Your Name

Your Name
Hilang harapan



Begitu lega hati Lalis saat pihak polisi mau menyelidiki kasus hilang kakaknya lagi. Dan ya, mereka akan dibantu detektif lalu pencarian kakaknya akan terus berlanjut.


Setelah semuanya selesai ia kembali ke kantor menggunakan kendaraan motor miliknya. Hanya itu kendaraan yang ia punya satu-satunya.


Great ternyata menunggu Lalis di lobi. Lalis enggan untuk bercerita mengenai hal ini.


"Mari bicara di ruanganku," ucap Great.


Great berjalan dahulu, tapi Lalis menghentikan langkahnya. Orang yang kebetulan berada di sana menatap ke arah Lalis dan Great. Dugaan Lalis mereka tengah mencurigai Lalis dan Great. Mengingat mereka sudah pacaran, tentu rasa gelisah dan tertekan pasti ada.


"Tidak, Pak. Saya harus menyelesaikan laporan terlebih dahulu," jawab Lalis.


Great tidak tinggal diam. Ia menelpon Joy. "Temui Bu Saka, bilang Lalis ada kerjaan lain denganku," titahnya.


Sesibuk apapun Joy, jika nada menekan dari Great seperti ini, ia harus menunda pekerjaannya lalu melaksanakan perintah Great.


Padahal Joy sedang bersama Tall di ruangan baru. Terpaksa ia harus mengesampingkan Tall dulu.


"Sudah bisa. Ayo," ucap Great kepada Lalis.


Tidak lagi heran dengan tingkah Great yang seperti itu di mata Lalis.


Akhirnya tibalah mereka di ruangan Great. Great memberi isyarat kepada Lalis untuk duduk di sebelahnya.


"Ceritakan, Sayang."


Lalis terdiam sejenak.


"Kamu sangat penasaran ya hingga mengganggu jam kerjaku," jawab Lalis.


Great mengecup bibir Lalis sejenak. Lalu memeluknya dengan erat. Sumpah mati Great tidak ingin jauh-jauh dari Lalis meskipun sedetik. Ia begitu menyukai Lalis dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah berdua seperti ini, ia benar-benar tidak ingin berhenti apalagi diganggu.


"Aku teramat sangat mencintaimu, jangan pergi ya. Aku tidak yakin bisa sehat jika kamu meninggalkanku," ucap Great dalam pelukan Lalis.


Lalis membalas pelukannya. "Maka buat aku sangat mencintaimu melebihi cintamu padaku."


Ucapan itu lagi. Dua kali sudah Lalis menyebutnya.


"Kau mungkin tidak bisa melebihinya, karena cintaku padamu tidak bisa terbilang, bahkan lebih luas dari dunia ini."


Lalis melepaskan pelukan Great. Melihat raut wajah Great, Lalis menahan tawa. Raut wajah cemberut Great terlihat seperti anak di bawah umur. Ternyata Lalis bisa ya menaklukan kulkas berjalan. Dan yang terpenting adalah Lalis bisa membuatnya hidup kembali.


"Kau sangat cantik astaga."


Bukan Lalis yang cantik, tapi Great yang mengistimewakan Lalis, membuat Lalis terlihat cantik, menyempurnakan Lalis.


"Katakan tadi mau apa ke kantor polisi?" tanya Great.


Bukannya tidak ingin menjawab. Kali ini diamnya Lalis sedang memikirkan bagaimana ia memulai percakapannya. Dengan berani ia berkata, dalam hatinya ia merasa sangat tidak enak terhadap Great. Bukannya ia tidak mempercayai kemampuan Great dalam pencarian kakaknya.


"Aku meminta bantuan polisi untuk mencari kakakku. Dan- kasus kecelakaan itu, aku ingin melanjutkannya," jawab Lalis.


Ya. Great ingat. Bukankah ia akan membantu Lalis tapi justru ia menunda keinginan Lalis. Ia sangat takut karena kakaknya berada di kediaman ayahnya. Bagaimanapun ia harus menyembunyikan hal ini, ia takut jika Lalis akan marah dan kesal padanya apalagi sampai membencinya.


"Bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi ... aku tidak bisa menunggu lagi. Salah satu anggota keluargaku hilang tiada jejak, mana mungkin aku bisa tenang."


Great memeluk tubuh Lalis lagi.


"Maafkan aku. Aku sudah janji untuk membantumu, tapi-"


"Aku tidak menyalahkan mu, Sayang. Tolong jangan merasa bersalah. Aku sudah terlalu merepotkan kamu," Lalis memotong perkataan Great.


"Pasti berat, sudah dua bulan kakakmu belum ditemukan."


