#99

#99
Bab XVI



Greka menekan jari-jari tangannya ke dahi. Mereka baru saja memutuskan singgah di sebuah tempat pemberhentian truk antar kota, setelah melakukan perjalanan lebih dari tiga jam.


Sebelum masuk ke restoran di sana, mereka sempat melihat masih ada beberapa truk gandeng di sekitar pakiran. Tampaknya walau sudah lewat jam makan siang, masih ada pengemudi truk yang memilih beristirahat lebih lama.


Bila saja panggilan alam tidak mendesak, Greka pasti sudah meminta Sarah untuk tetap melaju dan mencari kafe atau restoran lain yang dapat mereka singgahi.


Terus terang keberadaan selusin pria asing dan lebih dari setengah lusin wanita asing disekelilingnya terasa sangat menekan. Terutama ketika mereka masuk bersama.


Semua makhluk berkaki dua di sana menatap mereka seperti melihat alien. Penampilan mereka jelas-jelas sangat berbeda, dan orang-orang dengan penampilan seperti mereka dipastikan sangat jarang bisa terdampar di area seperti ini.


Greka awalnya ketika masuk tidak terlalu peduli. Dia saat itu sedang berkonsentrasi mengatur kerja kantung kemihnya agar tidak bocor dan menarik lebih banyak perhatian ketika menyerbu ke area bermesin kasir menanyakan kamar kecil.


Pria tambun dengan wajah berminyak menunjuk ruangan yang dicarinya hanya dengan sedikit gerakan kepala, dan tanpa menunggu lebih lama dia dan Sarah menyerbu ruangan itu.


Saat memasuki ruangan itulah, Greka baru menyadari dia berada di tempat tidak biasa. Tempat yang mungkin tidak akan didatanginya seumur hidup bila tidak ada kejadian ini.


Dia yang seumur hidupnya selalu dikelilingi kenyamanan dan kemewahan, kini catatan hidupnya yang mulus dan lurus, menjadi bengkok ketika dia melihat ruangan itu


Noda kuning dan hitam, serta retakan di dinding dan lantai yang kehilangan beberapa ubin membuatnya ingin mengurungkan niat. Namun setelah saling pandang, mereka mau tak mau sepakat dalam diam bahwa sudah tidak ada pilihan lain.


Sarah memilih tempatnya lebih dulu, dan Greka menyusul mengambil tempat di bagian samping ruangannya. Satu-satunya keuntungan yang dapat diacungi jempol dari ruangan ini adalah memiliki dua bilik kloset yang terpisah dengan selembar tripleks lapuk dan pintu, yang untungnya masih dapat dikunci.


Mereka berdua berusaha menyelesaikan urusan pribadi itu secepat mungkin, meminimalisir waktu untuk lebih lama di ruangan yang memiliki bau aneh seperti bau gas bercampur bau kain basah, dan keluar terburu-buru sama seperti ketika mereka masuk tadi.


Greka yang pertama kali melihat Tuan Yelsnav di salah satu meja dekat mesin penjual rokok otomatis. Pria itu terlihat nyaman dan tampak sedang menikmati secangkir kopi. Ada dua botol soda dingin di atas meja, yang rasanya disiapkan pria itu untuk dua gadis teman seperjalanannya yang minim pengalaman.


Melongok gelisah ke dalam tas 'tukang pos' setelah duduk dihadapan Tuan Yelsnav, Greka sibuk mencari balsem aromaterapi kesukaannya. Dia merasa perlu segera menghilangkan bau yang diciumnya, dan menetralisir area pernapasannya.


Tapi yang dicarinya tidak ada. Dua pelembab bibir, dua lipstik, bedak padat maupun tabur, satu botol kecil parfum, dua botol sabun wajah, ponsel dan charger, tiga buku berbagai ukuran, gunting, selotip, spidol hitam dan merah, tiga pena – termasuk di dalamnya pena maut nomor sembilan puluh sembilan yang berbentuk seperti ranting bonsai kering, satu dompet kulit sapi untuk kartu kredit dan uang tunai, satu pak besar tisu basah hingga satu pasang pakaian dalam yang terbungkus rapi di dalam kantong serut dapat ditemukannya dalam tas itu. Tapi balsem aroma terapi yang justru sangat dibutuhkannya saat ini tidak ada.


