Your Name

Your Name
Menemuinya



Great menghampiri Lalis yang masih terduduk di depan ibunya. Setelah dokter mengatakan bahwa ibu Lalis koma, ia semakin terpukul. Sekejam itu ayah Kent melakukan tindakan hanya karena ia tidak merestui hubungan mereka.


"Tidurlah. Jangan sampai kau sakit," ujar Great.


Lalis masih terdiam.


"Jemin sudah di hotel. Dia akan aman karena anak buahku menjaganya 24 jam," lanjut Great.


"Besok saya bisa masuk kerja, Pak. Ini tidak akan jadi alasan saya harus absen lagi," jawab Lalis.


Berhubung ia masih karyawan baru, rasanya tidak enak jika ia harus terus bolos. Apalagi ia dalam masa bimbingan untuk dipromosikan menjadi asisten direktur. Ia tidak bisa melewatkan ini karena tanggungjawabnya.


"Tidak perlu memaksakan diri."


"Saya berencana untuk membawa ibu ke rumah sakit di ibukota, Jemin bisa pindah sekolah di sana."


"Kapan kau akan bawa mereka?"


"Besok. Saya mungkin tidak akan maksimal bekerja, saya harus membuat surat pindah sekolah Jemin dan banyak hal lagi yang harus saya lakukan," jawab Lalis.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Biar aku yang akan mengurusnya."


"Tidak. Pak Great sudah banyak membantu jadi-"


"Tidak masalah ini hal mudah bagiku. Kita harus pulang ke ibukota, Lalis. Semuanya akan selesai besok,"


Lalis terus menerus menerima bantuan Great tanpa bisa membalasnya. Great benar, jika ingin masuk kerja besok,Lalis harus pulang ke ibukota meskipun ini jam 2 dini hari.


Dalam menuju perjalanan ke ibukota, Lalis masih terdiam melamun memikirkan hal-hal yang sudah terjadi padanya. Dan setelah ini, Lalis harus menemui ayah Kent untuk berbicara empat mata dan menegaskan padanya bahwa tidak boleh ada yang mengusik keluarganya.


"Pak, sebenarnya kenapa anda begitu perhatian ke saya? ini bukan yang kedua atau ketiga kalinya bapak bersikap spesial terhadap saya," tanya Lalis.


"Selain spesial, ini sikap perhatianku yang pertama untuk orang lain," jawab Great.


"Pertama?"


"Kau orang pertama yang membuatku khawatir, Lalis. Bukankah sudah kubilang dari awal aku menyukaimu," jawab Great.


Lalis terdiam sejenak. Ia ingat bagaimana Great mengungkapkan perasaannya.


"Aku tidak pernah menganggapnya serius. Tapi hari ini Bapak membuktikan bahwa saya harus menganggapnya serius,"


"Apa kau tidak menyadari semua yang kulakukan padamu?"


Lalis baru paham sekarang. Lalis kenapa baru melihat semuanya sekarang? Padahal sejak awal, Lalis terus diperlakukan dengan spesial oleh Great. Bahkan sampai rela beli apartemen supaya dekat dengan Lalis.


"Sebenarnya aku ingin dekat denganmu. Kamarku di apartemen itu kubeli 2 kali lipat dan aku membayar penghuni kamar itu agar keluar dari kamar itu yang sekarang jadi milikku. Itu semua agar aku bisa dekat denganmu,"


Lalis terkejut dong. Begitu mudahnya Great melakukan transaksi seperti itu, sedangkan Lalis? ia malah kebalikan Great.


"Bapak tidak perlu melakukan hal sejauh itu karena saya tidak akan mungkin membalas rasa suka Bapak terhadap saya," jawab Lalis.


"Aku tahu."


"Lalu kenapa Bapak terus bersikeras terhadap saya?"


"Tidak masalah seberapa sakit hatiku. Aku ingin tetap ada untukmu,"


Jawaban Great sangat mengharukan, jantung Lalis jadi berdebar tidak terkontrol. Dan perasaan nyaman mulai tumbuh dalam diri Lalis.


"Jangan seperti itu karena aku, Pak."


"Aku tidak menyalahkanmu untuk hal seperti ini, kau tidak perlu merasa bersalah karena aku tidak menyalahkanmu,"


Lalis terdiam. Hingga akhirnya sampai di apartemen, tidak ada lagi pembicaraan mereka setelah itu. Great tidak tega membangunkan Lalis yang begitu nyenyak. Yang harus dia lakukan agar Lalis tidak terbangun adalah menggendongnya sampai kamar. Great merasa kasian jika Lalis harus bangun lalu berjalan sampai kamarnya.


