
"Tuan, dia belum mau sadarkan diri, dia mengalami mati otak. Akan baik jika mencoba untuk berbicara dengannya. Pasien bisa mendengarnya, iru dorongan baik untuk membuatnya perlahan sadar."
"Apa tidak ada jalan lain?"
"Tidak, Tuan."
"Suster yang saya inginkan apakah sudah ada yang bersedia?"
"Ya. Saya akan membawanya besok, dia siap berjaga 24 jam untuk pasien."
Setelah semuanya selesai, dokter terbaik yang diinginkan Kevin Joul pun pergi dari kediamannya.
Ia terdiam berdiri melihat gadis yang ia selamatkan dari kecelakaan sebulan yang lalu. Lebih tepatnya Willie yang menemukannya, cucunya dari putra ke dua.
"Sebenarnya apa yang membuat kakek ingin merawatnya," tanya Willie.
Willie adalah sahabat Great. Teman kecil sekaligus sepupunya. Usianya sama dengan Great walaupun mereka berbeda. Jika Kevin Joul adalah kakek bagi Willie, maka bagi Great adalah ayah. Orang tuanya.
Mereka memiliki banyak kesamaan. Didikan yang tegas dan penuh tekanan dan IQ-nya nyaris sama dengan Great. Dari segi fisik, sekolah, dan lainnya, semuanya nyaris sama. Bahkan mereka dijuluki 'the genius child' waktu mereka kecil.
"Kau tidak perlu tahu hal ini. Yang harus kamu lakukan adalah menyembunyikan hal ini dari semua orang. Paham?"
"Paham, Kakek."
"Bagus. Pergilah temui Great. Sejak kepulanganmu sebulan lalu, kau belum pernah datang menemuinya."
"Dua hari lagi setelah urusan saya lancar, saya akan datang ke kediamannya. Hari ini saya harus kembali ke pedesaan,"
"Kenapa kamu yang turun tangan?"
"Tidak. Saya hanya memastikan,"
Ini adalah perbedaan Willie dan Great. Cara mereka berbicara kepada Kevin.
"Jangan terlalu memaksakan diri jika kau tidak suka," pesan Kevin sebelum Willie ke luar dari kamar bawah tanah kediaman Joul.
Meskipun rumah ini amat teramat besar, tapi isinya sepi. Hanya ada barang-barang yang menemani Kevin di sini. Semua putranya sudah menikah dan tinggal di berbagai negara dengan kesibukannya masing-masing. Mungkin hanya Great seorang yang menjadi pelariannya sekarang.
Willie sudah ke luar. Kevin membuka laci lemari, menampilkan sebuah kartu identitas pengenal dengan nama Bora Kirei. Yang terlahir sekitar 30 tahun lalu.
Kenapa Kevin menyembunyikan Bora bersamanya?
...----------------...
Hari pertama Jemin sekolah di ibukota berjalan dengan lancar. Jemin disenangi teman sekelasnya. Tetapi kebanyakan cewek. Tidak bisa ditolak sih kalau Jemin tampan dan gagah. Karismanya membuat para cewek di SMA klepek-klepek saat melihatnya.
Hari ini tepat hari sebulan kurang 2 hari setelah Jemin masuk sekolah tapi sudah populer di sekolah. Meskipun tidak semua orang tergila-gila padanya, tetapi mereka setuju bahwa Jemin sangatlah tampan.
"Hai, Jemin."
Sapaan para cewek-cewek centil yang membuat Jemin ingin muntah di sana. Jemin tidak menghiraukan itu, ia terus berjalan lurus dengan percaya diri.
Saat masuk kelas pun, bangkunya sudah di penuhi hadiah-hadiah dari para cewek yang entah apa isinya.
"Jemin,"
Tiga orang cewek menghampiri Jemin. Ketahuilah bahwa 3 cewek ini siswi paling disegani. Mungkin beberapa orang berani, tapi kebanyakan segan. Ia merupakan putri kepala sekolah di sekolah ini. Ia mengandalkan ayahnya untuk urusan pribadi maupun hal lainnya.
