
“Kau…….”
“Bukan Andrew Garfield” Greka menjawab sedikit ketus. Dia menjepit dagu Comat dengan gemas sambil memajukannya ke depan “Andrew Garfield tidak memiliki tahi lalat ini, ini dan di sini. Mukanya saja yang memang pasaran”
Detektif berusia tiga puluhan di depannya melemparkan tatapan sedikit jengkel menanggapi kata-katanya.
Greka tidak peduli. Dia melepaskan dagu Comat dan bersedekap menantang.
Detektif yang diceritakan pemuda tim medis itu tidak pernah datang. Mereka yang selama satu jam menunggu dengan gelisah justru diminta mengikuti satu unit mobil polisi lainnya – yang datang dengan lampu menyala dikapnya, ke kantor polisi yang berjarak setengah jam dari lokasi kecelakaan.
Saat memasuki kantor polisi itu, mereka dengan sigap memeriksa setiap kamera pengawas, dan sedapat mungkin mengatur posisi Comat terapit diantara mereka.
Greka dan Sarah sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kekesalan mereka walaupun sementara dikelilingi lima polisi dan tiga detektif.
Comat dan Tuan Yelsnav sendiri lebih memilih memasang wajah datar dan lelah.
Tidak satu detik pun dari mereka menunjukkan ketakutan apalagi bersalah. Karena mereka memang tidak bersalah.
Greka tadi sempat mengajukan ide hendak melarikan diri saja. Bagaimanapun arah ke kantor polisi itu searah dengan tujuan mereka.
Rencananya, mereka yang berada di mobil mereka sendiri, pura-pura mengikuti mobil patroli yang di depan, namun begitu mendekati – akan memasuki halaman kantor polisi, mereka justru akan tancap gas.
Mengingat waktu masih dini hari, dipastikan jalanan akan sangat lengang. Mereka, dengan kemampuannya mengemudi, dipastikan dapat meloloskan diri dengan cepat.
Sebuah rencana yang langsung ditentang keras oleh Tuan Yelsnav.
“Kau pikir plat nomor, ciri-ciri mobil dan ciri-ciri kita, terutama Comat tidak mereka catat? Seluruh negara pasti akan mencari kita, dan mereka pasti akan menemukan kita dalam hitungan jam. Apalagi mobil ini jelas-jelas terdaftar atas namamu, Greka”
Greka mendengus kesal. Itu kebenaran yang tidak dapat disanggahnya.
“Lagipula kita tidak bersalah. Yakinlah, kita akan lewati semua proses ini, dan melanjutkan perjalanan”
Sebuah keyakinan yang akhirnya membuat mereka berempat duduk berhimpitan menghadap detektif cukup tampan tapi terlihat berantakan.
Di dinding belakang detektif itu, sebuah jam dinding bulat menunjukkan hampir pukul lima pagi. Waktu telah berlalu cukup banyak.
“Baiklah, kita akan langsung saja. Silahkan kalian ceritakan kembali kejadian hingga kalian bisa terlibat menyelamatkan para korban. Bagaimana kalian, dengan kecepatan kendaraan dan kegelapan itu, bisa berhenti tepat dititik kecelakaan dan menyadari ada yang kecelakaan…..”
…..sedangkan mobil naas itu tidak terlihat dari jalan raya dan tersangkut di pohon yang jaraknya hampir tujuh puluh meter dari jalan raya.
Greka seakan dapat mendengar apa yang tidak diucapkan, namun tetap dituduhkan detektif didepannya ini pada mereka.
Sesungguhnya cerita yang mereka berikan pada polisi saat awal menemukan para korban memang terdengar kurang meyakinkan bahkan menjurus ke mencurigakan.
Tuan Yelsnav mengatakan pada para polisi bahwa mereka sedang menepi untuk merenggangkan otot dan melemaskan kaki saat mendengar permintaan tolong.
Sebuah pernyataan yang dianggap meragukan karena sesungguhnya hampir tidak ada orang yang akan merenggangkan otot dan melemaskan kaki pada pukul dua pagi di jalan yang tidak memiliki penerangan memadai.
Kenyataan lainnya, ternyata dua orang dewasa yang duduk di bagian depan mobil ternyata telah meninggal lebih dari tiga jam dan anak-anak dipastikan tidak sadarkan diri sejak kecelakaan, karena bila mereka sadar, maka tidak mungkin ada cerita penyelamatan heroik ala Greka. Anak-anak yang – untung saja, tidak mengalami patah tulang, pasti akan merangkak sendiri keluar.
