#99

#99
Bab XXVIII



Sudah lima lembar tisu basah dipakainya untuk membersihkan wajah dan tangannya.


Walaupun noda debu, lumpur dan darah sudah tidak lagi tampak, dia tetap menambahkan beberapa tetes hand sanitizer di tangannya.


Greka yang duduk setengah meter darinya, sudah lebih dulu membersihkan wajah dan tangannya dengan tisu basah dan hand sanitizer, dan kini sedang menikmati roti coklat keju dan satu botol minuman isotonik.


Mereka berdua masih memilih duduk dilantai sambil bersandar di kaki-kaki salah satu tempat tidur – tempat tidur kosong yang belum tersentuh siapa pun dari mereka.


Ayahnya sudah mulai mendengkur pelan beberapa menit yang lalu, sedangkan Comat tampaknya cukup menikmati mandinya.


Malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan itu memang sempat berteriak tidak jelas semenit setelah masuk ke kamar mandi – dugaan terbaiknya saat itu Comat salah menyetel kran dan terguyur air panas, tapi kini suara nyanyian ceria terdengar dari balik pintu yang membatasi mereka.


Nyanyian yang masih tidak jelas nada dan liriknya.


Sarah mengembalikan botol hand sanitizer ke salah satu kantong kecil di tas kanvasnya dan mulai mencari air mineral di salah satu kantong plastik yang tadi dibawa Comat.


“Greka, apa benar saat ini Comat harus tetap berganti sosok yang berbeda setiap dua puluh empat jam?”


Anggukan diiringi gumaman tak jelas karena mulutnya yang penuh roti menjadi jawaban yang cukup dimengerti Sarah.


“Lalu apa yang bakalan terjadi jika Comat tidak berganti sosok lain setelah dua puluh empat jam?”


“Ayahmu belum menceritakannya padamu?”


Sarah menggeleng sambil memasukkan satu potong besar keju ke mulutnya.


“Dia akan berubah menjadi babi”


“Sungguh? Langsung menjadi ****?”


Greka menggeleng dan mengatur duduknya agar dapat menatap Sarah lebih jelas.


“Tidak. Tentu saja tidak langsung. Dia akan tetap menjadi sosoknya yang awal hingga begitu tidak ada satu pun manusia yang melihatnya. Bila dia tidak lagi dalam jalur pandangan manusia mana pun, dia akan puhffff…. Langsung berubah menjadi babi”


“Waahh” Sarah memasukkan lagi satu potong keju - lebih kecil dari yang sebelumnya, ke mulutnya “selamanya?”


Greka menggeleng dan mengambil satu potong keju yang berukuran paling besar.


“Tidak. Dia hanya akan menjadi **** selama dua puluh empat jam saja. Dia akan diijinkan kembali memilih sosok pilihannya setelah dua puluh empat jam. Tapi percayalah, dia maupun malaikat maut manapun tidak akan senang jika harus mengalami hal itu. Itu seperti penghinaan pada harga diri mereka”


“Tapi sebenarnya bukan masalah besar, kan? Comat hanya perlu tetap dalam jalur pandang manusia dan akan tetap baik-baik saja”


Greka mengunyah potongan kejunya dan menunjuk kamar mandi dengan jempol kanannya.


“Terlalu beresiko. Selalu ada kemungkinan dia tidak di lihat manusia, seperti saat ini” Greka membuka satu pak coklat susu berbentuk kelereng dan meletakkan di lantai – diantara dia dan Sarah


“Malaikat maut mungkin tidak butuh ke kamar mandi, tapi lihat sekarang. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam perjalanan ini” Greka memelankan suaranya dan memajukan posisi duduknya ke Sarah “Intinya kita harus membantu sebisa mungkin menyediakan tempat atau lokasi aman baginya untuk dapat berubah ke sosok lain. Apapun caranya. Karena itu bukan hanya untuk dia, tapi juga untuk kita. Untuk kenyamanan kita, karena terus terang saja, aku tidak mau membawa-bawa **** sepanjang perjalanan ini. Aku tidak ingin satu kabin dengan **** walaupun itu hanya dua puluh empat jam”


Sarah mengangguk cepat. Dia bukan hanya sangat mengerti semua penjelasan Greka, namun juga sangat setuju.


