Your Name

Your Name
Ada apa dengan Jemin?



Sudah dua hari Jemin menunggu Ketty yang absen dari kelas. Semakin hari ia semakin geram dan khawatir padanya. Setiap kali dibuli, Ketty sama sekali tidak memberi perlawanan. Sudah ia tegaskan untuk jangan melemah di depan penjahat. Pengecut!


Di jam kosong kelasnya, Jemin meletakkan kepalanya di atas lengan yang diletakkan di bangku belajarnya. Matanya terpejam, dua hal yang ia pikirkan, yang pertama adalah keluarga, keduanya di rawat di rumah sakit yang sama. Kedua adalah Ketty yang belum masuk kelas. Entah ke mana dia.


"Katanya Glora dipanggil ke ruang individu ayahnya. Dia dipanggil pasti ulahnya diketahui ayah dia,"


"Apa mungkin ada hubungannya dengan Ketty. Dia kan sering ngebulinya akhir-akhir ini tanpa tahu tempat."


"Kudengar Ketty masih di rawat, ya? setelah ia ditemukan pingsan di belakang sekolah." Ucapan ini yang membuat tubuh Jemin sontak duduk tegak.


Mereka yang membincangkan antara Glora dan Ketty terdengar oleh Jemin. Matanya membelalak seolah khawatir, dan juga bagaimana Jemin tidak tahu soal itu? apa semua murid tahu? atau hanya dia saja yang tidak tahu?


Jemin berdiri, lalu menghampiri siswi yang membicarakan Ketty dan Glora.


"Barusan kalian bilang Ketty di rawat di rumah sakit?" tanya Jemin ke tiga orang siswi yang dihampirinya.


"Iya. Memangnya Jemin belum tahu? dia kan sudah dua hari di rawat," jawab salah satu siswi, temen kelas Jemin.


"Kenapa? kenapa tiba-tiba di rawat?" tanya Jemin.


"Katanya ditemukan pingsan di belakang. Tubuhnya penuh luka dan bibirnya penuh darah. Banyak yang bicara sih ini ada hubungannya dengan Glora karena suka ngebuli Ketty."


Jemin terhentak mendengar pernyataan ini. Mendengar Glora di panggil ayahnya selaku kepala sekolah, dan kejadian Ketty. Jemin curiga ini perbuatan Glora. Seketika ia mengingat ucapan Ketty, Ketty bilang bahwa ia dibuli karena ulah Jemin. Apa maksudnya?


"Dia di rumah sakit mana?" tanya Jemin.


"Ada yang bilang sih di klinik, ada yang bilang juga sudah dipindahkan ke rumah sakit pusat."


Jemin kembali terdiam. Sementara Glora sedang dinasihati habis-habisan oleh ayahnya yang bergelar kepala sekolah di sekolah ini. Perbuatan Glora membuatnya takut akan masa depan anaknya serta karirnya hancur karena nama baik ayah Glora hampir buruk di mata orang-orang.


Beruntung guru BK bisa diajak kompromi mengenai cctv yang memperlihatkan kejadian dua hari lalu. Glora bukan harus ditegur lagi, melainkan ia harus dihukum karena kasus ini sudah berlebihan. Apalagi marahnya Glora hanya karena satu laki-laki yang ia sukai.


"Berhentilah berulah!" bentak ayah Glora. Tubuh Glora seperti kain yang diserut. Ia ciut takut serta kaget begitu ayah yang tidak pernah membentaknya kini membentaknya.


Bukankah sudah seharusnya anak manja ini diperlakukan lebih tegas lagi mulai dari sekarang.


"Pa-paaaa," rengeknya. Mulutnya bergetar saking takut. Air mata Glora pun perlahan jatuh.


"Berhentilah bersikap manja, kau sudah cukup dewasa untuk tahu batasan!" pekik ayahnya lagi.


Isakan tangis Glora semakin kencang. Air mata ini sudah terlanjur membuat ayahnya muak. Bukan satu kali dua kali ia membiarkan hal ini terjadi.


"Datangi dia dan minta maaflah di depan para guru dan murid."


Glora menggeleng-gelengkan kepalanya. "No. I don't know, Pap."


"Patuhlah!" bentak ayahnya lagi.


Glora semakin sedih melihat perubahan ayahnya. Sebelumnya ia tidak pernah sekeras ini terhadap Glora. Ia tidak mau jika ayahnya bersikap seperti ini.


***


Kopi yang sedang Kenya tuangkan hampir penuh di gelasnya. Beruntung Jovi datang cepat sebelum kopi itu tumpah mengenai tangan mulus Kenya. Apalagi kopi itu sangat panas.


Sebelumnya Jovi melihat Kenya yang tengah melamun saat menuangkan kopi di mesin coffee maker kantor. Begitu tahu kopi itu hampir penuh, ia berlari dan menekan tombol off di mesin itu.


Kenya kaget hingga kopi di tangannya tumpah sedikit mengenai tangannya. Rasa panas ini lebih mending ketimbang terguyur dari mesin itu. Jovi terlihat khawatir, ia mengelus tumpahan kopi itu di tangan Kenya.


"Apa ini sakit?" tanya Jovi.


Kenya tertegun melihat kekhawatiran Jovi terhadapnya. Ia menarik pelan tangan dari tangan Jovi.


"Ini tidak sakit, kok."


Jovi mengalihkan penglihatannya hingga menatap wajah Kenya yang telah tersenyum manis kepadanya tanpa ia balas senyuman Kenya.


"Jangan melamun seperti tadi. Beruntung hanya menuangkan kopi, bagaimana kalau jalan lalu ada lubang di depan, kau bisa jatuh ke dalam lubang itu." ujar Jovi.


