
Dua hari sudah berlalu. Great masih belum masuk kantor meski Joy membujuknya. Masalah yang harus ia hadapi sudah numpuk karena Great bergerak lamban. Lalis tidak tahu menahu tentang kantor karena Great selalu mengalihkan pembicaraan saat Lali bertanya mengenai kantor.
Ia juga tidak mengetahui rumor dirinya, Great berhasil menghapus video yang tersebar di platform kantor.
Lalis terus menatap betapa seriusnya Great saat fokus bekerja. Namun raut wajah Great membuat Lalis khawatir.
Tiba-tiba HP Great berdering. Nada yang membuat telinganya geram itu terdengar oleh Lalis. Great merogoh saku lalu mengangkat telepon dari skertaris Joy.
"Katakan, Joy!" titah Great.
^^^"Pemeriksa produk dari tim M Food, akan mengambil tindakan mengenai produk perusahaan yang terkena skandal. Jika perusahaan tidak segera mengklarifikasi maka tim M Food akan menyita dan meniadakan produk makanan dari merek perusahaan."^^^
Great menghela nafas. Tangannya mengurut kening, pening kepala. Bukannya ia tidak bertanggung jawab, solusi yang ia inginkan belum ada. Yang ingin Great rencanakan adalah meng-upgrade produk lama agar pembeli lebih terkesan. Tidak ia sangka skandal itu akan membuat pikirannya kacau. Yang paling penting adalah mencari pelaku. Entah yang meracuni produk makanannya atau pun pelaku penyebarnya.
"Jadwalkan konferensi fers untukku. Undang orang dari politik dan juga wakil rakyat," singkat Great.
^^^"Tapi, Pak. Dengan konferensi fers, kita belum ada bukti kuat untuk mengklaim bukan perusahaan yang meracuni makanan produksi pabrik kita,"^^^
"Lakukan saja perintahku!" Bukan membentak, hanya saja nada bicara Great terdengar tegas.
Sebelum menutup telepon, Great kembali berbicara, "aku akan ke kantor sepuluh menit lagi. Persiapkan briefing untuk seluruh karyawan kantor di aula."
Great menutup telpon. Ia yakin Joy pasti paham yang diinginkan Great.
Tatapannya ia alihkan ke Lalis yang terduduk di ranjang. Hanya sejenak. Ia memalingkan tatapan itu seolah Lalis membuatnya risih. Indra penglihat Great kembali ke pekerjaan di laptopnya.
Dari sudut matanya, Great melihat Lalis sedang turun dari ranjang secara perlahan. Lirikan mata Great lebih ke khawatir jika terjadi sesuatu dengan Lalis. Ia mengangkat kepalanya, menatap ke arah Lalis.
"Jangan banyak bergerak dulu," ucap Great kala melihat Lalis sambil membawa infus yang digantung menuju Great.
Lalis tidak menjawab apa-apa sementara Great memastikan Lalis baik-baik saja saat berjalan ke arahnya.
Lalis mendaratkan bokong di samping Great secara perlahan. Ia menatap wajah Great yang juga menatapnya.
"Perusahaanmu tidak baik-baik saja. Jangan terus berdiam diri dengan menemaniku. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk perusahaan," ujar Lalis.
Great paham. Tapi dimanapun yang ia pikirkan hanyalah Lalis. Bagaimana bisa ia melakukan hal sementara pikirannya terus khawatir dengan Lalis.
"Aku akan pergi ke kantor sekarang," jawab Great sembari menutup laptopnya lalu ia masukkan ke tas khusus laptop.
Melihat raut wajah dan sikap dingin Great membuat Lalis khawatir. Meski menolak ajakan menikah dari Great, Lalis bukannya tidak mau, tapi ia butuh waktu. Kalau harus jujur mungkin Lalis sedang menunggu kabar dari Kent. Bukan menanti untuk kembali kepada Kent, tapi kabar mengenai ia yang mengajak putus dengan Kent.
Great beranjak tanpa banyak basa-basi lagi. Mungkin ia sedikit kecewa.
"Aku bukan tidak mau menikah denganmu, hanya saja aku butuh waktu," tukas Lalis. Langkah Great terhenti.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya," jawab Great. Ia kembali melangkahkan kakinya, setelah membuka pintu sebelum melangkah ke luar, ia menoleh ke samping tanpa menatap Lalis.
"Jangan membuatku ragu, Lalis."
Langkah kakinya kembali bergerak maju. Dan tinggallah Lalis seorang di dalam. Di luar di depan pintu, Great terdiam dengan wajah serius.
Skertaris Joy menunggu Great di luar depan pintu masuk kantor. Ia menyambut dengan membungkuk hormat sejenak. Lalu mengikuti Great dari belakang.
