
Sarah memasukkan laptop dan kabel charger ponsel ke dalam tas ransel, lalu diletakkan bersama dua tas kanvas besar yang sudah berada lebih dulu di kaki tempat tidurnya.
Dia mencoba mengingat-ngingat kembali barang apa saja yang mungkin dilupakannya.
Setelah yakin semua yang diperlukannya nanti telah disiapkan dan dikemas ke dalam tiga tas itu, Sarah bergegas ke kamar ayahnya.
Dia rasanya hanya memerlukan satu tas kanvas besar untuk mengemas keperluan ayahnya untuk perjalanan mereka kali ini. Bagaimanapun ayahnya pasti tidak akan membuang waktu sekedar balik ke rumah dan membongkar koper yang dibawanya ke Toronto. Koper mini berwarna marun yang mengemas peralatan mandi, obat, tujuh kaos, dan dua pasang pakaian resmi ayahnya itu dipastikan akan menjadi bagian perjalanan mereka.
Sarah memilih beberapa kemeja, celana dan pakaian dalam secara cepat. Dia mengambil persediaan ekstra obat dari lemari arsip dan mengemasnya bersama dua sandal santai dan tiga pasang kaos kaki.
Buku bacaan favorit ayahnya banyak, tapi Sarah memutuskan membawa dua novel historical dan satu novel petualangan saja. Bagaimanapun, sulit membayangkan ayahnya akan memiliki banyak waktu santai untuk membaca buku dalam keadaan seperti ini.
Sarah mendesah panjang dengan kesal dan mulai mengangkat tas kanvas itu ke kamarnya untuk digabungkan bersama bawaan lainnya.
Liburan seminggu ke luar kota.
Itu memang yang direncanakannya untuk merayakan kelulusannya. Tapi bukan begini caranya.
Siapa yang menyangka di masa mendekati ayahnya pensiun, kejadian luar biasa ini terjadi. Kejadian yang dapat merombak drastis seluruh tatanan kehidupan keluarga Potra dan keluarga Arkual. Kejadian yang pasti membawa kematian untuk Greka bila mereka gagal mengatasinya.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu hampir pukul empat pagi. Itu artinya dia masih ada waktu lebih dari setengah jam untuk mandi dan sarapan sebelum salah satu – atau lebih, pekerja dari puri Malaikat maut, rumah kediaman Greka Potra datang menjemputnya.
Sarah tersenyum masam. Apakah sekarang dia harus mengganti nama julukannya untuk puri milik keluarga Potra itu? Mengingat bila hal terburuk tidak berhasil mereka cegah, dipastikan kediaman tersebut tidak akan lagi menerima kunjungan malaikat maut, kecuali salah satu penghuninya akan meninggal.
Sarah mencuci rambut dengan gusar, mencipratkan busa ke sekeliling dinding pancuran.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Dia, ayahnya, Greka dan Comat pasti akan bisa mencegah hal terburuk itu. Apapun caranya, mereka harus berhasil mengembalikan kenormalan dalam tatanan hidup – dan mati khusus untuk Comat, mereka masing-masing.
Dia sudah menghapus tanggal lahir pada profil Alexius Tuck di situs mereka, dan menggantinya dengan tanggal yang benar sesuai dengan pesan yang dikirim ayahnya dua puluh menit lalu. Tanggal yang juga sesuai dengan yang tertera di biodata Alexius Tuck di ratusan artikel pada dua lusin tabloid bisnis online.
Urusan klien ini seharusnya sangat mudah. Klien ini saking terkenalnya, satu-satunya yang rahasia mungkin adalah jumlah saldo dan jumlah pacarnya.
Namun karena mereka – dia, ayah dan Greka, tidak melakukan penyelidikan silang, akibatnya sekacau ini.
Sungguh luar biasa. Ada sosok manusia lain yang bernama Alexius Tuck dengan tanggal lahir yang salah itu. Kemungkinannya milyaran banding satu tapi terbukti memang ada.
Sarah memilih sebuah kaos longgar berwarna lumut dengan celana jins hitam selutut untuk memulai perjalanan mereka yang dipastikan jauh dari nyaman.
Comat juga hanya dapat menggunakan satu wujud pilihannya setiap dua puluh empat jam. Dia tidak lagi dapat berubah semaunya setiap saat, atau mempertahankan sosok pilihannya lebih dari waktu itu.
Namun bukan itu inti permasalahannya.
