
"Sudah terlambat. Aku sudah melakukannya."
^^^"Lalu? setelah itu apa yang kau lakukan?"^^^
"Aku takut, aku takut menunggunya membuka mata."
^^^"Kenapa kau melakukannya jika takut kalau dia tahu? Vinsca yang sekarang kenapa berbeda dengan yang dulu, hah?"^^^
"Aku menyesal karena tidak berpikir setelah melakukan hal itu. Aku mau menyembunyikan dan melupakan kejadian malam itu. Kent tidak akan sadar bahwa itu aku, aku yakin itu."
^^^"Di mana kau sekarang? pulanglah. Aku akan belikan tiket."^^^
"Tidak. Aku akan tetap di sini. Bagaimana dengan kakek?"
Great terdiam berpikir.
^^^"Harusnya aku yang tanya. Bagaimana respon kakek tentang perjodohanmu, dan Jey Gwart?"^^^
"Kakek memberiku waktu yang lama di sini. Ayah Kent, bukankah kakak yang menahannya?"
^^^"Iya. Agar dia tidak membuat keributan di sini."^^^
"Aku akan menelpon kakak lagi kalau butuh bantuan."
***
Beberapa bodyguard Kevin Joul melakukan penyamaran di sekitar rumah sakit pusat karena kedatangannya. Hanya satu bodyguard yang berjalan dengan Kevin Joul di belakangnya.
Kevin sudah melakukan janji dengan dokter juga pemilik rumah sakitnya langsung mengenai kedatangannya.
"Silahkan, Tuan. Pasien sudah dipindahkan ke ruang VIP. Dan tidak ada yang tahu keluarganya bahwa anda datang menjenguk," ujar direktur rumah sakit di sini.
Sampai akhirnya Kevin tiba di depan pintu ruang VIP rumah sakit. Ia menatap seseorang yang tengah berbaring menatap ke jendela melihat luasnya dunia luar.
Perlahan ia membuka pintu dan melangkah masuk.
Dia melirik kepada Kevin Joul. Ia seolah terkejut, kaget dan tidak pernah disangka. Tentu saja wanita paruh baya yang berbaring di sana tahu dan ingat siapa yang sekarang sedang berjalan menghampirinya.
"Sudah lama tidak bertemu, Lindora," ujar Kevin.
Mereka saling menatap. Mereka sama-sama sudah tua, sama sama berkeriput.
Mata Lindora mulai berkaca-kaca. "Kenapa, kenapa bisa tahu?"
"Kau mengenalku lebih baik, Lin."
"Jadi semua ini perbuatanmu?" tanya Lindora.
Kevin Joul mempunyai kekuasaan di tanah air. Tidak mungkin ia tidak bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Perusahaan besar, perhotelan, apartemen bahkan sampai pabrik-pabrik ia pemegang saham terbesar.
Apalagi kini anak-anaknya sudah tumbuh dewasa semua. Mereka semua sukses di bidang yang sudah Kevin Joul tentukan. Kecuali Great. Dia adalah putra bungsu paling ia banggakan sejak kecil. Tapi dia menyeleweng dari wewenangnya.
"Ya. Seperti yang kau lihat."
Mereka terdiam. Apalagi Lindora yang tidak bisa berkata apa-apa mengenai kedatangan Kevin Joul yang kini mengingatkan dirinya ke masa lalu. Masa lalu yang tidak ingin ia ingat apalagi kembali.
"Kau menghilang jauh lebih lama dari yang kukira," imbuh Kevin.
"Aku tidak bodoh lagi sekarang."
Lindora sudah muak. Menjadi yang kedua itu sakit. Sudah seharusnya ia tidak bodoh di masa lalu dengan terus menunggu dan bersembunyi.
"Bora Kirei,"
Lindora sontak menoleh lagi ke arah Kevin dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak? ia sudah menyangka bahwa Kevin sudah tahu semuanya.
"Ternyata kau memberikan nama itu kepada putri kita," lanjut Kevin.
"Dia putriku," timpalnya tidak terima.
