Your Name

Your Name
Musuh dalam selimut



Beberapa jam sebelum kecelakaan.


Entah kebetulan atau memang Great sengaja, ia dan Lalis sama-sama pergi ke kitchen bar perusahaan untuk menuangkan satu gelas kopi atau teh hangat. Great tiba terlebih dahulu hingga ia selesai dengan kopi yang diinginkannya.


Karena perut Lalis tidak nyaman, ia berinisiatif untuk minum kopi susu hangat, mungkin akan lebih baik jika ia meminum sesuatu yang hangat.


"Nanti mau makan siang di mana?" tanya Great dengan senyuman manis yang hanya ia lontarkan kepada Lalis saja.


"Maaf tapi kali ini sudah janji dengan rekan tim, kami akan makan bersama di cafe biasa," jawab Lalis.


Great tidak masalah jika itu yang Lalis mau. Meskipun ia rindu makan siang bersama di waktu istirahat kantor, tapi ia lebih memiliki banyak waktu dengan Lalis ketimbang rekan tim Lalis.


Kalau tidak makan siang, makan malam juga bisa.


"Apa perutmu sudah enakan?" tanya Great.


Lalis menutup tombol off tanda ia sudah menuangkan kopi susu yang ia inginkan ke dalam gelas lumayan besar.


"Masih tidak enak. Aku tidak bisa diam saat duduk, pundakku juga terasa sakit karena terus menerus mengetik. Rasanya sangat pegal kalau lebih lama lagi," jawab Lalis.


"Apa kamu ingin mengambil cuti?"


"Tidak, tidak. Terimakasih sudah perhatian,"


Lalis menjawab tanpa memberikan alasan. Mungkin alasannya karena tidak enak dengan Bu Saka atau mungkin ia merasa bosan di rumah.


"Tolong beri satu ciuman karena aku perhatian padamu," pinta Great. Ia memiringkan kepala menunjukkan pipinya yang harus Lalis cium.


Lalis melihat sekitar, tidak ada orang. Lagian ini dapur perusahaan sebagai fasilitas kantor. Tidak lama, Lalis segera mengecup, Great licik, ia menghadapkan wajahnya, jadi yang Lalis cium bukan pipinya, melainkan bibir Great.


Great menarik pinggang Lalis. Ia sedikit memainkan lidahnya di mulut Lalis. Lalis menerima permainan ini. Beberapa detik mereka saling bermain lidah hingga akhirnya Lalis menghentikan Great.


Great tersenyum puas kala Lalis sedikit tersipu malu.


"Kamu sangat cantik," ungkap Great. Lalis semakin tersipu kalau Great memujinya.


"Sebelum ada orang yang lihat, aku kembali ke timku, banyak yang harus kukerjakan karena satu minggu kerjaannya diabaikan," jawab Lalis.


"Iya. Kembalilah!"


Seperginya Lalis, Great kembali menuju ruangannya. Sampai setengah perjalanan menuju ruangannya, ia lupa dengan kopi yang seharusnya ia bawa agar tidak ngantuk saat bekerja. Akhirnya ia kembali lagi.


Baru membuka pintu, Joy menghampiri Great. Ia terlihat gusar dan khawatir. Entah apa yang dipikirkan skertarisnya itu.


"Ada apa?" tanya Great.


"Kepala produksi di pabrik A mengatakan bahwa gudang di pabrik terbakar, ada beberapa mesin yang masih bisa di perbaiki di dalamnya. Dia meminta Anda untuk pergi melihat karena sebelumnya Anda yang minta kalau gudang itu terjadi apa-apa," jawab Joy.


Great terkejut namun berusaha tenang.


"Apa sudah memanggil pemadam?" tanya Great.


"Sudah, Pak," jawab Joy.


Great meminum kopi yang seharusnya ia nikmati sambil duduk bekerja, berkutik dengan komputernya. Setelah satu tegukan, ia memberikan kopi itu ke Joy.


"Siapkan mobil. Aku akan menyetir, kau dan tim penanganan ikuti aku."


Great sontak beranjak dengan langkah terburu-buru. Hingga saat ia mengemudi, ia menancap gas. Beruntung jalanan tidak macet, Great bisa sedikit aman meksipun mengebut dilanggar di jalanan.


Di tengah-tengah ia mengemudi, kepalanya terasa pusing dan ngantuk berat. Penglihatannya mulai buram, sejak saat itu ia memperlambat laju jalan mobilnya. Kepala Great tidak bisa terkontrol, ia terus menggeleng-geleng, memejamkan matanya akibat pusing.


Sampai akhirnya ... bruuk!


***


Kecelakaan di siang bolong itu membuat masyarakat ramai. Usut punya usut mereka mengetahui korban kecelakaan itu adalah direktur dari perusahaan paling berpengaruh di tanah air.


Kecelakaan yang terjadi satu jam lalu memakan dua korban yang Great tabrak. Skertaris Joy sudah mengurus keluarga pihak korban yang menuntut Great.