Kenya malah tertawa kecil mendengar ucapan Jovi.


"Kenapa tertawa?" tanya Jovi.


"Kau berlebihan sekali. Kupikir cowok kulkas kaya Jovi tidak pernah mempunyai rasa khawatir," jawab Kenya.


Jovi terdiam. Ia menduga alasan Kenya melamun pasti karena Great sudah mempublik hubungannya. Orang yang pertama kali Kenya sukai di kantor ini kenyataannya sudah dimiliki orang lain dan itu rekan kerja setim kenya sendiri.


"Kau masih suka Pak Great?" tanya Jovi.


"Masih. Tapi aku sudah tidak menginginkannya lagi ... eh ngomong-ngomong kita sudah berapa lama jadi rekan kerja?"


Jovi tahu Kenya sedang mengalihkan pembicaraan. Tidak masalah jika tidak berbicara banyak mengenai perasaan Kenya.


"Sudah satu tahun lebih. Kenya tetap jadi senior paling baik menurutku," jawab Jovi.


"Benarkah? ah, aku jadi salting."


Senang melihat Kenya tersenyum seperti ini. Jovi berharap bahwa Kenya menyukainya agar cinta Jovi tidak bertepuk sebelah tangan.


"Mau tidak makan malam denganku?" tanya Jovi.


Kenya tertegun, terdiam sejenak. Seketika membuat tawa canda.


"Kau mengajakku kencan, ya? serius begitu," jawab Kenya.


"Anggap saja begitu."


Kenya tidak pernah menyangka jika Jovi akan berbicara seperti itu. Apakah Kenya tidak terlalu percaya diri untuk menganggap ini serius?


***


Dokter sudah membolehkan Lalis pulang karena Lalis yang memaksa. Mengingat Lalis sudah lebih baik dari sebelumnya, dokter tidak menentang keinginan Lalis meskipun seharusnya Lalis harus di rumah sakit agar terpantau dokter.


Ia dan ibunya akan pulang ke apartemen lalu ke rumah kakaknya. Lindora akan tinggal sementara di rumah kakaknya. Ibu Lalis sangat terkejut saat memberi tahu kabar Bora Kirei. Lalis menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya hingga Lindora shok serta khawatir. Apalagi saat Lalis bilang bahwa Bora belum bisa ia temukan.


Kali ini bukan waktunya Lindora khawatir. Ia harus bergerak membantu Lalis mencari putri tunggalnya. Lalis sangat menyayangi Bora meskipun mereka tidak seayah.


"Setelah Bora bisa ditemukan, ibu baru akan kembali ke desa meskipun tanpa Jemin."


Mereka berbincang di tengah membereskan barang-barang. Lindora yang mengambil alih semuanya. Lalis hanya membantu mengemas barang ringan saja.


"Setelah tinggal lama di ibukota, apa kau tidak pernah punya pacar?" tanya Lindora.


Lalis enggan untuk menjawab karena tidak ingin berbohong. Tapi ia juga tidak ingin mengatakan semua yang pernah terjadi padanya tentang asmara.


"Tidak. Berhenti membicarakan itu, Bu. Aku tidak nyaman," jawab Lalis.


"Jangan seperti kakakmu, dia jadi perawan tua. Sampai sekarang pun ibu tidak tahu apakah dia punya pacar atau tidak."


"Itu kan kakak."


Lindora hanya bisa geleng-geleng kepala.


***


Setelah sampai di rumah sakit pusat, tepat di ruang rawat Ketty, ia terhenti di depan pintu. Ia melihat Ketty sedang memutar-mutar lengannya perlahan dari kaca pintu. Mungkin dinamakan peregangan sendi kali, ya?


Jemin semakin penasaran luka apa saja yang di berikan Glora pada Ketty sehingga Ketty harus di rawat.


Ketty tidak sadar kedatangan Jemin karena ia menatap jendela, melihat indahnya langit. Di lantai atas tempat ia dirawat, ia bisa melihat ke bawah, siapa saja yang datang dan melihat ke langit. Betapa indahnya langit berawan ini.


Jemin membuka pintu, Ketty mendengar suara dari arah pintu, lalu ia mengalihkan pandangannya. Terkejut yang ia rasakan pertama kali. Apa Jemin sedang menjenguknya atau ingin menertawakannya?


Dengan satu rangkai buah-buahan, Jemin menghampiri Ketty yang terduduk di ranjang sambil menatap langit dunia. Ia meletakkan keranjang buah-buahan di nakas.


"Apa- lukamu ... parah?" tanya Jemin.


Jemin bertanya karena melihat kondisi tubuh Ketty seolah tidak bisa tertolong. Kepala yang diperban, beberapa di wajahnya terlihat ada luka yang sudah kering, bibirnya kering. Bekas luka di tangan Ketty juga terlihat parah.


"Kau ... tidak suka aku jenguk?" tanya Jemin setelah melihat Ketty seolah tidak bersemangat dengan kedatangannya.


Ketty jadi berpikir. "Sepertinya dia benar-benar menjengukku?" batin Ketty.


Ketty mengangkat perlahan kakinya ke ranjang, lalu menoleh ke arah Jemin. Kaget Jemin, sekitar mata kaki Ketty diberi gips. Sekejam itu Glora terhadapnya?


"Kenapa mau menjengukku?" tanya Ketty.


"Aku ..." Jemin terdiam.


"Aku khawatir. Tapi kenapa aku tidak sanggup mengatakannya," batin Jemin yang melanjutkan.


Sejak kapan Jemin peduli terhadap Ketty. Mungkin karena ia jadi korban buli di depan matanya serta geram ketika tidak ada perlawanan dari Ketty.