Your Name

Your Name
Support Great.



"Dari sini aku melihatmu bersama Pak Great. Di taman itu," ujar Jovi sambil menunjuk taman dimana Lalis dan Great bersama semalam.


"Dari sini juga aku melihatmu dan pak Great makan malam, pulang bersama dan satu apartemen dengan Pak Great," lanjut Jovi.


Lalis heran sebenarnya Jovi mau apa dengan mengatakan hal itu. Ia sungguh terkejut.


"Yang nyebarin rumor itu kamu, ya?"


"Bukan."


Lalis terdiam. Sebenarnya bagaimana sikap Jovi. Dia sangat misterius begitu.


"Pak Great kan melacak siapa yang nyebarin poto itu, dan terbukti bukan aku," lanjut Jovi.


"Pak Great melacak akun yang menyebar rumor itu?"


"Kau sama sekali tidak tahu?"


Lalis menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya mendengar dari skertaris Joy."


Lalis terdiam, ternyata ia salah paham dan merasa bersalah karena menyalahkan Great waktu di ruang direktur itu. Seharusnya Lalis berterimakasih karena Great sudah ambil langkah dahulu sebelum Lalis.


"Sebenarnya apa maksud kamu? kenapa terus bungkam tanpa memberitahuku?" tanya Lalis.


"Aku hanya belum yakin waktu pertama kali kau begitu akrab dengan Pak Great hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Dan ternyata, kamu benar ada hubungan spesial ya dengan Pak Great?"


"Tidak. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Pak Great," bantah Lalis.


"Jika bukan begitu, berarti Pak Great yang menyukaimu,"


Lalis terdiam. Memang benar, tapi ia mana mungkin bilang begitu ke Jovi.


"Kenapa berpikiran seperti itu?" tanya Lalis.


"Sikap dan tingkah Pak Great sangat aneh ketika bersama denganmu atau saat ada kamu. Akhir-akhir ini namamu selalu disebut Pak Great. Aku mengamati Pak Great karena penasaran,"


"Jangan tahu lebih banyak, Jovi. Aku tidak nyaman dengan hal itu," jawab Lalis dengan kepala menunduk sedikit.


"Kenapa kamu tidak menerimanya saja, dia orang yang paling diinginkan oleh wanita. Tapi kenapa kamu menolak? ... mungkin itu alasan Pak Great menyukaimu. Disaat wanita lain ingin dekat dengan Pak Great, berbeda dengan kamu, Lalis. Kau selalu cuek dan menghindar darinya, bukan?"


Bukan itu alasannya. Siapa yang tidak suka Pak Great, kan? meskipun begitu Lalis tidak begitu suka dengan Great karena kekasihnya, Kent. Bukan hanya Great, tapi pria manapun yang tidak ia kenal.


"Untuk apa Jovi mengatakan hal setidak penting itu?"


"Itu penting. Aku ingin Pak Great segera punya pasangan,"


"Kenapa?"


Tidak mungkin Jovi mengatakan agar Kenya tidak suka Pak Great lagi, kan?


"Gaada apa-apa. Cuma seharusnya aja sih, mengingat umur dia sudah tua. Jadi akan lebih baik jika Pak Great ada orang yang disampingnya, kan?"


"Konyol. Kurasa Jovi yang kukenal tidak segabut itu untuk membahas hal ini." Lalis beranjak perlahan dari hadapan Jovi.


"Jovi. Mari kita tidak membicarakan dia dan aku lagi,"


Lalis kemudian turun meninggalkan Jovi yang sendirian di sana, di bawah terik matahari.


"Orang percaya diri yang terkubur, kini mulai bisa menggali kuburannya sendiri, ya?" gumam Jovi. Ucapan ini agak serem juga meskipun tidak berniat apa-apa.


Lalis terkejut ketika Great berada di bawah tangga terakhir dengan raut wajah menyeramkan.


"Skertaris Joy memberitahuku," ujar Great secara tiba-tiba.


Lalis terdiam. Ia tidak takut, melainkan khawatir.


"Mari makan siang bersama, Pak," ajak Lalis.


Great kaget dong. Jika biasanya Lalis susah di ajak, tapi kini Lalis lah yang mengajak. Mau tidak senang bagaimana hati Great.


"Cafe mana?" tanya Great bersemangat.


"Saya bawa sesuatu untuk Pak Great,"


Great semakin bersemangat. Ini pertama kalinya Lalis berinisiatif terhadap Great.


"Saya simpan di loker. Tapi makan-nya mau di mana? tidak mungkin di cafetaria kantor, kan."


"Aku tunggu di ruanganku. Segera datanglah!"


"Apa tidak masalah, mungkin nanti bisa bau makanan ruangan Bapak,"


Lalis dan Great berpisah di sini. Karena Great menyuruhnya cepat, jadi ia bergegas untuk membawa apa yang ingin ia berikan untuk Pak Great.


Tanpa disadari Jovi memotret mereka. Lebih tepatnya merekam mereka berdua.


"Aku tebak mereka akan saling suka," gumam Jovi.


