
Lalis menghampiri Great yang tengah duduk di sofa dengan menatap fokus laptopnya. Kedua alisnya mengernyit sambil menggigit jari telunjuknya.
"Sudah mau larut malam, tidak bisakah dilanjut besok," ucap Lalis sambil meletakkan teh hangat di meja.
Great menoleh ke arah Lalis lalu mengambil teh buatan Lalis. "Terimakasih," ucapnya sebelum meminum teh itu.
Great kembali fokus dengan laptopnya. "Sedikit lagi selesai. Aku sedang memilih konsep dari setiap tim," ujar Great.
Lalis terdiam tanpa menjawab. Ia terus menatap betapa seriusnya Great malam ini. Mungkin karena skandal produknya, ia jadi lebih bekerja keras untuk mengembalikan citra baik perusahaan.
Great menutup laptopnya lalu menghadap ke arah Lalis yang duduk di sebelahnya.
"Sudah selesai?" tanya Lalis.
"Iya."
Lalis tersenyum. Selama dengan Great ia tidak pernah tidak menemaninya setelah pulang kerja. Great selalu memanggilnya. Berhubung di kamar Lalis ada Jemin, jadi ia sedikit tidak nyaman jika ada orang ketiga. Jemin tidak masalah jika kakaknya terus berada di kamar Great, justru itu membuatnya senang karena tidak ada gangguan.
"Setelah masalah perusahaan selesai, ayo kita muncak," ajak Great.
"Boleh."
Great tersenyum, ia membuka kedua tangannya lebar menunggu Lalis datang ke pelukannya seperti anak kecil.
"Kau belum mandi sejak pulang kerja," tukas Lalis.
Great mencium bau badannya. Tidak, tidak bau sama sekali meskipun belum mandi.
"Aku tidak perlu mandi, tubuhku sudah harum dari lahir."
Lalis memeluk Great sejenak.
"Mari tidur. Besok kerja lagi,"
Great mengangguk. Ia mengangkat tubuh Lalis lalu membaringkannya di atas ranjang. Bukannya berbaring, Great malah menindih tubuh Lalis sambil mengendus leher Lalis.
"Jangan memulai, Great."
Sama sekali tidak Great dengar. Ia terus melakukan hal yang sudah memenuhi hasratnya. Great membuka bajunya lalu kembali memberi ciuman untuk Lalis. Ia membawa tubuh Lalis, mengubah posisinya jadi Lalis yang di atas tubuhnya.
Setelah beberapa menit, Great melepaskan ciuman itu lalu bangkit perlahan. Tangannya merogoh sesuatu di lacinya, namun apa yang ia cari tidak ada di setiap laci nakasnya. Ia mengendus kesal lalu menatap Lalis yanga terduduk di depannya.
"Aku lupa beli lagi," ucapnya gusar. Mana ia sudah tidak tahan lagi. Terpaksa ia harus menahan nafsu untuk malam ini. Jika tidak, Lalis bisa saja hamil.
"Tidur saja. Jangan terlalu berlebihan. Kita belum menikah," jawab Lalis.
Great membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan menopang kepalanya. Ia menghela nafas. Matanya melirik Lalis yang masih terduduk. Seolah tahu bahwa Great akan menyuruhnya berbaring, Lalis berbaring terlebih dahulu di sambil memeluk Great sebelum Great bicara. Great melepaskan satu tangan dari kepalanya untuk mengelus rambut Lalis.
"Aku mengantuk," ucap Lalis.
"Tidurlah. Besok jangan lupa makan siang bersamaku."
***
"Tall, yang direkomendasikan Pak Great dan ayah anda akan menjadi asisten anda di perusahaan. Dia masih muda tapi cepat tanggap hingga bisa mengeliminasi ke tiga peserta lainnya."
Sambil berjalan Joy terus menceritakan bagaimana orang yang akan menjadi asistennya. Great tidak peduli siapapun itu setelah Lalis memutuskan keluar dari bimbingan perusahaan. Padahal di perusahaan lain tidak mungkin ada yang ingin membayar pembimbing hanya untuk seorang asisten direktur. Perusahaan bisa saja merekrut orang lain. Itu karena dari awal Great ingin berencana menjadikan Lalis asisten direktur.
"Kapan dia mulai?" tanya Great.
"Sekarang. Jika berkenan biar saya yang mendampingi Tall di hari pertamanya bekerja."
"Ya memang aku berencana seperti itu."
Great terhenti setelah mendengar suara yang tidak asing untuknya. Tepatnya dia berbicara di tangga. Great mengintip dan ternyata itu Lalis yang sedang menelpon.
"Saya akan datang ke kantor polisi nanti siang. Surat dan identitas akan saya bawa dengan lengkap," ucap Lalis di telpon itu.
Great penasaran siapa yang mau Lalis selidiki atau apa yang akan Lalis lakukan dengan datang ke kantor polisi.
Skertaris Joy yang peka. "Pak, saya jalan duluan," ucap Joy setelah menduga isi hati Great.
Great tidak menghiraukan Joy, ia lebih memilih untuk mendekati Lalis hingga akhirnya tubuh Lalis berbalik menghadap Great. Ia terkejut dan ... sebenarnya tidak ingin Great tahu soal ini.
Ia melirik ke kanan dan kiri, melihat keadaan dan situasi. Beruntung semua karyawan pada bekerja, dan yang berlalu lalang juga sedikit orang. Mungkin tidak akan curiga jika mereka hanya sebatas berbincang.
"Ada masalah apa hingga kamu harus ke kantor polisi?" tanya Great.
Lalis terdiam sejenak.
