
Aula pertemuan.
"Setiap anggota akan diarahkan oleh pembimbing. Ini merupakan perusahaan pertama yang mengadakan bimbingan anak baru berprestasi untuk dipromosikan sebagai asisten direktur. Jadi gunakan kesempatan ini sebaik mungkin," ucap skertaris Joy.
Sekitar 5 orang yang terpilih untuk dibimbing. Semuanya mahasiswa dari universitas elit di tanah air. Kecuali satu, pria satu-satunya yang terpilih ini dari universitas harvard Amerika. Great sendiri yang memilihnya karena alasan bahwa hasil wawancara dengannya membuat Great terkesan.
"Mungkin beberapa dari kalian sudah memiliki pengalaman dalam bekerja dan beberapa belum. Bagi yang sama sekali belum pernah merasakan kerja di kantor, harap mempersiapkan diri untuk posisi ini. Tanggung jawab seorang direktur tidaklah mudah. Jadi sebagai asisten direktur, harus siap di dalam keadaan apapun," lanjut Joy.
Ada yang janggal. Joy menyadarj bahwa Great dan Lalis saling curi-curi pandang sejak saat ia mulai bicara tadi. Ia diam dan membiarkan hal itu, tapi tetap saja ia memiliki pertanyaan setelah ia memergoki mereka.
"Pak, ada yang ingin bapak sampaikan?"
Great bangkit dari duduknya. "Tidak. Selesaikan ini, Joy, ujarnya sambil berjalan meninggalkan aula.
Sebelum itu Great berbisik ke kuping Joy. Joy hanya mengangguk paham.
Joy membungkuk lalu bangun setelah Great benar-benar meninggalkan aula.
"Tall?" ucap Joy.
Satu-satunya pria di antara mereka menyahut.
"Ini pertama kali untukmu mengenal dunia kerja. Jadi berlatihlah dengan maksimal agar hasilnya maksimal."
"Baik, Pak."
"Temui pembimbing hari ini. Kau akan memulai terlebih dahulu hari ini," ujar Joy.
"Baik, Pak."
Tall beranjak meninggalkan aula.
"Dan Lalis,"
"Iya, Pak."
"Temui Pak Great. Beliau bilang ada yang harus disampaikan kepada Bu Saka. Kebetulan Bu Saka sedang meninjau lapangan, ia mewakilkannya padamu karena kamu ada di sini," ucap Joy.
"Ah, sekarang?" tanya konyol Lalis.
"Ya iya."
"Baik, Pak."
Lalis beranjak meninggalkan aula.
"Dan yang lainnya kembali bekerja," titah Joy.
Setelah keluar dari aula, Lalis mendengar ucapan tiga pegawai rekannya yang akan dibimbing untuk dipromosikan jadi asisten direktur. Ini ucapan yang membuat Lalis takut dan gugup jika bertemu setiap orang di kantor.
"Bukan hanya sekedar mewakili Bu Saka, kan? pasti ada hal lain mengingat mereka menjadi trending topik akhir-akhir ini,"
Lalis mempercepat langkahnya. Setelah tepat di depan kantor direktur, Lalis buru-buru membuka pintunya tanpa menekan bel atau mengetuk pintu.
Great menoleh saat mendengar hembusan nafas Lalis seperti layaknya orang kelelahan karena berlari.
"Pak, semua orang sedang membicarakan kita. Apa Bapak tidak melakukan apapun untuk mencegah rumor ini, kenapa Bapak bungkam?"
Lalis agak kesal hingga bicaranya begitu berani. Ini diakibatkan karena Lalis beberapa hari ini merasa tertekan dengan adanya rumor itu. Bahkan ia harus menunduk ketika bertemu setiap orang di kantor.
Dan ya, ia mengabaikan dan menghindari Great akhir-akhir ini semenjak rumor itu beredar.
Great tidak bungkam, ia sudah melakukan semaksimal mungkin agar rumornya tidak sampai terdengar ke luar atau lebih jauh lagi. Namun kantor memanglah beda. Tapi bukankah rumor akan menghilang seiring berjalannya waktu?
"Sudah kuduga itu alasanmu menghindariku, ya?"
"Saya tidak bisa bersabar lagi, Pak. Saya merasa tertekan,"
"Kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah melakukan hal yang tidak akan terjadi lagi,"
"Sudah seharusnya Bapak begitu. Saya mohon maaf jika sudah kelewatan."
"Kemarilah!" Titah Great. Sejak Lalis masuk, ia terus berdiri di depan pintu, jauh dari Great yang terduduk di kursi direktur, hanya ia yang bisa menduduki kursi itu.