“Kalau menjadi ****, kira-kira Comat akan menjadi **** seperti apa?”


“Entahlah. Mujur-mujuran sih kalau menjadi **** mini. Tapi sebaiknya jangan berharap banyak, karena perasaanku mengatakan dia paling mungkin menjadi **** berukuran minimal dua puluh kilo-an”


Sarah membelalak. Dia mencoba membayangkan **** berbobot seberat dua puluh kilogram, dan segera menggeleng cepat ketika membayangkan **** berukuran dua puluh kilogram itu duduk bersama mereka dalam satu mobil.


Mengerikan. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.


Sarah melancarkan kerongkongannnya dengan air mineral dan mencomot dua butir coklat berisi kacang.


“Ngomong-ngomong Greka, setelah dipikir-pikir, sebenarnya Comat itu cukup keren juga ya"


Pandangan Greka terlihat geli saat menanggapinya. Dia tidak terlihat terkejut apalagi jijik. Sarah bersyukur reaksi Greka tidak membuatnya terlihat memalukan.


“Tentu saja dia keren. Untuk fisik, tidak ada sanggahan untuk itu. Kita membicarakan tokoh dan selebritas dunia, jadi itu sudah pasti. Tapi kukatakan padamu, jiwa Comat itu jauh lebih keren dari semua fisik yang ditampilkannya” Greka membuka satu botol air mineral dam tersenyum kecil “Dia memang sering menyebalkan, seenaknya, bahkan konyol tidak pada tempatnya. Tapi itu semua tertutupi dengan bagaimana caranya memberi perhatian, nasehat dan keputusan pada saat-saat yang tepat. Dia keren banget bila di saat seperti itu”


Sarah mengangguk kagum. Dia merasa berada dalam kelompok yang sangat keren, dan bersyukur diijinkan untuk bergabung bersama mereka.


“Tapi, Sarah……. Kamu jangan sampai jatuh hati sama Comat ya! Ingat, dia itu malaikat maut. Bukan sosok normal seperti kita”


Tentu saja dia tidak akan jatuh hati pada Comat. Itu menggelikan. Baginya yang sudah mengenal Comat dari janin, pria itu sudah seperti ayah, kakak dan sahabatnya.


Hubungan dia dan Comat apakah sedekat hubungan Comat dan Greka? Mungkin tidak. Tapi dia masih ingat ketika Comat beberapa kali membantunya mengerjakan tugas sekolah, membantunya belajar renang, latihan basket – yang memang bukan bakatnya, dan menjaganya ketika ayahnya harus bertugas keluar kota, walaupun keluarga Potra telah mengirimkan dua hingga tiga pekerja wanita ke rumahnya setiap itu terjadi.


Comat bahkan pernah menjadi walinya saat dia terkena masalah di sekolah dan ayahnya sedang bersama klien. Masalah yang sangat cepat selesai karena Comat muncul dengan sosok Dwyne Johnson, dan mengaku sebagai salah satu paman jauhnya.


“Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau pernah setidaknya berdebar-debar pada Comat dengan sosok-sosok uniknya?”


“Beberapa kali” Greka mengangguk cepat “Bahkan kemarin aku merasakannya lagi saat dia menjadi Lee Min Ho. Tapi tentu saja bukan berarti aku……”


“Lee Min Ho? Aktor Korea yang tinggi, keren, dan cakep itu? Yang main di drama Legend of The Blue Sea?” Seru Sarah bersemangat yang membuat ayahnya bergerak sedikit di kasurnya.


“Apakah itu artinya dalam jangka waktu dekat dia akan berminat menjadi salah satu anggota boyband EXO, Big Bang atau BTS? Bagaimana kalau Hyun Bin dan Kim Soo-Hyun? Atau baiknya kita usulkan saja padanya? Bagaimana? Pasti luar biasa bila dapat bersama salah satu dari mereka selama dua puluh empat jam, walaupun itu hanya sosok imitasi”


“Terlalu beresiko'


“Beresiko? Benarkah? Kurasa itu masih lebih baik dari sosoknya saat ini yang sangat dikenal masyarakat kita. Beda dengan aktor dan penyanyi Korea. Mereka pasti tidak akan mudah dikenali oleh penduduk negara ini”


Greka mendecak.


