
“Ini beresiko. Kita telepon saja polisi dan biarkan mereka datang dan menolong”
Greka menggeleng cepat.
“Greka, pikirkan tujuan kita melakukan perjalanan ini. Itu yang utama. Kau mau menolong mereka dan membahayakan posisi kita? Lupakan. Kita cukup menelpon polisi saat melanjutkan perjalanan…… kita jangan terlibat ”
Sekali lagi Greka menggeleng.
Sarah dan ayahnya memang benar. Resikonya sangat besar bila mereka menolong siapa pun yang masih selamat dikegelapan yang ditunjuk Comat tadi.
Itu artinya mereka akan mulai mengambil tanggung jawab atas hidup orang-orang itu.
Polisi dan tim medis adalah bagian yang tidak mungkin untuk disingkirkan. Menunggu kedua kelompok itu datang setelah mereka mencoba melakukan apapun sebagai pertolongan pertama, mutlak dilakukan. Belum lagi memberikan keterangan. Itu pasti akan menjadi tantangan tersendiri, apalagi dengan adanya Comat bersama mereka.
Tapi Greka menolak memikirkan kemungkinan melanjutkan perjalanan dan meninggalkan yang masih selamat di belakang mereka.
Titik kecelakaan, lokasi para korban dan kurangnya penerangan di jalan raya antar negara bagian ini dipastikan akan menyulitkan polisi maupun tim medis.
*Bisa-bisa mereka pikir telepon kami hanyalah telepon iseng dan tidak melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Bisa-bisa para korban terlambat ditemukan*.
“Kita sudah di sini. Kita lakukan yang terbaik. Mengabaikan para korban, terutama yang masih hidup bisa fatal. Mereka kemungkinan bisa meninggal”
“Greka, kau dengan profesimu pasti tahu sendiri bahwa hidup dan mati seseorang sudah ditentukan. Bila harus mati, maka pasti mati. Dan bila memang akan selamat, pasti akan selamat”
Mereka bertiga sudah lima menit keluar dari mobil dan berdebat. Sedangkan Comat sendiri sudah ke titik kegelapan yang ditunjuknya tadi. Mengecek kondisi para korban.
“Jangan katakan kau hendak memanen klien saat ini”
Greka memandang kesal Sarah sambil menghalau - melepas kasar genggaman Tuan Yelsnav.
“Aku masih manusia, Sarah. Aku mungkin bekerja sama dengan malaikat maut untuk mencari nafkah, tapi aku bukan daging tanpa perasaan yang mau memanfaatkan situasi seburuk ini. Aku juga tidak bodoh. Aku tahu resikonya” Greka menarik napas, mencoba mengendalikan emosinya “Mereka memang akan hidup maupun mati sesuai yang ditakdirkan. Tapi bagaimana jika karena kita tidak atau terlambat menolong dan mereka yang selamat harus melanjutkan hidup dengan satu tangan, atau kaki atau bahkan hidup dengan paru-paru yang rusak? Bagaimana jika mereka seumur hidup harus koma, padahal mereka akan hidup sampai seratus tahun. Haruskah mereka koma terus selama itu? Baik, aku bisa menolong jika itu terjadi, tapi apa? Itu artinya mereka harus mempersingkat hidup mereka, padahal jika kita tolong mereka sekarang, mereka akan hidup, akan sadar hingga maut menjemput, tanpa perlu melibatkan pena maut manapun. Tidakkah kalian memikirkan kemungkinan itu?”
Greka menarik napas panjang. Dia putuskan untuk pergi menolong tanpa harus menunggu persetujuan siapa pun lagi. Namun saat akan melangkah lagi untuk menyeberang, Sarah menarik tangannya.
“Pikirkan baik-baik lagi. Batas waktu kita untuk mengembalikan segalanya ke jalur normal mungkin kurang dari enam puluh hari. Bila kita terlambat menyelesaikan ini – karena alasan apapun, itu artinya kau pasti akan menanti kematian dengan penuh penderitaan. Kau akan mati kurang lebih seratus dua puluh hari lagi, Greka” Sarah setengah menjerit ketika mengucapkan kalimat terakhir “Polisi tidak mungkin mengabaikan kita. Kita pasti diinterogasi, sementara saat ini Comat jelas-jelas tidak bisa bersembunyi atau kita sembunyikan. Resikonya sangat besar. Terlalu besar, tetutama untukmu”
Sarah terlihat sedikit histeris sementara Tuan Yelsnav mengusap wajah dengan kedua tangannya dengan frustasi.
Dia tahu Sarah dan ayahnya tidak bermaksud jahat. Mereka bukanlah orang-orang yang kejam dan berhati dingin. Itu sebabnya dia tidak merasa terlalu marah atau jijik pada mereka. Bagaimanapun semua yang dikatakan dua orang ini adalah kenyataan dan kemungkinan yang akan terjadi, tapi baginya bukan sesuatu yang benar untuk dilakukan.
Greka menangkap gerakan dari seberang jalan. Sosok Comat muncul sambil menggendong seorang balita yang terbalut jaket warna hijau neon.
Sosok bocah laki-laki berkulit gelap, yang tidak sadarkan diri.
Greka menatap Sarah dan Tuan Yelsnav dengan senyum sendu.
“Aku memilih lebih baik aku menanti kematian penuh penderitaan selama enam puluh hari daripada aku berumur panjang dan hidup dalam penyesalan setiap hari”