Alasannya karena sangat sulit jika sudah menghadapi ayah Great. Ia sangat tahu bagaimana Kevin Joul yang otoriter itu. Sekali bertindak, bom meledak.


***


"Kau yakin? kakek bisa saja melalukan apapun itu jika marah besar. Dia tidak akan melihat siapa yang memberontak terhadapnya," ujar Willie.


Kediaman Great sudah lama tidak dijadikan tempat istirahat Great. Ia membiarkan Willie tinggal sementara di kediamannya setelah urusan di tanah air selesai. Ruang kerja di kediamannya selalu menjadi tempat berpikir Great. Begitupun dengan Willie.


"Aku sudah menahannya bahkan menunggu papa pergi ke Jepang. Saat itulah aku bisa menemukan sedikit celah. Lebih baik saat papa tidak ada," jawab Great.


Willie menghampiri Great sambil membawa buku bersampul merah. Ia memberikannya kepada Great.


"Ini buku nenek yang kau ambil di kamar kediaman kakek, kan? coba lihat?"


Great mengambilnya. Ya ia ingat buku ini, buku milik ibunya bertahun-tahun lalu.


*Senja menanti bersama lagi? tidak. Sampai kapanpun hati dia tidak bisa bersamaku meski jiwa dan raganya di sampingku*


"Yang kau maksud tulisan ini?" tanya Great sambil memperlihatkan tulisan di halaman ke dua buku itu.


"Ya. Apa mungkin kakek ...?"


"Se ling kuh?"


Tiga hari kemudian.


Great mendapati kabar bahwa Kevin Joul pergi ke Jepang untuk beberapa hari. Kesibukannya tidak dikatakan oleh pesuruh Kevin Joul. Tapi ini yang diharapkan Great. Di tengah pekerjaannya, Great langsung menuju kediaman Joul bersama Willie keponakannya.


Setibanya di kediaman Joul, Great dan Willie disambut hangat oleh para penjaga, pelayan dan petugas lainnya di kediaman Joul.


Sang tangan kanan Kevin Joul menyambut di ruang tamu. Great maupun Willie heran kenapa asisten kepercayaan Kevin Joul tidak pergi bersamanya.


"Kau tidak ikut papa?" tanya Great.


"Tuan besar menugaskan saya untuk menjaga kediaman Joul. Tuan bilang bahwa anda dan tuan muda Willie akan datang. Saya tidak menyangka kalian akan datang cepat," jawabnya.


Great tidak menghiraukan pria hang berbicara kepadanya. Ia lebih memilih untuk pergi ke tempat lain.


"Kakek kenapa tiba-tiba pergi?" tanya Willie.


Great fokus dengan apa yang ia cari. Willie bilang wanita itu di ruang baca bawah tanah. Hingga tiba di sana mengapa semuanya kosong hanya ada buku bacaan di lemari. Tidak ada ranjang, tidak ada wanita itu. Great tidak meragukan Willie, tidak mungkin Willie berkata bohong.


Tiba-tiba HP Great berdering. Telpon dari ayahnya. Entah kebetulan atau apa, tapi kenapa Kevin Joul harus menelponnya sekarang. Great mengangkat telpon itu.


"Kau tidak bisa menemukan apa yang kau cari, Great Joul. Maka berhentilah bertingkah sebelum papa bertindak lebih jauh lagi."


Begitu kaget Great saat ayahnya berbicara seolah tahu apa yang direncanakan Great. Great tidak pernah menduga bahwa Kevin Joul akan sangat lihai dan gerak cepat dalam bertindak.


"Kau tahu sedang menyandera siapa, kan?" tanya Great.


"Kakak dari pacarmu, ya? karena pacarmu kau mencarinya," jawab Kevin Joul.


Great terdiam harus berbuat apa. Ia tidak berpikir apa yang akan dilakukan ayahnya selanjutnya padahal Kevin sudah memiliki rencana agar Great tidak akan pernah bisa main-main dengannya lagi.


"Pikirkan tindakan apa yang bisa membuatmu selamat, Great. Jangan menganggap remeh diamnya papa. Papa tidak sebaik itu untuk memberimu kesempatan."


Great sudah benar-benar muak. Ia menendang lemari buku dengan keras sambil berteriak frustasi. Ia memikirkan bagaimana ia menghadapi Lalis yang sedang berusaha mencari kakaknya sementara ayahnya sudah membawa wanita itu pergi entah ke mana. Percuma Great menanyakan hal yang tidak bisa dijawab oleh ayahnya.


HP Great kembali berbunyi. Kali ini skertaris Joy yang menelponnya. Di tengah kemarahannya Great mengangkat telpon itu.


"Pak, Lalis dari tim pemasaran terjatuh dari tangga. Seseorang melihat Lalis berjalan linglung di tangga hingga akhirnya terjatuh sendiri."