"Skertaris anda bilang bahwa ada yang harus saya sampaikan untuk Bu Saka,"
"Ya, kemarilah!" Kali ini Lalis patuh. Ia berjalan sampai di hadapan Great. Jarak mereka hanya terhalang meja kerja Great.
"Nanti malam temani aku-"
"Maaf, Pak. Jika tidak ada hal lain, saya izin lanjut kerja."
Great terdiam setelah Lalis memotong perkataannya. Ia menatap Lalis tengah menunduka sopan kepadanya.
"Aku dan Lalis menjadi dekat sebelum rumor itu tersebar. Lalis menghindariku bukan karena takut berpapasan dengan orang kantor, melainkan ia masih hubungan dengan Kent," hatinya bergeming.
"Ah, sampaikan kepada Bu Saka bahwa hasil perhitungannya sempurna. Terimakasih untuk tim pemasaran," ujar Great.
"Baik, Pak."
***
Lalis meminta izin hari ini pulang cepat. Kakaknya pulang dari luar negri hari ini, dan Lalis harus menjemputnya di bandara. Lalis harus menyewa mobil karena kakaknya tidak suka naik motor apalagi sore ini matahari masih bersinar terang.
Lalis tiba di bandara, ia menelpon kakaknya. "Kak aku sudah di bandara, dimana kakak?"
^^^"Pesawatnya akan mendarat 5 menit lagi, tunggu ya."^^^
Lalis memasang wajah kesal. Dia bilang di pesan tadi, kakaknya sudah sampai di bandara, tapi beda lagi cerita ketika Lalis sudah di bandara.
"Iiiiiiiii. Punya saudara menyebalkan sekali, sih," umpat Lalis.
^^^"Tunggu 5 menit aja kenapa, sih."^^^
"Gamau masuk, aku tunggu aja di jalan. Plat nomor mobilku * **** **"
Lalis mematikan telponnya dengan raut wajah kesal. Ia menunggu di mobil. Hampir set jam kakaknya belum juga tiba. Lalis sampai ketiduran di mobil saking lamanya saudara Lalis.
Tok, tok, tok.
Lalis perlahan terbangun, ia lihat di kaca mobil dan akhirnya itu adalah Kakak Lalis. Lalis membuka kunci dan mmebiarkan kakaknya masuk. Dengan kemarahannya, Lalis memukul-mukul kakaknya yang sengaja isengin Lalis.
"Ii, menyebalkan sekali, sih," ucap Lalis.
"Aduh, duh. Diam Lalis sakit dong,"
"Kak Bora tuh ngelunjak, ya. Kakak tahu aku nunggu berapa lama?"
Ia merupakan korban buli waktu sekolah SMA, ia sering di juluki 'si stupid yatim'. Bahkan ia tidak jarang pindah sekolah karena sering berkelahi dengan temannya. Bukan Bora yang salah tapi yang kena salah adalah Bora. Tidak ada yang beruntung jika terlahir miskin, itu menjadi quotes Bora saat itu.
"Kurang lebih satu jam ya aahhahaha,"
"Kakak yang nyetir ah, aku lelah," rengek Lalis sambil berganti tempat duduk dengan Bora.
"Ey, adik manja."
Tanpa pikir panjang, Bora langsung menancap gas menuju rumahnya yang sudah ia beli sebelum ia datang ke tanah air. Ia membelinya lewat online meskipun terbilang lucu, tapi memang ada yang seperti itu.
Lalis melihat rumah Bora setelah sampai, dari luar sangat kecil tapi terlihat rapi dan bersih. Ini tidak lain pemiliknya pasti orang yang peduli lingkungan.
"Gamau masuk dulu gitu?" tanya Bora.
"Kakak kan gasuka kalau aku seatap dengan kakak," jawab Lalis.
Bora terkekeh. "Memang iya. Yaudah pulang sana."
Lalis mendecak kesal. Padahal sebenarnya Lalis mau melihat rumah kakaknya, ia menolak karena gengsi dan berharap Bora mengajaknya masuk. Tapi akhirnya malah mengusir Lalis.
"Hati-hati di ja ... lan," ujar Bora. Ucapannya terpatah karena Lalis main nyebrung aja jalanin mobilnya. Bora mengedikkam bahunya lalu masuk ke rumah barunya untuk beres-beres.
"Oh, ya. Kenapa aku mengusirnya langsung, padahal aku perlu bantuan untuk beres-beres," gumam Bora.
