#99

#99
Bab XXXI



“Angkat tangan, jangan bergerak”


Greka, Tuan Yelsnav dan Sarah berbalik bingung.


Awalnya mereka semua mengira salah dengar, tapi melihat pemandangan di hadapan mereka, mereka bertiga segera tahu ada sesuatu yang salah sedang terjadi.


“Angkat tangan” seru salah satu polisi itu lagi dengan lebih lantang.


Greka, Tuan Yelsnav dan Sarah saling melempar tatapan bingung sebelum perlahan melakukan apa yang diperintahkan kedua polisi di hadapan mereka.


Mereka memilih untuk tunduk dan patuh dulu sementara menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Lagipula dengan adanya dua pistol yang teracung ke mereka, pilihan apa lagi yang mereka punyai selain patuh.


“Ada apa ini?” teriak Sarah kesal. Dia hanya mengangkat tangan setinggi telinganya, berbeda dengan Greka dan Tuan Yelsnav yang tangannya sudah terangkat hingga sedikit di atas kepala.


“Diam. Sekarang menjauh dari mobil kalian. Pelan-pelan. Ke sana”


Polisi yang berambut hitam dan berwajah oriental menunjuk satu titik kosong di parkiran.


Greka, dan Sarah berjalan mundur ke tempat yang diperintah, sedangkan Tuan Yelsnav berjalan miring setelah melangkahi sebuah tas kanvas cukup besar.


Satu polisi lainnya, berkulit hitam dan berbadan gempal, berjalan perlahan - sambil tetap mengacungkan pistol, mendekati bagasi mobil mereka.


Greka melihat sudah ada sekelompok orang di belakang polisi-polisi tadi. Jumlah mereka cukup banyak dan tampak sangat tertarik dengan apa yang sedang terjadi.


Tempat ini terlalu ramai. Seharusnya aku tahu, tempat ramai memang tidak pernah cocok untukku.


Greka melirik gelisah ke mobilnya, dan rasanya dia sudah dapat menebak sedikit apa yang sedang terjadi.


“Apakah kau yakin, Tom? Mereka mengurung orang dibagasi mobil mereka ini?”


Seorang pria tua, dengan postur ringkih dan rambut serta janggut yang tidak rapi, maju beberapa langkah keluar dari kelompok penonton yang sudah bertambah lagi jumlahnya.


Pria dengan kulit terbakar itu mengangguk cepat.


“Ya, tadi aku melihat mereka memaksa seorang pemuda masuk ke situ. Aku bahkan sempat mendengar teriakan pemuda itu. Entah apa yang telah mereka lakukan padanya"


Dengungan ribut langsung terdengar begitu pria itu selesai bicara.


Pertanyaan dan pernyataan apakah mereka penculik, pembunuh, hingga kriminal yang terlibat dengan perdagangan manusia dan organ-organnya berhasil menembus jarak dan terdengar di telinga Greka.


Tuan Yelsnav melempar pandangan menenangkan padanya. Tampaknya pria tua itu sedang menaruh harapan yang cukup besar pada Comat, yang nantinya akan ditemukan polisi-polisi itu.


Greka mengangguk kecil. Bagaimanapun penyelesaian masalah kali ini memang terletak pada Comat. Tepatnya, terletak pada pernyataan malaikat maut itu nanti pada kedua polisi gugup dihadapan mereka.


Masalahnya mata mereka bertiga sama-sama, walau dengan intensitas yang berbeda, saling memancarkan sorot keraguan. Mereka masing-masing masih bertanya-tanya apakah Comat dapat memberikan pernyataan yang meyakinkan atau tidak.


Membayangkan akan memasuki kantor polisi lagi, diinterogasi lagi dan harus membela diri lagi, sudah membuat Greka lelah.


Dalam dua puluh empat jam, dua kali berurusan dengan pihak berwajib tampaknya sudah menjadi petunjuk jelas bagi Greka untuk mencari tempat cuci mobil sesegera mungkin bila urusan salah paham ini selesai.


Polisi gempal itu sedang mencoba membuka penutup bagasi dengan satu tangan, dan akhirnya menyadari satu tangannya tidak cukup mampu bekerja dengan baik.


Setelah menyarungkan pistolnya, dengan semangat dia mengangkat penutup bagasi. Namun sedetik setelah melongok, polisi itu mundur terburu-buru dan tersandung salah satu ransel mereka hingga terjungkang.


Sebuah protes teredam, terdengar cukup jelas ketika pegangannya pada penutup bagasi terlepas dan benda itu jatuh kembali.


Suara Pria. Suara manusia. Bukan suara ****.


Greka mendesah lega. Mereka berhasil mencegah satu bencana, yang artinya sebentar lagi mereka akan terbebas dari tuduhan-tuduhan palsu tak berdasar ini.


Bagaimanapun penjelasan Comat dalam sosok manusia akan jauh lebih diterima kedua polisi ini, dibandingkan bila dia memberikan penjelasan dalam sosok sebagai seekor ****.


“Bahasa ngik-ngik **** dipastikan saat ini belum masuk kurikulum sekolah kepolisian manapun di dunia” Greka membatin sedikit geli.


Dengan cepat dia menghapus senyumnya ketika melihat penutup bagasi terbuka dari dalam bagasi. Sebuah tangan berwarna gelap mendorong penutup bagasi itu hingga terbuka lebar.


Suara bisikan penasaran bergema dari kelompok penonton, bersamaan dengan berdirinya kembali si polisi gempal.


Greka juga sedikit penasaran, tapi dalam hal berbeda.


Dia benar-benar ingin tahu apa reaksi orang-orang itu setelah melihat sosok yang dipakai Comat nanti.


Dia harap mereka cukup terkejut hingga lupa untuk mengambil foto apapun, sehingga Comat berkesempatan mengambil jarak dan mendapat posisi tepat untuk terlindung dari lensa manapun.


Greka membuat penilaian cepat dari tangan yang terlihat menggapai-gapai pinggiran bagasi mobil untuk mencari pegangan agar dapat berdiri, maka dugaan terbaiknya, Comat saat ini mengambil sosok selebrita berkulit hitam.


*Ice Cube, atau Will Smith, atau Martin Lawrence, atau Lenny Kravitz, atau Michael Jordan, atau……


Barack Obama…..


BARACK OBAMA*???


Greka mengerjap tiga kali dengan cepat.


“Tentu saja” Greka membatin frustasi “Comat dan kejeniusannya dalam memperburuk situasi memang selalu dapat diandalkan”


Greka dapat mendengar napas Sarah yang tercekat dan erangan gusar Tuan Yelsnav dengan jelas ketika Comat sudah berdiri tegak di atas bagasi mobil dan menghadap ke kelompok penonton dengan linglung.


“Kalian menculik presiden? Luar biasa” seru salah satu penonton dengan nada takjub yang tidak ditutupi.