#99

#99
Bab VII



Greka membaca nama itu beberapa kali, lalu memeriksa tanggal lahirnya. Tuan Yelsnav telah mengirimnya sepuluh menit lalu, beberapa menit sebelum dia menyelesaikan sarapan yang kesiangan di serambi Yunani, sebuah teras terbuka bergaya Yunani, salah satu karya kakeknya di rumah ini lebih dari dua puluh tahun lalu.


 


Alexius Tuck, 23 Februari 1962.


Tampaknya urusan kali ini berjalan lancar. Awalnya dia cukup khawatir, karena sangat jarang ada klien yang mencari mereka dengan cara seperti ini. Apalagi klien itu, berdasarkan informasi yang dapat dipercaya, adalah pemilik dari sebuah perusahaan penerbangan internasional dan perusahaan taman hiburan di lebih dari tujuh belas negara bagian Amerika Serikat.


“Aku akan menjelaskan semuanya begitu kembali”


 


Itu salah satu pesan lain yang diterimanya sebelum dia sempat membalas atau bertanya apapun saat menerima pesan-pesan awal.


Pria tua itu memang suka membuat penasaran untuk menguji kesabarannya, Awal-awal masa kebersamaan mereka terasa begitu menyebalkan, tapi seiring waktu Greka mulai terbiasa. Terpaksa membiasakan diri, tepatnya.


Greka memilih jalur terjauh untuk tiba di kamar tidurnya. Dia merasa tidak perlu buru-buru menulis nama klien barunya dengan pena maut. Bagaimanapun, kliennya itu mungkin saat ini masih belum koma lagi. Menurutnya akan lebih baik jika dia menuliskan nama itu ketika kliennya benar-benar telah kembali koma, kembali ke kondisi sebenarnya sebelum menerima darahnya. Dengan demikian siapa pun yang terlibat di sana, yang saat ini bersama dengan klien barunya dan Tuan Yelsnav akan melihat bagaimana keajaiban yang bisa diciptakan pena maut. Kondisi seperti ini, klien yang koma tiba-tiba sembuh dan dapat beraktivitas normal kembali, akan menjadi sarana pemasaran yang baik. Mereka akan dapat memperoleh banyak klien tanpa perlu susah-susah mencarinya. Bahkan mengingat ini melibatkan beberapa dokter, seperti pesan yang dikirim Tuan Yelsnav sebelumnya yang menjelaskan kondisi di sana, mereka akan memperoleh klien-klien bermutu. Walau tetap semuanya harus diseleksi kembali.


Melewati sebuah koridor panjang dengan dominasi warna walnut, Greka berbelok ke kanan, melangkah ke dalam aula merangkap ruang musik. Aula yang sebagian besar dindingnya terbuat dari marmer itu hanya berukuran setengah dari lapangan basket, tapi bila digabungkan dengan aula pertemuan dan ruang dansa, yang berada dibalik panel sorong berwarna lumut, maka keseluruhan aula itu luasnya akan sama dengan dua per tiga lapangan sepak bola. Ruangan terbesar di hunian ini.


Ada dua pelayan wanita sedang bekerja di sana. Mereka tampak sedikit terkejut dengan kedatangannya, dan berseru kecil beberapa detik setelah Greka melemparkan senyum. Sedetik lebih lama sebelum bau khas itu menyergapnya kembali.


Pawtra berlari kecil memasuki aula dari panel penghubung. Dia menatap ke kedua pelayan itu, meneliti cepat, dan melemparkan pandangan searah dengan yang ditelitinya dan menemukan Greka disana dan sosok lain di belakangnya. Sosok yang telah memancing seruan dari kedua pelayan itu.


Pawtra membungkuk sedikit dan beralih kembali kepada dua wanita yang berada dalam pengawasannya. Beberapa kata tegas namun terkendali darinya mengembalikan kesadaran mereka atas tugas yang harus mereka lanjutkan. Tanpa membuang waktu, kedua wanita itu membungkuk sedikit dan langsung berbalik dengan tekun untuk melanjutkan apapun yang mereka kerjakan tadi sebelum Greka datang.


Pawtra melakukan hal sama. Membungkuk sedikit dan kembali memasuki panel penghubung tempatnya keluar tadi.


“Kau tidak mempertahankan Lee Min Ho?” Greka melirik sedikit ke sisi kanannya sebelum melanjutkan langkahnya.


