
Baru keluar dari kamar, Lalis mendapati Great baru saja keluar dari kamarnya. Pakaian tidak formal, hanya memakai kaos dan celana pendek. Lalis tahu betul jika Great hanya memakai pakaian santai, ia akan pergi ke kamarnya.
"Kau mau kemana, Lalis?"
"Ah itu, stok makanan di kulkas sudah habis dan sayuran juga. Saya harus belanja bulanan.
"Tunggu sebentar, Lalis."
Great kembali masuk kamarnya. Selang beberapa menit Great keluar dengan topi dan jaket hitam.
"Apa aku perlu memakai masker?" tanya Great.
Lalis paham apa yang ingin dilakukan Great. Ikut dengannya berbelanja. Ia memakai setelan begitu karena takut ada orang kantor di luar. Apalagi apartemen mereka dekat dengan kantor.
Harus jawab apa Lalis selain mengizinkan Great ikut belanja dengannya ke swalayan.
"Pakai saja. Jika ada orang kantor bisa gawat," jawab Lalis.
Dengan patuh Great memakainya. Masker hitam andalan Great jika ia tidak ingin dikenali orang di luar.
Alis Lalis mengernyit saat melihat tatapan Great memakai masker itu. Ia mendekati Great sampai tepat dekat berada di hadapan Great. Lalis mendongak karena perbedaan tinggi mereka. Ia seolah memgamati wajah Great. Dari tinggi dan cara berpakaian Great kenapa terasa familiar?
"Kenapa Pak Great mirip dengan pria itu," batin Lalis.
Great heran dan sedikit merasa terintimidasi oleh Lalis. Lalis tersadar.
"Maaf, Tuan," ujarnya sambil sedikit menjauh dari hadapan Great.
"Aku suka itu, Lalis."
"Suaranya?" batin Lalis.
Tunggu! Kenapa Lalis harus menyadarinya sekarang.
"Suaranya? kenapa aku baru menyadari suaranya mirip dengan pria itu."
Terlihat berbeda ketika orang bicara memakai masker dan tidak memakai masker. Lalis menyadari suara Great mirip dengan pria malam itu karena terdengar jelas jika menggunakan masker itu.
"Ayo pergi sekarang," ujar Great mengakhiri kebingungan Lalis.
"Ah- ya. Ayo."
Tidak perlu menggunakan kendaraan untuk menuju supermarket. Hanya berjalan beberapa menit dari apartemennya, sampai di tempat tujuan.
Lalis sibuk memilih apa yang dia butuhkan di apartemennya.
"Kurasa aku harus memperbanyak susu pisang," gumam Lalis.
"Tentu. Karena aku yang akan menghabiskannya," sahut Great.
"Kenapa semakin hari Pak Great terus membuatku risih. Tapi aku tidak kesepian lagi meskipun dia tidak bisa diajak bercanda," batin Lalis.
"Tentu. Memang selama ini siapa yang menghabiskan susu pisang saya?" Lalis tersenyum kecil meledek Great.
Great hampir mendatangi kamar Lalis setiap hari dengan alasan susu pisang milik Lalis sangat enak. Tapi Great bukan cuma ingin susu itu, ia selalu berdiam lama di kamar Lalis setelah minta susu pisang itu. Mungkin susu pisang itu jadi alasannya untuk bisa diam dengan Lalis sekaligus enak juga.
"Sepertinya saya harus mengeluarkan uang banyak untuk stok makanan bulan ini," canda Lalis.
"Kalau gitu aku yang bayar semuanya."
Lalis terkekeh tersenyum manis. Ia nerasa bahwa ini lelucon Great.
"Tidak, tidak. Saya bercanda kok," ucap Lalis.
Great senang bisa melihat tertawa meskipun tidak lepas. Hatinya bahagia melihat Lalis tersenyum seperti barusan.
"Kau suka berbagai snack, ya?" tanya Great.
"Iya."
Sudah berapa rak yang sudah Lalis kunjungi, kenapa masih belum selesai?
Tidak tanggung-tanggung, Great mengambil semua stok snack yang ada di rak. Bahkan sampai habis.
"Tuan, ini kebanyakan."
"Kau tidak akan bangkrut karena aku yang akan bayar." Sombong nih.
