
Melanjutkan perjalanan melalui jalur Utara dengan Tuan Yelsnav dikemudi membuat Greka dan Sarah dapat bersantai.
Hembusan angin dari setiap jendela yang terbuka membuat keduanya hampir terlelap dikursi masing-masing.
Satu-satunya hal yang mencegah itu terjadi adalah nyanyian Comat seperti yang dijanjikannya tadi di restoran.
Nyanyian Comat bukan hanya salah nada di sana atau di sini. Dia total salah nada dari awal hingga akhir. Dia bagaikan penggubah lagu yang buta nada.
Bila Aamir Khan asli di sini maka ada dua hal yang paling mungkin terjadi. Dia akan bunuh diri atau dia akan membunuh Comat.
Semoga saja dia memilih yang kedua, bagaimanapun malaikat maut itu tidak akan mati, tapi setidaknya itu akan membuatnya mulai tutup mulut menyadari kekesalan si sosok asli.
Dua lagu yang dijanjikan Comat telah dinyanyikan berulang-ulang kali olehnya. Namun tidak ada satupun dari manusia-manusia yang semobil dengannya yang dapat memastikan lagu-lagu itu sudah diulang berapa kali. Comat memiliki kebiasaan menyebalkan dengan mengulang nyanyian dari awal lagi pada saat dia sampai di tengah atau masih sepertiga lagu – saat dia merasa kurang puas dengan nyanyiannya.
Dia bahkan rasanya telah beberapa kali tanpa berdosa menggabung kedua lagu itu, dan mengulangnya lagi dari awal salah satu lagu ketika merasa ada yang tidak sesuai, atau dia tidak lagi menemukan kata yang dirasanya sesuai.
“Siapa juga yang tahu?” pikir Greka kesal.
Mereka semua yang bersama Comat di mobil ini, Tuan Yelsnav, Sarah maupun Greka dipastikan tidak dapat melakukan protes atau koreksi apapun pada Comat perihal kata-kata dalam nyanyiannya. Tidak ada diantara mereka yang tahu bahasa India. Mereka mau tak mau pasrah dalam kedongkolan masing-masing.
Dan mereka berani bersumpah Comat pun tidak mengerti apa yang dinyanyikannya. Malaikat maut itu fasih bahasa Prancis dan Rusia, selain bahasa Inggris. Sedikt bahasa Jerman dan Belanda, tapi bahasa India dipastikan bukan area kekuasaannya.
Comat yang kali ini bahkan dengan senang hati membuka jendela mobil disisi tempat duduknya, suka menaikkan volume di saat-saat tidak terduga sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela.
Mereka, terutama Greka berani bersumpah malaikat maut memalukan yang duduk disampingnya ini sedang mencoba meresapi perannya sebagai aktor India, sosok yang dipakainya saat ini. Tetapi, dia juga merasa Comat sedang melakukan penyangkalan diri tentang adanya kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada dirinya jika masalah ini ternyata tidak terselesaikan.
Dia tahu malaikat maut memiliki beragam emosi layaknya manusia biasa. Rasa takut dan cemas, stress berlebihan dipastikan saat ini sementara mengisi jiwa Comat walaupun dia terlihat begitu ceria. Greka yakin Tuan Yelsnav dan Sarah pasti memiliki pemikiran yang sama dengannya. Itu juga sebabnya mereka mampu bertahan tidak histeris dengan kelakuan Comat selama satu jam terakhir.
Greka mendesah dan membuka satu botol minuman isotonik sambil melirik prihatin ke Comat.
Sarah yang duduk dihadapan Comat, samping Tuan Yelsnav, hanya dapat meringkuk malu. Dia bahkan menaikkan jendelanya hingga sejengkal, ketika kegiatan yang dilakukan Comat mulai memancing perhatian para pengendara lain.
Tadinya mereka bersyukur karena sosok yang Comat pilih memang tidak terlalu dikenal di negara ini karena Bollywood di sini tetap masih kalah saing dengan Hollywood. Tapi kalau Comat dibiarkan terus, keberadaan mereka jelas-jelas akan memancing perhatian yang justru sangat tidak dibutuhkan mereka saat ini.
Greka menarik kerah kemeja Comat ketika dilihatnya ada sebuah bis antar kota yang hendak menyalip mobil mereka. Dia jelas melihat sudah ada beberapa penumpang sedang bersiap-siap dengan ponsel berkameranya di dekat jendela bis. Para penumpang dari bis yang sudah lebih dari sepuluh menit berada di belakang mereka tampaknya telah cukup lama mengamati kelakuan Comat.
Greka menaikkan kaca jendela mobil di sisi Comat, tepat ketika bis itu menyalip mereka.
“Kenapa?”
Greka melotot kesal.
“Kalau kau memang lagi terpesona dengan yang berbau India, lebih baik kita putar daftar lagu populer mereka. Kau berhenti bernyanyi dan nikmati saja. Sarah bantu cari daftarnya dan putarlah. Aku sudah tidak tahan dengan caramu membunuh budaya indah mereka”
Comat memonyongkan mulutnya. Dia baru hendak mengucapkan sesuatu ketika sebuah lagu India mulai mengalun di speaker mobil.
Greka bersyukur Sarah bergerak cepat pada sistem audio mobil yang terhubung dengan internat dan mencari di situs pemutar lagu.
Comat mendengus pelan sebelum menurunkan kembali kaca mobil. Dia juga tampaknya memutuskan untuk tidak bergerak seheboh tadi. Dia meletakkan dagu dan pipi di bingkai jendela, menarikan jemarinya di paha dan tampak tersenyum pada pemandangan di luar.
Greka mendesah lega dan memutuskan dia tidak lagi membutuhkan balsem aromaterapi yang ditemukannya di bagasi pada salah satu ransel yang disiapkan Pawtra.
Sarah pun sudah menurunkan jendela dan melakukan gerakan yang sama dengan Comat setelah menaikkan volume audio mobil menjadi angka dua puluh.
Kini, mereka melaju lebih dari delapan puluh kilometer per jam dengan diiringi alunan lagu Aal Izz Well.