“Saya dan kawan saya ini sebenarnya indigo'
Tuan Yelsnav sambil menunjuk Comat, menjelaskan perlahan dan hati-hati, tapi ternyata tetap berhasil membuat ketiga detektif dan kelima polisi itu terpana cukup lama.
“Apa maksudnya itu?”
Greka mengernyit. Detektif wanita yang bertanya tadi terlihat melipat tangan dengan tidak sabar.
Pernyataan Tuan Yelsnav tadi sebenarnya sudah mereka perdebatkan sepanjang perjalanan menuju kantor polisi.
Namun menilik situasi saat ini, akhirnya Greka terpaksa sepakat itu adalah pernyataan yang paling sempurna untuk menjelaskan secara cepat dan ringkas apa yang terjadi pada beberapa jam yang lalu.
Reaksi tidak percaya dan pastinya memperkuat kecurigaan siapapun yang mendengarnya adalah resiko yang telah diperhitungkan mereka.
Tuan Yelsnav kembali memberi penjelasan. Butuh waktu lima menit baginya untuk menyampaikan apa yang dia dan Comat lihat – tentu saja cerita tentang malaikat-malaikat maut yamg bersama roh tidak diceritakan.
Greka melihat Sarah sedang menekuri kedua tangannya dan Comat sendiri sedang mengangguk tidak jelas.
Suasana hening yang tercipta setelah Tuan Yelsnav bercerita terasa lucu. Beberapa polisi bergerak gelisah, sedangkan lainnya saling melempar senyum kecil dan tatapan tidak percaya.
Ketiga detektif berpandangan dan Greka tahu mereka sangsi dengan keempat sosok dihadapan mereka.
“Kalian ingin kami mempercayai itu? Cerita aneh seperti itu?”
Detektif wanita itu melengos tak percaya. Dia kini sudah berkacak pinggang dengan senyum tipis yang miring menghias wajahnya.
Detektif lain berkulit hitam seusia detektif yang duduk dihadapan mereka, menarik kursi dari salah satu meja, dan duduk dengan posisi terbalik.
“Kalian mungkin perlu mencari cerita lain, yang lebih masuk akal, bila memang mau lolos dari ini” katanya sambil mengaitkan jemarinya di atas sandaran kursi.
“Kami tidak perlu meloloskan diri dari apa pun. Lagipula itu kenyataannya. Jangan katakan kalian tidak percaya dengan adanya indigo?” Greka menatap tajam setiap detektif.
“Kau pikir cukup dengan alasan indigo, maka ini akan langsung selesai?”
“Bila kami memiliki alasan lain, pasti kami utarakan. Tapi karena kenyataannya seperti itu, maka, ya, kalian harus percaya pada kami”
Greka menaikkan beberapa derajat dagunya. Wanita berambut coklat yang ditatapnya melotot tidak suka.
“Harus ada bukti lain yang mendukung pernyataan kalian” Detektif di depan mereka memainkan penanya.
“Dan bisakah kami tahu apa yang akan terjadi jika bukti lain itu tidak ada?”
“Maka kalian tidak dapat melanjutkan perjalanan secepat yang kalian inginkan” detektif itu kini menatap Tuan Yelsnav dan Comat dengan sedikit berbeda “Bagaimanapun keinginan kalian untuk pergi yang terkesan sangat terburu-buru menjadi salah satu alasan lain untuk kami meninjau lebih teliti kejadian ini”
Greka berdiri kesal. Sebuah gerakan yang mungkin terlalu cepat sehingga dua polisi wanita, detektif wanita dan detektif yang duduk terbalik pada kursi, langsung berdiri waspada. Seorang polisi pria di sudut ruangan memang tetap duduk di mejanya, tapi tampak tegang dengan satu tangan di pistol yang tergeletak di atas map berwarna coklat.
Sarah dan Tuan Yelsnav serempak mengangkat tangan menenangkan.
“Tunggu. Tenang. Dia tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya sedikit gelisah” Tuan Yelsnav menjelaskan dengan cepat sambil memelototi Greka.
Greka menghembuskan napas pelan-pelan mencoba untuk menenangkan emosinya.
Dia perlahan menunjuk tas ‘tukang pos' yang selama ini dibawanya seakan meminta ijin kepada semua yang di situ terutama si detektif yang masih duduk tenang di kursinya.
Ketika menerima anggukan kecil tanda mengijinkan, Greka bergegas membuka dan mencari barang yang sangat ingin ditunjukkannya.
Greka tidak memiliki waktu untuk menjelaskan yang akan dilakukannya, namun dia cukup yakin ini akan menghindari mereka menghabiskan lebih banyak waktu di tempat ini.