Mereka telah menyebrangi ruangan itu dan hampir tiba di ambang penghubung ruang musik dengan ruang santai paragon – ruang dengan selusin furnitur dan benda pajangan bernilai fantastis karena sejarahnya, ruang pameran pribadi keluarganya, ketika Comat memelankan langkah dan mengangguk dengan semangat kepada kedua pelayan itu.


Sebuah gerakan yang disambut para penerimanya dengan tersipu malu dan sedikit gugup


“Sosoknya merepotkan. Aku tidak tahu kalau dia juga memiliki banyak penggemar di meksiko. Padahal aku hanya ingin membeli nachos yang sedang viral di sana, tapi akhirnya aku harus berlari hampir dua kilometer untuk menghindari para fansnya. Hallyu sangat menakutkan, mereka telah menginvasi banyak negara dengan tanpa disadari siapa pun”


Greka sambil tersenyum kecil, terus melangkah ke salah satu sudut ruangan paragon. Di sana dekat tiga jendela kecil berbentuk persegi terdapat sofa beludu berusia hampir satu abad, pemberian salah satu raja dari kerajaan Eropa Utara ke neneknya saat melakukan tugas sebagai pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan.


Dari sofa itu, Greka dapat melihat lebih dekat ke bagian hutan yang sulit dilihat dari sisi mana pun di rumah ini, itu artinya dia juga dapat melihat sebagian sungai yang membentuk aliran dari atas bukit hingga turun meliuk ke dalam hutan dan bila diikuti terus, sungai itu akan terus terbentuk hingga ke bagian belakang kandang kuda, dan kurang lebih seratus meter dari sana akan meninggalkan tanah milik keluarganya, mengalir ke wilayah tetangganya yang juga seorang senator terkenal negara ini. Seorang pria tua yang jarang sekali ditemuinya di kenyataan, tapi hampir seminggu sekali dapat terlihat di layar kaca.


“Dan menjadi David Beckham menjadi lebih mudah?”


“Setidaknya untuk di rumah ini, sosok ini aman”


“Semua sosok aman di rumah ini, Comat. Mereka, semua yang di sini telah diwajibkan memaklumi kehadiran-kehadiran sosokmu”


Greka duduk dan mendekatkan wajahnya hingga hidungnya hampir menyentuh kaca jendela.


“Tapi tetap terasa menyenangkan melihat keterkejutan mereka”


Greka mendengus dan melihat ke kaca jendela, berharap melihat pantulan Comat. Percuma. Sosok.itu tidak akan terpantul di bidang manapun. Bahkan lantai marmer yang super mengkilap tidak akan mampu memantulkan sosok para malaikat maut, walaupun jelas-jelas mereka menjejakkan kaki di sana. Mereka tidak melayang atau terbang. Mereka, selama terlihat oleh manusia, akan berjalan layaknya manusia, berlari pun seperti manusia. Namun mereka tidak memiliki bayangan - pantulan selayaknya manusia.


Rasanya itu pula yang menjadi alasan bagi Comat harus berlari hampir dua kilometer tadi. Mereka, para malaikat maut juga tidak dapat menghilang ketika ada manusia yang masih dapat melihatnya walau mereka sadari atau tidak. Sebuah kelemahan lain mereka sama dengan kelemahan tidak dapat berganti wujud selama masih dalam pandangan manusia.


“Apa yang sungguh kau sukai dari tempat ini?”


Comat memajukan badannya, dan menjulurkan kepala ke sisi kanan telinganya. Gerakan yang mendesak Greka mendekat ke dinding untuk menciptakan jarak di antara mereka.


“Aku suka dengan sungainya. Terlihat seperti pita perak di cuaca cerah seperti ini”


“Kau harusnya lebih menikmati guci-guci itu, lukisan dan pajangan dinding sebelah sana. Bahkan tempat lilin di sudut sana menurutku jauh lebih menarik. Kau tahu berapa nilai tempat lilin itu. Hampir dua puluh ribu dolar”


“Aku tidak tahu kamu adalah malaikat maut merangkap tukang taksir barang” Greka berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Dia tidak terlalu suka menikmati pemandangan bila didampingi. Apalagi pendampingnya saat ini bukan sosok manusia.


“Seorang malaikat maut baru memerlukan bimbinganku saat memanen jiwa. Klien pertamanya di Hongkong, beristirahat karena dibunuh menantunya dengan tempat lilin yang modelnya sangat sama dengan ini. Tempat lilin yang baru dibelinya tiga hari sebelum insiden memilukan itu, pada pelelangan sotheby’s”


Greka melotot ke tempat lilin bercabang utama tiga, dan cabang tambahan dua di tiap cabang utama itu dengan penilaian baru. Dia lupa sejak kapan tempat lilin bermotif tiga wanita setengah telanjang dengan bunga dan daun itu mulai menghias ruangan ini. Apakah sedari dia kecil, dan masih suka mengurung diri?