"Meskipun begitu tapi ini kebanyakan," ujar Lalis.
"Anggap saja untuk stok bulan depan lagi,"
"Memeborong sebanyak ini bukan hanya sebulan dua bulan tapi setahun," batin Lalis.
Great meninggalkan Lalis, tapi beberapa detik kemudian dia kembali lagi dengan membawa troli. Lalis pikir Great akan belanja untuknya, tetapi troli itu untuk belanjaan Lalis juga.
Tanpa pikir panjang Great memasukkan apapun yang berbentuk makanan di sana ke dalam troli itu. Lalis sampai harus tercengang melihat Great yang tampak sibuk dengan belanjaannya.
"Sudah selesai, ayo," ujar Great.
Singkat cerita. Lalis terpelongo saat melihat kertas transaksi mereka. Semuanya hampir mencapai 10 juta hanya dari makanan ringan saja. Ditambah sabun dan lainnya, Mungkin semuanya mencapai 20 juta untuk malam ini.
Tapi Great yang ambil alih. Ia yang membayar semua belanjaan Lalis tanpa merasa rugi sedikitpun. Petugas kasir kewalahaan dengan belanjaan mereka. Tidak ada kantong yang lebih besar lagi, akhirnya belanjaan mereka di bagi menjadi 3 kantong besar. Lalis sampai kewalahan membawanya, berunrung Great menelpon orangnya untuk membantu membawa belanjaan mereka.
Karena lelah sejak tadi mondar mandir mencari apa yang Lalis butuhkan, Great mengajak Lalis untuk makan malam di restoran terdeksat. Mereka memesan dua porsi daging sapi dan air putih. Sebenarnya Lalis yang ingin memakan itu, tapi Great menirunya.
"Lain kali tuan tidak perlu berberlanja sebanyak itu, kita masih bisa belanja lagi bulan besok, kok," ucap Lalis lalu minum air putih dengan cepat karena ia sudah haus sejak tadi.
"Lagipula itu untuk dua orang."
"Itu bisa untuk 20 orang. Mau disimpan dimana itu semua, mana mungkin muat di 3 kulkas," jawab Lalis. Ia sedikit kesal karena ulah Great.
Great mendecak menertawakan Lalis.
"Pak Great barusan tersenyum, ya? Bu Saka bilang mustahil Pak Great tersenyum," batin Lalis.
Hingga akhirnya makanan yang mereka pesan datang Great langsung melahapnya. Cara Great makan benar-benar anggun. Lalis tidak pernah melihat Great buru-buru ketika sedang makan.
Lalis membuang nafas, Great mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Great.
"Tidak apa-apa. Hanya lelah saja,"
Beberapa menit hening.
"Apa aku terlihat seperti kelinci, ya?" tanya Lalis meskipun tidak mengaharapkan jawaban Great.
"Mbbrtt." Great menahan tawanya hingga makanan yang ada di mulut Great hampir menyembur.
"Tuan juga setuju ya saya terlihat seperti kelinci?"
"Apanya yang seperti kelinci. Aneh-aneh saja," jawab Great.
"Selia dan Veronika menyebut wajah saya seperti kelinci. Meskipun mereka bilang imut, tapi saya takut dengan kelinci."
"Jadi itu yang membuatmu resah, ya?"
"Tidak. Hanya saja- saya tidak suka kelinci. Saya takut karena mulutnya terus bergerak, itu aneh bagi saya."
Lalis membuang nafas lelah.
Pelayan datang membawakan air panas yang Lalis inginkan. "Silakan," ujar pelayan itu lalu beranjak pergi.
"Ah ya, saya ke toilet dulu, Tuan."
"Hmm."
Baru saja Lalis akan melangkah, tali sepatu kanan Lalis terinjak oleh kaki kirinya. Hingga Lalis harus terjatuh namun beruntung Great dengan sigap menahan tubuh Lalis yang hampir tersungkur ke bawah.
Great meringis sakit saat air panas dalam gelas di atas meja menyembur pundaknya. Karena Great sigap menahan tubuh Lalis, lengannya tidak sengaja membuat meja makannya terguling.
