Your Name

Your Name
Amerika Vinskent



Bu Saka melihat Kenya tengah berjalan menghampiri meja tim mereka. Ia terus menatap Kenya karena penasaran dengan raut wajah muram itu.


"Saya masuk duluan, ya," ujar Kenya langsung buru-buru pergi.


Hanya Jovi dan Bu Saka yang tahu Kenya sedang tidak baik-baik saja. Setelah agak lama Jovi menyusul Kenya. Sengaja ia tidak langsung mengikuti Kenya agar rekan timnya tidak curiga.


Baru lagi beberapa menit Lalis datang dengan langkah lambat sampai duduk di meja tempat tim mereka makan.


"Lalis lama sekali ke toiletnya, bahkan Kenya saja mendahuluimu," ujar Veronika.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bercermin sebentar setelah buang air," jawab Lalis. Ini alasan, padahal di toilet ia sudah berdebat dengan Kenya masalah Great.


Lalis tidak pernah menyangka bahwa Kenya mengatakan perasaan cinta untuk Great kepadanya. Di sisi lain ia merasa tidak enak dengan Kenya, tapi Great juga tidak ingin ia berikan kepada siapapun. Apalagi Kenya marah besar tadi.


Lalis bingung sebenarnya seberapa suka Kenya sama Great sampai Kenya harus marahan dengan Lalis. Setelah Kenya mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah walaupun Great benci dengan perasaan Kenya, Lalis jadi takut dan tidak rela.


"Lalis. Saya minta kamu saja untuk menemui Pak Great tentang produk perusahaan yang terkena skandal," ujar Bu Saka seolah ia memberi kesempatan untuk Lalis agar bicara dengan Great melalui pekerjaan.


"Saya harus bilang apa?"


"Katakan saja apa yang kau mau bicarakan,"


Sebenarnya Lalis sudah curiga jika Bu Saka tahu mereka dekat, apalagi Bu Saka selalu berbicara seolah tahu semuanya tentang kedekatan Great dan Lalis.


"Baiklah."


Sementara itu, Jovi mengikuti Kenya sampai ruang tim pemasaran. Ia ingin masuk tapi Kenya seolah ingin sendirian. Ia mengintip dari pintu masuk karena sedikit terbuka, ia melihat Kenya yang tengah menangis dengan kepala ditaruh di meja kerja.


"Aku tidak mau kalah lagi," gumam Kenya yang terdengar oleh Jovi.


Kala itu Great melewati ruang tim pemasaran, ia menyapa Jovi. Dan Jovi terkejut seolah ketahuan akan maling.


Great melirik ke dalam ruangan sejenak. Tidak ada Lalis, hanya ada Kenya dan ia berpikir bahwa Jovi sedang mengintip.


"Ah, Pak. Mengagetkan," ucap Jovi.


"Kamu suka lihat cewek nangis?" tanya Great. Wajah datar itu selalu menjadi tampang yang ia gunakan ketika berbicara dengan orang asing.


"Bukan, Pak."


"Atau kau yang membuat rekan tim wanita itu menangis?"


"Bukan, Pak."


Kebetulan Lalis serta rekan timnya datang, mereka akan masuk ke ruangan namun dihadapkan dengan adegan ini. Pemandangan yang tidak bisa sering dilihat itu adalah ketika Jovi berhadapan dengan Great. Jovi tidak pernah dan selalu tidak mau jika disuruh untuk menemui Great untuk memberikan hasil laporan. Mungkin ia adalah orang paling jarang dan paling tidak mau menemui Great. Entah kenapa, tidak ada yang tahu alasannya.


"Selamat siang, Pak," sapa Bu Saka. Mereka menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat terhadap atasan.


"Siang," jawab Great. Yang bicara siapa tapi Great melihat orang lain. Siapa lagi kalau bukan Lalis yang dia lihat itu.


Lalis tersenyum kaku kala Great terus melihatnya.


Kenya langsung mengusap air matanya menutupi tangisannya setelah mendengar suara dari luar.


Sementara di luar mereka berkumpul.


"Apakah akan di adakan briefing, Pak?" tanya Bu Saka.


"Sebelumnya tim pemasaran tidak akan terlibat dengan tim lain, bukan, Pak? kami hanya harus fokus dengan pekerjaan masing-masing." Bu Saka menolak.