“Ini” katanya meletakkan - dengan cukup keras, beberapa kertas dan kartu ke meja “Ini adalah identitasku. Periksalah. Ayo.... Cepat periksa. Dengan begitu kalian akan menemukan sebenarnya siapa aku. Aku, Greka Potra bukanlah kriminal ataupun orang yang tidak bertanggung jawab. Begitu pula teman-temanku ini. Yang kami lakukan tadi murni adalah menolong. Kami tidak tahu penyebab kecelakaan mobil itu, dan kami jelas-jelas bukan penyebab kecelakaan itu”
Greka memeriksa sekilas keberadaan pena maut dan beberapa benda lain, untuk memastikan bahwa dia hanya mengeluarkan dokumen-dokumen yang sesuai dalam mendukung ucapannya sebelum mengunci tasnya.
“Selalu ada yang pertama. Apalagi untuk kecelakaan” detektif itu mengambil kartu identitasnya, melihatnya sebentar sebelum menyodorkan kepada si detektif wanita “Kalian bisa saja tidak sengaja. Namanya juga kecelakaan”
Greka melihat kartu identitasnya dibawa si detektif wanita ke polisi di meja pojok.
“Kami tidak melakukan apapun sehingga dapat menyebabkan kecelakaan bagi siapa pun. Jadi, anda sebaiknya jangan memaksa. Spekulasi anda hanya akan membuat anda lebih malu nantinya bila kebenaran terungkap”
Greka duduk sambil memangku kaki. Dia sudah melakukan bagiannya, dan memikirkan bagaimana keberuntungan sangat berpihak padanya, pada insiden mengerikan tadi, maka dia memiliki cukup keyakinan masalah ini akan secepatnya selesai.
Suara dering telepon yang terletak di meja yang membatasi mereka dan para detektif, menghentikan apapun yang ingin diucapkan lawan bicaranya.
Detektif yang bernama Danson itu – sesuai yang tertera pada kartu tanda pengenalnya yang baru saja minat untuk dibacanya, mengangkat gagang telepon tanpa melepaskan pandangan dari Greka.
Percakapan telepon yang berlangsung sekitar sepuluh menit itu kebanyakan hanya ditanggapi si Denson dengan “Ya”, “Tidak”, “Begitukah?” dan “Kalian yakin?”.
Tanggapan yang anehnya memberikan kelegaan pada Greka karena entah bagaimana dia merasa yakin, siapa pun yang menelpon si Denson, sedang memberikan keterangan, penjelasan, dan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mobil dan para korban kecelakaan tadi.
Apakah karena kerutan di dahi Denson? Atau garis muram yang terbentuk dimulutnya? Tidak. Kemungkinan terbesar adalah sorot malu dari mata coklat itu. Sorot yang coba disembunyikannya, tapi tidak bisa sempurna.
Denson menutup telepon bertepatan dengan kembalinya si detektif wanita dengan kartu identitasnya.
Begitu kartu identitasnya diletakkan kembali bersama semua dokumen yang dikeluarkannya tadi, Greka langsung menyambar dan memasukkan kembali ke tasnya.
Peduli amat dengan pandangan si detektif wanita yang terlihat jengkel. Greka kini justru sedang mengharapkan permintaan maaf. Dia jelas-jelas merasa di atas angin.
Si Danson sedang menggosok kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Sebuah pernyataan jelas bahwa dia sedang senewen karena membuang waktu untuk hal yang salah.
“Baiklah, karena kami sudah memiliki identitasmu, kalian saat ini boleh pergi. Bila nantinya ada perkembangan yang melibatkan kalian, kalian akan kami panggil kembali”
Ruangan itu seketika riuh. Protes rekan wanitanya bercampur seruan senang Tuan Yelsnav, Comat dan Sarah membuat detektif itu kelabakan memilih untuk melayani pertanyaan rekan-rekan kerjanya lebih dulu atau menanggapi pernyataan senang para saksi yang diinterogasinya tadi.
Greka memonyongkan bibirnya. Dia masih merasa perlu meluruskan situasi. Gelagat Danson yang menggampangkan perlakuan semena-menanya pada mereka, tidak dapat ditolerirnya.
“Bagus. Jadi, bagaimana jika kau minta maaf pada kami secepatnya agar kami dapat segera pergi dari sini”
Suara Greka berhasil menembus keributan, dan memancing kebingungan serta rasa cemas dari pihak-pihak lain.
Tuan Yelsnav dan Sarah memberi tatapan resah, sedangkan para pihak berwajib di hadapannya sebagian besar terlihat terganggu.