Kapan pun waktunya, ini saatnya dia menyingkirkan benda yang sudah masuk dalam golongan berbahaya di kamusnya saat ini. Dia akan meminta Pawtra berdiskusi dengan Bibi Dersha untuk mendaftarkan barang itu agar dapat dilelang di Christie's secepatnya. Jangan memilih Sotheby's lagi. Bukan karena takut kejadian serupa terulang, tapi karena harganya pasti tidak akan baik.


“Kau tahu harganya karena kebetulan menemukan kuitansinya?” sindir Greka dan melangkah terus memasuki koridor yang kini didominasi oleh warna merah dan coklat tua.


“Pria tua itu, kliennya sangat cerewet saat mengantri ‘air ingatan'. Dia ratusan kali mengulang-ulang penyesalan karena membeli tempat lilin itu. Seakan bila tidak membelinya, itu akan mengubah usianya”


'Air ingatan' pernah diceritakan neneknya. Berbeda dengan namanya, air dari dunia lain itu justru ditujukan untuk menghilangkan ingatan pada jiwa-jiwa yang telah terlepas dari raga. Hanya sedikit ingatan yang akan tertinggal untuk jiwa-jiwa yang 'kuat' dan jiwa-jiwa yang lemah tidak akan memiliki ingatan apapun. Jiwa-jiwa yang kosong dan hampir kosong itu nantinya akan dipilah-pilah sesuai syarat dan ketentuan. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat merubah keputusan akhir. Semua itu 'katanya'. Benar atau tidak, tidak ada yang bisa memastikan. Bahkan malaikat maut pun tidak. Mereka, para malaikat maut hanya mengantar para klien hingga depan ‘Gerbang Pilihan'. Mereka mungkin sudah pernah melewati semua tahap hingga terpilih sebagai malaikat maut, tapi bila disuruh mengingat kembali, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat nilai-nilai apa yang membuat mereka dipilih untuk profesi ini. Untuk Comat sendiri, yang tertinggal diingatannya adalah bau kentang rebus dan lagu anak-anak yang neneknya sendiri tidak tahu.


Koridor yang panjangnya kurang dari sepuluh meter itu bercabang. Ke kiri akan ada koridor lain dengan dua pintu, masing-masing satu di tiap sisinya, yang nantinya tembus ke foyer. Ke kanan akan ada koridor lain untuk menuju ke dua buah kamar tamu, yang dulunya merupakan kamar untuk guru-guru pribadi dan satu ruang santai kecil untuk siapa pun yang mendiami kamar-kamar itu.


Greka memilih ke kanan. Bagaimanapun itu lebih aman untuk saat ini dengan adanya Comat.


Lagipula di ujung koridor ada tangga kecil menuju lantai dua. Lantai tempat kamarnya berada.


“Kebetulan kau di sini, apa sebaiknya kita memulai ‘ritual serah terima'?”


Moyang mereka yang memberi nama untuk ritual itu. Mereka hanya mengikutinya, selayaknya penerus yang penurut dan tidak mau merepotkan diri dengan memikirkan istilah lain yang lebih mengikuti jaman.


“Klien baru lagi? Apa menurutmu, kau dan Yelsnav tidak terlalu rajin memasarkan ini? Bulan ini belum lewat setengah, tapi kalian sudah memasukkan tujuh nama, ini akan jadi nama kedelapan”


Greka menghentikan kaki kanannya di anak tangga ketiga. Dia berpaling untuk menatap mata sehijau emerald, bukan warna mata David Beckham tentunya.


“Kau protes? Tiga tahun pertama saat aku hanya memasukkan enam puluh tujuh nama kau protes. Hampir seperti makhluk yang kena gatal-gatal. Sekarang kau malah protes saat kami sangat produktif memberikan klien. Ada apa, Comat?”


Yang ditatap hanya mengangkat bahu dan menerobos, mendahului menaiki tangga.


Sekilas terlihat seperti gerakan acuh tak acuh, tapi Greka bukan gadis bodoh dan tidak berpengalaman seperti tahun-tahun sebelumnya saat awal-awal berhadapan dengan Comat. Kadang-kadang dia bahkan berpikir mereka berdua, tidak bertiga - jika mengikut sertakan Tuan Yelsnav, saat ini telah memiliki ikatan batin satu sama lain.


