
"Kondisinya lumayan. Tidak ada pendarahan otak, kepalanya baik-baik saja. Benturan di kakinya lebih parah. Kemungkinan untuk sementara, pasien tidak bisa berjalan normal."
Ketegangan Lalis sudah meronta-ronta sejak dokter memanggil anggota keluarga Great. Ia angkat tangan sebagai wakil Great meskipun bukan anggota keluarganya.
Air mata Lalis perlahan turun, sontak ia mengusapnya. Kesedihannya karena ia merasa kasian melihat kekasihnya berbaring tidak berdaya. Beruntung tidak mengalami keparahan yang parah. Meskipun begitu, Lalis tetap khawatir.
"Mengenai obat-obatan, sepertinya pasien baru pertama kali mengonsumsi obat-obatan terlarang," imbuh dokter sekaligus menjadi pertanyaan.
Sontak Lalis menjawab, "tidak. Dia tidak pernah dan tidak akan mengonsumsi obat seperti itu."
Dokter terdiam dan paham yang dikatakan Lalis. Untuk lebih enak, dokter menyudahi pembahasan kondisi Great yang menjadi pasiennya. Karena sudah di pindahkan ke ruang rawat, Lalis bisa menjaganya.
"Baiklah. Anda boleh ke luar," ujar dokter.
Lalis bangkit dan beranjak pergi setelah membungkukkan badannya. Setelah tepat di luar ruangan konseling dokter, HP-nya berdering. Tertera nama Jemin adiknya di sana.
"Ada apa, Jem? kenapa sudah larut belum tidur?" ucapnya setelah terisak sejenak.
Isakan itu terdengar sekilas oleh Jemin, ia sedikit khawatir tentang kakaknya. Apalagi malam sudah mulai berganti menjadi dini hari, mana mungkin adiknya tenang.
^^^"Kakak tidak akan pulang? ibu mengkhawatirkanmu," jawab Jemin.^^^
"Apa kau tahu, Jem?"
Jem terdengar menghela nafas.
^^^"Berita sudah tersebar di mana-mana. Apalagi Pak Great orang paling berpengaruh di tanah air, mana mungkin semua orang tidak mendengar kabar ini setelah diberitakan," jawab Jemin.^^^
Lalis pasrah. Ia hanya ingin Great cepat sadar dan bicara lagi dengannya.
"Ibu tidak tahu kalau kakak dan Pak Great menjalin hubungan. Kau paham maksud kakak, kan?"
Siapa sangka Lalis ingin menyembunyikan hubungannya dengan Great. Syukurlah kalau Jemin bisa diajak kerja sama olehnya.
^^^"Apa perlu aku ke rumah sakit sekarang?"^^^
Rasa khawatir Jemin kepada Lalis itu benar. Meksipun kerap tidak akur, Jemin sangat menyayangi kakaknya.
"Tidak usah. Tidurlah! besok jangan sampai kesiangan masuk sekolah," jawab Lalis.
Lalis menutup telponnya. Ia kembali menuju ruang rawat Great yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Lalis duduk tepat di samping Great terbaring. Tatapannya tidak bisa bohong, ia sangat cemas dan khawatir. Sejak kepergian Joy, ia sendiri di rumah sakit. Willie sempat datang namun ia pergi lagi ke luar menyelidiki kejadian yang menurutnya janggal.
Kepala Lalis terasa pusing, mungkin efek baru sembuh. Akhirnya Lalis tidak sadarkan diri, kepalanya meletak di atas ranjang, tubuhnya terduduk. Tangannya menggenggam tangan Great yang diberi infus.
Sementara ayah Great baru memulai penerbangan menuju tanah air. Seharusnya ia datang lebih awal, tetapi karena cuaca terlihat buruk, sang pilot memberi saran untuk menunda penerbangan.
