
Travza baru saja mengambil dua buku tentang Amun dan satu buku tentang Zeus dari lantai dua perpustakaan keluarga, ketika melihat Roman, keponakan termudanya dan satu sosok selebritas memasuki mobil mercedes benz s-class milik keluarganya sambil tertawa lebar satu sama lain, dari salah satu jendela berterali.
Tanpa perlu menebak terlalu jauh, dia tahu isi sosok itu adalah Comat. Malaikat maut penanggung jawab pena nomor sembilan puluh sembilan dan partner kerja keponakannya, Greka.
Travza tahu kemana tujuan mereka. Tidak tepatnya, tapi pasti salah satu dari tiga kafe milik Roman. Kafe-kafe yang didirikan dari usia keponakannya itu masih belum genap tujuh belas tahun.
Roman mendirikan kafe pertama saat berusia lima belas tahun lebih beberapa minggu dengan bantuan modal ibunya, Terhin. Sebuah kafe di dekat taman kota yang berukuran sangat kecil. Saking kecilnya, hanya ada satu meja untuk tiga pelanggan dapat duduk dan menikmati minum maupun makan di tempat.
Tapi enam bulan kemudian Roman telah berhasil mengembalikan modal pinjamannya pada ibu dan membuka satu kafe lagi. Dia berhasil mendapatkan satu tempat dekat universitas ternama di negara ini. Sebelas bulan lebih beberapa hari kemudian, keponakannya itu membuka lagi satu kafe dekat balai kota. Sekarang semua kafe itu terkenal. Untuk penduduk kota ini maupun turis.
Semua karena Comat.
Travza tersenyum simpul sambil turun perlahan menuju lantai dasar perpustakaan. Dia harus bergerak perlahan dan berhati-hati. Di usia kepala tujuh, badannya terasa seperti sudah aus dan berkarat.
Ibunya yang meninggal diusia sembilan puluh tiga tahun bahkan terlihat jauh lebih sehat di hari-hari terakhir hidupnya daripada dirinya saat ini. Keluhan pandangan yang buram atau nyeri sendi di saat-saat suhu sangat dingin sangat jarang terdengar dari wanita setinggi seratus lima puluh senti itu. Berbeda dengannya.
Travza berhasil mencapai lantai dasar perpustakaan dan melanjutkan perjalanan ke salah satu meja panjang di sana. Langkahnya lebih ringan dan cepat dari saat menuruni tangga.
Menjauhkan cangkir dan teko teh yang sudah dingin dari tadi, dia berhasil menyediakan ruang yang cukup untuk tiga buku tebal yang diambilnya.
Dia otomatis menekan tombol untuk mengaktifkan kembali layar laptopnya, tapi akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Travza hanya duduk bersandar dan memandangi plafon berwarna russet dengan berminat.
Comat. Sosok yang menjadi pusat kehidupan keluarga ini selama lebih dari dua puluh tiga tahun sangat menarik dan bersahabat. Dia masih mengingat Vilzay, sosok malaikat maut lain yang juga sempat menjadi pusat kehidupan keluarga ini. Sebelum Comat.
Sosok itu begitu kaku dan sedikit menakutkan. Vilzay menjadi perwujudan nyata dari kata malaikat maut itu sendiri.
Selama mengenalnya, Travza tidak pernah melihat sosok itu tertawa terbahak-bahak. Senyum kecil beberapa kali tertangkap dalam berbagai perwujudannya, tapi itu sangat jarang terjadi.
Entah mengapa, Travza merasa Vilzay memiliki ingatan kelam akan sesuatu. Kakeknya tidak menceritakan apapun, begitu pula dengan ibunya. Vilzay selalu menjadi sosok yang penuh misteri untuk Travza, Marvin dan Dersha.
Sejak kecil mereka bertiga telah diperkenalkan dengan berbagai hal yang ada hubungannya dengan pena maut khususnya untuk pena maut nomor sembilan puluh sembilan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pewarisnya. Tentu saja, yang akan mewarisi hanya satu orang. Namun, masa depan pewaris selalu tidak dapat ditetapkan hanya pada satu individu saja.
Selama masih menjabat titel sebagai calon pewaris, segala sesuatu dapat terjadi. Seperti pada Marvin. Adik laki-laki yang dicintai sekaligus dibencinya. Adik laki-laki yang tidak pernah melewati usia setengah abad.
Travza dan Marvin adalah dua saudara yang dapat berkawan hingga menjadi musuh dalam beberapa menit. Mereka tanpa sadar telah membentuk tim yang unik. Semua orang tahu itu.