Sesampainya di apartemen, Lalis terus mengumpati kakaknya yang tidak tahu terimakasih. Hingga akhirnya malam pun tiba, Lalis terus berkutik dengan laptopnya sejak pulang.
"Akh, membosankan," decaknya sambil menutup laptop lalu membaringkan tubuhnya.
"Aku sama sekali tidak punya teman di sini, kecuali- Pak Great."
Kenapa tiba-tiba inget Great?
"Tidak. Dia sama sekali bukan teman," lanjutnya.
Tapi setlah dipikir-pikir, "Pak Great selalu setuju dan ngikut aku. Padahal aku ga ngajak, tapi Pak Great selalu menemani terus. Bahkan saat aku membutuhkan seseorang, Pak Great selalu datang di waktu yang tepat," gumamnya.
"Aaaakh," teriak frustasinya. "Kenapa aku harus mikirin dia, sih."
Hening sejenak sampai Lalis berpikir untuk keluar sebentar cari udara segar. Lalis keluar tanpa pikir dulu, ya. Di luar kalau malam kan dingin, kenapa harus memakai kemeja putih tipis oversize dan hotpants tanpa jaket atau sweater. Segitu lupa diri sendiri ya Lalis saat memikirkan Great.
"Sepertinya aku harus banyak cari udara segar kalau sedang banyak pikiran," gumam Lalis sambil berjalan-jalan di taman belakang apartemen.
Bukan hanya dia yang berada di sana. Banyak kalangan remaja dengan pasangannya, lalu nenek memakai kursi roda dan anaknya uang mendorong membawa cucunya.
Lalis mengusap-usap kedua lengannya karena cuaca malam hari yang dingin. Kakinya juga sedikit gemetar.
"Kent apa kabar, ya? dia jadi jarang beri kabar," gumamnya lagi.
"Mungkin ada wanita lain di sana," sahut seseorang sambil menutupi tubuh dingin Lalis dengan jaket tebal bulu.
Lalis kaget setelah menoleh siapa yang datang menghampirinya.
"Segitu kagetnya, sampai harus berhenti berjalan."
"Kenapa Pak Great bisa ada di sini?"
"Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu. Kakakmu sudah ke rumahnya?"
"Bu Saka yang beritahu, ya?"
"Bukan."
"Lalu? siapa?"
"Skertaris Joy yang bilang. Bu Saka memberitahu skertaris Joy,"
Lalis hanya mengangguk-angguk lalu mulai perlahan berjalan lagi. Great juga sama, jalan di samping Lalis sebagai pendamping. Orang-orang pasti akan mengira bahwa mereka pasangan yang kenyataannya bukan.
"Tadi kamu kesal, ya?"
Lalis terdiam sejenak, lalu mengingat kejadian tadi di kantor Great.
"Itu- maaf. Saya tidak sopan, ya?"
"Tidak. Aku suka."
Aneh, kan?
"Aku lebih suka kalau kau bicara santai denganku," lanjut Great.
"Itu mustahil," sahut Lalis.
"Kenapa?"
"Bapak tahu sendiri lah."
Great mendengus.
"Bapak suka warna pink, ya?" tanya Lalis tiba-tiba.
"Tidak. Warna pink kan hanya untuk cewek. Kenapa tanya begitu?"
Lalis tertawa kecil. "Apartemen Bapak semuanya bernuansa pink. Gorden, hiasan di dapur, lampu kerlap kerlip, di pintu juga ada gorden kecil berwarna pink. Saat pertama kali masuk kamar Bapak, saya tidak kuat menahan tawa waktu itu,"
Great tertegun. Pernyataan yang memalukan. Lalis terus menertawai hal itu sekarang.
"Bisa-bisanya aku tidak menyadari hal itu," batin Great.
"Kau tahu kan kamar itu bekas cewek sebelumnya,"
"Ah, iya, iya. Bapak benar. Tapi tetap saja lucu,"
"Ah, hmm. Kau lapar, tidak?" tanya Great mengalihkan pembicaraan.
Lalis berhenti tertawa, misi Great sukses. "Kurasa Bapak benar. Aku lapar, mau makan?"
"Tentu. Ayo ke restoran depan!"
"Baik. Tapi-"
Ucapan Lalis harus terpotong kala melihat seorang anak kecil tengah menaiki scooter tanpa melihat di depannya ada siapa. Lalis menarik baju Great, tubuhnya tidak seimbang jadi ia terjatuh. Beruntung tangan Great menahan kepala Lalis agar tidak terbentur. serta menahan tubuhnya agar tidak membebani tubuh Lalis ketika sudah terjatuh.
"Aww," ringis Lalis.