Your Name

Your Name
Masalah bertambah



Kedatangan Lalis dan Great menjadi perbincangan karyawan karena mereka datang bersama. Karena kediaman Great ke perusahaan terbilang lumayan jauh, Great berangkat membawa mobil dan Lalis sebagai pendamping.


Lama-lama Lalis risih. Meskipun Great bilang tidak akan terjadi apa-apa tapi Lalis merasa canggung. Ia merasa tersudutkan di perusahaan ini. Belum lagi dia belum lama bekerja di TL Income.


Great menyadari Lalis merasa tertekan, ia menggenggam tangan Lalis dan memberi isyarat untuk tetap percaya diri.


Sampai mereka berpisah, Lalis masuk ke ruang timnya dan Great masuk ke ruangannya sebagai direktur.


Rekan kerja Lalis bungkam mengenai rumor dirinya. Mereka bersikap biasa saja saat Lalis mulai masuk kerja.


"Selamat bekerja kembali, Lalis. Maaf kami tidak bisa jenguk selama kamu dirawat," ujar Bu Saka saat Lalis duduk di meja kerjanya.


"Iya. Kami tidak memiliki waktu libur saat kamu dirawat, Lalis," sahut Veronika. Selia hanya tersenyum canggung, ia sedikit merasa tidak suka. Sejak Lalis sakit, ia terus diteter pekerjaan yang seharusnya bukan ia yang mengerjakan.


Jovi tidak menghiraukan kehadiran Lalis. Sementara Kenya tidak mau mengalihkan tatapannya, ia merasa bersalah padahal Lalis terjatuh bukan salah dirinya.


Perlahan Lalis percaya diri lagi setelah Bu Saka dan Veronika menyambut dengan kehangatan. Ia melihat Kenya, Jovi dan Selia. Meskipun tidak ada respon, ia tidak berpikiran negatif untuk mereka.


"Tidak masalah. Terimakasih sudah menyambut. Karena sudah membantu pekerjaan saya, nanti makan siang, saya yang akan traktir," jawab Lalis.


"Aaah, akhirnya aku bisa pulang lebih awal lagi." Barusan Jovi yang berkata, ini bukan perkataan yang enak di hati Lalis. Jovi sengaja menyindir atau menyinggung Lalis.


Lalis terdiam, mulutnya akan berucap namun terasa kaku. Tidak ada salahnya yang dikatakan Jovi. Karena ketidakhadirannya, rekan kerja Lalis jadi kerepotan.


"Lalis," panggil Bu Saka. Lalis menoleh.


"Baca kembali file yang dikerjakan kami kemarin, dan lanjutkan," titah Bu Saka.


"Baik."


Sampai akhirnya mereka kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing.


Sementara Great sedang dalam masalah. Begitu sampai di ruangannya, ia menerima kabar buruk dari Joy. Berkas-berkas informasi dan konsep yang akan dijalankan perusahaan hilang. Berkas itu merupakan hal paling penting bagi perusahaan.


Mengenai tindak lanjut dan target perkembangan perusahaan ada dalam berkas itu. Joy tengah mencarinya. Sejak beberapa hari lalu Joy sudah curiga di lemari tempat penyimpanan berkas penting itu semakin kendur. Awalnya berkas-berkas yang berdiri tegap padat itu kini sudah kendur satu per satu.


Joy mana mungkin berani menyentuh barang yang bukan haknya. Bukankah sebelumnya apapun berkas yang disimpan di lemari itu aman, kenapa sekarang tidak?


"Tim keamanan sudah mengecek cctv. Tidak ada yang masuk selama satu minggu ini. Kecuali saya dan Tall."


Pikiran Great tertuju pada Tall. Begitupun dengan Joy. Mereka saling menatap seolah pikiran mereka mengatakan hal yang sama.


"Tall sedang perjalanan menuju pabrik produksi untuk memeriksa produk," ujar Joy.


"Panggil segera!"