Marvin ayah Greka adalah pria dengan kesederhanaan yang keterlaluan. Dia memiliki prinsip hidup bebas. Dia berkelana ke pelosok-pelosok tidak jelas seperti yang dilakukan ayah mereka. Mencari situs-situs legenda, mitos dan tempat-tempat yang telah hilang berabad-abad lamanya. Salah satu penemuan terbesar yang melibatkannya adalah Urkesh Purba. Salah satu hal yang membuatnya kembali iri pada Marvin.
Marvin selalu lebih berani, lebih bebas, lebih laki-laki dari dirinya. Adiknya itu berani melangkah keluar dari kenyamanan hunian mereka sejak berumur sembilan belas tahun. Marvin selalu tidak menolak setiap ajakan berkelana dengan ayahnya, atau dengan beberapa tim peneliti arkeologi asing. Dia bahkan akan mengajukan diri jika tidak mendapat tawaran. Berbeda dengannya yang hanya mengikuti tawaran dari ayahnya, semata-mata agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh waktu berkualitas antar ayah dan anak.
Satu-satunya sosok yang mampu mengurangi keinginan Marvin berkelana adalah Rhina. Wanita muda yang ditemuinya di salah satu acara yang diadakan museum kota. Seorang pegawai magang di museum kota.
Travza mengetuk buku perihal Zeus dengan telunjuknya. Dia baru menyadari warna sampul buku itu sama dengan plafon perpustakaan.
Kini, di sisa usianya dia mencoba memenuhi hasrat berkelana dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Bagaimanapun, itu juga akan membantunya dalam menyelesaikan novel ke delapan puluhnya.
Novel yang tentu saja tidak mungkin selaku novel kelima dan kesepuluhnya. Novel yang bahkan belum tentu terjual lebih dari seratus ribu eksemplar.
Travza berpikir akan sangat baik jika dia memanfaatkan Comat juga seperti yang dilakukan Roman dalam mempromosikan kafe-kafenya.
Roman dijuluki pemilik kafe yang memiliki kursi Leonardo DiCaprio, sofa Obi Mikel dan meja Justin Trudeau di salah satu kafenya.
Di kafe-kafe lain, satu kursi bahkan memiliki julukan lebih dari lima nama tokoh penting dan satu meja pojok memiliki selusin kisah tentang para selebritas yang menghabiskan waktu di sana. Tentu saja bukan sosok-sosok asli mereka yang bertandang, tapi bagi masyarakat biasa, mereka mempercayai apa yang mereka lihat. Tidak peduli itu tidak akan dapat ditangkap kamera manapun.
Cerita tentang adanya teknologi khusus di kafe Roman yang mencegah selebritis mana pun tertangkap kamera menyebar luas selayaknya kehadiran selebritis-selebritis itu sendiri.
Sesuatu yang membuat Travza berpikir kembali tantang ide memanfaatkan Comat untuk peluncuran novelnya. Itu tidak akan berhasil. Terlalu beresiko. Dia akan mencelakakan banyak pihak, dan akhirnya harus membuat – memberikan banyak alasan.
Dulu, dia pernah terbelenggu dalam dusta. Sesuatu yang telah mengajarkannya bahwa memberi alasan dusta akan menyebabkan harus menyediakan alasan dusta lainnya. Sebuah rantai maut yang hanya akan terputus bila kebenaran sudah terungkap atau kejujuran tidak diperlukan lagi.
“Ayah, menurutmu berapa harga tempat lilin itu?”
Filip membuka dan menutup pintu perpustakaan terlalu keras menurutnya. Pintu itu telah berusia beberapa kali lipat darinya, seharusnya diperlakukan lebih hati-hati layaknya barang antik yang tersebar di berbagai pojok rumah ini.
“Tempat lilin yang mana? Di rumah ini ada berlusin-lusin tempat lilin”
“Yang di ruang Paragon, yang tingginya segini” Filip meletakkan tangan didadanya, yang langsung membuat Travza merasa sedikit sesak napas.
“Memangnya kenapa dengan tempat lilin itu?”
“Greka ingin menjualnya, atau tepatnya ingin melelangnya. Tadi aku sempat mendengar dia meminta Pawtra untuk berdiskusi dengan Bibi Dersha. Sungguh aneh. Dia tidak pernah terlihat ingin menjual warisan apapun. Apakah keluarga kita sedang kesulitan uang?” Filip duduk di depannya sambil menggeleng cepat “Itu tidak mungkin. Jelas-jelas selalu ada klien tiap bulan. Tadi, Comat bahkan mengeluh tentang terlalu banyak klien yang Greka dan Yelsnav berikan padanya bulan ini. Jadi pasti karena sesuatu”
Travza merengut.
