
Greka dan Sarah bergegas menerobos semak dan pohon, sekali-kali berpegangan pada batu dan dahan rendah saat mencoba menuruni bagian yang curam.
Tempat yang mereka tuju sedikit lembab dengan posisi lebih rendah kurang lebih tiga meter dari jalan raya.
Dengan menggunakan bantuan senter di masing-masing tangan, mereka mempercepat langkah mengikuti Comat yang sudah berjarak cukup jauh di hadapan mereka.
Beberapa pohon patah dan bagian-bagian mobil yang tidak jelas tertangkap oleh mata mereka selama perjalanan menuju objek kecelakaan.
Sarah berdoa dalam hati semoga mereka tidak terlambat.
Memang benar hidup dan mati adalah takdir, tapi kata-kata Greka benar. Penundaan, setiap keterlambatan adalah resiko besar bagi korban yang hidup.
“Dan mereka sudah membuang cukup banyak waktu hanya untuk berdebat” pikirnya dengan penyesalan.
Sarah masih ingat bagaimana napasnya tadi tercekat ketika melihat anak laki-laki yang tidak sadarkan diri dalam gendongan Comat.
Bocah yang berusia sekitar lima tahun itu berdarah dan terlihat sangat menyedihkan.
Ayahnya langsung menyebrang dan membantu Comat membaringkan bocah itu di rumput pinggir jalan.
Kini bocah itu di atas sana, pada posisi yang sama sejak dibaringkan, ditemani ayahnya yang juga sibuk menelpon panggilan darurat untuk meminta pertolongan.
“Kita hampir sampai” seru Comat.
Suara deburan air menyadarkannya mereka berada di dekat arus sungai.
Greka dan Sarah menyorotkan senter bersamaan ketika menyadari Comat sudah tidak lagi bergerak menjauh. Sorotan yang langsung menyinari kumpulan logam penyok berwarna kelabu.
Kurang dari sepuluh detik mereka tiba di samping Comat dan terdiam.
Kondisi kendaraan bertipe minibus itu sungguh mengenaskan. Bentuk awal mobil itu hampir sudah tidak lagi terlihat.
Sarah melihat ada seorang wanita berusia akhir tiga puluhan berkulit kaukasian di kursi pengemudi, sedangkan dikursi sampingnya ada seorang wanita tua berkulit hitam seperti bocah yang digendong Comat tadi.
“Mereka…..”suara Greka gemetar sehebat tangannya.
“Sudah tidak tertolong. Mereka yang menunjukkan arah. Kita ke sebelah sini”
Comat bergerak ke bagian kiri mendekati aliran sungai. Bagian yang seharusnya adalah bagian belakang kendaraan itu terlihat tidak separah bagian depan. Namun kondisi pintu yang penyok sudah tidak memungkinkan untuk mereka buka.
“Ada dua lagi di dalam. Harus ada yang masuk dari jendela di sisi ini”
Comat yang sudah lebih dulu datang menjelaskan situasi dengan cukup tenang.
Sarah bersyukur Comat bersama mereka. Profesinya sebagai malaikat maut tentu sudah menunjukkan berbagai bentuk bagaimana kematian datang.
Tidak seperti dia dan Greka. Mereka berdua bahkan lebih banyak membuang tenaga untuk gemetaran dibandingkan bergerak ke arah yang ditunjuk Comat.
“Aku…..” Greka batuk kecil “Aku saja yang masuk. Kita, kalian berdua bantu dari luar”
Sarah mengangguk cepat.
Tentu saja yang paling mungkin masuk adalah Greka.
Calon pimpinannya itu mewarisi tubuh kecil mungil dari neneknya. Sedangkan Sarah sendiri tahu bobotnya saat ini mungkin dua kali lipat dari sosok Andrew Garfield yang dipakai Comat.
Alasan lainnya, tentu saja keselamatan Greka yang selalu dalam perlindungan khusus. Mereka mungkin sedang melakukan perjalanan untuk mengoreksi kesalahan yang tidak disengaja, tapi hingga kesalahan itu belum ditetapkan sebagai kesalahan pasti, maka Greka dan segala perlindungannya tetap adalah satu paket yang tidak dapat diganggu gugat.