"Kau ingat namaku, bukan?" tanya cewek cantik di hadapan Jemin.
"Ketty?"
"Ey, itu namaku." Ucap salah satu teman putri kepala sekolah ini.
Dia marah dong, kenapa nama yang diingat bukan dirinya melainkan temannya.
"Namaku? kau tidak ingat?"
"Aku tidak pandai mengingat nama orang," jawab dingin Jemin sambil mendaratkan bokongnya di kursi. "Kalian mau ini, tidak?" tanya Jemin sambil menawarkan hadiah dari para cewek yang ditujukan untuknya.
"Aku mau semuanya," putri kepala sekolah itu merebut semua milik Jemin.
"Bu guru datang," teriak salah satu siswa di kelasnya.
Mereka bergegas untuk duduk. "Namaku Glora,jangan lupakan namaku," ujar wanita itu lalu bergegas duduk.
"Cih, nama yang buruk," gumam Jemin.
Memang nih Jemin aura-aura badboy.
***
Sudah sebulan Lalis tidak bisa fokus bekerja. Bahkan ia selalu ditegur saat bimbingan karena tidak fokus untuk mempelajari bisnis dan pekerjaan yang dilakukan seorang asisten direktur.
Barusan Lalis ditegur Bu Saka karena apa yang ia kerjakan selalu dikembalikkan Great. Dan itu berturut-turut selama selama satu minggu. Lalis harus selalu lembur dan merevisi tugasnya lagi.
Ia bercermin setelah cuci muka di wastafel. Ia belum bisa tenang sebelum kakaknya ditemukan. Ini membuat Lalis tidak bisa berpikir lagi apa yang harus ia lakukan. Polisi sedang berusaha menyelidiki dan mencarinya namun tetap tidak ada kabar baik untuknya.
"Rasanya aku lelah sekali," gumamnya sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
"Kent, bisakah kau pulang dan bicara dengan ayahmu," gumamnya. Air matanya mulai turun lagi, sampai kapan ia harus menahan rasa sakit ini. Bahkan Kent tidak bisa melakukan apa-apa meski Lalis sudah menceritakan semua perbuatan ayahnya.
Nada dering HP Lalis berbunyi. Tertera nama Kent di sana.
"Hallo," sapa Lalis.
^^^"Ayah tidak menyembunyikan kakakmu, Lalis. Anak buahku tidak menemukan hal itu dan ia mendengar bahwa ayah mengamuk karena kakakmu belum bisa ditemukan."^^^
Lalis terdiam mendengar kebenaran dari Kent.
^^^"Sepertinya ayah sedang mengancammu," lanjut Kent.^^^
"Bagaimana dengan kakakku, Kent. Aku tidak bisa tenang lagi," keluh Lalis.
^^^"Aku sedang berusaha. Jadi kau jangan khawatir, anak buahku pasti bisa menemukan kakakmu,"^^^
"Kent, tolong aku. Aku tidak ingin kehilangan kakak." Isakan tangis Lalis membuat hati Kent sakit.
Kent jadi bimbang karena Lalis teramat terlihat sakit hati karena ayahnya. Tapi hati Kent tidak bisa berbohong, ia teramat mencintai Lalis, jadi bagaimanapun Lalis harus tetap bersamanya.
^^^"Aku sudah bicara dengan ayah, kau tunggulah dulu sedikit lagi, maaf karena aku hanya bisa membantu sebatas kemampuanku. Sekarang aku kekurangan orang karena kabur dari ayah."^^^
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Sayang. Tolong tetap jaga hubungan kita,"
^^^"Iya. Dalam waktu dekat aku akan menyelesaikan semuanya,"^^^
Lalis tidak menyadari bahwa Great mendengar semuanya sejak awal sampai akhir Lalis telponan dengan Kent. Ia menekan dadanya karena sesak mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar agar hatinya aman.
