#99

#99
Bab XXXII



Para penonton telah bergerak maju dengan cepat ketika Comat memasukkan kembali dirinya sendiri ke dalam bagasi.


Kedua polisi tampak kebingungan memilih, harus mengamankan siapa diantara mereka.


Greka, Tuan Yelsnav dan Sarah. Atau para penonton yang terlihat sangat antusias.


Polisi yang berwajah oriental segera mengantongi senapannya dengan gugup. Dia pastinya sedang mengantisipasi diri sendiri agar tidak melukai siapa pun dengan ceroboh.


Polisi itu selama beberapa saat memandang kelompok mereka yang masih dalam posisi mengangkat tangan lalu berbalik ke kelompok penonton yang sudah semakin mendekat.


Dalam pandangannya sebelum berpaling, Greka dapat melihat pria itu telah memutuskan bahwa dia, Tuan Yelsnav dan Sarah tidak berbahaya dan lebih memilih untuk menangani para penonton dulu.


Keputusan yang tampaknya juga disetujui rekannya.


Kini kedua polisi itu sedang berpegangan tangan dengan erat membentuk brikade agar orang-orang tidak lagi maju mendekati bagasi mobil mereka.


Greka menurunkan tangannya dan berdiri gelisah. Dia cukup yakin kedua polisi itu tidak akan bertahan lama lagi dalam mencegah kelompok penonton yang mungkin berjumlah lebih dari lima belas orang.


Para penonton itu memang tidak beringas. Mereka bahkan maju tanpa terburu-buru.


Greka tahu orang-orang itu bukan bermaksud jahat. Mereka hanya terlalu penasaran dan bergerak karena dorongan ingin memenuhi rasa penasaran itu sendiri.


Itu sebabnya mereka tidak mendorong kasar kedua polisi, dan hanya maju perlahan – namun pasti.


Kedua polisi itu sudah mundur tiga langkah sejak brikade terbentuk, dan tampaknya langkah keempat akan segera terjadi.


Tuan Yelsnav juga sudah menurunkan tangannya dan maju, berdiri di sisi polisi berwajah oriental dan menggenggam tangannya. Dia berusaha membuat berikade bersama kedua polisi itu.


Rekannya memandang Tuan Yelsnav dengan penasaran bercampur panik.


“Jadi, sebenarnya kalian menculik presiden atau tidak, hah?” teriaknya mencoba mengalahkan kebisingan kelompok yang sedang dihalaunya.


“Tentu saja tidak” jawab Greka dengan intonasi cukup tinggi sambil berlari cepat untuk mengambil posisi disampingnya.


Langkah mundur keempat telah terjadi, kini mereka menuju langkah mundur kelima.


Sarah segera berdiri di antara kedua polisi, sejengkal di belakang tangan mereka yang saling terkait, dengan gusar.


“Itu bukan Presiden Barack Obama” teriaknya begitu kuat sehingga semua orang langsung terdiam, menghentikan desakan langkah maju mereka dan menaruh perhatian padanya.


“Lalu siapa dia?” tanya seorang pria berjaket kulit memecah kesunyian.


Dari postur tubuh dan penampilannya, Greka menduga pria itu adalah sopir dari salah satu truk gandeng yang terparkir di tempat ini.


Greka dan Tuan Yelsnav mengangguk cepat.


“Tapi dia sangat mirip sekali”


Greka melotot ke polisi di sampingnya. Sebuah pernyataan tanpa suara yang jelas-jelas meminta pria itu diam.


“Apa kalian pikir Presiden Barack Obama mau menyembunyikan diri seperti itu di bagasi mobil?”


Sarah menyingkir sedikit untuk menunjukkan bagasi mobil mereka. Tepat di sana, diantara bingkai pembentuk bagasi mobil dan plat baja penutup bagasi tampak setengah wajah Barack Obama sedang mengintip.


Semua penonton yang tadinya berdesakan maju dan kedua polisi yang tadinya membrikade mereka, kini bersama-sama memiringkan kepala hingga badan untuk melihat lebih jelas keberadaan objek yang sempat memancing pertanyaan dan pernyataan di antara mereka.


Comat yang tampaknya sadar bahwa masa kritis sudah lewat, membuka lebih lebar penutup bagasi dan memunculkan setengah badannya.


Sebuah lambaian dengan senyuman lebar menjadi pelengkap kemunculannya.


“Tampaknya memang bukan presiden” gumam seorang wanita berhelm sepeda warna perak.


“Sangat mirip, tapi, pasti bukan” sambung seorang pria super gendut yang langsung disambung beberapa pernyataan dari yang lain.


Pernyataan-pernyataan yang melegakan Greka, Tuan Yelsnav dan Sarah.


Kurang dari lima menit, kelompok penonton mereka mulai membubarkan diri.


Mereka mungkin masih membahas tentang betapa miripnya Comat dan Presiden Barack Obama, tapi pembahasan itu mulai bergeser ke topik doppelganger.


Topik yang memang selama ini dipakai untuk menjadi pembenaran akan kehadiran para malaikat maut di seluruh dunia.


“Tapi aneh sekali, itu jelas-jelas bukan pemuda yang kulihat tadi” Tom menggaruk kepalanya dengan bingung.


Greka menahan napas.


Ketika pria tua itu telah memasuki salah satu mini market, dia mendesah lega.


“Kau tahu Greka, bila dia bereinkarnasi nanti, aku akan mencarinya dan membotakinya dari ujung kepala hingga kaki”


Sarah berkacak pinggang, menatap Comat yang kini sudah melompat turun dari bagasi mobil. Dia dikelilingi kedua polisi dan Tuan Yelsnav.


“Mengantrilah” Greka bergumam sambil menepuk pundaknya.