"Ya. Itu peraturan kantor ini. Tidak masalah jika tidak di briefing kan. Tim strstegis dan tim pemasaran hanya harus fokus dengan kerjaan masing-masing."


Bu Saka mengira kalau Pak Great aneh. Bisa-bisanya Pak Great bisa begitu plin-plan tidak sepertinya.


"Silakan bekerja kembali," lanjut Great.


Bu Saka beserta rekan lain menundukkan kepalanya lalu Great beranjak. Saat melewati Lalis, Great menyempatkan untuk memegang tangan Lalis sampai ia gugup dan takut jika orang lain tahu.


***


"Lama-lama aku bisa gila," umpatnya dengan nada bentakan. Ia bermonolog sendiri sejak tadi. "Rencanaku benar-benar hancur gara-gara anak itu. Semuanya sia-sia," lanjutnya.


Pria yang seolah terkurung di penjara itu sudah muak dengan kehidupan sehari-harinya. Siapa sangka Great mengurung Jey Gwart di negara China. Bukan di penjara, dia bebas menjalani hidupnya di China, hanya saja Great mengatakan bahwa jika Jey kembali ke tanah air, Great tidak akan segan mencabut semua saham yang diberikan ayahnya kepada Jey. Bukan hanya itu, Great juga akan merenggut semuanya.


Ada satu alasan Great melakukan hal itu. Tentu karena Lalis. Ia sejak awal tahu setelah melihat pesan ancaman Jey Gwart kepada Lalis waktu kecelakaan bertubi-tubi yang menimpa Lalis hingga membuatnya frustasi dan tidak fokus menjalani hidupnya.


"Aku tidak pernah menyangka jika urutan rencanaku sia-sia. Kenapa Great harus bersama Lalis wakti itu," gumaman kesalnya lagi.


Tidak ada anak buah maupun bawahan kantor yang bisa membantunya. Meskipun uang terus mengalir ke rekeningnya, ia sama sekali tidak puas. Apalagi perjodohan itu berantakan, keluarga wanita pun tidak kembali membahas soal itu.


Ia mempunyai harapan lagi yaitu Vinsca yang sangat mencintai Kent. Ia bisa berharap lebih lama karenanya. Tapi setelah ia mendapat kabar bahwa Vinsca pergi ke Amerika menyusul Kent, Jey tidak pernah lagi mendengar kabar Vinsca.


Meskipun ia percaya Vinsca akan bisa diharapkan, ia harus memastikan semuanya.


Lalu apa kabar dengan Vinsca di Amerika?


Dua minggu lalu ia menemukan alamat Kent di Amerika. Ia sudah hampir tahu kegiatan Kent selama di Amerika. Ia juga sering menjadi penguntit, tidak satu atau dua kali Kent memergoki Vinsca yang terus mengikutinya.


Kent sudah menganggap Vinsca gila. Ia sudah risih. Bisa-bisanya Vinsca memiliki banyak waktu luang di saat Kent tidak memiliki waktu untuk melakukan hal yang tidak penting.


"Enyahlah!" ujar Kent yang terlihat muak dengan wanita ini.


Depan gerbang universitas besar di Amerika selalu menjadi saksi Kent yang selalu merasa terganggu dengan kehadiran Vinsca akhir-akhir ini.


"Aku tidak akan rugi mengeluarkan uang miliaran pun hanya untuk mencarimu," ujar Vinsca.


"Aku tidak peduli. Enyahlah!"


Vinsca yang keras kepala tidak bisa menyerah sebelum Kent mau sedikit memberikan waktu luang untuk bicara dengannya.


"Mari lakukan, Kent."


"Sudah kubilang aku tidak tertarik padamu. Jangan pertaruhkan harga dirimu hanya demi keinginan yang tidak mungkin kau dapatkan," jawab Kent.


"Aku tidak akan menyerah,"


Cara Vinsca salah. Jika ia ingin Kent jatuh cinta padanya jangan terburu-buru seperti ini. Apalagi Kent fokus dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Ia sedang di training menjadi dosen di salah satu universitas besar Amerika. Serta kerja sampingan sebagai karyawan kantor biasa, hanya saja ia menjadi ketua tim di timnya.


Kent masuk meghindari Vinsca. Namun Vinsca terus mengikutinya, berunrung ada satpam yang berjaga di sana. Selain kartu tanda pengenal, dilarang masuk meskipun ini bukan kantor untuk bekerja.


"****."