
“Greka sungguh keterlaluan. Dia lebih memperhatikan Pawtra dibandingkan aku bibinya. Dasar gadis aneh”
Dersha Potra menggunting kain perca dengan lebih pelan. Iparnya yang datang menemuinya di ruang duduk kaca timur seperti angin ribut sebelum pukul sepuluh pagi, cukup mengganggu konsentrasi.
Dia tahu iparnya itu sengaja menaikkan volume suara karena kamar keponakannya Greka tepat berada di atas ruangan ini. Dia ingin memprotes, tapi mengingat hasilnya akan nihil, jadi dia menahan diri.
Reetha telah duduk di sofa menghadap ke salah satu jendela yang menyajikan pemandangan kebun bunga mungil. Kakinya terangkat di bangku kecil yang berusia dua kali lipat dari umurnya.
“Aku heran kenapa ibu memberikan – mewariskan pena itu kepadanya. Bagaimanapun, walau Travza sudah tidak dapat mewarisi pena itu, tapi sebagai keturunan anak tertua dari keluarga ini, Filip rasanya lebih pantas mewarisi pena itu kan?”
Dersha menggeleng pada salah satu gulungan benang di kotak jahitnya.
Karena dia anakmu, wanita serakah.
“Atau kalau dia menginginkan pewaris wanita, Georgia juga bisa”
Dia juga anakmu, nenek sihir.
“Tentunya sulit - bahkan bagiku, untuk memikirkan Harley sebagai pemegang pena…… “
Dan, aku heran dia adalah anakmu. Sebuah mukjizat.
“……tapi kurasa ibu bisa mempertimbangkannya juga” Reetha tiba-tiba menurunkan kakinya dan menghadap ke Dersha. “Lalu ada kamu, putrinya. Kamu memang paling bungsu. Tapi terus terang aku tidak suka dia mengabaikanmu seperti ini”
Dersha melipat sebuah kain, dan mulai konsentrasi mengukur panjang benang.
Mengetahui Reetha masih menatapnya dengan minat menunggu tanggapan, Dersha menyerah untuk diam.
Reetha mendengus pelan dan mengatur kembali posisinya seperti semula.
Dersha melirik kesal sebelum menggunting benang dengan kekuatan terlalu besar.
Ini bukan pertama kali Reetha menyinggung tentang keputusan ibunya. Bukan pertama kali untuk tahun ini, dan mungkin lebih dari tiga lusin kali sejak ibunya meninggal. Wanita ini selalu memiliki energi lebih untuk berbicara maupun melakukan hal-hal negatif.
Dersha memang sempat menganalisa keputusan ibunya, Terhin, selama beberapa lama. Dia tidak protes, hanya heran dengan pilihan ibunya.
Sempat terpikir olehnya, pilihan ibunya dipengaruhi oleh rasa kasihan karena Greka menjadi yatim piatu saat masih terlalu kecil. Tapi itu tidak sesuai dengan sifat ibunya yang rasional. Wanita yang dipanggilnya ‘mama’ itu, adalah sosok yang penuh pertimbangan dan salah satu manusia terbijak yang dikenalnya. Jadi, sulit menerima alasan karena perasaan kasihan sehingga pena maut itu diwariskan ke Greka.
Beberapa hari sebelum kematian ibunya, dia menerima penerangan. Itu semua juga karena Reetha yang begitu cerewet dengan segala protesnya atas keputusan ibu.
Serentetan keluhan, rasa cemburu hingga ungkapan iri Reetha, membukakan pikirannya. Dia, Dersha Potra tidak akan pernah mampu bersabar pada wanita serakah dan menyebalkan itu.
Dia memang tidak pernah dekat dengan Reetha, tapi sejak keputusan ibunya yang menjadikan wanita itu seperti sedikit gila, Dersha makin tidak menyukainya.
Dia sadar bila terpilih sebagai pewaris pena maut sembilan puluh sembilan, maka nama Reetha sangat pasti menjadi sepuluh nama pertama yang akan ditulisnya karena saking kesalnya pada wanita itu.
Itu artinya dia akan mati enam puluh hingga enam puluh lima hari setelah Reetha mati.
Benar, itu adalah aturan dasar para pemegang pena. Mereka dilarang menulis nama siapa pun – walau sebenci apapun pada orang itu, bila orang itu tidak bersedia menyatakan ingin mati dan namanya ditulis dan diserahkan ke malaikat maut.
Pemegang pena yang melanggar akan mati menyusul orang yang mereka paksa mati. Kematian pemegang pena maut mungkin setelah kematian orang yang mereka paksa tuliskan namanya, tapi selama menanti kematian itu, pemegang pena maut akan mengalami siksaan yang luar biasa. Itu semua adalah yang diceritakan secara turun menurun. Belum pernah pemegang pena sembilan puluh sembilan, yaitu keluarganya mengalaminya. Tapi bila dia yang terpilih, dia tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi.
Dersha sadar dirinya lemah dalam mengendalikan emosi. Dia bukan tipe pemarah yang meledak-ledak, tapi dia tipe penyimpan dendam. Buku hariannya membuktikan itu semua.