#99

#99
Bab XIV



Baru pukul lima pagi lebih beberapa menit, ketika Greka menemukan Sarah di perpustakaan pribadinya. Gadis itu sedang berdiri di depan televisi yang tadinya menjadi pusat kerja Comat selama beberapa jam.


“Kau di sini?”


Sarah mengangguk dan mengambil tempat di sofa berhadapan langsung dengan televisi yang menampakkan beberapa gambar pria berusia lebih dari setengah abad.


Semuanya gambar Alexius Tuck yang sehat.


Pria itu, seperti kata Comat teihat sangat sehat. Bahkan dari foto terbaru yang dibagikannya enam jam lalu, dia terlihat sangat berbahagia menikmati popcorn dan bir dingin bersama beberapa temannya sambil menonton film di salah satu halaman belakang seseorang – atau mungkin halaman belakang rumahnya.


Orang koma tidak mungkin seperti itu.


“Mana Comat?”


“Dia sedang pergi lagi ke lokasi orang itu” Sarah menunjuk dengan dagunya “Dia ingin memastikan lokasi tepat tempat tinggal orang itu, dan bila mungkin tempat kerjanya juga, selagi dia masih bisa muncul dan menghilang. Supaya begitu tiba di Asheville, kita tidak perlu repot-repot mencarinya lagi”


Greka mengangguk. Comat memang sangat bijak dan efisien bila menyangkut klien. Baik itu klien yang benar maupun klien yang salah.


Untunglah kemarin dia sempat memutuskan menunda melakukan ritual serah terima hingga pukul tujuh malam. Itu artinya Comat masih memiliki waktu muncul dan menghilang hingga pukul tujuh malam nanti. Jam-jam yang akan sangat berarti bagi malaikat maut itu menyelesaikan masalah maupun urusan pribadinya.


“Bagaimana dengan klien-klien yang sementara menunggu penyelesaian proses?”


“Comat akan mengurusnya. Dia akan meminta bantuan malaikat maut lain untuk membantu menyelesaikan proses klien-kliennya, juga mengatur pembayaran yang akan diterima. Aku sudah meminta agar setiap pembayaran yang akan terjadi sementara kita mengurus masalah ini langsung dikoordinasikan dengan Pawtra dan bibi Dersha”


“Malaikat maut lain?”


Greka menyodorkan semangkuk salad buah yang disambut Sarah dengan semangat.


“Iya. Paling mungkin yang dimaksudnya adalah Javier, malaikat maut penanggung jawab pena maut nomor tiga puluh delapan. Comat cukup dekat dengannya”


“Kita akan mengatasi ini. Jangan dulu terlalu khawatir” Sarah menyuap salad buah dengan semangat.


Greka tersenyum.


“Aku tidak teliti. Sangat ceroboh. Padahal ini urusan yang mudah”


Keheningan menyambut pernyataannya. Greka mengunyah perlahan dengan pikiran yang melayang.


“Yah, bukan hanya kamu saja yang merasa begitu. Urusan ini memang menyebalkan. Aku dan ayah juga merasakan hal yang sama” Sarah meletakkan saladnya dengan pelan di meja sudut terdekat tempatnya duduk. “Terutama ayah, kurasa”


Greka menatap Sarah yang tertunduk menekuri jari-jarinya. Sebuah kebiasaan yang sangat mirip dengan yang dilakukan Tuan Yelsnav, ayahnya. Gadis itu terlihat gugup dan sedikit takut.


Greka juga merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka berdua mengatasinya dengan cara berbeda. Sarah menambah porsi makan, disaat dia hampir tidak bisa menelan apapun.


Ini harus dihentikan. Mereka tidak mungkin memulai perjalanan ini dengan bersikap pesimis. Terutama dirinya.


Greka menepuk tangan Sarah dengan semangat. Dia harus membangkitkan sikap optimis bagaimanapun caranya, terutama dihadapan Tuan Yelsnav nanti. Pria tua pembimbingnya itu bila tidak ada halangan akan mendarat kurang dari dua jam lagi di bandara lokal berjarak lima belas kilometer dari sini. Mereka akan menjemputnya di bandara dan langsung memulai perjalanan menuju Asheville.


Tuan Yelsnav pasti yang paling merasa bersalah dengan kejadian ini. Jadi tidak perlulah Greka menambah bebannya dengan bermuram durja. Pria tua itu pasti sudah sangat lelah dengan perjalanan dan tugasnya kali ini, tidak perlu lagi membuatnya terbebani dengan urusan menghibur dirinya atau Sarah. Mereka berdua harus menunjukkan sikap dewasa atau setidaknya kemampuan mengatasi emosi berlebihan dalam menyelesaikan persoalan ini.


“Kau benar. Kita akan mengatasi ini. Tidak perlu khawatir berlebihan…… Omelet dan bacon goreng madu?”


“Kurasa roti bakar dan selai coklat dulu”


Greka tertawa dan mengangguk. Dibiarkannya gadis itu melayani diri sendiri sementara dia mengunyah donat kentang yang masih cukup hangat.