Setelah berita itu masuk ke telinga Kevin, sontak ia memberi perintah kepada beberapa anak buah yang dibawanya untuk mempersiapkan kepulangannya ke tanah air. Sejak saat diberi tahu bahwa cuaca buruk, ia sangat gusar dan mengkhawatirkan putra kesayangannya.
Beruntung Po berhasil menenangkan Kevin dengan memberi perawatan terbaik dan dokter terbaik untuk Great. Serta Po mengiming-imingi akan menyelidiki kejadian kecelakaan Great di siang bolong seperti itu.
Bukan hanya kecelakaan saja yang Po tahu, ia juga tahu apa yang dialami perusahaan. Hilangnya berkas informasi perusahaan, kebakaran gudang di pabrik A, serta skandal produk.
Sejak awal Po ditugaskan untuk memantau Great. Mungkin sudah lama, setelah Great melakukan percobaan bunuh diri di jembatan sekitar satu tahun lalu.
Kabar ini membuat Kevin membiarkan Great. Ia tidak lagi membuat jadwal dan melarang banyak hal untuk Great lagi. Dan ia juga yang mengarahkan Lalis untuk masuk ke perusahaannya. Di saat semua perusahaan menolaknya karena JT Nether melakukan tindakan licik untuk Lalis, TL Income membawa Lalis atas dasar keinginan Kevin tanpa sepengetahuan Great.
"Tuan, ada telpon dari Po," ucap salah satu anak buah Kevin sembari menyodorkan ponselnya.
Kevin segera mengambil ponsel itu, mengharapkan kabar baik datang dari mulut Po di waktu dini hari ini, di atas udara dinginnya pagi hari.
^^^"Maaf karena menelpon lewat orang lain. Apa ponsel Tuan mati? saya tidak bisa menghubungi Anda," ucap Po.^^^
"Katakan saja apa ada kabar baik?" tanya Kevin tidak sabar.
^^^"Kami menemukan boneka-boneka bodoh. Mereka tidak ingin memberitahu siapa bosnya. Kami telah mengurung mereka di ruang interogasi. Saya harus apa dengan mereka?" jawab Po.^^^
"Buat dia bicara siapa dalang dibalik kejadian ini!"
^^^"Mereka sudah kami gantung, Tuan. Saya akan membuatnya bicara,"^^^
^^^"Wartawan sudah kami urus. Kami mencurigai kejadian ini karena para wartawan yang seolah sudah bersiap-siap. Mengenai tuan muda, seperti yang dokter katakan, hanya di bagian kaki yang terluka parah. Selebihnya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."^^^
Kevin Joul menghela nafas lega namun tetap mengkhawatirkannya. Ia sudah tidak mau bicara lagi, yang ia mau hanyalah semuanya sudah terbukti, semua pelaku sudah jelas. Intinya ia ingin terima beres dari tangan Po.
Ia menutup telpon lalu memberikan ponsel milik anak buahnya itu.
"Masih berapa lama lagi sampe?" tanya Kevin.
"Sekitar lima jam lagi," jawab anak buah sebelum pergi meninggalkan Kevin sendirian.
Kesabarannya setipis tisu. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali bersabar.
Hari mulai terang, sunrise di pagi hari sangat indah untuk dilihat apalagi berdua bersama pasangan.
Great terlihat ingin sadarkan dari. Terbukti dari tangan yang digenggam Lalis bergerak perlahan. Perlahan kesadarannya pulih sepenuhnya. Kepalanya terasa berat antara sakit dan perban yang beberapa lapis melilit kepalanya.
Merasa tangannya digenggam, ia menolehkan tatapannya. Sudah jelas ia tahu siapa wanita itu. Wanita yang ia prioritaskan di atas segalanya, siapa lagi kalau bukan Lalis.
Great ingin bicara tapi mulutnya seolah kaku. Tangannya menggenggam erat tangan Lalis. Tangan satu lagi dengan perlahan bergerak menyentuh surai rambut Lalis yang terurai berantakan.
