#99

#99
Bab XIII



Dersha membuka pintu perpustakaan, dan mengintip ke salah satu sudutnya.


Penerangan di perpustakaan cukup minim. Hanya ada tiga lampu dinding yang dinyalakan, tapi itu cukup baginya untuk menemukan sosok yang dicari.


Travza tampak di sofa sudut, terlihat terlelap. Tapi Dersha terlalu paham sifat kakaknya yang berusia lebih tua delapan belas tahun darinya itu. Pria itu tidak benar-benar tidur.


Dersha masuk dan menutup pintu cukup kuat. Tidak ada reaksi apapun dari kakaknya. Bahkan saat Dersha duduk disampingnya, sosok itu masih belum bergeming.


“Apakah ini ada hubungan denganmu, Kak? Apakah kau melakukan sesuatu lagi?”


Butuh beberapa detik bagi Dersha untuk mendapatkan reaksi dari Travza. Reaksi yang dimulai dari menggerakkan tangan untuk membantunya menopang, meluruskan badan, agar dapat duduk lebih tegak.


“Lagi?”


Dersha membalas tatapan mata yang sudah tidak setajam tahun-tahun kemarin. Dia malas harus berbasa-basi mengingat kondisi saat ini. Saat masa depan keluarga dan keponakannya berada di ujung tanduk.


“Kau terlibat atau tidak?”


Suara Dersha tidak kuat apalagi melengking. Tapi tekanan setiap kata membuat lawan bicaranya terlihat gusar.


“Tentu saja tidak. Apa kau pikir aku sudah tidak waras sampai mencelakai Greka? Ini juga menyangkut seluruh keluarga kita, yang berarti aku dan keturunanku juga. Aku tidak serendah itu”


“Ya. Itu bagus”


Dersha kali ini yang bersandar ke sofa dan menutup mata, mengabaikan kakaknya yang terlihat masih tidak tenang. Kali ini dia percaya kakaknya tidak terlibat. Resikonya memang sangat besar untuk keberlangsungan keluarga ini bila bermain-main dengan syarat dan ketentuan mutlak pena maut.


Travza tentu mengerti benar kenapa dia sampai harus menanyakan pertanyaan itu. Sampai harus menjadi sedikit kejam dibandingkan sosok tenang yang selalu berusaha ditunjukkannya selama ini. Bagaimanapun sejarah, kisah masa lalu yang berusia lebih dari dua puluh tujuh tahun itu sulit untuk dilupakan, terutama olehnya yang menyaksikan sendiri kejadian itu.


Dia terlambat kurang dari semenit untuk tiba tepat waktu dan berdiri di posisi yang tepat, mencegah goresan hitam lain pada sejarah keluarga ini.


Kejadian antara Reetha dan Rhina bagi sebagian yang mengetahuinya dapat dianggap kecelakaan biasa. Nasib sial yang dapat menimpa siapa saja, dan kebetulan saat itu korbannya adalah Rhina. Tapi Dersha tahu lebih baik dari sebagian orang-orang itu.


Dia tahu kisah lain sebelum kisah kelam itu terjadi. Dia tidak perlu mengkonfirmasi untuk kebenaran, karena memang itu adalah kecelakaan, sebuah ketidaksengajaan semata. Tetapi itu bukan kecelakaan biasa.


Cemburu.


Dersha mengangkat lengan kirinya dan meletakkan diatas dahinya yang masih sangat mulus karena semua perawatan mahal yang dicobanya.


Marvin terlalu sering berada di luar negeri hingga tidak mengetahuinya, tapi dia yang sangat jarang bepergian bahkan ke luar kota tahu benar kisahnya.


Rhina adalah cinta pertama Travza.


Wanita itu memang cantik, sehingga dapat memikat dua Potra sekaligus dalam satu waktu hidupnya.


Travza Potra, putra tertua yang kurang percaya diri tentu saja akan sulit memikat wanita yang memiliki kepribadian yang sama dengannya, berbeda dengan Marvin yang selalu terbuka, penuh semangat dan menjadi perwujudan dari kata percaya diri itu.


Apalagi perbedaan umur yang cukup besar antara Travza dan Rhina, semakin mempersulit memulai hubungan apapun diantara mereka.


Dersha mengetahuinya karena Rhina adalah sahabatnya. Dia yang memperkenalkan kedua putra Potra ke Rhina anak dari pasangan seorang pelukis dan guru sejarah. Tentu saja di waktu dan tempat berbeda.


Travza lebih dulu mengenal Rhina, tapi tak pernah mengisi hatinya. Rasanya kepribadian Travza saat itu yang percaya diri bahwa dengan menyandang marga Potra maka setiap perempuan yang akan mendekatinya, bukan sebaliknya adalah alasan utama itu terjadi.


Marvin yang cepat dan cekatan tidak pernah mencoba menjadi pihak pasif. Dia, bila mau pasti akan mengajukan diri. Baik dalam petualangan maupun percintaan.


Dua perbedaan sifat yang menentukan masa depan masing-masing pemiliknya.


Tapi cinta pertama seorang pria tidak pernah hilang. Terutama cinta pertama yang tidak kesampaian.


Ketika Marvin memutuskan siapa pengantinnya, wanita pengisi sisi jiwanya, semua berubah.


