Kau tahu, kedua pemuda itu rasanya pernah kulihat. Dimana ya?”
Yelsnav mencengkeram roti tawar hingga kempes dan tidak menarik lagi saat wanita muda itu berbicara sambil menambahkan sebungkus permen rasa cola ke belanjaan yang sementara dihitung.
Toh, dia memang akan membeli roti tawar ini apapun bentuknya.
“Seseorang dari masa lalumu? Mantan pacarmu?”
Pria muda itu meraba saku-saku jaketnya yang berwarna pelangi komplit, sebelum menemukan dua puluh dolar di salah satu kantong depan celananya yang berwarna biru laut.
“Kalau mantan-mantan pacarmu mirip Tom Holland dan Andrew Garfield, maka aku pasti mirip Tobey Maguire”
Yelsnav meremas kembali roti tawar dengan gemas saat wanita muda berambut tiga warna, dominan di biru itu terkikik mendengar tanggapan teman prianya.
Pria di balik kasir tersenyum kecil dan memberikan kembalian kepada si pria dengan rambut pirang berpotongan tempurung. Ucapan terima kasih yang terlalu pelan mengiringi dua insan penuh warna itu ketika keluar.
Yelsnav meletakkan belanjaannya, termasuk sebungkus roti tawar yang sudah tidak berbentuk di meja kasir. Pria dihadapannya mengerut bingung pada bungkusan roti tawar itu seakan bingung bagaimana bisa bentuknya yang kotak berubah menjadi seperti itu.
Yelsnav berdehem.
“Aku juga ingin mengisi bahan bakar. Full tanki. Tolong ditotal semuanya”