"Ada hal yang harus saya urus. Ini tidak ada kaitannya denganmu, Pak?"
Sebagai karyawan profesional, meskipun mereka pacaran, tapi di kantor harus terlihat biasa. Apalagi mereka pacaran diam-diam, mungkin jika karyawan tahu pasti heboh dan banyak rumor, hujatan, kritikan dan hal lainnya. Untuk Great mungkin tidak akan mempan, tapi bagi Lalis itu adalah bencana. Ia takut merasa tertekan di sini apalagi sampai mengganggu kinerja kerjanya.
"Kamu tidak berniat ngasih tahu, ya?"
"Nanti saya ceritakan, deh. Sekarang mari masing-masing, kalau ada karyawan yang curiga bagaimana?" lanjut Lalis.
"Aku mau hubungan kita di publik di kantor. Maka dari itu tidak akan ada cowok yang berani nempel ke kamu."
"Selama ini mana ada tuh cowok yang nempel kecuali kamu," jawab Lalis. "Yang ada tuh cewek yang nempel sama kamu, dasar genit."
Great terkekeh melihat raut wajah Lalis yang imut ketika cemberut. Cewek kalem seperti Lalis juga bisa memiliki raut wajah yang aneh menurut Great.
Great memeluk Lalis sejenak, namun dengan cepat Lalis lepaskan, takut ketahuan orang kantor.
"Sudah, ya. Nanti siang tidak bisa makan bareng, saya mau ke luar dulu."
Lalis lalu pergi meninggalkan Great dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
***
Lagi-lagi kekacauan di kelas membuat Jemin merasa terganggu. Ia mendengus kesal lalu beranjak ke luar dari kelas entah ke mana tujuan Jemin. Di koridor, ia berpapasan dengan Ketty. Ia menutupi hidungnya dan jidatnya lebam sedikit keunguan.
Setelah saling bertatapan sejenak, Ketty tidak menghiraukan Jemin, ia melangkah pergi. Akan tetapi Jemin mengejarnya. Ketty menghempaskan tangan Jemin dari lengannya saat menghentikan langkah Ketty.
"Enyahlah, Brengsek!"
Jemin tidak terima dengan umpatan itu. Sekali lagi Ketty menghindarinya, Jemin semakin berani untuk menghentikan langkahnya. Ia membawa Ketty secara paksa.
"Lepasin. Kau mau bawa aku ke mana?" pekik Ketty.
Tidak ada jawaban dari Jemin hingga ia sampai di ruang UKS. Jemin melepaskan Ketty.
"Bu perawat," ujar Jemin.
Tapi tidak ada yang nyahut. Jemin perlahan melangkah mencari di setiap ranjang UKS yang di tutup tirai setiap ranjangnya.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Setiap hari jumat perawat tidak bekerja," ucap Ketty sambil mendudukkan bokongnya di ranjang.
Setelah diberi tahu Ketty, Jemin sontak kembali ke dekat Ketty.
Ternyata Ketty mimisan, Jemin melihat itu. Bibirnya sedikit sobek, ia mendiga bahwa Glora membulinya lagi. Lagi-lagi Ketty membuat Jemin greget. Apa Ketty tidak bisa melawan sampai ia rela membuat tubuhnya dilukai orang?
"Kenapa kau diam saja, hah saat dibuli Glora?" tanya Jemin Geram.
"Kau tahu apa?"
Jemin merasa frustasi seolah dia yang mengalaminya. Tapi ia benar-benar geram dengan Ketty yang tidak ada perlawanan. 1
Ia beranjak menuju lemari obat, membawa alkohol kapas dan cutton bad hanya itu yang dia tahu saat ada luka.
"Obati lukamu," ucapnya sambil menyodorkan apa yang ia bawa sebelumnya kepada Ketty.
Ketty mengambilnya. Lalu perlahan mengobati luka di bibirnya. Jemin melihatnya kesusahan karena tidak ada cermin. Ia merebut cutton bad yang sudah diolesi alkohol dari tangan Ketty.
"Kalau butuh bantuan jangan gengsi minta tolong," ujar Jemin.
Saat menyentuh lukanya, Ketty meringis perih. "Gabisa pelan apa?"
Jemin mendecak kesal. "Gatau terimakasih," gumamnya.
Sepertinya Jemin ahli dalam pengobatan sampai luka lebam di jidat Ketty pun ia perban dengan rapi setelah diberi pendingin kulit. Mimisannya mulai berkurang, tapi ada beberapa hal yang membuat Jemin salfok.
Bekas luka sayatan di leher Ketty, rambut Ketty yang pitak seolah terbakar, dan luka yang ditutupi manset di lengannya.
"Apa bekas luka di lehermu itu perbuatannya?" tanya Jemin.
"Ya, siapa lagi?" jawab Ketty.
"Rambutmu?"
Ketty terdiam sejenak lalu menatap Jemin malas. "Banyak tanya," ujarnya.
Jemin sudah menduganya. Ia diam dengan pikirannya yang bertanya-tanya.
"Apa maksudmu itu gara-gara aku waktu itu?" tanya Jemin.
"Kau belum melihat semuanya tentang Glora, Jemin. Kau hanya tahu dia selalu membuli saja," jawab Ketty seolah menggali rasa penasaran Jemin.
"Maksudnya- Glora melakukan hal lebih dari itu?"
Ketty memutar bola matanya malas. Ia berdiri tanpa mengalihkan tatapan dari Jemin. Kemudian ia pergi dari ruangan memuakkan ini karena ada Jemin.
Jemin mengendikkan bahunya. Sudah cukup rasa penasarannya lagian ini bukan urusan Jemin jika Glora tukang buli.