Your Name

Your Name
Kabur.



"Kenapa kamu membiarkan Kent pergi?" tanay kakek Vinsca.


"Menahannya juga bakalan percuma."


Vinsca beranjak meninggalkan ayah, ibu dan kakeknya menuju kamar tidur di lantai atas. Ayah dan ibunya merasa dipermainkan oleh Kent dan ayahnya. Jauh-jauh ia terbarng dari Eropa ke negaranya hanya karena pertunangan bodoh ini. Hal yang merugikan mereka berdua.


"Saya minta maaf mewakili Kent. Saya akan memberinya pelajaran dan membuatnya mau menikahi cucu anda," ujar ayah Kent. Jika anaknya bernama Kent, dia bernama Kevin, Kevin Gwart.


"Batalkan saja rencana itu. Justru itu lebih baik," ucap ayah Vinsca.


"Tidak bisa," sahut Vinsca yang baru menaiki setengah tangga. "Vinsca tetap ingin Kent. Jadi Pak Kevin tolong beri Kent pelajaran dan ajari dia bagaimana berbicara di hadapan saya," lanjut Vinsca. Tidak berlangsung lama, ia kembali melanjutkan langkahnya.


Vinsca menghembuskan nafasnya setelah mengunci pintu kamar. Pikirannya langsung teringat saat SMA dengan Kent. Ada alasan kenapa Vinsca menolak Kent dulu. Alasan karena ia takut jatuh cinta meskipun kenyataannya sudah menaruh hati kepada Kent dulu. Dikarenakan pengawasan orang tuanya yang ketat, ia jadi tidak bebas untuk bergaul. Apapun yang dilakukan Vinsca saat masih sekolah, ayah dan ibunya akan tahu dengan siapa ia bergaul.


Hal yang tidak dibolehkan ayah ibunya adalah pacaran. Itu bisa membuat nilai Vinsca turun dan menghambat keinginan orang tuanya.


Kent membuat kesan yang tidak bisa dilupakan Vinsca waktu SMA. Sebenarnya ia tidak risih ketika Kent terus menghampirinya dan mengajak Vinsca berteman. Justru ia sangat antusias dan senang. Hanya saja Vinsca menyembunyikan perasaan itu. Sampai akhirnya Kent sudah lelah dan sakit hati dengan perkataan Vinsca, ia berhenti menganggunya tepat setelah acara kelulusan SMA. Mereka pun berpisah sampai akhirnya, sekarang Vinsca menemui Kent di tanah kelahirannya.


Deringan HP Vinsca terdengar nyaring. Telpon dari anak buahnya.


^^^"Lokasi pacar Pak Kent sudah ditemukan, Nona. Apartemen ini dekat dengan kantor TL Income milik Pak Direktur Great."^^^


"Kerja bagus."


^^^"Ada hal yang mengejutkan, Nona. Baru saja Pak Great masuk ke apartemen itu dengan pakaian santai. Dan dia menuju lantai 6, sama dengan lokasi kamar pacar Pak Kent."^^^


Tentu saja Vinsca terkejut. "Sisanya biar aku urus."


***


"Nanti malam aku akan terbang ke Amerika untuk sementara waktu. Ada hal yang harus aku kerjakan, Sayang."


Lalis terkejut, ternyata penerbangan yang batal dulu karena kejadian malam itu diganti dengan nanti malam. Lalis kira Kent akan tetap stay di tanah kelahirannya.


"Mendadak?" tanya Lalis.


"Ya. Jika mengulur lagi akan repot. Aku harus menghilang sejenak dari hadapan ayah, sementara waktu aku akan memantau perusahaan dari sana. Dan aku juga ditawari menjadi dosen ilmu kimia di universitas tempatku kuliah dulu."


Raut wajah Lalis menjadi sedih. Baru ada kabar, kirain hal baik yang akan disampaikan Kent. Ternyata hal ini jauh lebih buruk dari yang ia kira.


"Jangan sedih, hanya sementara waktu, kok. Meskipun lama, aku akan langsung membawamu ke sana. Jadi, tunggu aku ya, Sayang. Maafkan aku karena tidak segera menikahimu. Tapi aku janji, aku akan menikahimu setelah semua kerepotanku selesai."


