#99

#99
Bab XXV



Greka mengernyit. Rasa perih menyengatnya ketika Tuan Yelsnav mengoleskan salep ke beberapa luka lecet dipipi kirinya. Di depannya, Comat sedang memangku kaki kanannya untuk mengobati sebuah luka kecil di dekat kelingkingnya, setelah sebelumnya mengoles salep tipis-tipis ke beberapa goresan di betis kaki yang sama.


Sarah dengan mendekap satu botol air mineral berukuran sedang, duduk berjongkok didekatnya dengan tatapan kagum yang tidak ditutupi.


Sebenarnya Greka sendiri juga sangat kagum dengan keajaiban yang diperolehnya dalam kejadian menegangkan beberapa saat lalu.


Sesaat setelah Comat dan Sarah berhasil menarik sepenuhnya tubuh si remaja, mobil naas itu meluncur ke sisi kiri, membuatnya harus berpegangan erat pada salah satu sandaran kursi mobil agar tidak terbanting.


Kejadian yang mungkin hanya beberapa detik itu sempat membuatnya ketakutan setengah mati.


Namun ketika bangkai mobil itu berhenti bergerak, Greka menyadari dia baik-baik saja. Dia bahkan tidak merasakan ada sendi yang keseleo atau tulang yang patah.


Dia merangkak sendiri keluar dari mobil dan menemukan Sarah dan Comat sedang berlari ketakutan menuju arahnya.


Mereka membolak-balik tubuhnya, memeriksa kepala, badan hingga kakinya dengan kalut, sebelum bernapas lega ketika tidak menemukan cedera apapun yang serius apalagi parah.


Perlindungan untuk manusia pemegang pena maut memang terbukti sungguh luar biasa.


“Nona, apakah kau yakin tidak ingin ke rumah sakit?”


Seorang petugas medis berusia akhir dua puluhan tampak sedikit khawatir.


Sebelumnya Comat dan Sarah sudah menceritakan kepada setiap orang tentang bagaimana cara mereka menyelamatkan dua bocah dan remaja itu.


Kekhawatiran terhadapnya tentu saja sangat wajar mengingat bagaimana kondisi mobil terlihat saat ini.


Greka menggeleng cepat sambil tersenyum kecil, lalu mengernyit lagi ketika Tuan Yelsnav mulai mengoleskan luka lecet lain di dekat dagunya.


Ini mungkin sudah selusin kali mereka, para petugas medis dan polisi-polisi itu mengajukan pertanyaan dan tawaran yang serupa.


Sekitar setengah jam yang lalu, dua unit polisi patroli - masing-masing beranggotakan dua orang polisi, tiba paling pertama di lokasi.


Tuan Yelsnav dengan sengaja telah menyalakan seluruh penerangan di dalam dan luar mobil mereka untuk mempercepat pengenalan posisi mereka dan titik kecelakaan.


Ketakutan mereka akan pertanyaan dan kecurigaan dengan adanya sosok Comat saat ini terbukti tidak benar.


Walau terlihat sekali para polisi itu menaruh minat pada Comat, mereka menempatkan tugas dan tanggung jawab di daftar paling utama.


Keempat polisi yang paling awal datang langsung menghubungi beberapa pihak dan sebagian lainnya langsung bergerak turun ke lokasi mobil naas tersebut.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, dua unit mobil polisi, dua unit mobil pemadam kebakaran dan lima unit mobil tim medis tiba bersamaan.


Kelompok yang tiba selanjutnya ini juga sangat profesional. Mereka bergerak cepat dengan berbagai peralatan mereka.


Comat yang sejak awal mengambil posisi sebagai pemandu, telah menunjukkan kepada empat polisi pertama posisi para korban baik yang selamat maupun meninggal, juga posisi kendaraan mereka.


Keempat polisi itu akhirnya mengambil alih posisi Comat, dan mulai memandu rekan, tim medis dan mereka yang lain yang baru saja tiba.


Dengan demikian mereka berharap telah melepaskan tanggung jawab untuk menjelaskan ke tim medis atau anggota penyelamat lain, dan tidak perlu lagi berlama-lama di tempat itu.


Tapi melihat darah yang menempel cukup banyak di pakaian Greka, Sarah, dan Comat membuat mereka ternyata tidak semudah itu melepaskan diri.


Para polisi meminta mereka tetap menunggu hasil pemeriksaan tim medis atas diri mereka, walaupun mereka sudah menjelaskan bahwa semua darah itu bukan milik mereka tapi milik para korban.


“Kami tidak ingin ada kecelakaan lagi. Bila tim medis mengatakan kalian mampu untuk melanjutkan perjalanan, maka kami akan ijinkan kalian pergi”


Itu kata seorang polisi plontos berperut buncit sebelum rekan-rekannya datang bersama tim medis dan petugas pemadam kebakaran.