"Semuanya sudah siap?" tanya Great dalam jalannya menuju aula pertemuan.
"Semuanya sudah hadir, Pak."
Great memasuki aula pertemuan yang sudah ditunggu karyawan di kantornya. Mereka bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan Great di pertemuan ini. Ada pula yang berbincang mengenai rumor yang beredar.
"Selamat sore semuanya," ucap Great sebagai salam pembuka di pidatonya.
Mereka serentak menjawab sapaan Great.
"Saya akan langsung ke intinya. Saya yakin kalian sudah tahu bagaimana kondisi perusahaan sekarang. Produk makanan yang baru telah diluncurkan dan terkena skandal tentang banyaknya orang keracunan setelah mengkonsumsinya. Kuharap kalian bekerja lebih keras lagi demi kemajuan perusahaan."
Semua karyawan mendengarkan. Omong kosong macam apa bekerja lebih keras lagi, itulah yang ada di pikiran sebagian karyawan. Mereka berpikir bahwa Great yang tidak bekerja dengan keras, selama berhari-hari kemana ia perginya. Dan kenapa ia terus bungkam dengan rumor tentangnya?
"Saya tidak berdiam diri. Sangat sulit mengungkap kebenaran sebelum pelaku pengedar belum tertangkap. Perusahaan sudah lapor ke pihak yang berwajib dan tim pemeriksa produksi."
"Kudengar tim M Food yang memeriksa setiap produk makanan yang diluncurkan setiap perusahaan akan mengambil tindakan tegas. Tapi bukankah mereka juga keliru dalam pemeriksaan. Produk kita sudah terlanjur di cap resmi bisa dikonsumsi," bisik seseorang yang terdengar samar di telinga Great ketika pembicaraannya dijeda.
"Pekerjaan akan tetap normal, perusahaan sedang mencari solusi terbaik, dan menangkap pelaku. Jangan terganggu dengan skandal. Pekerjaan yang sedang dikerjakan jangan dihentikan. Saya meminta skertaris Joy dan asisten Tall mengawasi kalian ... Ada yang ingin ditanyakan?"
Seseorang di tengah kerumunan karyawan mengangkat tangan. Great mempersilahkan pria yang ingin memberinya pertanyaan.
"Sebelumnya saya minta maaf. Mengenai rumor Bapak dan karyawan dari tim pemasaran, mengapa Bapak bungkam setelah video 50 detik itu beredar di platform perusahaan? dan- apakah karena Lalis, Bapak sudah satu minggu lebih tidak masuk kantor?"
Pertanyaan yang mewakili semua karyawan. Pria yang berani. Itulah yang digumamkan para karyawan.
Great terdiam dengan tatapan datar biasanya. Joy khawatir atasannya tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Ia segera angkat bicara untuk menutup pertemuan sore ini.
"Apa yang disampaikan Pak Direktur sudah selesai. Saya akan tutup dengan-"
Great memotong pembicaraan Joy, "Ya. Seperti yang kalian lihat. Bukankah tidak mungkin kami tidak memiliki hubungan. Rekaman video itu sudah menjawab pertanyaan kalian, kenapa masih bertanya," jawab badas Great.
Setelah klarifikasi, semua karyawan berbincang ramai, heboh yang membuat telinga Great ingin pecah.
Great terdiam sebelum melanjutkan ucapannya menunggu semua karyawan menutup mulut mereka.
"Kantor tidak melarang keras orang yang berhubungan atau komitmen. Dan ya, saya tidak masuk kantor karena menemaninya. Tapi bukan berarti saya diam tidak bekerja untuk perusahaan. Saya bekerja!"
"Tapi dengan menemaninya bukankah itu sesuatu yang berlebihan, Pak?" tanya kembali pria itu.
"Tanyakan kepada orang yang sedang pacaran. Seberapa khawatir mereka saat orang penting dalam hidupnya sedang berbaring di rumah sakit."
Mereka yang penasaran terdiam setelah pertanyaannya terjawab sudah. Kali ini banyak pujian dari mulut mereka. Mereka memuji betapa sejatinya Great ketika melindungi dan menemani Lalis. Sebagian para wanita jadi cemburu dengan Lalis karena memiliki Great yang sempurna, plus perhatian.
"Jika saya boleh memberi saran, sebaiknya jangan mengulik privasi orang lain hanya karena rasa penasaran kalian. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berhentilah menyebarkan rumor yang tidak bermanfaat seperti sebelumnya," lanjut Great.
Great terdiam beberapa detik lalu beranjak dari aula pertemuan. Kata penutup di akhiri oleh Skertaris Joy dan Tall, asisten baru Great yang bekerja sebagai pelengkap kerjaannya.