#99

#99
Bab VI



Yelsnav menatap pasien di kamar dua puluh dengan minat. Setelah diizinkan masuk dan bertatapan langsung dengan kliennya, dia merasa mulai bersemangat kembali.


Sepuluh menit lalu dia harus berhadapan dengan semua orang yang tadinya berada di kamar nomor dua puluh selain pasien itu sendiri. Mereka berkenalan sekadarnya, bagi yang belum saling mengenal, dan berbasa-basi sebelum sampai ke beberapa pertanyaan puncak yang mengganggu pemikiran-pemikiran mereka yang belum mengerti kehadirannya di situ selain Patsy Khuum.


“Kau yakin itu akan membuatnya sadar? Bukan membunuhnya?”


“Bagaimanapun para dokter masih berasumsi akan kemungkinan sembuh. Memang di bawah sepuluh persen, tapi jika ini dilakukan berarti kepastian mati. Apa ini baik?”


“Terus terang dilihat dari mata medis manapun, penjelasan yang kami terima ini tidak masuk akal. Kami saat ini adalah yang bertanggung jawab atasnya. Yang akan anda lakukan sama saja membuat kami dalam posisi sulit. Mengapa kami harus menyetujuinya?”


Yelsnav menampilkan semaksimal mungkin sifat professional yang sudah dilatih dan dijalaninya berpuluh-puluh tahun. Pertanyaan\-pertanyaan serupa tapi tak sama ini sudah beberapa kali dihadapinya. Tapi ketika memberikan jawaban tidak akan pernah sama. Ada situasi dan kondisi, serta kepribadian-kepribadian yang berbeda untuk menentukan jawaban dan cara menjawab yang paling baik. Tidak ada jawaban yang paling tepat atau akan paling menenangkan, tapi setidaknya sedikit mendekati akan membuat suasana lebih baik bagi semuanya. Yelsnav harus siap dengan jawaban seperti itu setiap saat dalam kondisi apapun.


 


“Keputusannya ada pada klien itu sendiri. Kita berdiskusi panjang lebar seperti ini tidak akan berguna. Klien yang akan memutuskan apa yang terbaik. Jangan khawatirkan dengan apa yang akan kuberi. Ini tidak akan mempengaruhi apa pun. Ini hanya membantu klien untuk pulih beberapa saat sehingga dia dapat memiliki pemikiran yang paling rasional untuk memutuskan masa depannya. Madam Patsy tentu sudah menjelaskan, saya di sini juga hanya perwakilan, dan saya merupakan perwakilan yang diinginkan oleh klien, seperti yang tertera pada surat resmi yang ditulisnya sendiri dihadapan pengacaranya. Keberatan akan kehadiran saya adalah wajar, tapi, mengingat ini adalah – sekali lagi – keinginan klien, maka kiranya siapa pun dapat mengerti dan memakluminya”


Mereka sudah berdebat cukup lama tanpa dilihat Yelsnav, sehingga ketika dihadapan Yelsnav mereka tidak lagi melakukannya.


Sebenarnya keputusan telah diambil bahkan sebelum pintu kamar ini dibuka. Namun memang akan terasa konyol jika mereka yang terlihat begitu kaya dan berkuasa hanya mengangguk sopan dan mempersilahkan Yelsnav masuk.


Kini dihadapannya terbaring seorang pria berusia lebih dari setengah abad. Kurang lebih sepuluh tahun lebih muda dari Yelsnav. Pucat, kaku dan tidak sadarkan diri. Berbagai selang dan kabel terhubung dari tubuhnya ke beberapa cairan dan mesin pendukung hidup.


Pria ini, seperti yang dijelaskan Patsy Khuum pada pertemuan perdana mereka dirumahnya, berhasil lolos dari kecelakaan maut saat melakukan olahraga paralayang favoritnya. Seorang pria yang beruntung, tapi tidak banyak.


Yelsnav menatap Patsy Khuum, yang di sambut anggukan mantap. Dua pasang muda mudi berdiri di sudut kaki ranjang saling merangkul satu sama lain.


Anak-anak dan menantu klien.


Yelsnav memberikan kode kepada para dokter yang berdiri kaku. Hanya seorang yang berani maju. Yang paling tua diantara mereka yang sudah berumur.


