Your Name

Your Name
Ada apa dengan Jemin? part 2



Lindora melihat sekeliling ruangan sederhana setelah sampai di rumah anak pertamanya, Bora. Tidak banyak barang yang terletak, rumah baru di beli Bora sangat tampak.


Beruntung Great membantunya membuat kunci yang sama persis seperti pemilik rumah ini hingga mereka bisa membuka rumah ini dan Lindora bisa menghuninya.


Lindora menghentikan Lalis yang akan membawa barang-barang sementara milik Lindora.


"Jangan banyak bergerak. Biar ibu saja."


Lindora tidak sendiri, ia dibantu sopir taksi.


Baru beberapa menit sampai, Lalis dihubungi seseorang lewat HP di sakunya. Ia membuka dan melihat nama sang penelepon.


"Ibu, aku akan pulang sekarang. Jemin sudah kuhubungi. Dia akan pulang setelah menjenguk temannya," ujar Lalis.


"Apa kau sudah mengirim alamatnya?" tanya Lindora.


"Iya sudah. Jemin pulang jam empat sore."


Lindora mengangguk dan tersenyum begitupun dengan Lalis. Kemudian ia beranjak pergi dan mengangkat telponnya di sela-sela jalannya.


"Saya akan ke sana sekarang," ujar Lalis.


Tidak Lalis sadari, Lindora melihat kepergian Lalis dari jendela. Ia memastikan agar Lalis benar-benar sudah pulang atau sudah tidak ada dari sekitar rumahnya.


Lindora bergegas. Bahkan ia meminta sopir menyelesaikannya dengan cepat. Setelah semua barang sudah di dalam, Lindora ke luar rumah. Menguncinya lalu menggunakan taksi yang ia pesan dari rumah sakit menuju rumah ini.


Lindora membungkuk melihat sopir dari luar kaca mobil yang terbuka, awalnya taksi itu akan melajukan kendaraannya.


"Tolong antar saya, Pak."


"Ke mana, Bu?"


"Nanti saya tunjukkan," jawab Lindora.


"Iya, naiklah, Bu."


Sementara Lalis. Ia pergi ke kantor polisi setelah telpon itu. Lalis pikir akan ada berita baik, namin tidak sama sekali. Yang dikatakan polisi malah membuatnya khawatir serta memberi teka teki.


"Pihak kepolisian sudah menghubungi beberapa kantor polisi, tidak ada yang menyelidiki kasus kecelakaan yang tertimpa kepada kakak Anda. Mungkin anda keliru."


"Tidak," sontak jawab Lalis. "Mana mungkin saya keliru," imbuh Lalis.


"Bahkan atasan kami sudah memberitahu kepala kantor pusat. Tidak ada yang menyelidiki kasus ini,"


Lalis berpikir. Bagaimana bisa.


"Setelah melihat tempat kejadian, jalanan yang dilewati rawan juga. Kami tidak bisa menyimpulkan bahwa kecelakaan ini ada yang janggal. Jadi pihak kepolisian tidak bisa melanjutkan penyelidikan kasus ini."


"Apa kalian tidak menemukan bukti sedikit pun?"


"Tidak. Tempat kejadian benar-benar bersih. Mungkin karena sudah dua bulan lalu, jadi sulit untuk diselidiki."


Lalis tidak percaya kepolisian tidak bisa menemukan jejak atau bukti. Lalu polisi yang menyelidiki kasus malam kejadian itu, apa polisi palsu?


"Pak, sekali lagi. Saya ingin anda menyelidikinya lagi," pinta Lalis.


"Kami akan berusaha jika memungkinkan. Kasus ini sangat sulit karena tidak ada jejak apapun."


Lalis sedikit lega.


Setelah setengah jam di kantor polisi, Lalis pulang. Ia menyempatkan datang meskipun tubuhnya belum cukup pulih, belum cukup kuat, belum cukup enak untuk dibawa cape.


Panas terik di sore hari membuat kepalanya pusing, perlahan penglihatannya memburam. Hingga akhirnya tubuhnya hilang kendali, ia ambruk di depan kantor polisi. Satpam yang bertugas melihat itu, ia segera menghampiri dan membantu.


***


Cuaca hari ini sangat mendukung. Masih terasa gerah seperti siang hari padahal hari ini sudah sore. Jemin membawa Ketty menggunakan kursi roda ke taman di sekitar rumah sakit. Tidak lupa botol infus, Ketty memegangnya. Terasa sejuk karena banyak pepohonan dan tanaman. Tidak banyak pengunjung, ada beberapa orang yang sama seperti Ketty. Terduduk tak berdaya di kursi roda.


"Kau tidak malu membawaku?" tanya Ketty.


Jemin menggelengkan kepalanya. "Tidak. Malu kenapa?"


Tanpa ekspresi wajah, Ketty menjawab, "kondisiku sangat mengenaskan."


Jemin juga tidak mengerti kenapa ia begitu peduli dengan Ketty. Ia tidak tahu dari mana rasa itu muncul dengan tiba-tiba.


"Kudengar kalau orang lagi sakit, sesekali harus ke luar agar tidak suntuk. Aku hanya berniat seperti itu," jawab Jemin.


