Your Name

Your Name
Lalis diteror



"Kakak akan pulang ke tanah air? kapan?"


Pertanyaan itu terlontar dari mulut Lalis. Beberapa menit lalu Lalis ditelpon kakaknya yang tengah berada di Inggris. Ia seorang penerjemah bahasa dari artis papan atas tanah air. Kakak Lalis akan pulang karena kontraknya sudah habis.


Kebetulan Lalis sudah mau pulang, ia bahkan saat ini sedang berjalan untuk pulang ke apartemennya.


^^^"Minggu depan. Kakak berencana untuk mengajak ibu dan adik tinggal di ibukota. Kakak akan beli rumah di sana dan kita bisa tinggal bareng."^^^


"Ibu tidak akan mau tinggal di sini, aku sudah mengajaknya lebih dahulu sebelum kakak," jawab Lalis.


^^^"Kakak akan coba membujuknya."^^^


Sampai akhirnya ia tiba di kamarnya. Ia terkejut melihat kamarnya hingga menjatuhkan HPnya. Padahal ia sedang telponan dengan kakaknya.


Kamar yang bersih dan rapi kenapa harus seberantakan ini. Bercak cat hitam lekat serta baunya yang menyengat ini membuat Lalis tidak nyaman.


Lalis langsung merasa takut, siapa yang berhasil membobol password kamarnya? Dan kenapa harus membuka privasi orang lain untuk membuat onar. Ini mengingatkan kejadian 17 tahun lalu di saat umurnya masih 7 tahun.


Hal yang tidak pernah Lalis duga, yang hanya ia ketahui adalah keluarganya sangat rukun dan tentram. Ekonominya mencukupi, kebahagiannya tidak pernha terusik. Sampai tiba hari dimana ia harus menjadi kacau melihat penjahat memukuli ayahnya setelah pulang sekolah dasar. Di usianya yang masih kecil, ia harus melihat kekerasan secara sadar. Dan itu ayahnya sendiri.


Di ambang pintu ia tertegun dan mulai menangis melihat sang ayah yang sudah tergeletak berlumur darah di tubuhnya. Baru saja akan berlari menghampiri ayahnya, ibunya datang dan memangku Lalis lalu pergi sekencang-kencangnya menghindari penjahat yang dimaksud Lalis itu.


Lalis keluar kamar dengan nafas yang berhembus-hembus. Ia menyandar di depan pintu dengan rasa takutnya.


Tunggu! HP Lalis tertinggal di dalam dan ia tidak menyadarinya. Telpon kakaknya juga belum dimatikan.


"Siapa ini?" gumamnya sambil memegang dadanya.


"Ada orang jahat yang masuk ke kamarku," gumamnya lagi.


Lalis beranjak dari sana, yang harus dia lakukan adalah lapor pada eptugas keamanan apartemen. Kejadian seperti ini harus langsung direspon oleh petugas keamanan.


"Lalis," teriak Great saat melihat Lalis berjalan terburu-buru.


Lalis tidak sadar bahwa Great memanggilnya. Ia terus berjalan.


Great mengejar Lalis hingga dihadapannya.


"Kau menangis?" tanya Great.


Lalis tidak merespon, ia melewati Great.


"Lalis tunggu!" Great berhasil meraih tangan Lalis sampai badannya berbalik ke arahnya.


"Sudah malam, mau kemana?" tanya Great.


"Saya harus menemui petugas keamanan apartemen ini," jawab Lalis.


"Memangnya ada apa?"


"Mereka tidak bertugas dengan benar. Jika begini saya sangat takut, saya takut penjahat itu datang ketika saya lengah," jawab Lalis yang membuat Great berpikir.


Great menyadari bahwa Lalis sedang panik. Apa mungkin Lalis mengalami panick attack? Dari cara Lalis berbicara dan bersikap juga tidak membuat Great merasakan hal biasanya.