“Bisakah bantu aku mengangkat sedikit kepalanya?”


Sang dokter menatap mata Yelsnav, dan tiba-tiba dia merasa dokter itu sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya. Ini seperti bukan pengalaman pertama dokter tersebut. Setelah dipikir-pikir, dokter ini memang tidak mengucapkan apa pun sejak awal pertemuan mereka.


Dokter itu menggumamkan sesuatu, mengambil remote pengontrol ranjang dan mengatur posisi sesuai dengan yang diinginkan Yelsnav. Dokter itu bahkan mencabut selang kecil yang berada dimulut kliennya tanpa disuruh.


“Baiklah, sekarang aku akan memberikannya”


Yelsnav mengeluarkan tabung kecil berisi cairan kental berwarna merah gelap dari kantong dalam jasnya. Dia menunjukkannya pada semua yang diruangan – tidak ada tanggapan apapun, dan kemudian membuka tutupnya.


Dengan perlahan dituangkan cairan itu ke mulut klien. Cairan itu meluncur memasuki rongga diantara bibir yang pecah-pecah. Beberapa tetes akhir masih berdiam di kulit bibir yang terkelupas. Tapi Yelsnav tidak khawatir. Cairan itu, entah bagaimana kerjanya, selalu meluncur ke tempat yang seharusnya. Tidak tumpah dan terbuang sia-sia.


Yelsnav menegakkan badan, dan si dokter kembali membaringkan pasien seperti sedia kala, lalu hendak memasang kembali selang yang tadi dilepasnya.


“Tidak perlu” bisik Yelsnav sambil mundur beberapa langkah.


Hampir semenit ruangan itu sunyi tanpa suara manusia, selain suara mesin pendukung. Semua tampak menanti keajaiban yang dijanjikan pada awal-awal perjanjian. Yelsnav menanti dengan yakin, beberapa lain dengan gugup, sedangkan sebagian besar sedikit skeptis.


Yelsnav dapat melihat seorang dokter yang paling sulit menerima kehadirannya di situ, tersenyum miring. Tapi sedetik setelah senyum itu tertangkap oleh matanya, mesin pendeteksi denyut jantung dan batang otak mulai mengeluarkan bunyi aktivitas yang tidak biasa. Ketiga dokter maju bersama, mulai memeriksa, memastikan apa yang Yelsnav yakin merupakan bagian dari prosedur dasar mereka, sebelum seorang dokter lain - yang paling muda dari ketiga dokter itu, menjerit.


Tuan Alexius Tuck, kliennya telah membuka mata.


“Tidak mungkin”


“Ya ampun, benar-benar terjadi. Ini berhasil”


Yelsnav tidak perlu melihat siapa yang mengatakan apa. Semua orang berbicara pada saat bersamaan. Patsy Khuum bahkan harus berpegang di salah satu sandaran kursi sambil mengucapkan rentetan kalimat takjub dan bahagia.


“Apa itu tadi? Cairan apa itu tadi?”


Yelsnav memandang si penanya. Dokter yang tadinya tersenyum sinis itu terlihat sedikit terguncang tapi begitu bersemangat. Dia memegang erat lengan jas Yelsnav seakan takut dia akan lari sebelum memberikan jawaban.


Darah Greka, si pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan.


Beberapa tetes darah pemegang pena maut selalu mampu memberikan keajaiban, salah satunya mampu memulihkan orang yang koma. Tidak lama hanya satu hingga dua jam saja, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat para klien yang koma memutuskan apakah mereka akan tetap koma menunggu sadar sesuai ketentuan Pemilik Kehidupan, atau memilih menyerahkan nama mereka ke pemegang pena maut yang akan mencatatkannya dan memberikan ke malaikat maut.


Bila mereka memilih yang kedua, itu berarti mereka akan segera pulih, hidup normal selayaknya sebelum koma, namun harus bersiap mati dalam enam puluh hingga enam puluh lima hari sejak mereka mengucapkan keinginan untuk malaikat maut.