Great tidak tahu bahwa Lalis pingsan sejak malam. Tapi sekarang Lalis bisa merasakan sesuatu menyentuh hangat dirinya. Perlahan mata yang terpejam itu terbuka hingga menyadari bahwa Great sudah sadar karena tangannya bergerak di kepala Lalis.
Sontak ia menolehkan tatapannya.
Tanpa bicara apapun ia segera memencet bel panggilan untuk dokter.
Raut wajah Lalis mulai berbinar gembira. Tidak butuh waktu lama untuk Great tersadar dari tidur lamanya.
"Syukurlah. Greatku sudah sadar," ujar Lalis.
Great tersenyum tanpa mengeluarkan kalimat untuk menjawabnya.
"Asal kau tahu aku sangat mengkhawatirkan mu. Aku tambah sakit jika melihatmu seperti ini," imbuh Lalis.
Tidak lama dokter datang untuk memeriksa Great. Pagi hari seperti ini cocok untuk kabar gembira. Hal pertama yang dilakukan dokter adalah mengecek tekanan darah lalu seluruh tubuh Great.
Tekanan darah kurang dan tubuhnya sangat lemah hingga bicara banyak akan membuat Great lelah. Hanya bicara saja.
"Dengan sadarnya Pak Great sudah lebih baik. Diluar dugaan pasien akan sadar secepat ini, biasanya orang yang kecelakaan akan lupa caranya sadar dalam beberapa hari," ucap dokter setelah memeriksa tubuh Great.
Kevin Joul akan tidak khawatir lagi kala datang ke rumah sakit, putranya sudah sadarkan diri. Pagi ini pesawat pribadi yang ia tumpangi mendarat di bandara pusat. Ia bergegas menuju rumah sakit pusat untuk menemui Great. Dalam satu jam perjalanan akhirnya Kevin tiba di rumah sakit.
Bukan hanya Kevin yang akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Great, Jemin juga tengah dalam perjalanan untuk menemui kakaknya memastikan Lalis baik-baik saja setelah menjaga Great semalaman.
"Sebelah sini, Tuan," ucap direktur rumah sakit yang tengah menuntun Kevin Joul menuju ruang rawat Great.
Hingga akhirnya Kevin sampai di depan ruang rawat. Dengan cepat ia membuka pintu, terlihat sepasang kekasih di dalam. Great yang tengah asik berkomunikasi dengan Lalis. Terlihat gembira tanpa beban meskipun dirinya sedang terbaring sakit parah.
Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua yang menatap kedatangan Kevin Joul.
"Lalis, terimakasih sudah menjaganya," ujar Kevin yang mengutamakan Lalis terlebih dahulu.
Perban yang melilit kepala Great membuat Kevin khawatir. Kenyataannya itu hanya luka goresan kecil. Beberapa luka kecil juga melukai wajah tampan Great.
Lalis menundukkan kepala kepada Kevin. "Sudah seharusnya, Tuan," jawab Lalis.
Bukannya menanyakan kondisi Great kepada Lalis, Kevin justru bungkam. Setelah melihat putranya lumayan baik-baik saja, itu sudah membuatnya lega.
"Great kesusahan untuk bicara. Dokter bilang ini hanya sementara," ucap Lalis.
Kevin terdiam lalu menatap lekat Great. Lalu kembali mengalihkan tatapannya ke Lalis.
"Sepertinya Great sangat membutuhkanmu di sisinya. Menikahlah dengan putraku! aku mewakilinya untuk melamarmu," ucap Kevin secara tiba-tiba.
Ini membuat Lalis terkejut karena tiba-tiba. Ia tertegun. Kedua kalinya ia dihadapkan dengan keinginan seperti ini. Lalis bukannya tidak mau, banyak hal yang harus ia urus sebelum menikah dengan Great.
Belum lagi ibunya tidak tahu hubungan mereka dan pencarian kakaknya juga terus terhambat. Hal yang ingin ia lakukan adalah mencari-cari waktu untuk memilih dengan mantap.