“Kau menguping pembicaraan mereka?”
“Tentu saja tidak. Aku hanya kebetulan berada di kamar tamu jingga. Suara mereka cukup keras, hingga dapat kudengar tanpa aku harus menguping”
“……..dan apa yang kau lakukan di kamar tamu jingga?”
Travza menatap tajam putranya. Rasanya dia dapat menebak, tapi dia tetap ingin mendengar jawaban langsung dari pria muda berambut seperti kopi susu ini.
Anaknya tidak terlalu tampan, tapi ada banyak wanita, gadis-gadis muda yang tertarik padanya, walaupun jelas-jelas disalah satu jari tangan kanannya melingkar cincin kawin.
Tentu saja embel-embel Potra di belakang nama Filip adalah alasan utama untuk semua perhatian yang diterima.
Tidak ada antrian di bank-bank, selalu ada meja kosong di restoran-restoran terbaik yang biasanya membutuhkan reservasi beberapa hari sebelumnya, hingga selalu ada kursi untuk mereka di pesawat maskapai apapun dengan jurusan kemanapun.
Masyarakat umum sebagian besar tidak tahu apa yang keluarga mereka lakukan hingga bisa bertahan terhadap goncangan ekonomi bahkan inflasi paling buruk sekalipun. Berita yang beredar adalah mereka berinvestasi pada sektor-sektor yang tepat dan orang-orang yang tepat.
Tentu saja ada benarnya, walaupun bila dilihat lebih teliti konteksnya akan sangat berbeda. Jadi, sudah sejak lama keluarganya merasa tidak perlu untuk mencoba mengoreksi atau meluruskannya. Bahkan cerita mistis perihal aset-aset mereka yang dikabarkan memiliki perlindungan khusus, dan akan celaka siapapun yang hendak mengusiknya, itupun sama sekali tidak perlu diluruskan.
Selama mereka rajin membayar pajak, memberi sumbangan kepada dinas-dinas resmi maupun yayasan-yayasan sosial dan memodali usaha-usaha kecil (yang jarang benar-benar menguntungkan), tidak ada masalah. Kota ini, orang-orang di sekeliling mereka hingga para pekerja telah menjadi perisai pelindung tak kasat mata untuk hubungan kerjasama keluarga mereka dengan malaikat maut, penanggung jawab pena maut nomor sembilan puluh sembilan.
“Ah, itu…… itu tidak penting, Yah. Yang utama sekarang adalah tempat lilin itu. Apakah harganya bisa seratus ribu dolar?”
“Mau sejuta dolar juga bukan urusan kita. Itu milik Greka. Pergilah. Jaga kelakuanmu. Kau baru dua tahun menikah, tapi sudah berani main api. Ingat, istrimu itu anak dari wakil walikota kota ini. Dilna bisa saja membocorkan berbagai rahasia keluarga kita bila tahu yang kau lakukan”
“Kurasa dia sudah melakukannya. Hanya saja, kemungkinannya tidak ada yang percaya”
Filip berdiri sambil merapikan jasnya. Dia berencana keluar lagi. Travza tahu menantunya tidak akan kembali sampai minggu depan.
“Yah, kurasa ada bagusnya juga kau memilih istri tukang gosip tidak terpercaya sepertinya”
Filip menopangkan kedua tangannya dimeja dengan sedikit keras. Travza bersyukur meja ini tidak antik, dan baru berumur dua belas tahun.
“Ayah, tidakkah kau harus membicarakan ini lagi dengan para pengacara itu. Nenek benar-benar tidak adil pada kita. Dia bahkan tidak mewariskan satu pun sendok makan untuk kau. Ini keterlaluan”
“Dia bijaksana. Kau pikir kenapa dia mewariskan seluruh asetnya pada Greka?”
“Karena ayahnya melakukan hal yang sama, sehingga Kakek Thomas membawa seluruh keluarganya pergi menetap di Inggris hingga akhir hayatnya. Tapi nasibnya jauh lebih baik. Dia menerima warisan satu juta dolar pada masa itu”
Travza mendengus. Anaknya terlalu konsentrasi diuang dan mengabaikan banyak fakta.