Benar, semua yang memberikan namanya dengan suka rela ke pemegang pena maut hanya memiliki waktu hidup enam puluh hingga enam puluh lima hari dari waktu mereka menyatakan keinginannya. Waktu yang seharusnya cukup untuk dipakai manusia dengan bijak menyelesaikan semua masalah, atau setidaknya memperbaikinya.


“Cairan jiwa”


Tuan Alexius Tuck berkata sedikit parau namun cukup jelas untuk semua yang berada di ruangan itu. Kliennya kini telah duduk dan mencabut sendiri satu per satu kabel dan selang ditubuhnya. Dia terlihat jauh lebih sehat dari beberapa menit lalu dan bersemangat.


“Berapa lama aku koma?”


“Tujuh belas hari” Dokter paling tua yang membantu Yelsnav menyodorkan segelas air ke Alexius yang disambut dengan tatapan terima kasih.


“Cukup lama……. Tampaknya tidak mudah menemukan pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan”


Yelsnav menarik sebuah kursi tanpa sandaran mendekati ranjang kliennya dan duduk dengan tegak. Waktu mereka tidak banyak dalam mengambil keputusan. Tapi yang paling penting, dari keterbatasan waktu ini Yelsnav juga perlu mengetahui beberapa hal. Beberapa pertanyaan yang mengganggunya sebelum memutuskan melakukan ini semua.


“Tuan Alexius, mengingat anda tampaknya familier dengan kegiatan pena maut, anda tentu tahu keterbatasan waktu yang kita miliki”


Kliennya mengangguk bijak.


“Keterbatasan waktu apa, ayah?”


Seorang pemuda berambut sedikit gondrong dengan wajah cukup tampan maju mendekat. Adik perempuannya sejak tadi sudah duduk diranjang sambil menggenggam salah satu tangan ayahnya. Gadis itu menekuri jari-jari ayahnya dengan takjub.


“Aku hanya memiliki satu jam untuk seperti ini, Tom. Paling beruntung dua jam. Aku harus segera menyerahkan namaku ke pemegang pena maut melalui pria ini. Kurasa kau marketingnya ya?”


Yelsnav mengangguk. Kedua anak Alexius menegang.


“Untuk apa menyerahkan nama ayah? Kita beli cairan jiwa itu. Berapa harganya? Kami akan membeli semuanya. Sebutkan harganya. Berapa pun kami bayar”


Wanita muda yang penuh emosi. Yelsnav mengerti sedikit banyak tentang mereka. Dia memiliki pimpinan dan anak gadis yang memiliki emosi naik turun yang serupa. Sampai saat ini emosi-emosi itu masih sulit dikendalikan.


“Erita, sayangku. Cairan jiwa hanya bisa dikonsumsi satu kali oleh manusia. Bila kau mengkonsumsi lagi, itu hanya akan menjadi racun. Dalam satu hingga dua jam kau akan mati. Itu adalah cairan yang memberikan kesempatan sekali seumur hidup”


Tuan Alexius menepuk lembut tangan anaknya dan berpaling ke Yelsnav.


“Aku siap”


Yelsnav mengangkat tangannya meminta kesabaran si klien. Pernyataan barusan menambah satu hal lagi yang membuatnya bertanya-tanya bagaimana kliennya kali ini begitu fasih tentang hal-hal yang berhubungan dengan pena maut.


“Sebelumnya, maafkan aku menunda sedikit keputusan yang akan anda ambil. Aku perlu bertanya. Terus terang anda adalah klien yang sangat unik”


Tawa Tuan Alexius mengejutkan sebagian besar penghuni kamar itu. Yelsnav merasa pria ini begitu terbuka dan akan menjawab apapun yang ditanyanya dengan jujur.


“Silahkan, Tuan….?”


“Yelsnav”


“Tuan Yelsnav. Silahkan. Bertanyalah”


Yelsnav memperbaiki duduknya.


“Pena maut, banyak orang mengetahuinya. Mereka mungkin tidak membahasnya secara umum dan terbuka, tapi saya sebagai marketing telah beberapa kali menemui klien yang mengungkapkan tentang pengetahuan akan keberadaannya. Kurasa memang tidak mungkin menutupinya. Wajar saja rumor itu ada dan tersebar mengingat aktivitas para marketing maut memang tidak sepenuhnya sembunyi-sembunyi. Tapi mengapa harus pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan? Kenapa bukan yang lain?”