"Tidak mungkin, Pak. Dia sudah setengah perjalanan. Tall akan memeriksa pabrik di kota timur. Perlu memakan waktu untuk kembali ke sini," jawab Joy.


Great mendecak kasar. Kegusarannya terlihat ketika ia tidak bisa diam dan raut wajahnya sangat mengkhawatirkan.


"Apa kau yakin mereka memeriksa cctv dengan baik?" tanya Great merasa ragu.


"Ya. Mereka sudah memeriksanya."


Great terdiam berpikir. Bagaimana bisa?


Beberapa menit kemudian suara bel mengganggu pikiran Great. Joy segera membuka pintu kantor Great.


Ternyata salah satu dari tim keamanan yang memeriksa cctv sebelum Great datang ke kantor. Padahal Great datang ke kantor pagi, tapi Joy sudah sempat bekerja lebih dulu daripada Great.


Segesit apa Skertaris Joy?


"Ada yang ingin saya sampaikan," ujar pria paruh baya memakai seragam tim keamanan dengan topi dan kumis di wajahnya.


Joy menoleh ke belakang dimana Great tengah terduduk di meja kerjanya sambil melihat ke arahnya. Ia belum menerima isyarat agar pria dari tim keamanan ini dibolehkan masuk.


"Apa ada yang janggal?" tanya Joy.


"Cctv akan terus aktif, kan. Kecuali sore di ruang pak direktur selama pak direktur masih di ruangannya. Selama satu minggu pak direktur tidak datang ke kantor entah kenapa cctv di ruangan ini tidak aktif. Itu yang saya temukan,"


Great mendengar hal ini. Ya jelas. Ia yang meminta menonaktifkan cctv di ruangannya setiap sore hari hanya saat ada Great di ruangan itu. Tapi kan seminggu akhir ini Great tidak ada di kantor, ia menemani Lalis di rumah sakit. Hal ini memang janggal.


"Masuklah! Katakan di dalam!" titah Great.


Dia berdiri tidak jauh dari Great setelah membungkukkan badanya kepada Great.


"Seperti yang Anda minta. Saya akan langsung menyalakan cctv saat Anda tidak ada di ruangan dan akan saya nonaktifkan cctv ketika di sore hari kalau ada Bapak di ruangan. Namun selama satu minggu Anda tidak ada di ruangan, cctv kami tidak aktif. Saya tidak akan terlambat dengan tugas saya, Pak. Dan saya yakin hari itu saya mengaktifkan cctv di ruangan Bapak."


Great menahan dagu dengan kedua tangannya. Ia berpikir. Ya, ia mengerti petugas keamanan di sini tidak mungkin terlambat. Ia tahu betul bagaimana kinerja petugas keamanan yang dikirim ayahnya.


"Saya tidak pernah meninggalkan ruangan pribadi saya untuk jaga privasi. Kecuali saat saya dikagetkan dengan karyawan yang ingin bicara penting dengan saya. Hari itu sekitar ... tepat sebelum pukul enam petang dia meminta saya untuk keluar sebentar karena ada beberapa karyawan yang ribut di depan ruangan saya. Karena saya merasa salah satu anggota petugas keamanan, saya terpaksa ke luar setelah berpikir dua kali. Mungkin hari itu ... saya curiga dengan karyawan itu."


"Siapa karyawan yang kau maksud?" tanya Great setelah mencerna pembicaraannya.


Dia ingat. Kenapa dia baru ingat bahwa karyawan itu tidak memakai nametag di lehernya. Biasanya setiap karyawan diharuskan menggantungkan identitas mereka di lehernya.


"Dia ... ah, sepertinya dugaan saya benar dengan karyawan itu. Dia tidak memakai nametag, kemungkinan dia sudah merencanakannya."


Ya, Great mengerti.


"Kembali dan cari karyawan yang kau maksud itu. Laporkan padaku jika kau menemukan atau tidaknya karyawan itu. Kuharap kabar baik yang kau katakan nanti," ujar Great.