“Karena Greka adalah manusia penanggung jawab pena maut. Kau pikir jika nenekmu memberikan beberapa barang aset ke kita, berapa lama kita akan dapat menjaganya, hah? Barang-barang itu akan hilang, beda bila dimiliki Greka”
Itu kenyataannya. Hanya aset-aset kepunyaan Greka yang memiliki perlindungan khusus. Barang-barang anggota keluarga lain harus dijaga oleh pemiliknya masing-masing. Kalau hilang, yah hilang.
Itu juga sebabnya Reetha memiliki kebiasaan menyebalkan memeriksa semua perhiasan, baju, sepatu dan tasnya sebelum dan sesudah tidur. Reetha bahkan memiliki file khusus di laptop dan ponselnya untuk barang-barang itu.
“Kita tidak perlu menjaganya. Kita dapat langsung menjualnya”
Travza mendesah pelan ketika Filip telah keluar perpustakaan. Anak itu sekali lagi menutup pintu dengan terlalu keras.
Urusan aset ini sudah pelik sejak lama. Bahkan jauh lebih lama dari usia meja kayu panjang dihadapannya.
Tepatnya ketika Filip berusia tiga tahun. Saat Reetha sedang mengandung Georgia.
Tempat lilin di ruang Paragon itu juga terlibat. Sungguh aneh bagaimana ketika kau sedang memikirkan sesuatu tentang masa lalu, dan sesuatu itu langsung muncul lagi, mengusik ketenangan di saat ini.
Travza masih ingat jelas pagi itu. Dia baru saja selesai sarapan ketika mendengar teriakan Reetha dan seruan Rhina dari ruang santai Amaranthus di lantai dua. Ruang santai yang memisahkan kamar Marvin dan kamar ibunya.
Dengan gugup dia menaiki tangga, untuk menemukan kedua wanita itu sedang tarik menarik sebuah tempat lilin setinggi lebih dari satu meter.
Reetha berteriak dan Rhina mendesis, sementara Travza dan dua pelayan lain hanya dapat terpana.
Ini memalukan.
Travza menyuruh kedua pelayan pergi, dan mengatakan dia sendiri yang akan menyelesaikan ini.
Para pelayan terlihat ragu, namun tidak membantah. Mereka meninggalkannya dengan dua wanita yang masih tidak mau saling mengalah satu sama lain.
Travza tahu tidak ada gunanya, bertanya atau mengucapkan apapun saat istrinya berteriak dengan nyaring seperti kerasukan. Tidak ada satu pun dari mereka akan mendengarnya. Saat ini yang penting adalah memisahkan kedua wanita itu dulu. Bertanya dan mendapatkan penjelasan bisa menyusul.
Mengingat Reetha sedang hamil tiga bulan dan jelas-jelas Rhina tidak mengetahuinya, karena mereka - Travza dan Reetha, memang baru mengetahui kehamilan itu malam sebelumnya, saat ke dokter dan belum memberitahukan siapa pun, Travza memutuskan dia harus berada di pihak istrinya.
Posisi Reetha berbahaya. Dia bisa jatuh.
Itulah yang terlintas terakhir dipikirannya sebelum mendorong Rhina dengan keras.
Dia sengaja menghentak keras tangan Reetha agar terlepas dari tempat lilin itu dan mendorong logam tumpah itu ke Rhina sambil menahan tubuh istrinya.
Beberapa detik suasana menjadi sangat tenang. Suara nafas yang tersengal mulai terkendali.
Travza membimbing istrinya duduk di salah satu sofa dan memeriksa sekilas untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Sambil mendesah lega, dia berbalik ke Rhina. Wanita yang didorongnya itu terbaring di antara sofa tinggi dan meja kopi yang sudah terguling. Tempat lilin itu tersampir di salah satu lengan sofa.
Travza baru maju selangkah ketika melihatnya.
Bagian bawah gaun iparnya yang berwarna putih gading telah berubah warna. Ada warna lain yang seharusnya tidak disitu.
Ada cairan lain yang seharusnya tidak mengalir mendekati ujung sandalnya.
Jeritan tertahan Reetha, menghentakkan kesadaran Travza. Dia tanpa sadar berlutut meremas kain celananya.
Sinar matahari yang tiba-tiba terhalang, tapi tidak ada bayangan yang mengikuti menyadarkan Travza akan kehadiran sosok lain di ruangan itu.
Vilzay memandangnya dengan muram, dan Travza tahu dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi.
“Seharusnya tempat lilin itu memang sudah dijual sejak dulu” gumam Travza dengan kesal.