Lalis membasuh wajahnya lagi lalu mengeringkannya dengan tisu. Ia berniat kembali, tapi Great sudah tepat berada jauh di belakang Lalis saat Lalis membalik badannya.
"Kau menangis lagi?" tanya Great pelan.
Nada bicara Great seolah sedang putus asa.
"Bisakah kita pergi nanti malam, Pak."
Sampai akhirnya Great setuju mengenai ajakan Lalis. Tapi setelah waktu pulang kantor, Great mendapat kabar melalui pesan bahwa Lalis tidak bisa pergi karena harus merevisi lagi kerjaannya. Akhirnya ka harus menghampiri ruang tim pemasaran setelah menunggu rekan kerja Lalis pulang duluan termasuk Bu Saka.
"Ayo pulang. Aku akan bertanggung jawab mengenai revisi ini," ujar Great depan pintu masuk.
Great menghampiri Lalis.
"Bangkitlah! Aku yang akan menyelesaikannya," ujar Great.
Kesal dengan Lalis yang ngeyel, Great memundurkan kursi yang diduduki Lalis. Ia mengambil kursi milik Jovi lalu mengamati pekerjaan Lalis yang belum selesai.
Dalam waktu beberapa menit sudah selesai. Lalis pun tepuk tangan dengan tangan dan otak Great. Jenius banget.
"Sudah selesai. Ayo pulang, masih jam 7. Kita punya waktu tiga jam untuk menghabiskan waktu bersama," ujar Great setelah bangkit dari duduknya.
Lalis bangkit. "Jangan lakukan hal seperti tadi lagi lain kali, Pak."
"Iya."
Seketika pintu terbuka, Lalis terkejut setelah melihat siapa yang datang ke ruang tim pemasaran. Mengingat hanya ada mereka di ruang, Lalis jadi tertekan.
"Pak Great di sini?" ucapnya.
"Bu Saka kembali lagi setelah pulang?" tanya Great dengan raut wajah datarnya.
"HP saya ketinggalan di meja, Pak. Jadi saya kembali lagi ke sini. Lalu kalian-"
"Ah ... eee-"
"Dokumen yang tadi saya kembalikan, malam ini saya membutuhkannya."
"Oh, Pak Great berniat mengambilnya sekarang?"
Tidak. Bu Saka pura-pura percaya. Ia tidak sebodoh yang dipikirkan Great. Bu Saka tahu bahwa ada hal lain selain apa yang Great bicarakan barusan. Yang barusan hanyalah alasan bagi Bu Saka.
"Iya. Saya baru memberikannya," sahut Lalis.
Bu Saka tersenyum.
"Jika sudah selesai, pulanglah, Lalis. Jangan biarkan tenagamu habis, istirahatlah!"
Bu Saka hanyalah tegas. Ia juga tahu cara memperlakukan baik anggota tim-nya. Itu yang membuat karisma Bu Saka disebut woman oleh anggota tim-nya.
"Baik, Bu. Selamat malam,"
"Saya juga harus pulang. Selamat malam," pungkas Great.
Lalis secepatnya bergegas untuk menghindari Great. Ia tidak ingin ada orang yang melihat mereka bersama. Tapi Great mengejar Lalis sampai berjalan bersamanya.
"Jangan begitu. Orang kantor sudah pada pulang semua, jadi tidak akan ada yang melihat kita," ucap Great.
"Ah, ya."
Lalis mulai perlahan berjalan, tapi tidak menyadari bahwa Bu Saka melihat keakraban mereka. Meski tidak masalah baginya, tapi ini yang harus Bu Saka jaga sebagai ketua tim pemasaran.
"Mau kemana kita?" tanya Lalis.
Bukankah Lalis yang mengajak Great pergi tapi bertanya hal itu kepada Great.
"Ah sebenarnya aku tidak punya tempat rekomendasi, Pak."