Comat yang tidak memiliki bayangan, pantulan bayangan maupun penampakan visual di benda elektonik maupun bukan elektronik apapun membuat mereka mau tak mau harus melakukan perjalanan menggunakan mobil ke Asheville.
Mereka tidak dapat memakai penerbangan maupun transportasi umum lainnya bila bersama Comat. Akan muncul banyak pertanyaan dan kecurigaan. Satu-satunya cara mencapai Asheville adalah melalui darat dengan menggunakan kendaraan pribadi.
Harus seminimal mungkin melibatkan orang luar dan orang baru.
Comat mungkin dapat menunggu langsung mereka di Asheville, tapi itu juga akan menyebabkan masalah lain, mengingat perjalanan ke kota itu dari kota mereka akan membutuhkan penerbangan panjang dan tiga kali transit dengan waktu dua hingga lima jam per transit . Itu artinya mereka akan tiba di sana subuh besok. Lewat dari waktu keluasan Comat untuk muncul dan menghilang.
Masalah terutama lainnya adalah keterlibatannya dalam perjalanan ini. Sarah mungkin adalah calon marketing maut, tapi dia selama belum diangkat resmi - sesuatu yang akan terjadi bila dia genap berumur dua puluh tahun nanti, maka usianya tidak akan pernah dapat dipastikan. Satu-satunya kepastian dia akan lebih aman jika dia tetap di daratan. Suatu hal yang berlaku sama juga untuk manusia calon pewaris pemegang pena maut.
Itu sebabnya Sarah sampai seumur ini tidak pernah naik pesawat ataupun kapal laut. Ayahnya menjaga dan mengawasinya begitu ketat, terutama setelah yang terjadi pada Marvin, ayah Greka.
Sarah mematikan beberapa lampu di lantai dua. Dia memeriksa cepat jendela-jendela sebelum turun ke dapur di lantai satu.
Dia tidak mengerti mengapa Greka mendesak memintanya tetap ikut pada perjalanan ini. Alasan satu-satunya yang terpikir olehnya saat ini adalah Greka mengharapkan kehadirannya untuk dapat menghibur dan menguatkan ayahnya.
Benar, saat ini ayahnya pasti sedikit terguncang oleh kesalahan fatal yang dilakukannya setelah selama ini berhasil menjalankan tugas marketing maut dengan begitu baik. Greka pasti akan merasa jauh lebih nyaman jika ayahnya dapat kembali tenang dan terkendali seperti yang mereka kenal selama ini.
Berdasarkan informasi dari internet, perjalanan itu akan memakan waktu hampir empat puluh jam bila dilakukan non stop. Artinya mereka pasti akan melakukan perjalanan lebih dari waktu perkiraan itu.
Dia, ayahnya dan Greka memang akan bergantian menjadi sopir, tapi bukan berarti mereka tidak akan berhenti di lokasi-lokasi perhentian untuk memenuhi kebutuhan makan, mandi, buang air atau kegiatan pribadi lainnya.
Perjalanan ini jelas-jelas akan sangat panjang dan lama.
Sarah mengambil sebungkus kaldu instan dan memanaskannya dengan microwave. Beberapa lembar roti tawar dan satu cangkir kopi susu instan akan menjadi pelengkap sarapannya pagi ini.
Sarah tersenyum. Comat, malaikat maut itu juga butuh makan seperti manusia. Dia bahkan populer dengan nafsu makannya di antara manusia yang mengenalnya. Mereka nantinya akan membutuhkan strategi tepat untuk membantu Comat memenuhi nafsu duniawinya itu selama perjalanan tanpa memancing kecurigaan siapa pun.
Andaikan Comat tidak perlu ikut serta dalam perjalanan ini, semuanya mungkin akan lebih mudah. Tapi pernyataan ayahnya benar, mereka akan membutuhkan Comat di sana.
Setelah menemukan Alexius Tuck yang sehat, hanya ada dua cara agar mereka dapat menyelesaikan masalah ini. Meminta Alexius Tuck mengubah namanya, atau memintanya bersedia mati secara sukarela. Apapun keputusan nanti yang diambil Alexius Tuck itu, harus segera dilaksanakan. Itu artinya Comat harus di sana bersama mereka.
Lagipula Comat tidak akan mau menetap dan bersembunyi di puri Potra. Anggota keluarga Potra lain membuatnya kurang dan tidak nyaman.