Gumaman di seputar ruangan menunjukkan mereka, yang lain cukup terkejut tentang keberadaan pemegang pena maut yang lain. Yelsnav tidak menggubrisnya. Jika kau cukup aktif di internet, tidak akan sulit menemukan cerita-cerita tentang aktivitas para pemegang pena maut dan marketingnya. Beberapa klien Yelsnav bahkan sempat membuat beberapa artikel, cerpen, hingga novel tentang pemegang pena maut dan marketingnya. Tidak seratus persen otentik, dan benar, tapi tidak juga seratus persen dusta atau imajinatif.


“Kenapa sembilan puluh sembilan? Kurasa karena moyangku, nenek dari nenekku, dulu adalah marketing dari pena maut itu. Aku ingin, bila sesuatu terjadi – seperti saat ini, mendapatkan kesempatan kedua dari pemegang pena maut yang sama. Katakanlah aku orangnya sedikit melankolis”


Yelsnav terhenyak. Dulu sebelum keluarganya menjadi satu-satunya marketing dari pena maut sembilan puluh sembilan, memang ada marketing lain. Tidak ada penjelasan lebih lanjut kenapa akhirnya keluarganya menjadi marketing utama dan satu-satunya hingga saat ini.


“Moyangku jatuh cinta pada pemegang pena maut nomor sembilan puluh sembilan saat itu. Tapi pemegang pena maut tidak tahu. Entahlah, mungkin juga tahu tapi pura-pura tidak tahu. Romansa masa lalu sedikit pelik, kan? Yah, apapun alasannya, moyangku akhirnya memilih mengundurkan diri saat pemegang pena maut saat itu menikah. Namanya Tuan Ervza Golnamp” Tuan Alexius meneguk air lagi dengan pelan. “Moyangku dibeberapa kesempatan, menceritakan beberapa hal kepada keturunannya tentang pena maut, cerita yang diturunkan hingga kepadaku. Agak kurang jelas, karena bila melalui manusia yang bercerita, pasti akan ada yang bertambah, dan ada yang dikurangi, tapi tampaknya untuk mengantisipasi itu dan mempertahankan cerita hingga tetap detail dan tentang romansanya yang menyebabkannya memilih meninggalkan profesinya, dia memutuskan menuangkan semuanya di buku ‘Diary manusia setengah dewa’”


“Buku itu? Novel itu kisah nyata?”


Alexius Tuck tersenyum pada anak perempuannya.


Yelsnav mengangguk. Kini dia telah sampai pada tahap pengertian. Dia juga tahu buku itu. Bukan buku terkenal dan best seller, tapi buku itu tetap tersimpan rapi di salah satu rak perpustakaan pribadi keluarganya. Dia sendiri suatu saat nanti ingin mewariskannnya kepada Sarah. Buku itu sangat detil mendeskripsikan beberapa hal. Bagi orang awam itu kelihatan seperti khayalan tingkat tinggi seorang penulis, tapi bagi mereka yang tahu kebenarannya, itu seperti buku pembimbing.


Kini dia tahu mengapa buku itu bisa begitu gamblang menjelaskan banyak hal, dan menjadi salah satu referensinya ketika awal-awal mempelajari profesi ini, saat ayahnya masih keberatan menjelaskan banyak hal padanya.


Yelsnav merenung sebentar. Menimbang apakah ada hal lain yang harus ditanyakan lagi. Namun dia tahu tidak perlu terburu-buru saat ini. Bagaimana pun, bila kliennya tidak berubah pikiran, dan dia tidak salah tangkap akan keinginannya, masih ada waktu setidaknya minimal enam puluh hari di masa datang untuknya bertanya dan mendapatkan jawaban. Waktu yang cukup panjang.


“Baiklah. Kurasa itu menjawab beberapa pertanyaan sekaligus. Lagipula ini tidak akan menjadi percakapan akhir antara kita. Jadi saatnya kita kembali ke urusan yang sebenarnya. Urusan yang mempertemukan kita. Tuan Alexius Tuck, apakah keinginan anda?”