Keesokan harinya.


"Sampaikan ke Bu Saka bahwa Lalis masuk siang hari ini karena aku menyuruhnya untuk mengerjakan tugas yang lain," titah Great ke skertaris Joy saat tengah berjalan menuju ruang direktur.


"Baik, Pak."


Prediksi skertaris Joy semakin kuat ketika Great terus menerus mewakili Lalis. Dari sekian kejadian, Joy sudah sering melihat Great berbeda apalagi saat Lalis bersamanya.


"Sepertinya mereka melewati batas sebagai atasan dan bawahan," batin Skertaris Joy.


Rumor tetaplah rumor. Tidak ada yang bisa menghentikan itu jika sudah jatuh ke mulut manusia. Mungkin harus menunggu beberapa minggu sampai rumor itu mereda.


Ruang tim pemasaran tidak begitu memikirkan hal yang tidak membuat mereka untung. Tapi ini mengenai Lalis, anggota timnya. Baru pertama kali anggota tim pemasaran kedapatan rumor yang membuat nama baik mereka sedikit menurun. Tim pemasaran dikenal orang-orang yang tidak pernah melakukan pelanggaran atau tindakan yang tidak diperbolehkan perusahaan.


Seperti yang Great perintah, Skertaris Joy masuk ke ruang tim pemasaran untuk memberitahukan perkara Lalis.


"Bu Saka, direktur ingin saya menyampaikan bahwa Lalis akan masuk siang hari ini karena pak direktur memberi tugas lain," ucap skertaris Joy.


Tumbuhlah banyak pertanyaan di diri mereka. Mungkin kecuali Jovi. Ia selalu fokus dengan pekerjaannya.


"Baik, Pak," jawab Bu Saka.


Skertaris Joy langsung kembali keluar setelah apa yang disampaikannya selesai.


"Sejak kapan Pak Great sedekat itu dengan Lalis," ucap Veronika.


"Mereka tidak dekat. Pak Joy bilang Pak Great sedang memberikan tugas lain," jawab Bu Saka seolah menghindari kebenaran.


***


"Kau jangan terlalu percaya diri. Aku tidak butuh calon menantu sepertimu yang tidak ada gunanya untuk hidupku," sambil memukul bola.


Hanya ada mereka berdua. Ini lapangan golf. Satu jam yang lalu Lalis menemui rumah ayah Kent, tapi ia diarahkan ke lapang golf karena ayah Kent ada di sana.


"Sekuat apapun Kent mau sama kamu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika kau ingin hidupmu aman, maka menjauhlah dengan baik-baik dan katakan putus dengan Kent. Mau berlindung dengan Great pun aku tidak takut, karena aku memegang kendali kakakmu,"


Lalis terdiam entah apa yang harus ia bicarakan dengan ayah Kent. Ia tidak ingin melepaskan Kent dan ia juga tidak mau keluarganya kenapa-napa.


"Tindakan kriminal seperti ini bukan senjatamu, kan? ancaman seperti ini hanya dilakukan oleh seorang pengecut," ujar Lalis.


"Aku tahu. Karena aku kalah beberapa kali karena main sehat, sekarang aku perlu jadi pengecut dulu untuk menang," jawab ayah Kent.


"Kenapa? sekarang karena melawanku kau harus jadi pengecut dulu? sepertinya kau takut tidak akan menang jika berurusan denganku?"


"Karena Kent? yang kau hadapi bukan Kent tapi aku."


"Lupakan hal itu, Lalis. Aku sudah muak dengan semuanya. Jika semuanya berjalan dengan lancar sejak awal, kau tidak akan menjadi korban. Sekarang jauhilah Kent sebelum aku bertindak brutal."


"Aku sudah menjauhinya."


"Kau hanya menjauhinya karena jarak, bukan sesungguhnya."


Gwart merapikan bajunya lalu melempar bola golf sejauh mungkin, "pergilah! segera beritahu kabar baik untukku sebelum aku brutal," ujarnya lalu meninggalkan Lalis di lapangan sendirian.


Karena urusan lain, Gwart harus pergi lagi bahkan di saat pertemuan penting dengan Lalis, tapi ternyata ada yang lebih penting dari itu.


Ia mengangkat HP ke telinganya.


^^^"Aku mendengar semuanya,"^^^


"Maaf, seharusnya kau tidak mendengar hal ini," jawab Lalis.