Cemburu karena cinta ditambah iri karena hubungan persaudaraan yang kompleks akibat perbedaan sifat, ternyata dapat menghasilkan kebencian.


Kebencian yang membutuhkan sekutu untuk bertahan dan menumbuhkan kepercayaan diri yang selama ini berkadar kurang.


Dersha pernah dipertimbangkan Travza untuk menjadi sekutu. Yang mencegahnya bergabung adalah dia selalu menyukai unsur keterbukaan Marvin dan dia selalu menemukan ketidak cocokan dengan sekutu lain yang ingin direkrut Travza. Reetha.


Hal ini menjadikan Travza harus mempertahankan satu-satunya sekutu yang tersisa. Travza harus membuat sekutunya dapat membenci setidaknya sama besar dengan dirinya. Sekutunya harus melihat melalui kacamatanya, agar menemukan persepsi yang sama atas orang-orang yang ingin disingkirkannya dari rumah ini.


Travza sejak Marvin dan Rhina menikah telah membangun tembok untuk pasangan itu. Melihat mereka tertawa bahagia selalu membuat luka di hati kakaknya.


Dersha dapat melihat itu di mata Travza dua puluh tujuh tahun lalu, dan rasanya Vilzay juga mengetahuinya.


“Aku tidak pernah ingin Greka celaka, dan pena maut diambil dari keluarga kita. Aku tidak pernah menginginkan hal seburuk ini terjadi. Aku sungguh-dungguh berdoa semoga saja mereka dapat mencegah ini terjadi. Kau harus tahu itu”


Dersha mengangguk kecil menanggapi pernyataan kakaknya. Mereka berdua adalah generasi tertua yang berhubungan langsung dengan pena maut nomor sembilan puluh sembilan. Walaupun pena maut itu tidak diwariskan langsung kepada mereka, namun dalam tanggung jawab, mereka sebenarnya memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan Greka dalam menjaga pena maut itu agar tidak berpindah tangan dan menghilang dari daftar warisan keluarga Potra atau marga lainnya yang akan mengikuti keluarga mereka nanti.


Itu sebabnya ketika Greka menelpon kamarnya saat hampir tengah malam, empat setengah jam yang lalu, dia langsung menginstruksikan beberapa hal pada Pawtra dan beberapa pekerja.


Greka tentu telah tahu apa yang harus dilakukan bila kejadian seburuk ini sampai terjadi. Ibunya mungkin hanya beberapa bulan melatih Greka, untuk mempersiapkannya menjadi manusia penanggung jawab pena maut, tapi ada ratusan buku dari para leluhur dan ibunya yang dapat dibaca dan menjadi tolak ukur untuk tindakan yang paling tepat yang harus diambil jika kejadian-kejadian luar biasa terjadi, salah satunya seperti saat ini.


Pengalaman Yelsnav pun seharusnya sangat berguna. Walau ini juga merupakan kejadian pertama bagi pria itu, ayah dan moyangnya juga pasti telah membuat dan menyusun catatan-catatan terkait selama ini yang berhubungan dengan pekerjaan mereka sebagai marketing maut.


Lalu ada Comat. Malaikat maut itu tentu saja dapat menjadi sumber utama untuk menemukan jawaban solusi atas masalah pelik ini. Comat bagaikan buku panduan yang dapat bersuara sehingga memudahkan untuk mendapatkan jawaban apapun.


Benar. Ada begitu banyak sumber jawaban solusi. Mereka tidak perlu terlalu khawatir.


Masih ada waktu cukup panjang juga untuk mereka menyelesaikan permasalahan ini dan mempertahankan kestabilan hidup yang telah keluarga mereka jalani selama berabad-abad.


Kemarahan dan rentetan celotehan Reetha dan Georgia saat mendengar kejadian ini sekali lagi akan menjadi catatan kaki lainnya tentang bagaimana mereka terlalu cerewet dan egois. Kedua wanita itu begitu mengkhawatirkan keuangan di masa datang dibandingkan keselamatan Greka.


Untung saja kali ini Greka tidak meluangkan waktu meladeni mereka, dan untung saja Filip tidak pulang malam ini sehingga berkurang orang yang menyumpah dan marah padahal hal itu sama sekali tidak memberikan kontribusi maupun solusi untuk masalah mereka saat ini.


Reetha pasti telah menelpon Filip, tapi kemungkinan besar diabaikan. Sesuatu yang selalu dilakukan keponakannya itu sejak berumur lima belas tahun.


“Kak, bisakah kau membantuku beberapa hal? Bagaimanapun Greka akan pergi beberapa waktu, aku diminta olehnya untuk mengatur kas dan urusan-urusan harian rumah tangga”


Dersha memalingkan wajah ke Travza dengan pelan dan melihat pria itu hanya mendesah.


“Kalau kau memang percaya padaku. Apa yang perlu kulakukan?”


“Bantu aku mengatur pelelangan tempat lilin itu. Greka mau melelangnya di Christie. Aku tahu kau punya banyak koneksi di sana”


Ada aura penolakan untuk sesaat, tapi jawaban Travza melegakannya.


“Baiklah. Lalu hal lainnya?”


Dersha mendesah. “Tolong tenangkan istri dan anakmu. Suara mereka sungguh menyebalkan”