"Kenapa kau tidak mau berbagi kerepotanmu itu denganku, aku tidak ingin kau repot sendiri," ujar Lalis dengan tulus.


"Karena aku tidak ingin orang yang aku cintai kesusahan. Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun, jadi tolong jangan bosan untuk menungguku."


Lalis memeluk Kent dan perlahan air mata itu jatuh. Pelukannya begitu erat karena tidak ingin ditinggal kekasihnya itu.


"Aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan menunggumu," ucapnya.


"Tolong jangan menangis. Jangan membuatku khawatir, Sayang."


"Kabari aku setiap hari. Jangan lupa makan dengan teratur. Kau harus ingat bahwa aku akan selalu memikirkanmu," ujar Lalis.


Kent melepas pelukannya perlahan, ia tersenyum sambil mengusap air mata Lalis, lalu ... ah adegan yang dinanti-nanti. Mereka berciuman.


Tidak sampai disitu, loh. Mereka berpindah tempat ke tempat tidur lalu menyatukan rasa sayang dan cinta mereka dalam setiap sentuhan tubuh mereka.


Singkat cerita. Semuanya sudah dipersiapkan. Asisten Kent sudah menunggu lama di luar, persiapan Kent juga sudah sempurna. Kent yang sejak tadi berdiri di depan cermin, dihampiri Lalis. Satu kecupan di pipi Kent dari Lalis, lalu memakikan topi hitam di kepala Kent.


Hoodie abu-abu, celana robek-robek blue light serta topi dan masker hitam ini tidak mencerminkan sosok seorang direktur. Kent lebih mirip ke anak muda di masa pubernya.


"Taksi sudah menunggu di bawah dan kau masih lama, hmm?" ujar Lalis.


"Kau sangat manis ketika tersenyum. Rasanya aku tidak ingin melepaskanmu," ujar Kent sambil memeluk Lalis dengan erat. "Maaf karena tidak mengizinkanmu untuk mengantarmu, jangan overthinking, ya," lanjut kent.


"Tidak akan. Kau kan sudah berjanji."


"Maaf karena aku merenggut hal yang seharusnya kita lakukan sesudah sah menjadi suami istri,"


Lalis memukul punggung Kent hingga meringis kaget. "Aish- jangan membahas itu," ujar Lalis.


Kent tertawa iseng. "Ah, ya, ya. Kau malu, ya?"


"Bagaimanapun, itu pertama kalinya untukku," jawab Lalis.


"Aku juga pertama kali, kok."


"Aish. Sudah, sudah, nanti kamu terlambat naik pesawat, mengingat ini sudah malam juga," ujar Lalis sambil melepaskan pelukannya. "Ayolah, jangan sampai kamu menyesal karena terlambat," lanjutnya sambil mendorong pelan Kent seolah sedang mengusirnya.


"Iya, iya. Kamu jaga diri, ya. Aku akan terus mengabarimu setiap hari."


Sampai akhirnya Kent benar-benar tidak terlihat dari hadapan Kent. Awal-awal mungkin akan berat bagi Lalis. Dia berdoa untuk diri sendiri agar kuat menahan rindu.


Lalis langsung masuk kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sampai akhirnya tertidur pulas.


Sementara itu, Great sedang gelisah dan sakit hati melihat Lalis bertemu kembali dengan Kent. Pikirannya bertanya-tanya soal perjodohan Vinsca dan Kent, bukankah hari ini?


"Apa Vinsca tidak tahu Kent pergi hari ini?" gumamnya.


Dengan cepat Kent mengambil HP lalu menelpon sepupunya itu. "Mari bicara di luar sebentar,"


Vinsca menyetujui ajakan Great karena hal penting mengenai Kent. Malam-malam begini mereka harus rela keluar demi aoa yang dianggapnya penting.


"Bagaimana pertemuannya tadi?" tanya Great.


"Kenapa kau seingin tahu itu?" Vinsca justru balik nanya.