Greka menemukan Comat sedang bersandar di salah satu tiang balkon lantai dua. Sinar matahari menyinarinya dengan baik, namun tidak ada bayangan apapun yang dapat ditemukan disekelilingnya.


Beberapa pekerja pria dan wanita di halaman belakang menyadari kehadiran Comat. Namun mereka hanya membutuhkan beberapa detik untuk pulih dari keterkejutan dan melanjutkan kembali yang mereka kerjakan tadi.


Benar, semua yang berada, tinggal dan bekerja di wilayah milik keluarganya telah terbiasa dengan kehadiran malaikat maut, yang saat ini kebetulan bernama Comat.


Comat sudah lebih dari dua puluh tiga tahun menjadi malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan, yang menjadikannya lebih dari dua puluh tiga tahun berkeliaran di wilayah ini.


Greka menopang tangan di railing batu balkon yang setinggi dadanya. Dia melihat ada tiga pekerja baru juga di bawah. Mereka direkrut setelah melalui seleksi ketat dan pastinya masih memiliki hubungan dengan klien-klien pena maut nomor sembilan puluh sembilan sebelumnya.


Greka mendesah. Para pekerja, lama maupun baru di keluarga ini memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Terlalu luar biasa. Tapi bukan berarti tidak akan ada bisik-bisik, cerita maupun perbincangan yang kadang kala membuat mereka menjadi bergosip.


“Ada yang lucu?”


“Hah?”


“Kau tersenyum”


Greka menegakkan badan. Untung saja para malaikat maut tidak memiliki kemampuan membaca pikiran manusia.


“Kau. Comat. Kau ketakutankah?”


Comat tertawa dan mengganti posisi berdirinya.


“Aku? Takut? Hah…….. Lucu. Kau lupa siapa aku?”


Greka mengangkat alisnya. Bukan karena bingung dengan pertanyaan Comat, tapi karena dia baru saja melihat seorang malaikat maut mendengus. Mendengus yang anehnya terlihat sangat menarik.


“Kau hampir mengumpulkan lima ribu nama, kan? Klien ini akan menjadi nama ke empat ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan”


“Lalu?”


“Kau tahu, orang-orang maksudku - manusia, bila sudah berusia setengah abad suka mengkhawatirkan banyak hal. Semakin sering takut melangkah kemana pun”


“Lalu?”


“Kulihat kau juga mengalaminya. Kau takut akan masa depan, khawatir, karena dengan menembus lima ribu nama, kau sudah melewati setengah jalan menuju reinkarnasimu”


Comat melemparkan pandangan ke puncak-puncak pohon di hutan terdalam. Senyum sinis tersungging diwajahnya sementara jari-jari lentiknya menyapu railing tanpa sadar. Senyum yang anehnya terlihat sedih bagi Greka.


“Segitu kentara, ya? Ini memang sangat aneh. Apa karena aku sudah terlalu terbiasa dengan sosok ini?”


Greka melipat tangan dengan tidak sabar. Perkataan Comat bila dijadikan kenyataan akan mengguncang banyak pihak. Guncangan yang tidak baik.


“Kau jangan bodoh, Comat. Tidak boleh kau terbiasa dengan semua ini. Ingat, ini pun tidak abadi. Merasa takut tidak apa-apa. Tetapi kita, terutama kau, tidak boleh berhenti di tengah jalan. Sekali lagi, jangan bodoh, Comat”


Comat baru saja berbalik dan hendak menanggapi kata-katanya, ketika sebuah seruan terdengar dari sisi lain balkon.


“Comat….. Comat, kan? Wah, hari ini David Beckham. Bagus. Aku baru saja hendak menemui Greka, untuk memintanya memanggilmu. Aku sudah begitu merindukanmu. Syukurlah, sekarang tidak perlu merepotkannya. Ini akan luar biasa”


Greka dan Comat saling bertatapan. Yang satu terlihat menekan bibir kuat-kuat, dan yang lain terlihat panik.


“Katakan kau membutuhkanku. Jangan biarkan dia membawaku”


“Aku tidak membutuhkanmu saat ini”


“Ritual serah terima. Kita lakukan sekarang”


Greka menahan diri sebisa mungkin. Dia tidak ingin menyemburkan tawa dan memancing reaksi negatif Comat. Makhluk ini memiliki rasa tersinggung dan suka merajuk juga. Lagipula Roman sudah terlalu dekat. Dia juga tidak ingin memancing kecurigaan dari salah satu sepupu favoritnya ini.