Sarah sempat melihat Greka melirik ke arah dua sosok tidak bernyawa di bagian depan sebelum cepat-cepat melepaskan sabuk pengaman seorang bocah perempuan berambut merah.
Bocah itu usianya beberapa tahun lebih tua dari bocah laki-laki tadi. Gaun merahnya yang berenda terlihat lebih gelap di beberapa bagian dalam sorotan senter mereka.
Darah.
Sarah mencoba berkonsentrasi dan mengendalikan gemetarannya saat Greka mengangkat perlahan dan menyodorkan lengan-lengan kurus yang terlihat sangat lemah itu ke Comat dan dirinya.
Suara rintihan lirih sampai ke telinga mereka dan untuk sesaat menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.
Setelah saling memandang gugup, mereka melanjutkan kembali. Suara rintihan yang terdengar kembali makin mempercepat kegiatan mereka.
Berhasil.
Comat langsung mengambil alih menggendong gadis kecil itu dan membaringkannya ke petak tanah sekitar lima meter dari kendaraan itu.
“Sarah, yang satu ini gadis remaja. Apakah dia bisa kita keluarkan lewat jendela?” Greka bertanya risau.
Sarah melongokkan kepala, namun tiba-tiba mobil bergerak. Suara retakan salah satu dari dua pohon itu membuatnya bergerak mundur dan meneriakkan nama Greka dengan panik.
Comat segera berada disampingnya.
“Kita bisa. Aku rasa bagian yang tersulit adalah membuatmu mendekatkannya ke jendela agar kami bisa menariknya”
Sarah menatap Comat. Malaikat maut ini tiba-tiba membuatnya terpesona, setelah selama ini dia beberapa kali menyepelekannya karena berbagai kekonyolan.
Sarah mengangguk semangat. Dia sudah tidak sabar lagi menjalin kerjasama dengan Greka dan Comat.
“Baiklah, itu bagus. Aku sudah melepaskan sabuk pengamannya” Greka mengatur pijakannya dengan hati-hati.
Suara retakan batang pohon kembali terdengar, tapi untung saja mobil itu tidak lagi bergerak seperti tadi.
“Kurasa kita harus melakukannya dengan cepat. Aku akan memindahkan, menariknya dulu ke kursi sebelahnya. Kalian bersiaplah”
Greka melakukan yang dikatakannya dengan satu gerakan memeluk ke gadis remaja itu. Suara retakan terdengar lagi dan mobil kembali bergerak.
Greka mematung beberapa detik. Setelah dirasanya cukup stabil, dia mulai mengatur kepala remaja itu di jendela dengan kedua tangan terjulur.
Sarah dan Comat sudah menangkap lengan-lengannya, ketika Greka mendorong perut gadis berambut keemasan itu dengan bahunya, agar bahu gadis itu sendiri keluar dari ambang jendela.
Suara retakan makin keras dan telah mengubah posisi mobil itu beberapa derajat, tapi Greka kali ini tidak berhenti. Dia justru mempercepat dorongannya, sehingga kini Sarah dan Comat sudah mengamit ketiak korban.
Dengan gerakan cepat, mencengkeram kedua sisi celana jins gadis itu, Comat dan Sarah berhasil menarik seluruh tubuhnya, hingga menimpa mereka berdua.
Sebuah suara patahan keras disusul bunyi gesekan berisik tidak menyenangkan terdengar sebelum Sarah dapat menyingkirkan sebagian tubuh remaja yang ditolongnya dari atas tubuhnya.
Ketika akhirnya dia bisa bangkit, dilihatnya mobil itu sudah tidak lagi berada di tempat mereka menemukannya.
Cahaya bulan yang tidak sempurna cukup mampu memperlihatkan posisi baru mobil itu.
Tergeletak seperti batang pohon raksasa setengah terendam di tepi sungai berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Lebih penyok dan lebih mengenaskan, dengan Greka masih di dalamnya.