"Mau tidak melihat pemandangan kota dan pemandangan bintang di langit?" tawar Great.
Lalis setuju sampai akhirnya mereka mendatangi tempat yang dimaksud Great. Mereka duduk berdua di satu kursi panjang yang hanya ada satu-satunya di sana.
Pemandangan dari atas memang tidak pernah gagal, pemandangan ibukota begitu cantik dilihat dari tempat mereka. Lalis tidak pernah menyangka bahwa ia bisa melihat pemandangan malam seperti ini.
"Bapak tahu tempat ini dari mana? apa ini semacam bukit?" tanya Lalis.
"Anggap saja begitu. Dulu aku sering ke sini sendirian."
"Selalu? kenapa?"
"Aku sakit dulu. Di sini aku mendapat udara segar dan bisa berpikir lebih jernih dan luas."
Lalis terdiam.
"Dan di sini juga aku hampir mau bunuh diri," batin Great.
"Bagaimana keadaan ibumu?" lanjut Great.
"Masih sama. Tapi aku sedikit lega karena ibu tidak jauh dariku, dan adikku juga sangat pengertian padaku setelah kejadian malam itu," jawab Lalis.
"Sudah satu bulan, bukan?" tanya Great.
"Iya. Aku tidak menyangka ibu akan separah itu terluka."
Great berpindah tempat, ia duduk di bawah lalu kepalanya menyender ke paha Lalis yang duduk di kursi. Mungkin jika bersandar di bahu Lalis, kependekkan buat Great.
"Pak, jangan seperti ini," tegur Lalis tapi Great tidak menghiraukannya.
Great malah membuat dirinya senyaman mungkin. Tapi mau bagaimanapun Great selalu nyaman apalagi bersender seperti ini ke Lalis. Lalis kontrol jantungmu!
"Aku orang seperti apa di matamu?" tanya Great.
"Anda memberikan kesan tidak baik untuk orang yang melihat tapi anda sangat baik dan tahu batasan dengan orang lain," jawab Lalis.
Tangan Lalis ingin sekali mengelus rambut Great yang bersandar di pahanya. Tapi dirinya begitu canggung dan pemikir untuk melakukan hal yang bukan haknya.
"Begitu, ya?"
"Kayaknya."
Mereka terdiam sejenak. Great sejak tadi belum membuka matanya meskipun sambil bicara dengan Lalis.
"Pak, kenapa anda bisa menyukai saya dalam waktu yang singkat?"
Great membuka matanya lalu melepaskan senderannya di paha Lalis.
"Aku sudah menahan perasaan ini sudah 6 bulan jauh sebelum kau datang ke perusahaan TL."
Lalis bergerak mendudukkan tubuhnya di samling Great. Jadi mereka sama-sama duduk di atas rerumputan.
"Kita pernah bertemu?" tanya Lalis.
"Lain kali aku cerita."
Lalis hanya bisa menahan rasa penasarannya.
"Lupakan hal yang membuatmu stres. Sekarang mari jalani jalan hidip kita masing-masing," lanjut Great.
Mereka saling menatap sambil tersenyum. Lalis merasa terhibur dan aman karena Great malam ini. Entah kenapa akhir-akhir ini Lalis seperti membutuhkan sosok Great. Bahkan ia terus mencari Great ketika di waktu sendirian. Dan selalu gelisah jika Great tidak muncul.
Keduanya merasa saling aman sekarang. Great terus menatap ke srah bibir Lalis begitupun dengan Lalis.
Hingga tanpa sadar wajah mereka semakin dekat dan dekat. Great membelai rambut indah Lalis, namun saat mereka akan berciuman, Lalis keburu sadar lalu memalingkan tatapannya dari Great.
Lalis sadar bahwa yang barusan ia lakukan tidaklah wajar. Ia jadi emngingat Kent tapi hatinya berdegup kencang untuk Great.
Great kecewa dan sakit hati tapi ia masih bisa menerima dan menunggu Lalis.