"Dan aku ayahnya."
"Bukan. Dia hanya putriku."
"Aku sudah melakukan tes dna. Dan hasilnya 100 persen bahwa dia putriku."
Lindora menghela nafas. "Sudah cukup, Kevin Joul."
"Katakan! Dimana suamimu sekarang?"
Kevin Joul sendiri yang menghukumnya di masa lalu karena merebut Lindora yang sangat ia cintai dulu. Great bukan putra Lindora melainkan putra Kevin dan almarhum istri sahnya.
Kevin Joul terpaksa di jodohkan oleh kedua orang tuanya di masa muda. Keluarga konglomerat selalu memiliki bisnis lewat perjodohan agar bisa mempererat bisnis mereka.
Kevin menikahi wanita yang dijodohkan itu selagi dia sudah melamar Lindora tanpa sepengetahuan orang tuanya. Lindora dibuat percaya oleh Kevin sampai bertahun-tahun ia menjadi simpanan Kevin.
Lindora sudah cukup percaya sampai di titik lelahnya. Bertahun-tahun ia berhasil menyembunyikan hubungan mereka dari kedua orang tua mereka. Hingga Lindora hamil, tepatnya di usia kandungan 4 bulan, ia memilih untuk pergi tanpa meninggalkan jejak. Mungkin ia meninggalkan pesan lewat surat untuk Kevin.
Begitu marahnya dia sampai akhirnya ia menindas keluarga suami Lindora. Ia menyiksanya habis-habisan sampai terbunuh di rumahnya sendiri.
Pada saat itu anak perempuan datang di lawang pintu menyaksikan ayahnya yang sudah berlumuran darah. Kevin sangat marah melihat anak itu hingga ingin menghabisi bocah perempuan putri Lindora dari suami barunya.
"Apa pedulimu?"
"Katakan saja, Lindora. Jangan membuatku menunggu."
Lindora terdiam sejenak. Jika ia cerita, apa Kevin berhak tahu? tapi setidaknya dengan menjawab pertanyaan Kevin, ia bisa mempersingkat waktu.
"Kami cerai. Dan ya, Bora Kirei adalah anakmu dan nama itu sengaja kuberikan padanya," jawabnya.
Kevin Joul merasa bahwa Lindora masih menaruh hati padanya dengan memberikan nama itu. Padahal Lindora hanya ingin memberi tanda bahwa Bora Kirei tidak berhak menerima kasih sayang lebih melebihi Lalis dan Jemin.
"Jangan berpikir bahwa aku ingin mengingatmu dengan memberinya nama darimu. Aku hanya akan mengingat bahwa aku tidak akan memperlakukan Bora sama seperti dirimu."
"Apa yang kulakukan?"
Kevin sulit menebak ucapan Lindora.
"Tidak pernah mengingatnya," jawab singkat Lindora.
Kevin tidak terima. Bagaimanapun juga saat pertama kali Lindora meninggalkannya, yang dipikirannya adalah putrinya yang sudah direncakan Kevin untuk dijadikan ratu di istananya.
"Bagaimana kau bisa berpikir buruk seperti itu? kau tidak ingat betapa senangnya aku saat mendengar kau mengandung putriku. Bagaimana bisa, hah?"
"Sudah cukup, Kevin Joul," bentak Lindora. Setelah bentakan itu, ia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Aku sudah rela menjadi perawan tua karena menunggumu. Aku sudah muak melihatmu, pergilah! Aku tidak ingin sekalipun melihatmu lagi," imbuhnya dengan bentakan rendah.
Kevin Joul merasa bahwa dia yang seharusnya merasa muak. Tapi karena kedua orang tua Kevin, Lindora jadi menderita di masa lalu. Sudah cukup ia bahagia dengan ketiga anaknya. Dengan kedatangan Kevin Joul, ia merasa bahwa hidupnya tidak akan pernah damai lagi.