Kini mereka berempat sedang berusaha sebaik mungkin meyakinkan tim medis – yang sisa satu unit, untuk memberitahukan kepada polisi bahwa mereka baik-baik saja dan dapat pergi dari sini sebelum ada kecurigaan atau pertanyaan lain yang lebih besar muncul atas kelompok mereka, terutama pada Comat.


“Anak muda, kami - seperti yang terlihat, sangat baik-baik saja. Jadi bisakah anda katakan pada polisi-polisi itu, agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami?”


“Rekan seniorku sudah buat pernyataan itu. Kami tidak bermaksud menahan kalian, hanya saja tampaknya ada detektif yang sementara diutus kemari. Mereka sedang menunggunya”


“Detektif? Untuk apa?”


Greka berdiri cepat hingga membuat Comat kehilangan keseimbangan dan terduduk di aspal.


“Yang kudengar, katanya karena ada yang meninggal dan titik kecelakaan yang seharusnya sulit ditemukan, namun anehnya kalian bisa temukan, apalagi ini malam hari…..”


“Dini hari” Comat mengkoreksi cepat.


“Iya, maksudku dini hari tapi gelap seperti masih tengah malam, maka kalian dianggap mungkin mengetahui sesuatu” Pemuda itu berbisik pelan melanjutkan “Atau kalian menyembunyikan sesuatu”


Greka dan Tuan Yelsnav menarik pemuda itu ke dekat mobil mereka, menjauh – memberikan jarak lebih antara mereka dan para polisi yang kini tinggal dua orang. Salah satu unit polisi yang tadi tiba paling awal, tapi bukan unit dari polisi buncit yang berbicara dengan mereka sebelumnya.


“Apa maksudnya itu?” Greka berbisik bingung.


Sarah dan Comat dengan sangat kompak segera membuat brikade di jalur pandang para polisi, menutupi kegiatan yang terjadi di balik punggung mereka.


“Apakah dia Andrew Garfield?”


“Hah?”


Greka berhasil cepat menaikkan alisnya setinggi mungkin untuk meyakinkan pemuda dihadapannya bahwa dia sedang bingung dengan pertanyaan yang diajukan.


“Bukan ya?”


“Tentu saja bukan. Andrew Garfield tidak mungkin memiliki tahi lalat ini, ini dan di sini”


Comat berbalik cepat ke penanya dan menunjukkan beberapa tahi lalat kecil di alis, sedikit lebih besar di atas bibir hingga yang sebesar satu koin sepuluh sen di lehernya. Semua perbedaannya dibandingkan si Andrew Garfield yang asli.


Si pemuda tim medis mengangguk pelan dengan mimik masih sedikit ragu, tapi Comat sudah berbalik lagi dan berdiri tegak membentuk formasi brikade bersama Sarah.


“Sudah kuduga. Aku dan rekan-rekanku hampir saja membuat taruhan. Tapi, bisakah aku memiliki foto bersamanya? Bagaimanapun dia sangat mirip”


Greka dan Tuan Yelsnav menggeleng cepat.


“Jangan. Akan memalukan jika kau ketahuan berfoto bukan dengan yang asli. Apalagi jika ternyata di masa datang kau ketemu dengan Andrew Garfield yang asli, bisa-bisa bila kau foto dengannya, mereka akan meragukan keaslian fotomu. Tidak. Jangan lakukan kesalahan itu”


Greka menjelaskan cepat. Dia berusaha memainkan semua otot wajahnya sebaik mungkin untuk membentuk mimik meyakinkan atas pernyataannya.


Tuan Yelsnav menggumamkan persetujuan, sementara di sisi lain Sarah dan Comat memberikan tanggapan yang hampir serupa.


Pemuda itu, yang tampaknya memang suka menampilkan ekspresi selalu sedang berpikir, mengangguk kecil tanda dia cukup mengerti dan menyetujui setiap kata Greka.


“Jadi, kembali ke topik semula. Apa maksud dari pernyataanmu tadi?”


Greka memajukan bahu dan lehernya segera setelah pertanyaan Tuan Yelsnav terucap.


“oh, iya… Eh, itu.... tampaknya mereka mencurigai kalian. Beberapa polisi berpikir kalian pasti tahu penyebab kecelakaan ini atau…..” Pemuda asia berambut coklat dengan lesung pipit di salah satu pipinya itu bergerak gelisah dari satu kaki ke kaki lainnya.


“Atau……” desak Greka ikut-ikutan merasa gelisah juga.


“Atau….. atau kalianlah penyebab kecelakaan itu”


Greka melongo tak percaya dengan pendengarannya, Tuan Yelsnav menggeleng kesal, Sarah memekik kecil dan Comat seketika histeris.


“Apa?” teriak Comat yang langsung memancing perhatian dua polisi, tiga petugas medis, dan sepuluh petugas pemadam kebakaran yang tersebar di sekitar mereka.