Greka mengerang, memaki pelan dan mengurut dahinya.


Dia baru saja berencana untuk berlari kembali ke mobil, memeriksa barang-barang bawaannya – dia mungkin lalai, tapi tidak dengan Pawtra – ketika sepiring bacon goreng dan sepiring kentang goreng datang ke meja mereka.


Aroma kedua piring itu berhasil mencegahnya kemana-mana.


Setelah menerima hand sanitizer tanpa aroma dari Sarah, Greka hanya membutuhkan waktu kurang dari semenit untuk melupakan aroma yang memusingkannya, dan mulai menikmati dua sosis bakar yang baru saja datang.


“Syukurlah makanan mereka tidak buruk” Sarah sudah melahap setengah piring kentang goreng dan lima bacon goreng. Botol soda kedua miliknya sudah habis sepertiganya.


Greka mengangguk. Dia bersyukur mereka ditemani Tuan Yelsnav yang sudah sangat berpengalaman dengan dunia luar, jadi kelompok mereka kini tidak lagi menjadi bahan tontonan untuk yang lain di ruangan ini.


Penampilannya yang tenang, caranya memesan makanan, dan caranya menyapa pelayan perempuan dengan rambut semerah anggur berkemeja terlalu ketat berhasil menghilangkan stigma mereka sebagai kelompok orang aneh.


Tuan Yelsnav dan pengalamannya di dunia lapangan memang sudah dipertimbangkan Greka sebagai aspek yang menguntungkan bagi perjalanan mereka ini.


Itu sebabnya dia juga menghapus pertimbangan membawa Pawtra, atau pekerja lain dalam perjalanan ini.


Harley, sepupunya yang berusia setahun lebih tua darinya itu mungkin dapat jadi pertimbangan sebagai anggota tambahan kelompok ini. Tapi sayang pria berambut coklat itu sedang melakukan perjalanan dengan sebuah tim ekspedisi dari Belgia di lautan pasifik.


Jadi, Greka memutuskan tiga manusia dan satu malaikat maut sudah cukup untuk perjalanan mereka. Mereka berempat seharusnya lebih dari cukup untuk meyakinkan Alexius Tuck yang sehat untuk merubah namanya atau membujuknya agar bersedia mati. Untuk yang terakhir, prosesnya akan mudah mengingat nama dan tanggal lahir Alexius Tuck yang sehat sudah melalui proses 'ritual serah terima’. Kesulitan paling utama adalah membujuk dan meyakinkannya mengapa harus mati.


Greka selama perjalanan, sudah merancang beberapa kalimat bujukan, tapi dia tahu itu tetap terasa begitu kejam. Jadi dia menaruh harapan besar Alexius Tuck akan memilih opsi pertama. Merubah namanya.


Semoga saja dia tidak keberatan.


Greka membuka botol soda kedua yang tidak lagi terlalu dingin.


“Ya ampun”


Greka melirik Sarah yang melotot ke belakangnya dan langsung tahu Comat sudah di sini.


Aroma khas Comat hampir saja dikalahkan oleh semua aroma makanan yang berasal dari meja-meja pelanggan dan dapur. Hampir, namun tetap tidak terkalahkan.


Greka memompa langsung dari botol soda dan berpaling untuk melihat Comat. Reaksi Sarah berhasil mengusik penasarannya atas sosok apa yang kali ini dipilih malaikat maut itu.


Comat dalam sosok Aamir Khan tersenyum lebar ke meja mereka dari pintu depan restoran. Senyum yang terus merekah hingga dia mengambil tempat di samping Greka.


Beberapa pelanggan dan pelayan restoran menatap pendatang baru kelompok ini dengan minat. Dua pelayan wanita yang berusia di atas empat puluh berbisik ribut di belakang lemari kaca yang berisi berbagai roti dan pie. Salah satunya keturunan Asia Selatan.


“Aku pesan sosis bakar, kentang goreng keju dan sayap ayam goreng krispi”


Greka mengurut kembali dahinya. Kali ini tentu saja dengan alasan berbeda.