"Diam, jangan panik. Coba cerita apa yang terjadi?" Great menenangkan Lalis.


"Tidak bisa. Saya sangat takut. Bagaimana jika-"


"Sudah, tenang." Great memegang erat pundak Lalis. "Lihat aku!"


Lalis menatap Great sesuai perintahnya. Air mata Lalis terus mengalir dan jantungnya berdetak kencang karena rasa takutnya.


"Selama ada aku, kau akan aman. Kau harus ingat itu ... jika ada penjahat, aku yang akan menghajarnya agar tidak bisa menyentuhmu."


Lalis terdiam. Air matanya mulai berhenti mengalir.


"Aku akan temani kamu ke petugas keamanan, tapi kamu harus tenang dulu," lanjut Great.


Great mengambil alih. Baru pulang kerja belum masuk kamar. Ia memerintah petugas keamanan apartemen ini untuk benar-benar menjalankan tugasnya.


Hingga akhirnya Lalis harus mengungsi kamar Great untuk sementara waktu karena kamarnya harus dibersihkan dulu.


Great membuka jasnya lalu ke dapur membawa air minum untuk Lalis yang tengah terduduk di sofa.


"Minum dulu biar kamu lega," ucap Great sambil mendaratkan bokongnya di sofa samping Lalis.


Lalis meminumnya sedikit lalu menghembuskan nafasnya untuk tetap tenang. Syukurlah jika Lalis mulai bisa mengontrol kepanikannya.


"Petugas keamanan sudah memeriksa cctv. Hasil rekamannya tidak ada seorang pun yang mencurigakan masuk ke kamarmu."


"Bagaimana bisa?" tanya Lalis.


"Kemungkinan lewat udara?"


Lalis terdiam. Ia sangat penasaran dengan pelakunya meskipun merasa takut.


Hp Great berdering. Ia menatap Lalis, "Aku keluar angkat telpon dulu," ujar Great. Siapa yang menelpon sehingga Great harus menghindari Lalis untuk berbicara.


"Kau menelpon diwaktu yang salah," ucap Great.


^^^"A-aku. Ini loh-"^^^


"Jangan bertele-tele ini sudah malam dan aku harus tidur."


^^^"Sejak kapan kau peduli tentang tidur?"^^^


"****. Sudah kubilang jangan melakukan apa-apa terhadap Lalis," bentak Great.


^^^"Aku hanya kesal. Lagian aku hanya membuat kamarnya berantakan,"^^^


"Kau bukan hanya membuat kamar itu berantakan, tapi kau sudah mengguncang trauma dia."


^^^"Aissh, ****. Apa dia baik-baik saja sekarang?"^^^


Great menutup telponnya karena ia rasa sudah tidak penting. Ia mengumpat kesal kepada Vinsca. Ia mengetikkan pesan singkat untuk Vinsca.


*Jangan macam-macam dengan Lalis lagi*


Semarah-marahnya Great, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Vinsca keluarganya. Great masuk lagi ke dalam menemui Lalis.


"Istirahatlah. Jika masih syok, besok jangan masuk kerja dulu," ucap Great.


"Kenapa saya harus tidak masuk?" tanya Lalis seolah mengotot.


Great terhenti, membalikkan badannya ke arah Lalis.


"Kau kesal?" tanya balik Great karena melihat raut wajahnya Lalis.


Lalis mengubah raut wajahnya. Ia tidak berani jika Great sudah mengubah mimik wajahnya.


"Tidak. Saya bisa masuk kok, lagian kejadian ini tidak membuat mental saya down."


Great langsung masuk ke kamar mandi mengabaikan Lalis.


30 menit sudah berlangsung, Great keluar dari kamar mandi tanpa mengenakkan pakaian, hanya handuk menutupi bawahnya saja. Ia mendapati Lalis yang sudah tertidur di sofa.


Great menghampiri Lalis lalu menggendongnya untuk dipindahkan ke ranjang. Ia menyelimutinya dengan perlahan.