Great tidak mungkin akan memberitahukan semua kejadiannya. Ia hanya akan memberitahu hal yang penting saja. Great tidak bodoh untuk hal itu. Perbedaan usia mereka terpaut 2 tahun, Vinsca lebih muda dari Great. Meskipun begitu, Vinsca tidak sungkan menyebut nama Great tanpa awalan seperti kak atau om atau apalah itu.


"Kent pergi ke Amerika malam ini," ujar Great yang membuat Vinsca terkejut bukan main.


"Apa?"


Great memejamkan mata sejenak membuang nafas lelahnya. Ia sudah menduganya bahwa pertemuan tadi tidak beres. Ia sudah menduga Vinsca bakal ditolak oleh Kent.


"Bagaimana kau tahu itu?" lanjut Vinsca.


"Itu tidak penting. Aku hanya ingin kau bisa membuatnya tertarik padamu,"


"Kau sedang mengajakku kerja sama?"


Great sudah menduga Vinsca tahu ia menyukai pacar Kent. Itu tidak masalah baginya.


"Apa kau tidak tahu aku?"


"Ya. Kau tidak pernah dan tidak perlu bantuan untuk mencapai apa yang kau inginkan," jawab Vinsca.


"Sudah cukup malam ini. Buat kondisi dan keadaannya berubah, dan ingat Vinsca, jangan mengusik Lalis hanya untuk mendapatkan Kent. Dia tidak bersalah," ucap Great sambil berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Vinsca di cafe depan apartemen tempat ia tinggal.


Vinsca terdiam dengan tatapan kesal dan sedihnya.


Bukannya pulang ke rumah, ia malah ke tempat latihan MMA untuk berlatih. Sebernanya bukan, ia sedang melampiaskan kekesalan dan kesedihannya itu di sini. Sekuat apapun Vinsca memukul, itu tidak akan menyembuhkan kesedihannya kepada Kent.


"Seberapa cintanya pada wanita itu, Kent," batinnya.


Keesokan harinya. Kembali bekerja setelah weekend.


"Kenya terlihat beda kalau memakai kaos ke kantor, tetap terlihat cocok dan cantik," ujar Lalis.


Kenya tertawa kecil, "aku hanya mengubah style-ku sedikit, kok."


"Kak Kenya, kapan-kapan ubah style rambutmu itu, loh. Aku mau lihat rambut Kak Kenya terurai," sahut Selia.


Disela-sela pembicaraan mereka bertiga mengenai style Kenya. Ada yang terus fokus dengan pekerjaannya, siapa lagi kalau bukan Jovi dan Bu Saka. Bu Saka tidak memepermasalahkan mereka yang tidak jarang bercanda ditengah-tengah sedang bekerja dengan syarat pekerjaan selesai dan hasilnya memuaskan.


"Setelah makan siang nanti, Pak Great mengadakan meeting antar ketua tim. Dan katanya ada yang ingin Pak Great bicarakan tentang siapa yang akan menajdi calon asistennya. Karena akhir-akhir ini kerjaannya sangat banyak sehingga ia merekrut beberapa orang untuk mndapatkan bimbingan yang nantinya menjabat sebagai asisten direktur," ujar Bu Saka.


"Tidak sia-sia kita bekerja," sahut Jovi secara singkat dan dengan biasa, masih fokus ke komputernya.


"Dengan kata lain, kita semua telah berkontribusi di perusahaan ini," pungkas Bu Saka.


"Siapa saja yang akan menjadi kandidat calon asisten direkturnya?" tanya Kenya.


"Tidak tahu. Akan dibicarakan nanti ... sudah, sudah. Kembali bekerja," jawab Bu Saka.


Ting. Notif pesan di HP Lalis.


*Makan siang denganku!*


Dari Pak Direktur Great Joul.


Tidak boleh. Lalis tidak boleh terus merespon Great. Lama-lama mereka makin akrab dan Great makin seenaknya. Dulu Lalis enggan menolak ajakan Great hanya karena ia atasannya. Sudah cukup sampai di sini, jangan sampai Lalis melewati batas antara atasan dan bawahan.


*Maaf, Pak. Saya tidak bisa*


*Kenapa?*


Ya, Lalis tidak membalasnya lagi. Ia perlahan menghembuskan nafas dan membuangnya lalu kembali dengan kerjaannya.