Ketty terdiam tidak menjawab selama beberapa menit. Jemin membawa Ketty ke dekat rimbunan pohon, lalu ia duduk menyandar ke batang pohon. Ketty di hadapannya.


Ketty memalingkan tatapannya. Matanya menyipit saat melihat cuaca berawan cerah hari ini. Jemin berpikir bahwa Ketty tidak ingin menjawab pertanyaannya. Kenyataannya Ketty sedang berpikir harus cerita mulai dari mana.


"Glora menyukaimu. Ia tidak suka saat kau memanggil namanya dengan namaku," jawab Ketty.


Pikiran Jemin berkeliling mengingat apa yang ia lupakan. Memang benar. Waktu itu Jemin lupa dengan nama Glora, dan malah menyebutnya Ketty. Padahal Glora beberapa kali mengingatkan namanya.


"Karena itu kau menyalahkan ku saat dibuli Glora?" tanya Jemin.


"Ya. Makanya aku muak saat kau selalu melihat tubuhku yang mengenaskan. Aku tidak suka sikap sok pedulimu kala itu. Makanya aku sensitif saat kau datang tepat setelah aku dibuli Glora."


"Aku bukan mau jadi pahlawan untukmu. Aku geram karena kau tidak melakukan perlawanan sedangkan harga dirimu sedang diinjak-injak."


Ketty kembali terdiam. Tatapannya beralih ke Jemin.


"Anggap saja ini bayaran dari perbuatanku sebelumnya," jawab Ketty setelah memalingkan penglihatannya dari Jemin.


Ketty mengusap pelan punggung tangannya. Jemin melihat itu.


"Apa maksud bayaran?"


Ketty berpikir kenapa ia harus memberitahu Jemin soal perbuatannya yang ia maksud. Apapun itu Jemin tidak perlu tahu, siapa dia baginya.


"Banyak tanya," ketus Ketty.


Sebelumnya Ketty sedikit terharu karena kedatangan orang yang ingin menjenguknya. Ketty sudah berpikir bahwa tidak akan ada orang yang datang menjenguknya sekalipun anggota keluarganya. Tapi tanpa ia sangka Jemin datang dengan sekeranjang buah-buahan untuknya.


Sumpah. Ketty sedikit merasa memiliki teman yang benar-benar sejati. Tapi ia menyangkal perasaan itu karena diantara mereka tidak pernah banyak bicara sebelumnya.


Jemin tidak ambil pusing. Ia menyandarkan kepalanya di batang pohon sambil memejamkan kedua mata. Menghela nafas lalu membuka kembali matanya.


"Aku sedikit memiliki perasaan padamu karena kau datang menjengukku,"


Mata Jemin membelalak. "Kau suka padaku?"


Sontak Ketty menjawab. "Bukan. Apa-apaan. Jangan kepedean!"


"Katamu memiliki perasaan?"


Ketty terdiam. "Memang aku salah ngomong,"batin Ketty.


"Itu karena tidak ada yang mau datang untukku. Kau bahkan datang tak diundang, aku jadi sedikit terharu," jawab Ketty.


Mereka terdiam begitu lama. Tidak ada lagi yang ingin mereka bicarakan, tapi mereka tidak ingin berpisah begitu saja. Banyak pertanyaan yang dipendam Ketty dan Jemin. Mereka saling membatasi keingintahuan masing-masing seolah ada dinding diantara Ketty dan Jemin.


"Aku akan meminjamkan buku pelajaran untukmu, satu minggu lagi ada latihan ujian nasional," ucap Jemin.


"Aku mungkin akan pindah sekolah," batin Ketty yang menjawab.


"Aku harus pulang sekarang, besok aku akan kembali lagi. Soal Glora ... dia akan ku urus. Orang sepertinya harus diberi pelajaran," imbuh Jemin.


Jemin berdiri, mendorong perlahan kursi roda yang diduduki Ketty. Jemin sudah selesai dengan besuknya, ia harus kembali menemani ibunya.


"Jangan berbuat apapun kepada Glora. Biarkan saja dia. Dan- kau tidak perlu terus menjengukku."


"Aku akan menjengukmu."


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa. Gara-gara kau, aku jadi merasa harus bertanggung jawab atas luka-luka ditubuhmu.


"Kau tidak perlu merasa begitu."


"Diamlah! dari awal kau tetap cerewet dan keras kepala."


"Kapan aku keras kepala?"


"Sejak kubilang lawanlah! kau tetap diam saja, membiarkan Glora menindasmu."


Ketty tertawa pelan dan singkat. Sepeduli apa Jemin terhadapnya? pertama kali dia mendapat perhatian seperti ini, Ketty tidak mau terlalu jauh atau ia bisa saja memiliki perasaan lebih untuk Jemin.


Sejak awal memang Ketty membenci dan menyalahkannya. Tapi dugaannya salah, Jemin tidak seburuk itu.


Aneh dengan sikap Ketty. Ia baru sadar bahwa Ketty bisa tertawa juga.


"Apa ada yang lucu? cih, kau sangat aneh."


"Jangan berlebihan, Jem. Atau hal yang tidak diinginkan bisa terjadi."