"Baik, Pak."


Pria itu membungkuk, lalu kembali menjalankan tugasnya serta mencari apa yang diinginkan Great.


Skertaris Joy mendekat.


"Apa perlu saya turun tangan, Pak?" Joy memberi tawaran bantuannya.


"Aku akan menunggu dia. Kau harus bersiap-siap jika tim petugas keamanan tidak menemukannya," jawab Great.


Joy mengangguk. Ia kembali ke meja kerjanya yang lumayan jauh dari meja kerja Great.


Great menghela nafas seolah lelah. Pikirannya dibantai tanpa henti-henti. Rumor kali ini sudah membaik, setelah rapat dengan pemegang saham juga sudah lancar. Mereka sudah siap membantu nanti di konferensi fers Great.


Informasi konferensi fers ini sampai ke telinga Kevin Joul. Sedalam apapun Great menyembunyikan sesuatu, Kevin Joul akan sangat mudah menemukannya. Tapi Great tidak menyembunyikan hal ini, ia tidak peduli ayahnya mengetahui atau tidak.


Great hanya perlu melakukan apa yang menurutnya benar. Dan dia percaya diri dengan itu.


Satu minggu lagi kepulangan Kevin Joul setelah itu ia akan berangkat ke Eropa menengok Bora di rumah sakit terbaik di sana. Ini suatu permintaan dari Lindora, tidak masalah jika Lindora tahu. Lagian Lindora bukan ancaman baginya.


"Jika ada jadwal minggu depan, tunda dulu. Beritahu Po untuk memantau Lindora," ucap Kevin kepada bodyguard nya.


Kevin sudah bisa menikmati masa santai di usia tuanya meskipun ada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan. Pekerjaannya tidak sepadat anak-anaknya. Bagaimana mungkin ia harus repot-repot bekerja sedangkan ia adalah bos dari beberapa perusahaan. Bukan tanpa alasan putra-putranya berpencar di berbagai negara karena pekerjaan mereka. Yang memiliki perusahaannya tentu Kevin, anak-anaknya hanya menjalankan perusahaan sebagai direktur.


Sudah tujuh turunan. Jadi tidak mungkin keluarga Joul akan bangkrut. Semua produk atau merek-nya sudah ternama, dikenal seluruh dunia.


"Kapan Great melakukan konferensi fers?" tanya Kevin Joul.


"Po mengatakan tiga hari lagi."


Kevin mendesis, meremehkan ide Great. Ide ini sungguh buruk dan naif di mata Kevin. Putra bungsunya sangat lemah dengan dunia bisnis, tapi ia cukup cekatan dan mudah mengerti. Itu yang membuat Kevin menghalangi mimpi Great selama ini.


"Dia begitu bodoh."


"Haruskah saya memberitahu Po agar mencegah Tuan Muda?"


"Biar saja. Aku akan melihat sejauh mana dia bertindak mengenai skandal itu,"


Bodyguard Kevin menunduk lalu kembali ke luar setelah urusannya dengan Kevin selesai.


Kevin tersenyum picik. Tidak ada yang ia anggap serius kali ini dalam tindakan Great. Dari respon lambat Great terhadap skandal produk, tidak masuk kantor dan membiarkan kantor heboh dengan rumornya, lalu nama baiknya mulai kotor di mata masyarakat dan karyawan. Semua yang dilakukan Great membuat Kevin perlahan hilang respect.


"Sudah senja, setiap hari-harinya begitu cepat," gumam Kevin.


Bodyguard yang tadi ke luar dari ruang kerjanya, kini kembali lagi dengan informasi penting.


"Tuan muda Great mengalami kecelakaan tadi siang, dia didiagnosis memakai obat-obatan. Kini ia sudah di rumah sakit pusat?"


Kevin Joul sontak berdiri karena kaget mendengar kabar buruk dari putra bungsu kesayangannya.


"Apa?"