Seorang pelayan, salah satu dari yang berbisik dan tentu saja yang berketurunan Asia Selatan dengan cepat sudah berdiri di samping meja mereka. Senyum dan pandangan berbinar pelayan wanita itu menunjukkan bahwa dia mengenali sosok yang ditampilkan Comat.


Tuan Yelsnav mengulang permintaan Comat dengan cepat, serta menambahkan dua botol soda pada pesanan.


Saat melihat pelayan wanita itu hendak mengucapkan sesuatu, Greka lansung mengambil inisiatif memupus semangatnya.


“Ah……. Comat, kau terlambat. Jangan katakan pasien itu merepotkanmu”


“Tidak. Dia sangat kooperatif. Dia bahkan terlalu bersemangat untuk pasien yang baru sadar dari koma”


Comat menjawab ceria dengan polos, dan pelayan wanita itu langsung terlihat ragu sebelum berlalu dengan daftar pesanan ditangannya.


Sebuah gelengan kecil dari pelayan wanita itu kepada rekannya tertangkap sudut mata Greka. Sebuah tanda kecewa yang melegakan Greka.


“Dasar brengsek kau. Sudah dibilang cari sosok yang tidak mencolok” desis Greka.


Comat menatapnya bingung dan memandang ke Tuan Yelsnav dan Sarah dengan tidak berdosanya.


“Memangnya kalian kenal sosok ini? Wah, kalian luar biasa. Jangan khawatir, mereka di sini pasti tidak ada yang tahu siapa dia. Kita aman”


Greka dan Sarah memutar bola mata bersamaan, sementara Tuan Yelsnav terkekeh kecil dan mulai menikmati sandwichnya kembali.


Comat jelas-jelas tidak menyadari kehebohan yang hampir terjadi jika dia tidak mengalihkan perhatian.


“Mengapa kau memilih sosok Aamir Khan?”


Tuan Yelsnav bertanya sangat pelan, tapi semua yang dimeja itu bisa mendengarnya.


“Javier sangat suka dengan Bollywood. Agar mau membantuku, dia ingin aku menjadi sosok ini selama enam jam dan menyanyikan tiga lagu dengan suaranya. Perjanjian yang tidak buruk, jadi aku setuju”


Pelayan tadi datang kembali sambil membawa semua pesanan yang disebutkan Tuan Yelsnav tadi. Walau masih melirik penuh minat ke Comat, dia tidak lagi berlama-lama seperti tadi.


Comat mencicipi soda lebih dulu sebelum bersemangat menikmati sosis bakar dan kentang gorengnya.


Greka dan Sarah masin-masing mencomot satu sayap ayam.


“Wah, memangnya kau bisa bernyanyi sebaik dia?”


Sarah mencomot satu lagi sayap ayam, membuat Comat mengangkat piring itu mendekat ke sisinya untuk menyelamatkan sisa tiga potong sayap ayam terakhir.


“Tidak sebaik dia, tapi karena suaranya tidak kuubah, jadi lumayanlah”


Greka menarik wajah Comat mendekat, mengabaikan mulutnya yang sangat penuh sosis dan kentang goreng.


“Lalu apa yang beda?”


“Ukuran kakinya. Aku memperbesar dua nomor”


Greka dan Sarah serempak melongok ke bawah meja.


“Kalian tahu suaraku ini lumayan. Mungkin salah nada sedikit di sana sini, tapi tetap sangat menarik. Aku akan menyanyikan kalian beberapa lagu dalam perjalanan nanti. Toh, aku tidak perlu kemana-mana lagi sekarang. Jadi aku akan ikut kalian hingga tiga jam ke depan. Sampai batas waktu perjanjian dengan Javier. Saat aku berganti sosok lain. Aku memiliki lima tokoh pilihan. Belum putuskan. Tapi aku sudah putuskan dua lagu yang keren habis untuk kalian semua dengarkan ”


Comat dengan semangat mengganti piring sosis bakarnya dengan piring yang berisi sayap ayam goreng krispi.


Greka dan Sarah kali ini serempak menggeleng dengan panik.