Wajah mereka sangat dekat hingga saling menatap cukup lama. Sampai Great meringis lagi karena kepanasan, Lalis melepaskan pangkuan dari Great lali berdiri normal. Great mendudukkan bokongnya. Ia memegang pundaknya yang sudah sangat memerah, itu terlihat hampir melepuh.
"Ah tidak. Tuan, biar saya lihat."
Tentu Lalis merasa khawatir karena gara-gara menyelamatkam Lalis, Great jadi tertumpahi air panas.
Beberapa pelayan datang memberikan handuk es. Lalis menerimanya lalu Great menyuruh pelayan itu pergi.
"Tuan, maaf jika tidak sopan," ujar Lalis. Ini lebih ke nada minta izin kali ya. Great diam dan Lalis dengan pelan mengusap-usap pundak Great.
Lalis memberikan tiupan dari mulutnya seolah itu akan meredakan sakit Great. Great seolah terbangun dari tidurnya ketika Lalis meniup pundaknya. Matanya membelalak, tubuhnya seolah merinding. Ia berdehem lalu berdiri, memegang tangan Lalis lalu beranjak pergi dari restoran ini.
Sampai di kamar Lalis, Great membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak. Lalis kebingungan kenapa Great buru-buru sekali tadi, padahal ia sedang kesakitan.
"Anda ingin menginap di sini, ya?" tanya Lalis.
"Sepertinya begitu. Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu."
"Tapi luka itu belum diobati dengan benar."
"Tidak apa-apa. Tidurlah jangan menggangguku."
Lalis mulai berbaring di tempat tidur. Baru beberapa menit memejamkan mata, Lalis sudah tertidur. Begitupun dengan Great.
Suasana malam ini begitu tenang dan membuat mereka tidur nyenyak. Tapi Great harus kebangun di tengah malam begini karena tubuhnya tidak nyaman. Pundaknya tiba-tiba terasa perih. Mungkin akibat tidak langsung di obati dengan benar tadi.
Jam menunjukan pukul 3 pagi, sementara masuk kerja pukul 8 pagi, masih ada waktu jika Great bangun sebentar untuk mengoleskan sedikit alkohol ke pundaknya.
"Perih sekali," gumamnya sambil berjalan menuju dapur.
Seingat Great, lemari kotak p3k ada di dapur dekat kulkas. Setelah menemukan apa yang dia cari, Great menuju cermin. Duduk di depan cermin menggunakan kursi andalan Lalis.
Trak. Great tidak sengaja menyenggol bedak Lalis. Ia melihat ke arah Lalis memastikan ia tidak bangun karenanya.
Siapa bilang, itu baru beberapa menit dari suara bising tadi, Lalis sudah ada di belakang Great.
"Seharusnya anda minta bantuan saya," ujar Lalis sambil mengambil alih apa yang ada di tangan Great. "Dengan penerangan seperti tadi, Tuan tidak bisa melakukannya sendiri dengan benar," ujar Lalis setelah menyalakan lampu kamar. Ia terkejut setelah melihat luka Great sedikit menghitam.
"Saya tidak menyangka lukanya akan separah ini," ujar Lalis.
Lalis berjalan membuka lemari dan mengambil handuk kecil lalu ke kamar mandi untuk mengambil sedikit air dalam wadah. Ia membasahi handuk itu lalu menempelkannya di pundak Great.
"Pasti sakit karena lukanya sudah menghitam begini," ujar Lalis.
"Iya."
Great menatap di cermin, pemandangan ini bisakah untuk selamanya? itu yang Great pikirkan.
"Sepertinya di leher tidak ada luka, ya. Syukurlah," ucap Lalis setelah meraba leher Great untuk memeriksanya.
"Biarkan handuk ini lebih lama berada, agar tidak perih dan gatal."
"Iya .... Tapi aku sedikit pegal jika hsrus terus menunduk seperti ini. Aku ingin berbaring," ujar Great.
Apa Lalis punya ide agar Great bisa berbaring dan dia yang akan mengganti kompresnya.
"Anda bisa berbaring di tempat tidur. Kau bisa tidur dan saya yang akan menagganti air kompres itu."
"Baiklah."
Akhirnya mereka berdua beranjak dan tanpa rasa enggan, Great membaringkan tubuhnya secara telungkup. Dan Lalis terduduk di sisi tidak jauh dari Great yang sudah berbaring. Kakinya ia luruskan di atas tempat tidur di tutup denagn selimut.