Singkat cerita.


"Saya masak tadi pagi, jika tidak enak jangan dilanjutkan makan. Rasanya akan terasa beda karena sudah dingin.


Mereka tidak makan di meja kerja, ya. Bukan di lantai juga.


"Saya tidak tahu apa yang Bapak suka. Tapi orang-orang tidak mungkin tidak suka daging sapi, kan? Jadi saya masak rendang versi terbaik saya,"


Great mulai mencoba masakan Lalis dan rasanya diluar dugaan. Bahkan lebih enak dari yang ia bayangkan. Great sampai tidak bisa berkata-kata untuk masakan Lalis. Bahkan begitu teburu-burunya Great, ia sampai tersedak makanannya sendiri.


Lalis segera mengambil minum lalu duduk di samping Great. Great mengambil minum Lalis tanpa melepaskan tangan Lalis dari gelasnya. Dalam arti Great menggenggam tangan Lalis di gelas itu.


"Jangan terburu-buru, Pak," ujar Lalis.


Great masih kesakitan, hidungnya terasa si bakar api karena kepanasan. Dan kenapa batuknya belum berhenti. Great kembali minum sampai akhirnya batuknya terhenti.


"Dadaku sakit, Lalis," ujarnya sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Itu biasa terjadi saat tersedak."


Great lebih tenang setelah beberapa saat. Great melanjutkan makannya hingga akhirnya habis tanpa sisa.


"Pak Great suka sekali, ya?"


"Tentu saja. Apalagi ini masakanmu," jawab Great.


Great menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Baru kali ini aku makan sampai sekenyang ini. Rasanya setelah ini tidak bisa jalan," ujar Great. "Kau bilang mau memberikan sesuatu, coba kasih lihat," lanjut Great.


"Ini," Lalis memberikan sebuah paper bag kepada Great.


Tanpa basa-basi, Great membuka isi dari paper bag itu.


"Waktu jalan-jalan semalam, saya lihat hoodie itu di toko.. Lalu tadi pagi saya kepikiran untuk membelinya dan memberikan hadiah ini untuk Bapak sebagai tanda terimakasih karena sudah merepotkan Bapak. Dan juga saya tidak pernah melihat Bapak memakai hoodie, jadi saya ingin coba melihat Bapak ketika memakai hoodie."


"Kau tepat sekali, aku tidak punya hoodie di rumah. Jadi hoodie ini yang akan selalu kupakai kedepannya," jawab Great.


Lalis tersenyum bahagia melihat Great begitu senang menerima hadiah darinya meskipun itu bukan barang mahal dan branded. Dan ya, Lalis sangat penasaran ketika cowok dingin yang hanya bisa memakai pakaian normal memakai pakaian santai dan casual. Mungkin Lalis pernah melihat itu, tapi hanya kaos dan jaket saja.


Lalis bergerak, membereskan piring-piring yang ia gunakan makan dengan Great. Ia juga bersihkan.


"Aku mungkin akan sering memakainya karena aku belum mempunyai baju seperti ini,"


"Saya akan sangat senang sekali, Pak,"


Great membawa dan mencobanya di depan cermin. Sangat pas sekali. Lalis yang melihat itu bersyukur karena ukuran itu pas di tubuh Great.


"Kau pintar memilih ukuran untukku, ya? seleramu juga berkelas. Lain kali aku harus mengajakmu belanja saat aku butuh pakaian," ujar Great.


Lalis menghampiri Great. "Biar saya lihat, Pak," ujar Lalis.


"Cocok. Biar saya tambahin aura Bapak yang sebenarnya," lanjut Lalis sambil menutup kepalanya dengan kupluk hoodie itu. Lalis tersenyum puas.


Great melihat ke cermin. "Apa begini ya auraku?" tanya Great.


"Iya. Warna terang ini adalah kebalikan sikap dingin Bapak. Setidaknya jika Bapak memakai ini, Bapak tidak akan terlihat dingin dan cuek," jawab Lalis.


Great mengambil sesuatu, "tambahin ini bagaimana?" Great yang iseng memakaikan kacamata hitam dan itu membuat Lalis tertawa tanpa henti begitupun dengan Great. Great tertawa karena melihat Lalis tertawa.


"Aduuuh, sakit perut saya melihat tingkah aneh Bapak," ujar Lalis.


Hening sejenak.


"Lalis," ujar Great.


Lalis menoleh menjawab panggilan Great.


"Jangan bersedih terus. Jika kau kesulitan, aku akan bantu," ujar Great.


Seolah tahu apa yang dirasakan Lalis. Lalis tersentuh, kejadian semalam membuat dirinya syok. Kemalangan itu bertubi-tubi datangnya dengan di sengaja. Bagaimanapun itu ia tidak boleh menyerah di tangan orang lemah. Jika pilihan itu membuat Lalis sulit, maka ia harus memikirkan cara lain agar Lalis bisa memiliki kedua pilihan itu.


"Terimakasih, Pak."


"Ibumu dan Jemin akan tiba di rumah sakit ibukota nanti sore. Jadi bersabarlah!"