Para karyawan di kantor tidak absen membicarakan atasannya itu. Ada yang merasa iba dan juga biasa saja. Semua karyawan terkejut kala mendengar berita itu. Terutama Lalis. Di tengah pekerjaannya, ia langsung pergi ke rumah sakit setelah berita yang ia lihat di HP-nya.


Rasa khawatir dan takut bercampur aduk di hati dan pikiran Lalis. Lalis seolah memiliki kesabaran setipis tisu kala perjalanan menuju rumah sakit.


Bagaimana tidak khawatir. Ia tahu kecelakaan itu terjadi setelah satu jam dari kejadian.


Saat tiba di rumah sakit, ia dikejutkan dengan banyaknya wartawan di luar, mereka seolah menunggu. Pikiran Lalis mengacu pada Great, apa mungkin wartawan itu menunggu kabar Great?


Tidak lagi hiraukan, Lalis berlari masuk ke dalam rumah sakit. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia angkat panggilan itu.


^^^"Pak Great ada di lantai dua ruang UGD. Dia masih dalam pemeriksaan dokter."^^^


Lalis kenal itu suara skertaris Joy. Tanpa basa-basi ia berlari menuju lantai dua. Hebatnya Joy adalah ia mengerti keadaan Lalis. Ia menduga Lalis sudah tahu kabar tentang Great.


Tanpa basa-basi Lalis berlari menuju lantai dua menggunakan lift. Hingga akhirnya ia menemukan Skertaris Great yang terduduk di depan ruang UGD. Lalis melihat Joy sontak berdiri saat melihat dirinya lari menghampiri Joy.


Lalis melihat dari kaca pintu, tidak ada yang ia lihat selain gorden kaca pintu itu. Nafasnya tersengal-sengal, Lalis sangat cemas dan khawatir.


"Lima menit lalu dokter mengatakan bahwa Pak Great di diagnosis memakai obat-obatan."


Lalis terkejut saat Joy mengatakan hal ini. Meksipun Lalis tidak mempercayainya, tapi ia bisa seterkejut itu.


"Dokter sedang memeriksanya lagi untuk memastikan. Tunggu sampai dokter ke luar. Saya harus pergi menyelidiki kejadian ini," ucap Joy.


***


Tepat pukul empat sore, tim keamanan menemukan karyawan yang mencurigakan serta wajah dari karyawan yang membuat petugas penjaga cctv itu ke luar tanpa pengganti.


Mereka sudah diamankan tim keamanan di ruang sidang perusahaan. Mereka berdua menjadi sasaran tim keamanan karena beberapa bukti yang memberatkan mereka.


"Pak Joy, kami sudah menemukannya. Perlu saya apakan mereka?" tanya petugas cctv di tengah telponnya dengan Joy.


^^^"Tahan nametag nya. Tunggu aku kembali ke perusahaan,"^^^


Berita ini telah sampai ke Po, berita itu terdengar di telinga Po. Po tahu Great di diagnosis memakai obat-obatan karena baru saja Joy memberitahunya. Meskipun Joy skertaris Great, tapi ayah Great tetap atasan nomor satu baginya. Sontak Po langsung memberitahu Kevin Joul mengenai kabar kecelakaan Great.


Kevin Joul sudah memberitahu Po. Ia akan langsung terbang dari Jepang menuju tanah air. Semua jadwal yang sudah di atur, ia batalkan karena kejadian yang tidak terduga. Kemungkinan Kevin Joul akan tiba larut malam.


Berita ini juga sampai ke telinga Lindora. Ia mengira Great adalah teman Lalis yang pernah menemani Lalis menjenguknya saat di rumah sakit dulu. Ia sontak menelpon Lalis, memastikan Lalis tahu berita yang tayang di televisi.


***


Malam hari yang selalu mendinginkan ini menjadi hangat untuk orang yang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Rencana yang sudah di buat berguna bagi Tall dan Jovi. Sanak saudara tidak sedarah. Mereka bertemu di panti asuhan dan diadopsi oleh orang tua yang sama.


Di tengah kebisingan di club, mereka tengah duduk berdua sambil bersulang atas apa yang mereka inginkan sudah terlaksana. Sudah botol ke dua, mereka masih belum mabuk. Kuat, ya.


"Tidak sia-sia aku membiayaimu kuliah di harvard," celetuk Jovi sesaat setelah meneguk beer.


Tall tertawa kecil, pipinya sudah memerah karena hawa panas dari minuman itu.


"Cheers?" ucapnya setelah mengangkat gelas berisikan beer.


Jovi tersenyum menyeringai, ia bersulang untuk Tall. Yang sudah direncanakn Tall dan Jovi selalu berjalan mulus. Mudah sekali menjadi penipu di perusahaan TL itu. Wajah Jovi tidak terlihat seperti orang yang jahat.