"Kau tahu tidak? aku dari kecil tidak pernah dirawat orang lain," ujar Great tiba-tiba membahasa masa kecil. "Aku melakukannya dengan sendiri, sekalipun aku menangis keras, tidak ada yang akan menghiburku."
"Benarkah? bagaimana mungkin?" respon Lalis.
"Karena papa selalu mengatakan bahwa anak laki-laki tidak boleh lemah, mereka harus beriri diatas kaki mereka sendiri ... apa kau pernah dilakukan seperti itu?"
"Tidak. Ibu saya akan memelukku saat saya sedih. Dia selalu berkata untuk selalu melakukan hal yang saya suka dari kecil. Tapi ibu akan marah jika saya melanggar aturan atau berlebihan dalam menyikapi hal-hal."
"Kenapa begitu?"
"Karena berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif,"
"Itu benar." Great merangkul kaki Lalis dalam posisi telungkupnya. Lalis kaget dong. Ini tidak nyaman, tapi bagaimana ia menolak Great sementara itu ia enggan karena Great sudah melakukan banyak hal untuknya hari ini.
"Papaku mengalami hal itu setelah aku jatuh sakit. Hingga akhirnya papa membebaskan hidupku. Tapi terkadang dia memaksaku lagi untuk kembali seperti dulu."
"Anda pernah jatuh sakit? apa itu parah?"
"Aku defresi waktu itu. Aku menahan rasa sakit itu hingga aku mengalami defresi, frustasi, stress. Sampai kepikiran untuk bunuh diri,"
Lalis membelalakkan matanya kaget. Ia tidak menyangka seorang Great bisa memikirkan hal bodoh seperti itu. Padahal Lalis lihat Great bukan tipe orang semacam itu, tapi kelihatannya Lalis salah. Ia masih belum mengenal Great.
"Sampai akhirnya aku disembuhkan oleh seorang wanita pada malam itu."
"Siapa wanita itu? apa dia dokter yang hebat?"
"Bukan. Wanita itu bukan dokter, dia hanya karyawan biasa. Dia dokter hanya untukku seorang."
Tunggu. Great sedang bucin, ya? Lalis yang mendengar ini terasa aneh. Ia mengira bahwa Great adalah orang yang tidak perlu wanita disampingnya karena sekarang saja dia sudah sempurna.
Sudah ke berepa kali Lalis mengganti air kompres itu,?
"Sudah dulu ah. Aku ngantuk," ujar Great.
Ia semakin mengeratkan pelukannya ke kaki Lalis sampai akhirnya Ia tertidur. Bahkan lebih nyenyak dibanding ia tidur sendiri.
Keesokan paginya mereka masih tertidur. Padahal sudah menunjukkan pukul 7, sudah seharusnya mereka siap-siap berangkat ke kantor.
Lalis terbangun lebih awal. Ia tertidur semalam dengan posisi yang sama. Ia mendapati Great yang maish tertidur di pangkuannya. Semalam bukaannya kepala Great tidak diletakkan di pangkuan Lalis. Mengapa Lalis bangun tidur, Kepala Great sudah ada di atas pangkuan Lalis. Ditambah tangannya memeluk tubuh Lalis, sehingga membuatnya sulit untuk bergerak.
Lalis menggosok kedua matanya menggunakan tangan. Lalu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 7.15.
"Tuan, Bangun," ujar Lalis sambil meggoyangkan tubuh Great.
Harus berapa kali Lalis membangunkan Great. Meskipun Great bergerak, tapi Great tidak mau bangun. Ia malah mengeratkan pelukannya.
"Kenapa susah sekali sih," gerutu Lalis.
Ia dengan terpaksa bangun perlahan. Lalu pergi ke kamar mandi untuk siap-siap berangkat ke kantor. Great akhirnya terbangun, ia melepas kompres handuk di pundaknya lalu membalikkan tubuhnya. Ia meringis karena pegal semalaman ia tidur telungkup. Meskipun begitu ia senang karena ditemani Lalis.
Tuh liat, ia terus senyum-senyum sendiri. Kedekatannya dengan Lalis ada kemajuan.
"Aku sangat ingin setiap hari bisa memeluknya," gumamnya.