^^^"Kau mau bagaimana? sekarang kau hanya punya dua pilihan."^^^


"Aku sudah menentukan pilihannya. Pak Great tidak perlu lagi campur tangan lagi karena sudah terlalu banyak membantu."


^^^"Baiklah. Ikuti kata hatimu, jangan sampai kau menyesal,"^^^


Ada alasan Great tidak memaksa keinginan Lalis agar tidak campur tangan masalah hal ini. Bisa saja Great memaksa jika masalahnya bukan tentang perasaan Lalis. Ia juga tidak bisa memaksa kepada siapa Lalis ingin mencintai. Bukan berarti Great sudah menyerah untuk mendapatkan Lalis, secara perlahan mungkin Lalis akan luluh juga hatinya.


"Pak,"


^^^"Kenapa?"^^^


"Terimakasih."


^^^"Untuk apa?"^^^


"Semuanya. Saya menyadari suatu hal besar bahwa Pak Great selalu ada buat saya,"


Great tersenyum tuh.


^^^"Berterimakasihnya secara langsung saja,"^^^


Great tidak kuat menahan rasa senangnya. Ia segera menutup telpon itu secara sepihak, lalu menggeliat kesenengan. Skertaris Joy merasa aneh melihat Pak Great bersikap manis seperti itu. Tapi ini awal baik untuk dirinya, mungkin kedepannya lagi, ia akan melihat Great penuh kebahagiaan seperti sekarang.


Dalam setengah jam Lalis sudah berada di kantor. Ia kembali lagi menjalankan tugasnya sebagai anggota tim pemasaran. Beruntung suasananya tidak seramai kemarin, hari ini Lalis bisa bernafas sedikit lega.


"Selamat siang," sapa Lalis setelah masuk ruang tim pemasaran.


"Eh Lalis, baru beres, ya?" tanya Veronika.


Lalis sedikit bingung. Beres apanya? Great mengatakan apa kepada rekan kerjanya?


"Ah itu- iya baru beres," jawab kaku Lalis.


"Kamu melakukan kesalahan apa sama Pak Great, Lalis. Kelihatannya tugas itu bukan sembarang tugas, deh," tanya Selia.


"Hah?" Lalis bingung dong.


"Itu, matanya sampe sembab begitu. Kamu di marahin sama Pak Great, ya?" lanjut Selia.


"Tidak. Bukan itu, kok. Itu hanya ... bimbingan itu."


"Oh, promosi asisten direktur, ya?"


"Iya. Aku kurang maksimal mengikuti bimbingan itu, jadi Pak Great memberikan tugas agar aku lolos nanti," jawab sembarang Lalis.


"Sejak kapan Pak Great bisa perhatian sama karyawannya?" sahut Kenya dengan raut wajah datar. Lalis tidak menyadari bahwa Kenya sedang cemburu, tentu karena Lalis tidak mengetahui perasaan Kenya.


"Ah, bukan perhatian, kok."


"Lalu?"


"Sudah, sudah. Fokus bekerja agar tim kita tidak lembur," pungkas Bu Saka menghentikan pembicaraan mereka.


Lalis segera duduk lalu membuka komputernya, bekerja.


"Lalis," ujar Jovi tiba-tiba.


"Iya,?" sahut Lalis.


"Istirahat siang mari bicara sebentar," ajak Jovi.


"Ah ... di mana?"


"Nanti ikut saja,"


Bu Saka melirik mereka berdua saat sedang berbicara tapi bisik-bisik.


Setelah duduk beberapa jam dengan pekerjaan, akhirnya mereka bisa beristirahat dan makan untuk menambah kekuatan bekerjanya. Selia merekomendasikan tempat makan siang, kali ini berbeda di cafe depan perusahaan.


"Aku dan Lalis ada obrolan penting dulu, kalian duluan saja," jawab Jovi saat di ajak mereka.


"Obrolan apa? sangat penting, ya?" tanya Kenya.


"Iya. Tapi bukan apa-apa, kok."


"Begitu, ya? kalau begitu kami duluan, ya."


Kini tinggallah Lalis dan Jovi.


"Ikut aku ke atap," ajak Jovi.


"Kenapa tidak di sini saja. Mereka sudah ke luar," jawab Lalis.


"Ada yang ingin aku tunjukkan. Jadi ikut saja,"


Jovi mengambil langkah pertama, di susul Lalis meskipun langkah mereka berjarak lumayan jauh.