"Kau masih merasa canggung denganku, Lalis," gumamnya.


Keesokan harinya Lalis terbangun. Ia sedikit terkejut karena tubuhnya berada di ranjang, padahal ia semalam tiduran di sofa. Tapi ia malah mendapati Great yang masih tidur di sofa.


"Tidak mungkin kalau aku ngigau, kan?" gumamnya.


Singkat cerita.


"Lalis," panggil Bu Saka ditengah ia fokus bekerja.


"Bisa bicara dulu sebentar."


Lalis kebingungan. "Maaf?"


Jovi menyahut, "ada rumor tentangmu, Lalis. Karyawan kantor pagi ini terus membicarakanmu."


Kaget dong Lalis. Lalis bertanya-tanya, ia curiga bahwa rekan kerjanya mengetahui sesuatu yang tidak Lalis ketahui.


"Mengenai apa?" tanya Lalis.


"Ada saksi mata yang melihatmu satu apartemen dengan Pak Great. Mereka mengatakan bahwa kau satu kamar dengan Pak Great," ucap Bu Saka.


"Tidak. Saya tidak satu kamar dengan Pak Great," jawabnya langsung karena merasa terintimidasi.


"Hari ini ramai jadi perbincangan semua karyawan. Bahkan di obrolan grup lebih ramai dibicarakan."


Lalis langsung mengambil HP dan membuka obrolan grup perusahaan. Benar saja, semua mengarah ke Lalis. Dan mulai saat ini banyak yang tidak suka kepada Lalis. Komentar kebencian terus bermunculan di grup perusahaan.


"Apa kau pacaran dengan Pak Great?"tanya Kenya to the point.


"Tidak. Saya tidak ada hubungan apa-apa sengan Pak Greta. Kami pun baru saja kenal. Saya baru sebulan di perusahaan ini, tidak mungkin saya langsung menyukainya."


"Apa kau menyukainya?" tanya Kenya lagi.


"Tidak. Sama sekali tidak dan itu tidak mungkin," jawab yakin Lalis.


Kenya tidak sadar bahwa Jovi memperhatikan kekhawatiran Kenya jika direkturnya pacaran dengan orang lain. Sebegitu sukanya Kenya kepada direkturnya?


Dan Lalis pun tidak sadar bahwa sejak Kenya menanyakan hal itu, Great sudah beridiri di luar ruang tim pemasaran. Great menguping pembicaraannya. Hatinya sangat sakit saat Lalis menjawab pertanyaan Kenya barusan.


Semua pegawai bisa melihat pegawai lainnya karena ruang mereka hanya di tutupi dengan kaca agar pegawai bisa terpantau.


"Hapus post di grup, dan cegah orang lain mempost poto itu, jangan sampai orang luar melihat ini," titah Great ke skertarisnya, Joy. Lalu Great beranjak dengan raut wajah seriusnya.


"Terus kenapa kalian berada di apartemen yang sama?" tanya Kenya.


"Itu- kami- kamar kami bersebelahan," jawab Lalis yang membuat mata Kenya membelalak kaget. Bukan hanya Kenya semua tim juga kaget kecuali Jovi yang hanya fokus dengan komputernya.


"Sejak kapan?" tanya Kenya.


"Aku juga tidak tau kapan dan kenapa Pak Great mau tinggal di apartemen walaupun punya rumah mewah," batin Lalis.


"Mau bagaimanapun itu, rumor sudah tersebar," ujar Bu Saka.


"Obrolan di grup banyak sekali yang menghujat tanpa tahu kebenarannya, kan," ucap Veronika setelah melihat obrolan chat di grupnya.


"Bener-bener deh netizen. Kaya mereka paling benar aja," sahut Selia.


Kenya terus terdiam berpikir menatap Lalis.


"Sudah. Kembali bekerja. Dan ya, kuharap kau berhati-hati jika sedang bersama Pak Great," tutup Bu Saka.