“Sarah, bila orang-orang seperti kita saja, yang selalu terlambat dalam mengikuti perkembangan dunia hiburan dan mode bisa mengenal orang-orang seperti mereka, menurutmu bagaimana dengan orang-orang di luar sana. Apalagi dengan perkembangan penyebaran informasi saat ini” Greka mengunyah satu butir coklat sambil membuka satu pak manisan plum “Jadi, sebenarnya sosok apapun yang dipilih Comat pasti tetap akan beresiko dikenali”


Sarah mendesah pelan. Dia tahu Greka benar. Selain berbagai informasi yang sangat mudah diperoleh pada saat ini, faktor banyaknya pendatang hingga turis dari Asia juga menambah resiko sosok Comat dalam selebritis Asia terutama Korea akan cepat dikenali.


Kehebohan pasti tidak dapat dihindari jika itu terjadi.


“Oh ya, soal beberapa jam lalu, aku minta maaf. Seharusnya aku tahu – ingat, maksudku, kalau Comat tidak akan bisa mencelakai manusia”


“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf. Aku seharusnya tidak tersulut emosi seperti itu, dan terus terang saja semalam aku juga sempat lupa akan fakta itu, hingga panik mengira Comat benar-benar menabrak orang”


Sarah mengangguk.


“Kejadian beberapa jam terakhir ini memang membingungkan. Aku masih sedikit merinding mengingatnya”


“Aku juga. Apalagi ketika melihat dua jasad wanita itu”


“Benar. Benar sekali. Itu benar-benar menakutkan”


Mereka berdua serempak mengangguk pelan walau tidak seirama.


Kejadian-kejadian yang susul menyusul kemudian setelah penyelamatan dramatis itu, ternyata membuat mereka tidak sempat untuk merasa terguncang. Sebuah pengalihan yang cukup baik untuk emosi mereka masing-masing.


Mereka menjadi siap melanjutkan perjalanan lagi dengan perasaan yang jauh lebih baik.


Bahkan penundaan akibat interogasi para detektif di kantor polisi tadi, juga menjadi seperti zona waktu bagi mereka untuk menenangkan diri.


Tadinya tidak ada satupun dari mereka menyadarinya. Tapi kini, di dalam kamar motel yang sempit, diiringi dengungan lembut AC, dengkuran pelan ayahnya, dan nyanyian tidak jelas Comat yang masih terus berlanjut, mereka mulai melihat hikmah dari setiap menit yang telah mereka lewati dan mulai mensyukurinya.


“Sarah, bukannya bulan depan kau akan ulang tahun ke dua puluh? Kurang dari dua minggu lagi, kan?”


Sarah mengangguk sambil menggigit roti isi kari ayam dengan lahap.


“Bagaimana jika saat itu kau langsung didaftarkan menjadi marketing pena maut nomor sembilan puluh sembilan?”


Sarah menghentikan sendiri tangannya yang hendak membawa roti ke mulutnya. Ekspresi terkejut sekaligus bengong bercampur sempurna di wajahnya.


“Benarkah? Bisakah?”


“Tentu saja bisa. Sesuai syarat dan ketentuan dasar semua pena maut, bahwa semua marketing pena maut harus berusia minimal dua puluh tahun. Jadi kau sudah masuk kriteria pada hari itu. Namun, tentunya kau tetap harus dalam naungan, bimbingan ayahmu. Aku yakin ayahmu juga akan setuju jika kuberitahukan alasannya”


Sarah mengerjap tiga kali dan mengangguk penuh semangat.


“Memangnya apa alasanmu?”


Greka memasukkan dua potong manisan plum ke mulutnya dan mengisap jari telunjuk dan jempolnya hingga menimbulkan bunyi decit.


“Aku tidak ingin lagi melakukan perjalanan kembali ke rumah melalui darat dengan Comat beserta kita. Kita pulang naik pesawat”