Sementara di sisi lain. Great sontak menuju rumah sakit pusat untuk menemui ayahnya. Barusaja Willie menelpon dan memberi kabar bahwa Kevin Joul beserta penyamaran anak buahnya di rumah sakit pusat. Willie kebetulan datang ke sana. Setelah melihat semuanya, ia langsung melaporkannya kepada Great.
Dalam 10 menit Great sampai dengan sopirnya. Ia turun dan menghampiri Willie di lobi rumah sakit. Dari awal langkahnya begitu terburu-buru.
Great tidak berprasangka bahwa ayahnya akan menemui ibu Lalis, ia hanya penasaran kenapa ayahnya ke rumah sakit dengan pengawalan ketat. Ayah baik-baik saja, di rumah sakit juga tidak ada orang yang ingin ia jenguk.
"Di mana papa?" tanya Great.
"Jangan gegabah. Anak buah kakek pasti sudah memberitahu kakek bahwa kita di sini," jawab Willie.
Willie terkadang kesal jika Great selalu terburu-buru seperti ini. Tapi ia sahabatnya, ia tahu bagaimana Great jika sedang penasaran, panik dan khawatir meski raut wajah Great selalu datar dalam keadaan dan kondisi apapun.
"Justru itu. Kita harus cepat mencari papa."
Willie mengangguk setuju. Mereka berjalan normal agar tidak terlihat curiga. Ke setiap sudut rumah sakit pun mereka belum menemukan Kevin. Hanya sisa ruang VIP di lantai 3.
Dan ya, Great dan Willie menemukan Kevin di sana. Terdapat 5 ruang VIP di lantai 3, dan Kevin berada di ruang VIP B. Great dan Willie masuk tanpa permisi. Yang mereka lihat cuma dokter yang sedang memeriksa tekanan darah Kevin. Kevin terbaring di sana.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Kevin.
Willie dan Great terdiam. Beberapa pertanyaan mungkin sudah si otak mereka, akan tetapi Kevin tidak mungkin bodoh dan terjebak ucapan mereka.
"Kakek kenapa?" tanya Willie.
"Kau melihatnya sendiri. Tekanan darah papa tinggi," jawab Kevin santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Great kembali ke luar tanpa bicara apapun. Ia masih berpikir bahwa tidak mungkin ayahnya cek kesehatan ke rumah sakit. Biasanya ia akan memanggil dokter jika tubuhnya kambuh lagi.
"Kenapa tiba-tiba? apa kakek sudah lama selalu cek kesehatan ke rumah sakit? bukankah kakek punya dokter pribadi?" tanya Willie.
"Kakek liburkan. Kakek ke sini hanya sedang bosan di rumah."
Jawaban ini bisa saja membuat Willie setuju. Tapi anehnya, kenapa baru sekarang? dan tidak mengatakannya pada Great jika terjadi apa-apa.
"Kau sendiri sedang apa di rumah sakit?" imbuh Kevin bertanya.
"Tidak ada. Hanya menjenguk teman saja."
Alasan tidak masuk akal ini diketahui Kevin. Jelas dari raut wajah Willie, meskipun terlihat datar tapi Kevin adalah Kevin. Ia selalu tahu bagaimana anak dan cucunya.
"Great menunggu di luar. Saya pamit."
Willie membungkuk, lalu pergi dari ruangan ini menyusul Great yang sudah pergi entah ke mana.
"Sembunyikan riwayat hidup serta identitas Lindora. Jangan sampai ada yang tahu bahwa Lindora di rawat di rumah sakit ini."
"Tapi Tuan Great mengetahuinya. Dia sering berkunjung dengan pacarnya," jawab dokter.
"Sejak kapan?"
Sebenarnya Kevin kaget dan kecewa serta marah. Ia sangat sibuk dengan Bora Kirei sampai ia tidak tahu bagaimana aktifitas Great di luar. Ya, Kevin melupakan hal lain, seharusnya ia mendapat laporan mengenai kegiatan Great di luar. Ia baru sadar, selama Bora Kirei di tahan di rumahnya, ia sama sekali tidak tertarik hal lain kecuali Bora.