“Minta maaf? Entah, kau kurang waras atau kau sungguh tidak tahu sopan santun, tapi……”
“Tapi” Greka menantang tatapan detektif wanita dengan lebih berani “tapi kalian memang harus melakukannya. Kalau kau tidak percaya, silahkan tanyakan pada rekanmu yang menerima telepon ini. Aku yakin dia tahu jelas mengapa aku sampai memaksa minta maaf dari kalian”
Denson melotot, Greka tersenyum manis, Tuan Yelsnav mengerang kecil di kursinya.
Suasana kaku mengikuti pernyataan Greka. Kini sebagian besar di ruangan itu menatap Denson dengan minat.
“Memangnya telepon tadi dari siapa?” Detektif berkulit gelap yang kini sudah duduk dengan benar di salah satu kursi, menatap rekannya.
Namun setelah jeda beberapa detik, bukan jawaban dari pertanyaan itu yang mereka terima.
Denson berdiri, menggulung lengan kemeja birunya hingga ke siku dan berkacak pinggang sambil tetap melotot ke Greka.
“Jangan katakan kau juga seorang indigo”
“Tidak. Tentu saja tidak”
“Lalu kau hanya main tebak-tebakan?”
“Kebetulan aku cukup ahli memainkannya” Greka menjawab manis mengabaikan tangan Tuan Yelsnav yang menarik jaketnya dengan gusar.
Denson tampak memikirkan sesuatu, dan Greka suka melihat raut wajahnya yang kusut.
Saatnya pembalasan.
“Berdasarkan penyelidikan awal, kecelakaan itu disebabkan oleh pecah ban saat kendaraan sedang melaju dengan cepat. Kamera di mobil merekam saat-saat itu terjadi dan kondisi ban membuktikan hal yang sama. Namun seperti kataku tadi, kami harus melakukan penyelidikan menyeluruh untuk bisa menarik kesimpulan paling tepat. Itu butuh waktu” ujarnya dengan ekspresi keras.
Greka melengos. Detektif dihadapannya ini terlalu keras kepala dan sombong.
Sebuah hentakan cukup keras dari Tuan Yelsnav di lengan jaketnya lagi membuatnya sadar. Mereka harus mengurus sesuatu yang lebih penting daripada sekedar berdebat soal kata maaf yang jelas-jelas sulit mereka menangkan.
“Baiklah. Kurasa percuma membuang-buang tenaga mendesak hal yang tidak akan terjadi. Lebih baik kami pergi saja” katanya malas.
Dia menunjukkan dengan jelas mimik kekesalannya saat memberi kode ke Comat, Tuan Yelsnav dan Sarah untuk berdiri dan meninggalkan kantor itu.
Mereka tidak perlu berbasa-basi untuk pamit. Semakin cepat mereka keluar dari tempat ini, maka semakin cepat dia mengurai amarahnya, dan kembali berkonsentrasi pada masalah sebenarnya. Masalah yang jauh lebih besar dan lebih penting.
Greka sedang melangkah ke pintu keluar beriringan dengan Sarah, sambil memperbaiki posisi tali tas di pundaknya ketika menyadari Comat masih duduk ditempatnya semula.
Tuan Yelsnav yang selangkah di depan mereka memberikan kode agar Greka segera menarik Comat.
Greka mendesah, menyumpah pelan sebelum membuat tiga langkah lebar-lebar ke belakang Comat dan mencolek bahunya.
“Comat, ayo…….. Percuma mengharapkan mereka mengakui kesalahan. Buang-buang waktu saja”
Comat menatapnya dengan tenang tanpa merubah posisi.
“Tapi aku harus mengatakan sesuatu dulu ke mereka”
“Apa? Kau mau mengatakan apa?”
“Pesan dari Kevza Dier” Comat lalu mengangguk kecil ke semua polisi dan detektif “Dia minta Jean Wuzqy mengembalikan kemeja dan dua buku yang dipinjamnya, Rocky dan Revza harap mengembalikan dua ratus dolar dan tiga ratus dua puluh tiga dolar yang mereka pinjam ke istrinya segera, dan Prirta diharapkan secepat mungkin mengembalikan sepeda hybrid anaknya setelah mengganti bannya yang dirusak pada Jumat kemarin. Sedangkan untuk Denson, Orwan, dan Levy, kalian bertiga, karena tim Los Angeles Lakers telah menang dua hari lalu, kalian masing-masing diharapkan membayar taruhan sebesar seribu dolar per orang ke istrinya juga. Dia minta kalian segera melakukannya begitu menerima gaji besok. Tidak boleh menunda”
Greka mengernyit bingung.
“Dan siapa itu Kevza Dier?”
“Rekan kerja mereka yang meninggal empat hari lalu karena serangan jantung di kantor ini”