“Kau tadi sedikit keberatan, jadi kupikir kita dapat menundanya dulu”


“Aku tidak lagi keberatan. Kita bisa……”


Comat menghentikan kata-katanya. Sosok yang dihindarinya kini telah berdiri diantara dia dan Greka dengan senyum sangat lebar. Sudut-sudut bibirnya tertarik sempurna hampir menyentuh kedua telinganya. Senyuman yang selalu berarti sesuatu.


“Kalian perlu melakukan ritual? Saat ini? Ayolah, Greka. Ini hari yang indah untuk ritual itu. Ijinkan Comat untuk bolos ya? Beberapa jam saja” Roman menggosok kedua tangannya sambil melemparkan tatapan memelas pada Greka.


Dari sudut matanya, Greka dapat melihat tatapan panik Comat dan gelengan kepalanya.


“Ritual itu untuk waktu kapan saja, Roman. Hari indah maupun mendung. Panas maupun hujan”


“Yah, tapi hari ini dia sebagai David Beckham. Sayang jika kita melewatkannya”


Comat batuk kecil, mengalihkan pandangan kedua manusia itu untuk kembali berpusat sepenuhnya kepadanya.


“Aku dapat menjadi David Beckham lagi”


“Setelah seratus hari. Terlalu lama. Hari ini sudah tepat. Lagipula kau juga sudah di sini dan aku tidak perlu membuat Greka mengusik kesibukanmu di tempat lain, yang entah apa tapi tetap membuatku tidak enak hati. Ayolah. Kau sudah lebih dari sebulan tidak ke sana. Tidakkah kau merindukan Cannelloni, Comat?”


Greka dapat melihat pertahanan diri Comat mulai goyah. Roman selalu berhasil membuat Comat menelan ludah bila membahas pasta-pasta racikannya.


“Yah, memang sih bisa ditunda. Tetapi karena kami partner, rekan kerja, aku mendukung apapun yang Comat putuskan. Bagaimanapun Cannelloni tidak buruk untuk mengganti nachos” Greka mengedipkan matanya. Senyum geli mau tak mau tampak di bibir mungilnya.


“Nachos? Kau mau nachos? Baiklah. Setuju. Walaupun akan aneh bila ada nachos di sana, tapi demi kamu aku tidak keberatan'


Selesai. Comat sudah berhasil Roman taklukkan. Mereka, seluruh anggota keluarganya terutama Greka dan Roman sangat tahu makanan merupakan kelemahan hakiki Comat.


“Cannelloni dan nachos kurasa bukan perpaduan yang buruk”


Roman menepuk tangannya dengan terlalu bersemangat.


“Tentu. Mereka akan sangat luar biasa jika dapat dinikmati pada hari cerah seperti ini. Keduanya pun akan lebih sempurna bila didampingi fruity tropical punch. Bagaimana?”


“Sayap ayam pedas plus kentang goreng juga cocok”


“Oh, pasti itu. Pasti cocok. Kita ke sana sekarang? Bagaimanapun kita harus cepat bila ingin mendapat parkiran yang strategis”


Roman memimpin jalan dengan semangat. Comat melirik Greka dengan sedikit malu. Dia telah dalam genggaman Roman sekarang.


“Tidak apa. Pastikan saja kau di sini sebelum makan malam. Aku ingin proses ritual serah terima klien ini selesai sebelum aku menikmati erwtensoep”


Comat hanya mengangguk dan mengikuti jejak Roman yang sudah hampir tiba di pintu balkon tengah.


Greka merenggangkan tangannya ke atas, meraih udara sejauh mungkin hingga akhirnya mendengar beberapa sendinya berbunyi lembut. Comat memang telah menjadi bagian penting dari keluarga mereka. Mau tak mau, semua orang yang tahu tentangnya, harus menerima dan mengakuinya.


Comat akan bersama keluarga ini maksimal satu abad. Mungkin akan kurang dari itu, tapi yang pasti tidak lebih dari itu. Satu abad adalah batas waktu bagi Comat untuk mengumpulkan – menyerahkan sepuluh ribu nama. Tidak ada kesempatan, keleluasan maupun keluangan lain. Bila dia tidak berhasil memenuhi kuota, maka tidak ada penundaan atau masa tenggang lagi, dia – Comat, akan langsung bereinkarnasi menjadi binatang seperti takdir awalnya sebelum dia terpilih menjadi malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan.


Seekor ****. Di suatu tempat di dunia ini.